I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 116 : Berdirinya Kerajaan Binatang Buas



Mavis masih tidak habis pikir, dengan apa yang baru saja dikatakan pelayannya itu. Mengenai identitas sang putri dari Kerajaan Yukhiro, yang ternyata gadis pencuri roti yang pernah dia selamatkan sewaktu di pemukiman kumuh! Gadis kecil bernama Zahard.


"Bulan, Wed, dan Ezekiel, apakah kalian mendengarku?" Mavis mengirimkan pesan melalui telepati kepada ketiga pelayannya yang berada di wilayah perbatasan selatan.


"Kami mendengarnya, Tuan." Berada di seberang, Bulan yang sedang memantau keadaan pemukiman dari atas tembok pertahanan, menjawab panggilan dari tuannya itu. Demikian dengan Wed dan Ezekiel yang berada di lokasi lain, sejenak menghentikan aktifitasnya dan menerima pesan dari telepati tuannya.


"Aku memiliki satu tugas tambahan untuk kalian. Temukan gadis kecil bernama Zahard, kemudian awasi dan lindungi dia secara diam-diam. Laporkan jika sesuatu terjadi padanya."


"Dimengerti."


Setelah dia selesai memutuskan sambungan dengan ketiga pelayannya itu, Mavis yang diikuti para pelayannya beranjak pergi meninggalkan aula pertemuan. Sejatinya, dia berniat untuk beristirahat, karena selama tiga hari melakukan perjalanan ini dia belum juga mendapatkan waktu tidur yang cukup.


Ivar pun memimpin jalan dan kemudian menunjukan tempat hunian baru untuk Mavis nantinya. Tentu, bangunan baru itu dipersiapkan demi kenyamanan tuannya selama berada di pemukiman goblin ini. Lokasinya berada di ujung jalan, jika terus berjalan lurus melewati alun-alun itu akan terlihat bangunan besar yang dijaga oleh beberapa prajurit goblin.


Sementara itu, berada di tempat lain, tepatnya di benua bagian utara yang berbatasan langsung dengan benua bagian tengah, Kerajaan Minami.


Pemandangan yang tidak biasa mengisi seluruh penjuru ibu kota kerajaan berafiliasi tingkat enam itu. Dinding-dinding dihancurkan dan lubang-lubang nampak di beberapa sisi. Bangunan pertokoan dan pemukiman pun tidak luput dari malapetaka itu, semua hancur diratakan dan hanya menyisahkan puing-puingnya saja. Sejauh mata memandang, jalan-jalan beraspal itu dipenuhi dengan tumpukan bangkai mayat manusia berpakaian zirah putih, beberapa terlihat mayat para petualang yang berpakaian longgar dan topi khas seorang penyihir.


Beralih lebih jauh lagi, di mana sebuah aula besar dengan atap yang hancur berada. Terlihat sosok besar menyerupai seekor macan tengah terduduk di kursi singgasana. Menggunakan celana kulit yang berbulu dan dada yang terbuka lebar, sosok kekar itu menatap ke arah para bawahannya yang berada di hadapannya itu dengan wajah serius.


"Tuan, Leon. Sampai saat ini telah tercatat sebanyak seribu dua ratus empat puluh korban di pihak kami yang tewas dalam pertempuran. Sementara itu, berjumlah seratus tujuh lainnya yang mengalami luka ringan hingga berat sedang menjalani perawatan intensif dari unit tiga," kata sosok kucing betina bernama Shima itu. Saat ini dia maju selangkah dari barisan untuk menjawab pertanyaan dari tuannya.


"Bagaimana dengan para manusia yang melarikan diri?"


"Tidak perlu khawatir, Tuan. Mereka semua telah tertangkap oleh unit pengejar, Taurus sudah mengurus mereka," kata Shima dengan penuh keyakinan. Setelah menjawab pun dia kembali pada barisan dan tersenyum, ekornya tanpa sadar bergerak ke kanan dan ke kiri, menandakan bahwa dia sedang dalam mood yang cukup bagus.


"Baiklah, kalian bisa kembali berjaga. Perketat keamanan, jangan biarkan informasi bocor ke luar ibu kota ini." Setelah memberi arahan kepada bawahannya itu, Leon bangkit dari duduknya. Kemudian macan berotot itu mengaum keras, sebelum pada akhirnya tertawa dengan bangga.


"Alpha dan Beta, kalian berdua aku tugaskan memimpin pasukan berikutnya dalam penyerbuan di ladang. Begitu status mereka yang terluka telah dipulihkan, segera kalian pergilah dan rebut semua wilayah di kerjaan ini!"


"Baik, kami mengerti." Sosok sepasang serigala bernama Alpha dan Beta itu pun menyambut perintah sang tuan dengan senang hati. Setelahnya, kedua pasangan itu pergi meninggalkan ruangan bersama dengan para binatang lainnya. Hingga menyisahkan Leon dan seorang wanita cantik dari keluarga ular di ruangan itu. Sejatinya wanita ular itu sudah ada di ruangan itu sejak dimulainya rapat, hanya dia menggunakan kemampuannya untuk tidak terlihat dan berdiam diri di samping singgasana sang raja.


Wanita ular itu pun berjalan mendekat, kemudian tanpa ragu membawa tubuhnya menaiki Leon yang sedang bersandar pada kursinya. Kemudian tersenyum dengan menawan, sesekali dia menjulurkan lidahnya dengan begitu nakal ketika jemari tangannya menjamah dada bidang milik Leon itu.


"Hentikan, May." Leon menghela napas panjang dan memejamkan kedua matanya. "Saat ini aku sedang tidak ingin berurusan denganmu, aku butuh istirahat."


"Benarkah, Tuan? Kalau begitu silahkan Tuanku beristirahat, sementara aku akan melayanimu," kata wanita ular bernama May itu. Tak butuh waktu lama dia segera menyantap lidah Leon dan kemudian menghabiskan waktu selama setengah hari untuk membantu memulihkan tenaga tuannya itu.