
Pertarungan sengit tak terelakan terjadi pada medan tempur yang lain. Bersama dengan lima ahli yang datang dari benua utara, Alice bertempur melawan gabungan ahli dari ketiga kerajaan. Meski jumlah ahli berlencana merah yang berada di pihak musuh berjumlah tujuh, selisih satu dengan kelompok di sisi Alice, akan tetapi pertempuran itu tampak seimbang dipermukaan. Standar tempur petualang di benua utara memang tidak dapat diragukan lebih terampil dibandingkan mereka yang asli mendiami benua timur ini.
Seorang ahli wanita berpakaian seksi dengan tameng dan kapak maju dan menghantam pria di pihak musuh. Dengan kekuatan penguat yang ditanam pada kapak besar itu bahkan sihir pertahanan yang tercipta tidak mampu menanggung beban senjata mengerikan itu. Wanita bernama Mei itu menggeram dan mengamuk, menghancurkan penghalang sihir dan mengayunkan kapak itu menuju lawannya. Namun belum sempat kapak itu mencincang daging lawan, sebuah cambuk datang dan menarik pria itu dan menghindari serang fatal barusan.
Mei berdecih.
"Lihat ke mana kau!" Sementara itu salah satu kawan Mei dengan cepat bereaksi, menembakan banyak pisau terbang ke arah wanita yang membawa cambuk tadi. Sebuah celah terbuka dan Rowena tidak akan menyianyiakan kesempatan emas itu untuk mengakhirinya.
Dengan demikian karena tidak siap menerima serangan tiba-tiba itu, wanita di pihak musuh bernama Tiya itu dengan susah payah menangkis dan menghindari hujaman pisau-pisau itu, dia terdorong mundur dan terpojokan, sampai pada akhirnya gagal menangkis beberapa hujaman pisau dan tertancap pada pundak dan kakinya.
"Ukh..."
"Tiya, kamu terluka parah, apa kamu masih bisa bertarung?" Maxim, pria berwajah polos yang telah diselamatkan Tiya itu datang untuk membantu kawannya berdiri dengan benar. Hanya, Tiya dengan kukuh melepaskan pisau yang tertancap pada tubuhnya itu dan mendesis kesal.
"Lupakan saja, ini bukanlah saatnya untuk bersantai. Dan lagi, kau tidak perlu mengkhawatirkanku." Kemudian wanita itu mencambuk talinya ke tanah hingga membuat tanah di bawahnya seketika retak dan hancur. "Berhentilah bermain-main dan fokus bertarung melawan musuh. Pastikan untuk tidak menjadi beban bagi kami. Serangan berikutnya aku atau yang lain tidak akan menyelamatkanmu."
Setelah mengucapkan beberapa kata untuk kawannya, Tiya menghentakkan kaki dan segera banyak partikel tanah yang berukuran sebesar kepala itu melayang, dan kemudian dia mencambuk batu-bau itu dengan cepat ke arah lawannya, petualang Rowena yang berasal dari Kerajaan Baratajaya.
Tak lama Rowena pun memanggil kembali pisau-pisaunya itu untuk memblokir batu-batuan yang melesat kencang ke arahnya. Dan benar saja, serangan yang dilancarkan petualang yang berasal dari Kerajaan Mori itu berhasil digagalkan semudah membalikkan telapak tangan. Hal ini membuktikan bahwa Rowena tidaklah membual tentang perbedaan kekuatan besar di antara mereka.
Beralih pada pertarungan lain antar penyihir, tiga lawan tiga, dentuman memekakkan telinga selalu terdengar begitu kedua mantra sihir bertubrukan. Kali ini ahli yang berasal dari pihak aliansi tiga kerajaan membentuk sebuah susunan lingkaran sihir besar, segera sebuah kepulan api tercipta dan semakin banyak itu terkumpul hingga mengambil bentuk tubuh kolosal berapi. Monster yang terbentuk dari kobaran api itu berdiri tinggi sekitar kurang lebih tiga puluh meter. Kemudian kolosal itu pergi menuju tiga penyihir dari utara yang tengah berdiri dengan tenang.
"Biarkan aku yang menangani hal ini, jangan menggangguku." Dengan angkuh salah satu penyihir bernama Sergei maju untuk menunjukan kekuatannya di hadapan dua wanita penyihir di belakangnya.
Sergei menutup kedua matanya, mengarahkan tongkat staff miliknya itu ke depan sembari merapalkan sebuah mantra kuat berskala besar. Begitu dia selesai pada perapalannya terakhir, munculah sebuah lingkaran putih samar di atas tanah dan tak lama setelah itu segala sesuatunya yang berada di dalam lingkaran itu ditekan hingga sampai tingkatan yang tidak diketahui. Bentuk kolosal api itu pun perlahan menjadi lambat, sampai pada beberapa detik berlalu itu jatuh ke tanah karena tak kuat menerima tekanan gravitasi yang sangat kuat. Perlahan, api yang membentuk monster kolosal itu pun tercerai dan semakin lama hancur, berubah menjadi kehampaan.
"Kalian berdua lihat, kan? Akuilah kehebatanku," kata Sergei, menoleh ke arah Osya dan Yura yang berada di belakangnya.
"Terlalu sembrono." Ahli wanita bernama Osya itu menggelengkan kepala ketika menyadari serangan fatal sedang mengarah ke titik buta pria itu. Langsung saja dia melemparkan payung yang dibawanya itu melesat melewati Sergei, kemudian ketika di udara payung tersebut membuka dan memblokir serangan dari seorang ahli yang menyelinap dengan serangan instan.
"Bagaimana bisa? Kau...." Kini terlihat wujud seorang wanita dengan pakaian terbuka, stelan bra dan celana mini, beserta stoking hitam yang dikenakannya. Syok hebat mengisi hati pembunuh bernama Karina itu. Begitu sabit besar yang seharusnya sudah memenggal kepala pria sombong di hadapannya kini terblokir hanya dengan payung berwarna merah. Terpaksa, wanita berdarah dingin itu mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak yang aman.
"Tidak perlu berterimakasih." Osya tersenyum geli seraya mengangkat tangannya, mencegah agar Sergei tidak mengatakan hal menggelikan dan tak tau malu kepadanya.