
"Masuklah."
Mavis tersenyum dan tidak membalas pertanyaan Sasha. Seolah sudah mengetahui segalanya, dia tiba-tiba menyuruh seseorang yang berada di luar pintu untuk masuk. Sasha bingung untuk sepersekian detik, begitu juga dengan orang yang berada di luar dan hendak mengetuk pintu tetapi tidak jadi.
Pintu itu terbuka, Sasha sedikit terkejut dan berbalik untuk melihat. Di sana sudah ada Marrie yang datang bersama seseorang yang Mavis kenal. Dia adalah Earl Edward, orang yang di tunggu-tunggu. Sementara Sasha melirik Mavis dengan heran, bangsawan itu memberikan salam hormat saat tiba di hadapan Mavis.
"Bagaimana Pangeran bisa tau aku datang membawa tamu?" Marrie merasa itu bukanlah sebuah kebetulan, diapun bertanya-tanya trik apa yang dimainkan pangerannya itu sampai bisa mengetahui dia berada di luar pintu kamarnya.
"Itu karena aku bisa meramal, bukankah itu hebat?" Mavis terkekeh saat mencoba membohongi gadis itu.
"Sungguh?" kata Sasha, dia mengangkat alisnya karena terkejut.
Mavis tidak menjawab lebih lanjut dan segera menyuruh Marrie untuk pergi. Dia berkata akan mengajak adiknya itu untuk pergi melihat-lihat ke luar, jadi Sasha akan tetap tinggal di dalam ruangan.
"Pangeran, apa sudah siap untuk pergi?" Earl Edward bertanya dengan sopan, dia tersenyum ramah.
"Ayo."
"Tu-tunggu! Kita mau ke mana?" Sasha yang masih enggan bertanya sambil mengikuti keduanya yang mulai beranjak pergi. Di sini hanya dia yang tidak tau ke mana mereka akan pergi, karena dia sudah memilih untuk ikut, dia berhak untuk tau ke mana arah tujuannya.
Mavis tidak menjawab, dia malah tersenyum. Itu membuat gadis yang sedang menatap bagian belakang sang pangeran cemberut sebal. Dia tidak akan tau sampai mereka tiba di tempat, maka dari itu Sasha agak cemas tentang apa yang sedang direncanakan pangerannya itu. Sudah beberapa hari sejak dia melayani tuan mudanya itu, Sasha sudah paham dengan jalan pikir Mavis yang tidak biasa. Ke manapun tuan mudanya itu pergi, pasti ada sesuatu yang akan dia lakukan dan itu akan mengundang keributan. Entah itu sesuatu yang baik ataupun buruk. Baik-baik saja jika itu sesuatu yang baik, tapi jika yang terjadi buruk, masalah akan datang padanya. Dia akan berhadapan langsung dengan keluarga kerajaan atau bahkan sang raja yang merupakan ayahnya.
"Cukup yakin dengan dia pergi, mau tidak mau aku harus mengikutinya. Jika sesuatu hal besar terjadi dan membahayakan sang pangeran, dan itu sampai di telinga ayahnya, aku akan celaka!" Sasha mendengus kesal, tapi dia buru-buru berpikir untuk sesuatu hal yang lain.
"Meski begitu aku cukup senang, kali ini dia mengajakku dalam rencananya. Beberapa hari belakangan ini dia selalu mengusirku pergi setelah mengantarkan makan, itu membuatku kesel dan penasaran dengan apa yang sedang dia lakukan," kata Sasha dalam hati, dia menjadi lebih baikan ketika memikirkan hal itu. "Aku penasaran, hal menarik apa yang akan dia lakukan?"
Sewaktu mereka pergi untuk menyiapkan, Earl Edward berpapasan dengan mereka. Jadi mereka menentukan tempat di sini sebagai tempat titik kumpul. Selain itu sudah pernah kelompok Mavis lakukan, juga dekat dengan tempat penyewaan kuda tunggangan. Begitu Mavis terlihat, iblis seperti Bintang dan Ozzi yang riang memanggil dan melambaikan tangannya di atas.
Mavis berserta Earl Edward dan Sasha berjalan mendekat. Ketika mereka sampai, para makhluk panggilan itu memberi hormat dengan khidmat seperti biasanya. Earl Edward sangat terkejut dan rahangnya hampir jatuh menyentuh tanah. Dia merasakan aura yang kurang lebih sama dengan yang dimiliki si kembar Becky dan Becca yang sebelumnya datang mengunjungi kediaman bangsawan itu. Akan tetapi kini dia melihat begitu lebih banyak orang seperti si kembar? Apa sang pangeran mencoba membuatnya terkena serangan jantung? Hanya memiliki dua pengikut iblis saja sudah membuat dia sakit kepala memikirkan bagaimana itu mungkin, tapi sekarang dia bahkan tidak bisa menghitungnya dengan satu tangan.
"Mereka? Apa itu ...." Earl Edward secara alamiah tidak bisa untuk tidak bertanya. Dia mencoba sebaik mungkin untuk terlihat baik di luar, akan tetapi pada akhirnya suaranya tertahan.
Melirik ke arah sang pangeran karena ingin mengkonfirmasi hal itu, yang dia temukan selanjutnya membuat bangsawan itu mendapatkan syok ringan.
Mavis tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.
Sementara mereka sedang berbicara satu sama lain setibanya Mavis, seorang gadis dengan rambut setengah dikepang datang sambil membawa suatu peliharaan aneh seperti buntalan kapas di tangan. Dia datang menghampiri Mavis dan menyapanya dari belakang.
"Akhirnya kau muncul juga, Pangeran?" Dia tertawa kecil.
Mavis terkejut dan alisnya mengangkat saat dia mendengar suara yang tidak asing dia dengar memanggil dia. Segera dia membalik badannya untuk melihat siapa orang yang datang menyapa.
"Yennefer?"
Gadis kecil itu tersenyum dengan sangat manis di hadapan Mavis. Ya, Mavis ingat gadis yang pernah dia temui di tempat ini, dia pastilah Yennefer anak dari pak tua yang dulu pernah menasehatinya. Merasa begitu yakin kalau dia itu orang yang sama, Mavis membalas tersenyum dan bertanya, "Di sini aku hampir tidak mengenalimu kalau tidak melihat si kecil ini."
Mavis mencoba meraih peliharaan yang terlihat lembut itu, tapi seperti sebelumnya buntalan kapas itu mengeluarkan suara lirih imut seperti menolak sentuhan Mavis. Gadis itu pun tertawa kecil.
Mavis tidaklah berbohong dengan perkataanya barusan. Melihat tampilan gadis itu yang sekarang, dia bahkan akan tidak mengenalinya jika berpapasan di tempat umum, sampai gadis itu sendiri yang pertama menyapanya. Dia sekarang menjadi keindahan yang bisa bersaing dengan kelas seperti Sasha ataupun Putri Judh sekalipun. Meski itu bukan hal menarik dalam artian cantik mempesona, tapi dia lebih terlihat cantik yang menenangkan.