I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 85 : Kebodohan Yang Memuncak



Sesuatu membangkitkan sukacita dalam diri Mavis. Itu terjadi setelah dia membuka jendela sistem dan mengakses tampilan statusnya yang sekarang, dan mendapati perubahan dalam informasi jumlah makhluk bayangan yang dimilikinya saat ini. Dengan kata lain, Ezekiel, Flint, Wed, Scott dan Violet memang sudah bergabung menjadi pasukan bayangannya.


"Mari kita lihat tampilan status kalian. Semoga tidak mengecewakan," kata Mavis dalam hati. Dia tersenyum sendiri dengan masih dalam posisi tertidur, menunggu sang ratu bangun dari alam tidurnya.


Tangan itu segera menari di atas panel sistem, kemudian mengoperasikannya untuk menampilkan informasi tentang kelima makhluk panggilannya yang baru. Langsung Mavis memilih Flint, Ezekiel, Violet, Wed, dan Scott dalam daftar, sara bergantian. Selanjutnya, layar berganti dan menampilkan informasi dari kelimanya.


Sistem : Menampilkan data untuk Ezekiel


Nama : Ezekiel


Ras : Iblis


Grade : A


Level : 1


Kemampuan : Tiga Panah Kristal, Hujan Busur Es, Berpindah Seketika, Kunci Target.


Keterangan : Ezekiel adalah makhluk panggilan yang diekstrak oleh Asta dari bangkai iblis bernama Ezekiel. Iblis yang memiliki keahlian memanah sejak kecil. Bertarung dengan menjaga jarak dengan kemampuan berpindah seketika dan melancarkan serangan mematikan kepada musuhnya. Masih dapat berkembang.


Sistem : Menampilkan data untuk Flint


Nama : Flint


Ras : Iblis


Grade : A


Level : 1


Kemampuan : Debuff Paralize, Stun , Silence, Poison, dan Blind, Gerbang Tujuh Pendosa.


Keterangan : Flint adalah makhluk panggilan yang diekstrak oleh Asta dari bangkai iblis bernama Flint. Memiliki kemampuan dalam merapalkan mantra yang dapat memberikan efek buruk kepada musuh-musuhnya. Masih dapat berkembang.


Sistem : Menampilkan data untuk Wed


Nama : Wed


Ras : Iblis


Grade : S


Level : 1


Kemampuan : Menerima dan Memberi.


Keterangan : Wed adalah makhluk panggilan yang diekstrak oleh Asta dari bangkai iblis bernama Wed. Sebelum dibangkitkan Wed adalah iblis tetua dibawah pengawasan komandan Iblis eselon tiga. Memiliki kekuatan fisik yang sangat kuat, hampir kebal terhadap semua serangan fisik. Masih dapat berkembang.


Sistem : Menampilkan data untuk Violet


Nama : Violet


Ras : Iblis


Grade : A


Level : 1


Kemampuan : Mantra Ilusi, Kontrol Jiwa


Keterangan : Violet adalah makhluk panggilan yang diekstrak oleh Asta dari bangkai iblis bernama Violet. Sebelum dibangkitkan, Violet adalah putri dari keluarga iblis Cloud, keluarga dari salah satu komandan iblis. Memiliki kemampuan dalam membuat ilusi yang ada dipikirannya, sering bekerja sama dengan iblis Scott dalam menciptakan domain ilusi yang sangat mematikan. Masih dapat berkembang.


Sistem : Menampilkan data untuk Scott


Nama : Scott


Ras : Iblis


Grade : A


Level : 1


Kemampuan : Melukis cepat, Mengeluarkan benda yang dilukisnya.


Keterangan : Scott adalah makhluk panggilan yang diekstrak oleh Asta dari bangkai iblis bernama Scott. Memiliki kemampuan dalam melukis secara cepat dan akurat, kemudian mengeluarkannya sebagai serangan. Masih dapat berkembang.


Sesaat Mavis menahan napas ketika memelototi tampilan panel tatap muka sistem. Dia menarik napas buru-buru dan mengerjapkan matanya, sebelum pada akhirnya melihat kembali informasi dari kelimanya, takut kalau matanya telah salah dalam membaca informasi yang telah diberikan oleh sistem.


"Benar saja! Mataku ini tidak salah lihat dalam melihat!" Mavis benar-benar tidak menyangka ketika manik matanya melirik ke arah status milik Wed. Itu karena sistem telah memberi peringkat baru pada dirinya, tingkatan S kelas! Sesuatu yang baru saja dia miliki, dan itu membuatnya sangat merasa bahagia!


"Asta?"


Sang Ratu segera mengguncangkan tangan anaknya itu takut-takut sesuatu yang buruk telah merasuki tubuh sang pangeran dan mengambil alih jiwanya.


Mavis sontak terkejut dan menutup mulutnya rapat. Kemudian dia melihat sang ratu sudah duduk di sampingnya dengan tatapan penuh cemas. Sesaat dia canggung dan bingung untuk menyapa ibunya itu.


"Ibu ... ternyata ibu sudah bangun?" Mavis berkata sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Maaf karena aku sudah banyak menyusahkan ibu."


Sang ratu membelalakkan matanya sesaat, tapi tak lama kembali normal dan membalas tersenyum dan mengangguk kepada Mavis. Dia menatap anaknya itu, diam dan tidak mengatakan apapun selama beberapa saat, sementara itu Mavis hanya mengalihkan pandangannya karena merasa canggung.


"Apa kamu sudah merasa baikan?" kata sang ratu, setelah lama berdiam akhirnya dia membuka mulut.


"Tentu." Mavis melempar senyuman terbaik dan kemudian melanjutkan, "Aku lebih khawatir dengan kondisimu, Bu. Lebih baik aku sekarang mengantarmu untuk beristirahat."


Mavis segera bangkit dari ranjangnya dan menarik tangan sang ratu. Sambil terkekeh Mavis membantu ibunya itu untuk berdiri, sampai membuat sang ratu dibuat heran karenanya.


"Baiklah, baiklah, Ibu akan pergi ... cukup panggilkan orang di luar, biarkan mereka yang mengantar ibu nantinya. Kamu tidak perlu pergi dan beristirahatlah." Sang ratu menggeleng pelan seraya mendorong tubuh anaknya itu untuk pergi memanggilkan pengawal yang berjaga.


Mavis hanya bisa mengikuti kemauan sang ratu dan pergi ke luar kamar untuk memanggil pengawal sang ratu. Dengan santai, dia membuka pintu kamarnya. Selanjutnya, apa yang dia lihat sangat membuatnya terkejut sampai mundur dari selangkah.


"Ada apa ini?" Mavis tanpa sadar bertanya begitu syok mendapati depan kamarnya sudah berdiri banyak pengawal dengan pakaian rapih, serta beberapa petualang dengan lencana hijau dan kuning tengah menunduk sebagai tanda penghormatan atas kehadirannya.


Mengapa begitu ramai!


Mavis terdiam di ambang pintu. Sesaat dia mengedarkan pandangannya untuk melihat-lihat.


"Oh, kalian? Bukankah...." Mavis terkekeh ketika melihat salah seorang petualang yang mengenakan lencana kuning di jubahnya. Dia samar mengenal petualang itu, petualang yang dulu pernah menyapa kelompoknya dengan sangat buruk sewaktu Mavis dan para pelayannya berada di Bar Hammer.


"Kalian, mengapa juga berada di sini?"


Para petualang itu masih menunduk sebagai tanda penghormatan. Mereka belum menyadari kalau sang pangeran saat ini sedang bertanya kepada mereka, sampai seorang petugas berzirah membentak ke arah mereka sebagai protes.


"Mengapa kalian diam? Pangeran sedang bertanya kepada kalian!"


Pada akhirnya para petualang takut bahwa mereka yang dimaksud, segera mengangkat kepala dengan ragu dan melihat keadaan sekeliling mereka.


"Kau!"


Daun telinga salah seorang petualang tiba-tiba memerah. Selanjutnya, dia langsung menarik pedangnya dan mengacungkan itu kepada Mavis.


"Oh?" Mavis tidak bisa untuk tidak tertawa melihat petualang itu begitu bodoh dan tidak tau situasi yang sebenarnya terjadi. Mengapa dia begitu idiot sampai tidak mengenali siapa tuan dan siapa bawahannya di sini?


"Sialan! Mengapa kau malah tertawa! Ini semua gara-gara kau, Elena marah dan pergi meninggalkanku!" Petualang itu geram dan tanpa sadar mengeluarkan kata-kata yang seharusnya tidak dia keluarkan. Membuat teman-teman petualang yang saat ini berbaris disampingnya berubah pucat karena terkejut dan juga panik.


"Bodoh! Mengapa kamu melakukan itu, Kiyoshi!" Salah seorang petualang wanita berkeringat ketika mengguncangkan tubuh Kiyoshi dengan panik. Wanita itu pucat pasi begitu melirik para petugas yang meledak marah dengan tindakan temannya itu.


"Lancang sekali!"


Salah seorang petugas geram dan mencabut pedangnya dari sarung dan maju hendak memberi pelajaran kepada petualang bernama Kiyoshi itu. Namun sayangnya, begitu dia melangkahkan kaki sekali, sang pangeran memberi perintah untuk mereka agar tidak ikut campur.


"Kalian, tahan pada posisi," kata Mavis dengan santai. Sementara itu, petugas yang sebelumnya maju selangkah ke depan, kembali pada barisannya.


"Salam, Pangeran," kata Hina. Terlihat pelayan itu datang membawakan dua buah cangkir beserta poci yang berisikan teh. Wanita itu datang menghampiri Mavis dengan wajah linglung. "Ada apa ini, Pangeran?"


Hina mengedarkan pandangannya dan menyadari bahwa sumber masalah terdapat pada petualang pria bernama Kiyoshi itu. "Apa sesuatu terjadi?" Hina diam-dim bertanya dengan setengah berbisik kepada pelayan bawahannya yang sejak awal tadi memang berada di tempat itu.


"Kebetulan sekali Bibi ada di sini." Mavis melemparkan senyum kepada Hina. "Aku ingin mendapatkan penjelasan mengapa begitu ramai di depan kamarku?"


"Oh, maaf Pangeran. Mungkin karena Pangeran belum mendengar kabarnya, maka akan saya jelaskan yang sebarnya. Mereka adalah para penjaga dan petualang yang mulai saat ini akan menjaga Pangeran dan Yang Mulia Ratu. Beberapa akan akan berada di sisi Pangeran, sementara beberapa lainnya akan ikut bersama Ratu Lilian."


"Jadi begitu." Mavis mengangguk pelan dan kembali menatap ke arah Kiyoshi dan beberapa petualang yang dia kenal. "Namun, Bibi, mengapa kalian memperkerjakan para amatir ini? Apa Bibi mencoba membunuh Ratu Lilian?" kata Mavis.


"Tidak berani, Pangeran. Pelayan ini mana mungkin berniat mencelakai Yang Mulia Ratu," kata Hina.


"Lantas, mengapa Bibi mengirim orang barbar seperti mereka ini, yang bahkan tidak tau kapan harus menunduk saat berhadapan dengan tuannya?" Mavis membuang tatapan ke arah Kiyoshi dan kawan-kawannya, membuat Hina menjadi geram ketika mengkonfirmasi kejadian apa yang mungkin terjadi saat dia tidak ada.


"Penjaga! Tunggu apa lagi? Bawa mereka ke luar mansion!" Hina segera menyuruh para petugas untuk menggiring para petualang itu pergi.


Sementara itu, ketika para petualang itu diusir pergi dan dibawa menuju luar oleh para petugas, mereka semua menatap ke arah Kiyoshi dengan tatapan geram. Mereka semua telah menyesal karena telah membawa anak itu pergi dalam kesempatan yang sangat bagus ini. Mereka benar-benar sangat benci dan bahkan kemarahan mereka tak bisa lagi diungkapkan dengan kata-kata. Terlebih setelah mereka sepenuhnya terdampar di luar gerbang mansion, Kiyoshi masih membeku di tempatnya dengan pandangannya yang kosong.


"Sampah! Sudah kubilang berapa kali, tapi kalian masih bersikukuh membawanya. Lihat sekarang! Gara-gara dia kita kehilangan kesempatan emas yang bahkan sudah ada ditangan! Sialan!" Salah seorang petualang bertubuh atletis mengirim tinju ke arah alas bebatuan jalan dan membuat jalan itu retak dengan seketika.


"Apa yang sebenarnya ada di pikiranmu, Kiyoshi! Mengapa tadi kamu melakukan itu kepada Pangeran!" Petualang wanita itu sama frustasinya dengan yang lain. Jujur, dia juga sangat kecewa karena telah mendukung anak itu untuk ikut bersama mereka. "Katakan! Mengapa kau diam saja!"


Kiyoshi masih menatap ke arah depan dengan pandangan tak bernyawa. Dia merasa hidupnya telah selesai, dia merasa dia adalah orang paling bodoh di dunia ini, dia merasa gila karena telah memprovokasi seseorang yang tidak seharusnya dia mulai.


"Aku pasti sudah gila. Ya ... aku pasti gila! Aku pantas mati! Mengapa aku tidak bisa mengenali sang pangeran, padahal saat itu aku sudah sangat dekat dengannya?" Tiba-tiba dia menyesali apa yang dulu pernah dia lakukan terhadap kelompok Mavis. Bila saja dia melakukan sesuatu yang baik pada kelompok Mavis saat itu, mungkin dia saat ini sudah mendapatkan kemuliaan karena bisa berteman dengan seorang pangeran!