
"Jika mereka ingin berperang, maka mereka akan mendapatkannya."
"Fergus, segera persiapkan pasukan siaga bertempur, tingkatkan penjagaan dan kirim pengintai di sekitar perbatasan. Yasin, kau hubungi kerajaan lain di luar lingkar serikat untuk mendapatkan bahan kontruksi yang dibutuhkan. Kayle, kamu buatlah pengumuman untuk perekrutan pekerja tambahan kontruksi, lipat gandakan upah pekerja dari biasanya. Aku ingin tembok baru di wilayah luar selesai pada akhir tahun ini. Itu waktu yang cukup sebelum pasukan Raja Titus tiba dan datang menyerang.
"Baik, Tuan," kata Fergus.
"Alice, buatlah pengaturan dan persiapkan para murid yang memiliki kualifikasi untuk berada di posisi pertahanan wilayah dalam kerajaan."
"Dimengerti," kata Alice.
"Tapi Yang Mulia... mengenai upah para pekerja dalam perekrutan yang baru, bukankah itu akan menguras banyak kas kerajaan?" Kayle berkomentar.
"Tidak masalah dengan itu," kata Raja Cornelius.
"Bagaimana denganmu, Yasin? Apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan?" Sang Raja melanjutkan.
"Maaf Yang Mulia, aku harus melaporkan bahwa gudang kerajaan saat ini berada pada kondisi yang buruk. Itu karena banyak pengeluaran pada bulan-bulan sebelumnya untuk mengirimkan bantuan kebutuhan di desa Valey. Aku takut jika saja perang ini benar akan terjadi, pihak kitalah yang akan sangat dirugikan ketika berada di posisi bertahan. Jalur pengiriman makanan akan terputus dan kita tidak lagi memiliki stok makanan dalam gudang," kata Yasin.
"Kalau begitu, Kayle kau urus pembagian pengeluaran rekrutan pekerja kontruksi dan pembelian stok makanan dari luar. Aku rasa kas kerajaan masih mencukupi untuk memenuhi semua itu, benar?" Raja Cornelius terkekeh ketika menatap Kayle yang terlihat mengerutkan kening karena cemas.
"Yang Mulia, di saat seperti ini kau masih bisa tertawa?" kata Kayle.
"Tidak perlu terlalu tegang Kayle, Kerajaan Sriwijaya bukanlah kerajaan kecil yang mudah diprovokasi!" Secara mengejutkan, Raja Cornelius tiba-tiba tampak santai ketika berbicara, membuat Kayle yang sebelumnya sempat menegur sang raja saat marah, menjadi linglung.
"Bagaimana jika Raja Titus ikut melibatkan Kerajaan Jianheeng dan Ephraim? Kerajaan Sriwijaya hanya akan mengalami kehancuran, Yang Mulia," kata Kayle. Dia tampak frustasi, ini bukanlah sebuah lelucon, akan sangat aneh bagi seorang raja tertawa ketika wilayahnya sedang dalam ancaman serius dari luar.
"Yang Mulia, benar yang dikatakan Nona Kayle. Sangat berbahaya jika kerajaan lain ikut membantu Kerajaan Mori dalam penyerangan," kata Tristan. Dia adalah pemimpin dari departemen pertahanan yang berhubungan langsung dengan keamanan tembok kota.
Tristan tau betul kondisi tembok kerajaan lebih dari orang lain. Kondisi kerajaan saat ini memanglah berkembang dengan sangat baik setelah menaiki tangga menjadi tingkat tiga di benua timur. Banyak kerajaan kecil tingkat satu yang berada di benua yang sama mulai mencoba menjalin hubungan baik, menjadikan jalur perdagangan dan diplomatik kerajaan mengalami kemajuan pesat. Akan tetapi, kondisi wilayah kerajaan sebenarnya itu belum pulih setelah perang. Masih banyak dinding-dinding di perbatasan yang masih dalam pembangunan dan perbaikan.
Terlebih setelah penggabungan bekas wilayah kerajaan Noville, tembok baru yang didirikan sebagai perluasan wilayah Kerajaan Sriwijaya masih dalam tahap 60% pengerjaan. Masalah utamanya ada pada sisa waktu pengerjaan, setidaknya butuh waktu tiga sampai lima tahun lagi jika ingin pembangunan 100% selesai.
Namun, sang raja masih bersikeras ingin itu selesai dalam waktu satu tahun? Apa Raja Cornelius keliru dengan perhitungannya? Jika memang ingin mempercepat pembangunan, tentu perlu pekerja dalam jumlah yang sangat besar! Dari mana datangnya kepercayaan sang raja dalam membayar para pekerja? Kas keuangan yang dimiliki kerajaan pasti tidaklah cukup!
"Yang Mulia, mungkinkah...."
Kayle menutup mulutnya tanpa sadar, dia menatap ke arah Raja Cornelius dengan wajah cerah.
"Lantas?"
Raja Cornelius terdiam dan menatap ke arah seluruh hadirin dalam ruangan itu. Dia menyadari semua orang sedang menatap dia dengan wajah penasaran. Bahkan Alice yang biasanya tampil cuek saat itu terus menatap sang raja tanpa berkedip.
"Baiklah, dengarkan baik-baik. Di sini apa ada dari kalian yang pernah mendengar krisis wabah penyakit yang melanda Kerajaan Baratajaya?"
"Jika Yang Mulia maksudkan kerajaan bonafid tingkat delapan di wilayah utara benua, aku sedikit tau tentang itu." Tiba-tiba suara datang dari Calliph, pemimpin departemen kesehatan.
"Oh? Kalau begitu, bisa kau katakan kepada yang lain kondisi apa yang terjadi di sana?" Raja Cornelius dengan santai menunjuk Calliph untuk melanjutkan.
"Itu... haruslah dimulai dari penyakit misterius yang diderita oleh salah seorang Duke di kerajaan tersebut. Setelah kematiannya, keluarga Duke yang berada di dekatnya mengalami penyakit yang sama, dan itu terus meluas dan hampir mencangkup sebagian wilayah Kerajaan itu."
"Menurut informasi yang aku dapatkan, pihak kerajaan telah mengambil tindakan untuk mengkarantina para penderita penyakit untuk tidak diizinkan memasuki benteng utama, dan tinggal di luar dinding. Hanya saja, tanpa diduga seorang pangeran dari kerajaan tersebut terkena penyakit yang sama dan diasingkan di luar dinding kerajaan. Sang Raja sangat menyayangkan dengan itu, terlebih pangeran tersebut anak dari sang ratu, calon penerus dirinya."
"Hanya itu yang aku tau, Yang Mulia." Calliph mundur dari posisinya dan kembali dalam barisan. Dia merasa sedikit senang tampil di depan yang lain, menceritakan sebuah cerita hebat yang datang dari jauh wilayah utara benua. Cerita yang hanya sedikit orang timur seperti mereka ketahui. Calliph dipenuhi rasa bangga dan bersyukur, karena ini pertama kalinya dia bisa tampil menonjol jika dibandingkan dengan kepala departemen lainnya.
"Ya, kamu benar." Raja Cornelius tersenyum saat melihat ekspresi Kayle yang menatapnya dengan curiga.
"Aku masih tidak mengerti, apa hubungannya dengan itu?" kata Kayle.
Sepaham dengan Kayle, para bangsawan berpengaruh dan anggota departemen yang hadir mengangguk dan saling bertanya pada teman disampingnya. Mereka tidak mendapatkan ide yang jelas dari maksud sang raja, ketika menyuruh Calliph mengungkapkan berita yang datang dari wilayah utara itu. Tidak masuk akal jika sang raja ingin meminta bantuan dari kerajaan yang sedang dalam kesulitan, terlebih jarak dari dua kerajaan sangatlah besar.
"Aku mengerti."
Alice ada akhirnya tersenyum dan berkedip setelah sekian lamanya. Dia akhirnya tau apa yang sedang rajanya itu rencanakan. Mengaitkan itu dengan wabah penyakit yang terjadi di kerajaan Baratajaya dengan kesembuhan Ratu Lilian, sang raja pasti memilik kartu truf di tangannya.
"Sepertinya butuh seharian bagimu untuk berpikir, Fergus." Alice membuang tatapan sinis ke arah Fergus, sebenarnya wanita itu ingin terlihat pamer sekaligus menjatuhkan harga diri Fergus.
"Apa maksudmu! Apa kau sudah tidak waras? Apa kau tidak liat semua sedang berpikir? Mengapa tiba-tiba kau mengajak bertengkar!" Fergus dengan nada tidak suka memelototi Alice.
"Yang Mulia, itu pastilah ada hubungannya dengan kesembuhan Ratu Lilian. Apa benar begitu?" kata Alice, segera dia melirik Fergus dan tersenyum mengejek.
"Bagus, kau benar kali ini," kata Raja Cornelius.