
Ketika darah terakhir milik komandan prajurit pemberontak jatuh membasahi tanah, Akio mengayunkan pedangnya untuk membersihkan noda darah yang menempel. Setelahnya, dia menyarungkan kembali pedang itu dan berbalik untuk melihat di mana tuannya itu berada. Dia pun segera mengangguk, sebagai tanda berakhirnya pertempuran di tempatnya.
Beralih di sisi lain Mavis tampak tenang saat mendekati para prajurit yang berhenti karena kebingungan. Mereka awalnya berpikir kalau kelompok prajurit milik sang pangeran tidaklah cukup melawan ratusan prajurit pemberontak. Namun, diluar dugaan mereka itu malah menjadi pembantaian sepihak. Para prajurit pemberontaklah yang justru berakhir dikalahkan oleh kelompok yang dibawa sang pangeran.
"Kalian telah setia kepada kerajaan, keberanian kalian patut dihargai." Mavis berkata dengan senyum di wajah, dia memandang para penduduk itu dengan tatapan hangat. Tidak ada sedikitpun jejak meremehkan dan jijik melihat mereka, membuat para penduduk itu merasa bahwa dewa telah mengabulkan doa yang mereka panjatkan selama ini. Mereka benar-benar bisa merasakan ketulusan datang dari perkataan sang pangeran.
"Terimakasih, Pangeran."
"Terimakasih."
Para penduduk meneteskan air mata bahagia, seraya koktow di hadapan Mavis. Di antara para penduduk pun juga ada yang membungkuk dan berulang-ulang mengucapkan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada sang pangeran. Suasana di tempat itu berubah menjadi begitu mengharukan, membuat sang pangeran tidak bisa berkata-kata lagi.
Tak lama, seorang pemuda berkulit coklat yang berada di barisan terdepan para penduduk maju dan memberi salam penghormatan.
"Salam kepada Pangeran, namaku Masako, perwakilan para penduduk di luar tembok. Pangeran, aku sangat berterimakasih karena kerajaan telah mengirimkan pangeran datang ketempat ini untuk membantu kami. Aku sebagai perwakilan penduduk yang berada di pemukiman luar, dengan bersenang hati membantu Pangeran untuk menggulingkan tirani Baron Gustav, " kata pemuda bernama Masako itu.
Mavis melihat bagaimana Masako memberi salam hormat kepadanya, dan dia sedikit terkejut ketika mendapati gerakan itu bukanlah gerakan sederhana di permukaan. Dari apa yang Mavis ketahui cara Masako memberi salam sangatlah halus, seperti para bangsawan biasanya. Dalam hati pun Mavis bertanya-tanya, siapa dia sebenarnya?
"Maaf, tapi aku tidak bisa menerima tawaran dari kalian," kata Mavis.
"Mengapa, Pangeran?" Masako berubah wajah menjadi serius ketika Mavis menolak tawaran mereka untuk membantu. Dia pun mulai waspada dan mulai menduga-duga skema apa yang mungkin sang pangeran kecil ini maksudkan dengan datang ke tempat ini, jika bukan untuk membantu.
"Kalian hanya akan terbunuh jika tetap memaksa maju."
"Terimakasih Pangeran, karena telah mengkhawatirkan keselamatan kami. Namun, perlu Pangeran ketahui kami telah berdiri sampai sejauh ini karena telah membulatkan tekad. Tidak masalah, jika kami terbunuh nantinya. Itu masih jauh lebih baik mati dalam memperjuangkan hak kami dibandingkan mati di tempat kumuh seperti ini. Setidaknya ketika sejarah dituliskan kami tidak akan malu kepada keturunan kami nantinya, karena kami pernah berjuang," kata Masako, kini dia menatap Mavis dengan pandangan yang jauh lebih baik. Setelah dia paham kalau sang pangeran sebenarnya tidak ingin mereka di tempatkan dalam bahaya.
"Cukup sudah, kalian semua. Sebagai seorang pangeran kerajaan aku memerintahkan kalian untuk kembali ke tempat tinggal kalian masing-masing dan berkemas. Begitu aku selesai mengurus segalanya di dalam benteng, kalian sudah bisa kembali ke dalam," kata Mavis, dia tidak repot melihat tanggapan selanjutnya dari para penduduk atas perkataannya barusan. Dia pun memutar tunggangannya lalu pergi, meninggalkan para penduduk yang masih linglung.
Mavis kembali ke tempat di mana Zahard berada. Kemudian sesampainya di sana, dia segera mengulurkan tangannya kepada anak kecil itu seraya berkata, "Pegang tanganku dan naiklah."
Zahard dengan ragu mengelap tangan kecilnya itu di pakaiannya, seolah tidak ingin mengotori tangan sang pangeran. Kemudian, dia naik ke atas kuda dan duduk di belakang sang pangeran, dengan kedua tangan yang mencengkram jubah belakang milik sang pangeran.
Sebenarnya, anak itu masih tidak mengerti sebenarnya apa yang ada dipikiran sang pangeran sampai-sampai berbaik hati padanya. Baik-baik saja jika sang pangeran hanya mengasihaninya maka dari itu menolongnya ketika tertangkap basah mencuri roti. Namun, sang pangeran kini bahkan mengajaknya pergi bersama? Siapapun yang menyaksikan hal ini pasti tidak akan mempercayai apa yang mereka lihat dengan mata kepalanya sendiri. Itu tentu berlaku pada pria yang sebelumnya memprovokasi sang pangeran.
Pria itu kini jatuh dengan kaki yang lemas, melihat pemandangan di depannya dengan tidak percaya. Para prajurit yang dia andalkan terbunuh begitu saja di hadapan beberapa pengawal sang pangeran. Perasaan rumit pun menelannya dan membuat dia menggigil ketakutan. Begitu dia tersadar, segera dia bersujud dengan wajah jelek meminta maaf kepada sang pangeran.
"Pangeran, aku bersedia menjadi pelayanmu. Mohon ampuni nyawaku. Aku memang bodoh tidak mengenal siapa Pangeran sebelumnya. Maafkan aku," kata pria itu, memelas dan berusaha membuat sang pangeran di hadapannya itu mengampuni dia sekaligus membawanya ikut serta. Tidak masalah menjadi seorang pelayan, itu masihlah memiliki posisi yang lebih baik dari pada tinggal di tempat kumuh seperti ini. Selama dia bisa berguna menjadi pelayan sang pangeran, dia berpikir akan mendapat manfaat lain nantinya.
Namun, berbeda dari apa yang pria itu bayangkan, sang pangeran tidak menanggapinya dan bahkan tidak repot melirik ke arahnya. Sang pangeran terus bergerak dengan kuda tunggangannya bersama Zahard, melewati pria itu yang masih bersujud di tanah. Bagi sang pangeran, sudah tidak ada gunanya lagi berbicara dengan pria itu, biarlah dia hidup dengan menanggung rasa malu dan penyesalan atas kebodohannya.
"Dia ingin melayani Tuanku? Apa hanya manusia bodoh dan menjijikan sepertinya berani berpikir sampai sejauh itu? Yang benar saja!" kata Becky dalam hati ketika menyadari maksud dari pria itu. Dia pun membuang tatapan jijik, lalu segera membalik badannya menuju tunggangannya. Kemudian dia membawa kudanya itu menyusul tuannya yang sudah pergi duluan.