I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 84 : Keributan Yang Tidak Perlu



Hari itu ketika Mavis terbangun, sehari telah berlalu. Dia membuka matanya dan mendapati Ratu Lilian tengah tertidur pulas di samping ranjangnya. Tangannya menggenggam tangan Mavis, membuat dirinya tidak berani bergerak takut kalau itu akan menggangu tidur sang ratu. Mavis menatap sejenak wajah sang ratu, perasaan dalam hatinya menjadi begitu rumit. Di satu sisi dia senang bahwa dia mendapat perhatian dari ibunya itu, tapi di sisi lain dia sedih karena telah menyusahkan sang ratu dan membuatnya kelelahan karena semalaman menjaga anaknya itu.


Meski Mavis tidak tahu jelas apa yang terjadi padanya, yang ada di ingatannya Mavis saat itu selesai melakukan ritual pembangkitan dan selebihnya dia tidak ingat. Mavis dapat sedikit menebak dia pasti terlalu banyak menggunakan kekuatannya, kemudian dia berakhir kelelahan dan jatuh tidak sadarkan diri. Sang ratu pun pasti merawatnya selagi dia tertidur.


"Kalian bisa mendengarku? Katakan berapa lama aku tidak sadarkan diri?" Mavis segera menghubungkan komunikasi kepada para makhluk bayangannya melalui telepati, sambil melirik ke arah luar jendela yang sudah terang.


"Tuanku telah kembali!"


"Syukurlah Tuan sudah sadar." Mikaela buru-buru menjawab panggilan Mavis dengan nada bahagia. "Terhitung sudah sehari ini Tuanku tertidur. Aku sangat khawatir, energi Tuan sangatlah lemah setelah melakukan ritual kepada mereka berlima. Lily, juga sudah mencoba membantu memulihkan Tuanku, hanya itu sangatlah aneh, Tuan. Lily bukan hanya tidak bisa memulihkan energi Tuanku, tetapi segala macam mantra pemulihan tidak bekerja pada Tuanku."


"Maaf Tuan, atas ketidakmampuanku." Lily berkata dengan malu, suaranya sedikit lirih karena merasa bersalah. Dia saat tuannya itu sedang dalam masa sulit, orang yang seharusnya mampu sepertinya bahkan tidak bisa membantu.


Hal itu sedikit mengejutkan Mavis. Mengenai apa yang baru saja dikatakan Mikaela sungguh membuatnya mengerti sesuatu yang baru. Benar saja, bukan hanya Mavis tidak bisa mengolah energi spirit yang ada di dunia ini, akan tetapi tubuhnya itu bahkan juga tidak mengizinkan energi spirit masuk untuk membantu dirinya.


"Berhenti untuk menyalahkan diri sendiri, lagipula ini bukan sesuatu yang bisa kamu lakukan terhadapku. Bahkan, aku curiga di dunia ini tidak ada yang bisa menyelamatkanku jika aku dalam kondisi kritis sekalipun."


Dalam pikirannya, Mavis paham jika di dunia ini hukum alam memang menolak dia bersentuhan langsung dengan energi spirit, maka selain penguasa dunia yang membuat hukum hukum itu sendiri, tidaklah mungkin ada yang bisa berbuat sesuatu pada kondisi dirinya.


"Kalau begitu, sekarang katakan padaku apa saja yang telah terjadi ketika aku sedang tidak sadarkan diri," kata Mavis.


Mereka mulai menceritakan kejadian apa saja yang terjadi selepas Mavis tidak sadarkan diri. Sore itu bermula ketika Ratu Lilian datang untuk mengunjungi sang pangeran, akan tetapi begitu tiba sang ratu mendapati sang pangeran tertidur di ranjang dengan wajah pucat. Akhirnya sang ratu panik dan segera memanggil seorang tabib kerajaan untuk memeriksa kondisi Mavis.


Namun, seperti yang diharapkan oleh mereka para makhluk bayangan, tabib itu tidak bisa memulihkan energi sang pangeran yang begitu tipis. Seorang ahli seperti Lily saja tidaklah bisa, apa yang harus diharapkan dari seorang tabib rendah belaka?


Sang ratu pun sedih dan tidak bisa untuk tidak panik. Dia pikir sesuatu yang buruk tengah menimpa sang pangeran. Maka dari itu dia bersikeras untuk tetap tinggal dan merawat sang pangeran sepanjang malam. Benar-benar bukan seperti sifat seorang ratu, malam itu dia hanyalah ibu yang sedang mengkhawatirkan anaknya.


Sementara itu, tentu pelayan sang ratu juga mengkhawatirkan kesehatan sang ratu. Apalagi Ratu Lilian ini baru saja sembuh dari penyakitnya dan masih harus beristirahat beberapa hari untuk memulihkan kembali tenaganya. Sang ratu pun kesal karena pelayannya itu selalu mengganggunya, oleh karena itu sejak sore itu, sang pelayan mendapat tugas keluar untuk memberitahu sang raja tentang kondisi sang pangeran.


Bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh! Yang sedang dibicarakan kali ini adalah penjara tingkat tiga yang dijaga oleh banyak ahli kerajaan. Namun, tempat teraman seperti itu masih bisa dimasuki oleh seorang ahli? Seberapa kuat dia? Para penjaga bahkan ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri oleh Raja Cornelius sendiri ketika kunjungannya pagi itu. Untungnya, para penjaga hanya mengalami pingsan sesaat dan tidak menerima luka yang serius, juga tidak ada korban sama sekali dari sisi para penjaga.


Entahlah, ini sangat membingungkan bagi sang raja. Banyak pertanyaan muncul di kepalanya dan sang raja mencoba mencari tahu jawabannya. Salah satu pertanyaan yang paling menggangunya, yaitu mengapa ahli misterius itu sungguh bermurah hati tidak membunuh para petugas? Meski tujuan awal dia mungkin membunuh para tabib, apakah ada alasan lain untuk tidak membunuh para petugas? Dilihat dari cara para tabib itu mati saja sangatlah mengenaskan, bagi ahli pembunuh hebat seperti dia, pastilah berdarah dingin dan mampu membunuh tanpa berkedip.


Sang raja tidak habis pikir dengan jalan pikir pembunuh itu. Untuk berjaga-jaga, sang raja pun segera memberikan perintah kepada para penjaga untuk meningkatkan keamanan terutama mansion keluarga kerajaan. Sang raja pun sampai meminta Nona Alice datang untuk menghadap sang raja.


"Sungguh keributan yang tidak ada gunanya. Apa yang tidak diketahui ayahku bahwa para tabib itu mati bukan karena ancaman dari orang dibelakang mereka, akan tetapi karena ulah kalian." Mavis berkata kepada makhluk panggilannya dengan nada prihatin. "Sungguh aku tidak bermaksud membuat ayahku dalam kesulitan. Namun, aku tidak punya pilihan lain karena Reus terlalu berharga jika aku lepaskan begitu saja."


Mavis hanya bisa menghela napas berat, kemudian dia kembali memasuki pemikirannya yang mendalam.


"Oh ya, apakah Ezekiel dan keempat lainnya sudah bersama kalian?" Mavis berkata dengan senyuman di wajah, dia tiba-tiba menjadi begitu bersemangat.


"Tuan, ini...."


"Mereka berlima malu untuk berbicara kepada Tuanku. Mereka malu karena akibat membangkitkan mereka, Tuanku berada dalam kesulitan," kata Mikaela.


"Sudahlah, Ini bukan kesalahan kalian. Harus kukatakan berapa kali lagi sampai kalian mengerti? Berhentilah berpikir yang tidak-tidak dan menyalahkan diri sendiri. Sekarang aku baik-baik saja. Sebelumnya aku hanya kurang berhati-hati dan memaksakan diri. Lain kali aku pasti akan lebih berhati-hati," kata Mavis dengan nada santai. Harus dia akui bahwa dia terlalu gegabah melanjutkan ritual itu ketika dia sebenarnya belum sanggup melakukannya.


"Sekarang, tunggu apa lagi? Apa kalian berlima masih tidak ingin menyambut Tuan barumu ini?" kata Mavis dengan nada setengah mengejek.


"Baiklah, baiklah...."


"Tunggu, Tuan ... bukan seperti itu ... maafkan kami...."