I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 63 : Kembali Untuk Menyembuhkan Sang Ratu



Keesokan harinya, ketika sinar matahari sudah masuk menerangi kamarnya, Mavis bangun dan segera diberitahukan oleh Samantha kalau Becca mencoba menghubunginya tadi malam. Mavis pun dengan malas berdiri dan berjalan ke arah jendela untuk menghirup udara pagi, dia memejamkan mata dan menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, setelah dia membuka matanya kembali, dia sudah melihat di luar para warga sibuk pada pekerjaannya masing-masing.


"Mikaela, bagaimana dengan tanggapan dari para orang kekaisaran?" Dia menghubungkan komunikasi dengan Mikaela.


"Tuan, mereka menolaknya," kata Mikaela dengan suara santai.


"Mereka sebenarnya menolak? Baik-baik saja maka, kapan mereka akan datang menyerang, apa kamu tau?"


"Mereka sudah di sini, Tuan."


Berpindah melihat kondisi di mana sekarang Mikaela berdiri, itu berada pada jarak setengah kilometer di luar dungeon. Bersama dengan si kembar, Ivar dan para goblin tersisa, mereka berdiri dengan bangga dihadapan ribuan tentara kekaisaran. Para goblin yang didominasi para wanita dan anak-anak itu terlihat begitu buruk dalam hal perlengkapan jika dibandingkan dengan para pasukan pada pihak musuh, akan tetapi mental mereka begitu kuat dan berani karena mereka bertempur dengan orang-orang hebat seperti Mikaela dan Si kembar, mereka sudah melihat kemampuan ketiganya ketika membunuh teman-teman mereka di masa lalu, mantan Rajanya Ivar saja yang sangat kuat bukan apa-apa dibandingkan ketiganya, itu terlihat lemah.


Mikaela masih tersambung dengan komunikasinya dengan Mavis, berada di barisan terdepan dia menatap tim ekspedisi kekaisaran yang berada jauh di depan dengan tatapan santai. Dia tidak begitu peduli dengan mereka, jika mereka ingin datang, Mikaela akan dengan senang hati membunuh, itu akan menjadi hadiah bagus untuk tuannya.


Mavis yang mendengar hanya bisa menarik napas berat. Dia awalnya sedikit terkejut dengan pilihan orang-orang kekaisaran itu untuk bergerak cepat setelah mendapat peringatan dari Mikaela dan dua lainnya. Akan tetapi setelah berpikir tentang kemampuan tiga makhluk bayangannya berada di sana, dia menjadi lebih tenang. Terlebih saat Mikaela berbicara, itu tidak ada jejak kekhawatiran atau keseriusan, pastilah Mikaela menganggap remeh para manusia di hadapannya


Bagaimanapun, Mavis akan tetap bertanya apa mereka bertiga yakin bisa menghadapi tim ekspedisi kekaisaran.


"Tuan harap yakin, menghabisi orang-orang lemah dan sombong seperti mereka, itu akan semudah aku membalikan telapak tangan," kata Mikaela.


"Baik-baik saja maka, aku mengandalkan kalian."


Setelah memutuskan komunikasi Mavis mengumpulkan niat untuk bangun dari ranjangnya. Dia berjalan untuk membersihkan diri dan bersiap. Pagi ini dia merencanakan untuk kembali ke kerajaan Sriwijaya karena urusannya di tempat ini sudah selesai. Dia sudah mendapatkan iblis Lily yang dibutuhkannya untuk menyembuhkan ibunya, sang ratu. Selama dia bersiap, Mavis tidak bisa untuk tidak berhenti tersenyum, tidak lama lagi dia akan melihat ibunya itu bangun dan menyambutnya. Meski Mavis bukanlah pangeran Asta sebenarnya, akan tapi dia mewarisi ingatan dan perasaan yang pangeran Asta sebelumnya miliki.


"Terimakasih."


Pria berusia tiga puluhan itu berkata dengan suara serak, dia menahan tangis ketika melepas pelukan Lily.


"Lihatlah, kamu sudah tumbuh besar tanpa aku sadari. Berhentilah menangis seolah-olah aku akan mati, bukankah kamu masih bisa menemui aku?" kata Lily.


Earl Edward terkekeh sambil menstabilkan emosinya.


"Siapa yang menangis, mataku ini hanya kemasukan pasir!"


Semua orang tertawa, tetapi tidak ada dari mereka yang merendahkan bangsawan itu. Mereka tau ikatan Earl Edward dengan Lily sangatlah dekat. Para warga selama ini mengetahui Lily adalah penyihir abadi dan guru besar dari Earl Edward. Pada dasarnya mereka para warga memiliki tingkat penghormatan yang lebih tinggi pada Lily dibandingkan Earl Edward yang mana tuan tanahnya ini.


"Kami pergi."


Mavis memacu kudanya dan berbalik arah untuk pergi. Semua ikut berbalik arah mengikuti Mavis. Terakhir Lily melihat pintu gerbang itu dan bersukacita. Dia mengingat bagaimana dulu bangunan ini hanyalah pemukiman kumuh dan sering dilanda kelaparan saat musim kemarau.


"Sampai jumpa."


Lily membalik arah dan membawa kudanya pergi menyusul Mavis dan teman-temannya di depan.