I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 67 : Kekalahan Tim Ekspedisi Kekaisaran



Berada di atas tunggangannya, Becky melihat ke arah bawah sambil menyeringai. Naga Es itu terbang pada ketinggian dan terus menyemburkan napas api, membakar seluruh prajurit dan petualang yang berniat melarikan diri. Mereka kehilangan semangat bertarung, setelah kemunculan hanya satu naga membalikan kepercayaan mereka.


"Kita dikalahkan, Penasihat Barok kita harus pergi," kata salah satu penyihir petualang yang berada di samping Penasihat Barok. Melepas tudungnya, terlihat wajah cemas dan keringat bercucuran.


Dentuman terdengar dan golem yang sebelumnya tanpa henti memukul tanah dibawahnya hancur menjadi kepingan tanah keras. Seorang wanita dengan pakaiannya yang berdebu muncul dari runtuhan batu bekas golem tersebut. Dia memukul batu yang menimpanya dan keluar sambil menepuk pakaiannya yang kotor.


Terlihat wanita itu masih dalam kondisi tubuh yang lengkap, tanpa luka sedikitpun. Orang luar seperti pasukan kekaisaran tidak akan pernah tau, kemampuan Mikaela sejatinya seperti apa, hanya orang-orang terdekat seperti Becky dan Becca dan para makhluk panggilan iblis lainnya yang tau, bahkan Mavis yang sebagai tuannya belum tau kemampuan iblis itu. Mavis hanya tau Mikaela adalah yang terkuat diantara makhluk panggilan iblis lainnya. Itu karena Mavis sebagai tuannya terhubung dengan masing-masing pelayannya, jadi dia bisa merasakan kekuatan Mikaela.


"Dia akan mengamuk." Becca yang sedang berjalan di tumpukan mayat prajurit melihat Mikaela dan tersenyum.


Kemampuan Mikaela sejatinya mengubah energi serangan yang dia terima dan melipat gandakan kekuatannya. Kesalahan terbesar ada pada keputusan mengirim golem raksasa itu untuk meninju Mikaela ratusan kali. Itu hanya akan membuat wanita iblis itu menjadi kuat dan tak terbayangkan.


Mikaela berdiam beberapa saat dan memandangi para prajurit yang berhamburan dan meninggalkan formasi. Dia melirik ke arah langit dan mendapati naga es yang ditunggangi Becky, lalu melirik ke arah daerah penuh darah di sekitar Becca. Dia mengirimkan pesan kepada keduanya, untuk menyelesaikan pertarungan ini.


"Dimengerti."


Mikaela melesat dan memborbardir setiap prajurit yang dilewatinya, hanya cukup satu pukulan akan menjadikan serangan fatal yang menghancurkan tubuh para prajurit. Di bawah kendali Becky Naga Es semakin lihai melepaskan semburan api dan mengubah para prajurit menjadi abu hitam. Bersamaan dengan itu dari sayap kiri Becca berlari menyeimbangi langkah Mikaela, bunga-bunga api bermekaran di setiap tubuh para prajurit yang dilewatinya. Para prajurit itu berusaha mati-matian menjauhi ketiganya, hanya saja itu sesuatu yang sia-sia, mereka semua pada dasarnya akan mati di tempat itu.


"Sudah berakhir," kata Penasihat Barok saat melihat kondisi disekitarnya menjadi kacau balau. Dia telah kehilangan staminanya hingga berdiri saja harus bertumpu pada tongkat staf miliknya.


Penasihat Barok hanya bisa pasrah, terlebih para prajurit sudah tidak mau mengikuti arahannya.


"Sejak awal memang tidak seharusnya kita memprovokasi pihak musuh. Kalian pergilah dan beritahu Yang Mulia untuk bersiap. Aku akan mencoba sebisa mungkin menaham ketiganya. Juga, sampaikan pesanku untuk Yang Mulia, beritahu kepadanya untuk tidak menyinggung tuan dari ketiga wanita itu."


"Pergilah."


Penasihat Barok menyuruh para penyihir petualang untuk pergi melarikan diri. Para penyihir itu tidaklah bodoh, meski mereka enggan meninggalkan Penasihat Barok -- orang yang telah berjasa pada hidup mereka, seseorang harus selamat dan memberikan kabar kepada Yang Mulia. Mereka pun mengangguk dan menggunakan stamina yang masih tersisa untuk melarikan diri dengan terbang.


"Weyan! Mengapa kamu tidak pergi!" kata Penasihat Barok.


"Tuan, aku sudah tidak memiliki kekuatan yang tersisa." Seorang penyihir muda tersenyum jelek dengan wajah pucat, dia berjalan mendekati Penasihat Barok dan bersama melihat kekacauan di sekitar mereka berdua.


Itu terus berlanjut sampai pasukan tim ekspedisi kekaisaran hampir semuanya dihapuskan. Mikaela sudah berada di lini belakang formasi, berhenti dan melihat Penasihat Barok dan seorang pria jauh di depannya.


"Menarik."


Mikaela tersenyum tulus, dia benar-benar memiliki penilaian baik terhadap kedua orang itu yang tetap pada keteguhan dalam pertempuran, sementara para prajurit dan petualang yang lain lebih memilih untuk melarikan diri.


"Kita bertemu lagi." Penasihat Barok berkata sambil tersenyum paksa ditengah tubuhnya yang sangat lemah.


"Tuanku telah berbaik hati untuk mengutus kami untuk memperingatkan kalian, tapi sepertinya kalian memang bodoh untuk mengabaikan pesan darinya." Mikaela berkata dan berdiri pada jarak belasan meter di depan Penasihat Barok.


"Aku hanya melaksanakan perintah Sang Kaisar, sangat disayangkan," kata Penasihat Barok, rasa pahit dia rasakan dibalik ucapannya. Itu karena pada dasarnya dia telah diberikan kepercayaan dari sang kaisar langsung untuk berhasil dalam tim ekspedisi baru ini, tapi dia tidak menyangka akan berhadapan dengan sesuatu yang memiliki kekuasaan atas wilayah goblin itu.


Mikaela mengerti, diapun tiba-tiba terpikirkan sesuatu.


"Di sini kalian memiliki kesempatan baru, aku akan memberikan pilihan. Bergabung dengan kami dan tunduk kepada Tuanku, atau kalian mati di tempat ini."


"Tuan..."


Penyihir Petualang bernama Weyan itu menggigil setelah mendengar perkataan Mikaela. Dia tau, wanita di hadapannya tidaklah main-main, jika dia mengatakan menolak untuk tanduk kepada tuan yang ketiga wanita itu layani, makan dia akan benar-benar mati!


"Aku tetap pada pendirian. Mati bersama para prajurit melawan monster seperti kalian bertiga bukanlah hal yang buruk, setidaknya tidak ada yang berani menertawakan kematianku."


"Silahkan."


Penasihat Barok menutup matanya dan menunggu malaikat maut itu mengambil nyawanya.


"Baiklah, kamu perlu mati terlebih dahulu." Mikaela segera melesat dan mencengkram leher Penasihat Barok. Kedua manik mata pria tua itu membelalak dan semburan darah keluar dari mulutmya.


Mikaela memutar kepalanya untuk melihat penyihir Weyan yang berada di samping Penasihat Barok. Akan tetapi penyihir itu tidak menjawab, melainkan menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum sambil menutup kedua matanya. Segera, dia mati tercekik seperti yang terjadi ada Penasihat Barok. Mikaela melepaskan keduanya, dan jasad itu jatuh ke tanah.


"Melihat mereka masih dalam keadaan utuh, apa yang kamu rencanakan?" Becca sampai di tempat itu dan melihat dua jasad manusia yang mana satunya dia kenal. Bersamaan setelah Becca mengatakan itu, Becky turun melompat dari ketinggian dan tiba di samping Becca.


"Apa mereka itu bodoh? Atau paling bodoh diantara yang bodoh? Apa mereka pikir dengan mati, mereka bisa menolak jika Tuanku menginginkan mereka?" Becky berkata dengan nada mengejek.


Jelas, meski Becky memiliki tempramen yang buruk dia lebih pintar dibandingkan saudarinya dalam hal mengartikan situasi seperti sekarang. Becky tau maksud Mikaela, dia merasa keduanya pantas untuk ditunjukan kepada Mavis untuk dinilai. Benar, keduanya memiliki keteguhan hati, kejujuran, dan patuh kepada tuannya, setidaknya itu yang terbaik diantara para manusia biasanya.


"Beberapa ada yang berhasil melarikan diri, apa kita akan mengejarnya?" kata Becca.


"Tidak diperlukan."


Mikaela menggelengkan kepalanya pelan. Kemudian dia menyuruh Becky untuk membawa kedua jasad manusia itu naik ke atas naga es miliknya. Mereka pun naik bersama dan pergi menunggangi Naga Es itu menuju kerajaan Sriwijaya, meninggalkan daerah pembantaian.


"Ivar, bawa yang lainnya kembali. Kami telah selesai di sini." Mikaela yang berada di atas ketinggian langit memandang ke arah dungeon sambil berkomunikasi dengan Ivar melalui telepati.