I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 126 : Rantai Pengekang



"Duduklah, aku akan mulai menceritakan kisah tentang hidupku yang telah terkubur selama ratusan tahun yang lalu. Pertama biarkan aku memperkenalkan diri terlebih dahulu, namaku Klein, eksistensi yang dahulu kala berada pada puncak langit." Pria itu tersenyum dengan kulit wajah yang pecah. Terlihat, badannya kurus kering, rambutnya memutih, dan tangan yang terantai di kedua sisi dinding.


Pria itu pun mulai menceritakan kisah hidupnya, alih-alih langsung membantu gadis kecil itu. Semua berawal semasa kecilnya dia dirawat dengan sangat baik, mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari sekelilingnya. Dia mempunyai kakek yang merupakan pimpinan para dewa dan ayah yang terkenal karena kebijaksanaannya. Di mana dia melangkah, semua dewa pasti akan memberkatinya. Semua berharap bahwa dia akan mewarisi kekuatan sang kakek dan kebijaksanaan sang ayah.


Namun, sewaktu dia beranjak pada usia seratus tahun, keanehan muncul pada tubuhnya. Sebuah tanduk kecil berwarna merah perlahan tumbuh di atas kepalanya. Kemudian berita itu tanpa bisa dicegah menyebar luas dan membuat kegemparan di seluruh penjuru langit. Hanya karena satu tanduk itu, semuanya berbalik keadaanya seratus delapan puluh derajat. Pimpinan dewa pun murka dan mengirimkan dewa lainnya untuk menghabisi pria itu. Tentu, sang ayah yang menyadari hal tersebut segera membawanya pergi dari langit sebelum mereka menemukannya.


Sang ayah pergi dengan anaknya, sementara sang istri ditinggalkan dengan pasrah. Sejatinya dewi itu sudah mengetahui jauh sebelumnya tentang identitas anak itu yang merupakan anak hasil hubungan terlarang, campuran dewa dan iblis. Meski demikian, sang dewi masih tetap menerima anak itu dan merawatnya layaknya anaknya sendiri. Pada akhirnya, sang ayah datang menemui kekasih iblisnya, kemudian ketiganya pergi mencari tempat persembunyian yang jauh. Memulai pengasingan untuk mendapatkan kehidupan yang damai dalam membesarkan sang anak.


Singkatnya, dengan kepergian sang ayah, pimpinan dewa semakin murka dan memiliki kebencian yang mendalam kepada ras iblis yang telah membuat sang anak disesatkan. Begitu juga di sisi ras iblis, sang raja telah kehilangan komandan iblis paling berbakat dalam pasukannya.


Kedua kubu itu pun memulai perang besar dengan dimulai terlebih dahulu oleh para dewa yang memburu para iblis. Bertahun-tahun api peperangan tidak juga berhenti dan banyak menewaskan banyak korban, tidak hanya dari kedua kubu akan tetapi banyak dari ras lainnya yang juga menjadi korban. Peperangan itu pun semakin meluas dengan awal bergabungnya pasukan dari ras orc, goblin, dan naga yang mendukung ras iblis dari bayang-bayang.


Sementara itu di sisi lain para dewa tidak peduli alih-alih mencari sekutunya untuk mengalahkan iblis. Namun, pada kenyataannya para manusia yang tidak memiliki kekuatan memilih untuk percaya dan mendukung para dewa untuk melenyapkan para iblis. Niatan baik itu pun sampai pada pimpinan para dewa, mereka perlahan memiliki hubungan baik dengan para manusia. Dengan begitu terbentuklah tempat yang dinamakan kuil suci yang mana para manusia menyembah para dewa.


Selanjutnya, seiring berjalannya waktu dengan cara misterius yang dilakukan oleh para dewa, manusia di segala penjuru daratan mendapatkan sedikit berkah kekuatan dari para dewa. Para manusia ini yang nantinya akan menjadi bawahan untuk membantu memerangi para iblis dan sekutunya.


Perang memuncak ketika kedua kubu mengerahkan seluruh pasukan, berada pada sisi yang bersebrangan dari daratan yang tandus dan daratan yang berumput subur. Keduanya saling melemparkan permusuhan sebelum akhirnya menyerbu dan membunuh untuk mengakhiri ini. Para dewa tertinggi terjun langsung melawan para komandan iblis, keduanya seimbang dan masing-masing dari mereka memiliki kekuatan destruktif. Korban puluhan juta menumpuk di atas tanah yang tergenang darah, sebelum ada salah satu dari mereka yang menyerah atau musnah perang itu akan tetap berlanjut.


"Beberapa komandan iblis pun tumbang, begitu juga para dewa tertinggi terbunuh di tangan pihak lawan. Semakin waktu berlalu keadaan itu menjadi pembantaian yang berdarah dan lebih seperti menghapus keberadaan kedua ras. Hingga menjelang akhir peperangan dengan eksistensi yang tersisa, Pimpinan dewa turun dan mulai membantai para iblis, disusul dengan kemunculan raja iblis."


"Keduanya saling beradu dan tanah di sekita hancur, langit menderu, dan kilatan petir terus menghujani daratan di bawahnya. Sampai pada titik darah penghabisan keduanya berhasil dikalahkan satu sama lain dan kedua belah pihak telah kehilangan pemimpin mereka."


"Demi menyelamatkan kedua ras dari kehancuran total, ayahku dan ibuku pergi untuk menghentikan peperangan. Lagipula ini semua berawal dari hubungan terlarang antara mereka berdua. Namun, kedua belah pihak memilih bersikukuh untuk terus melanjutkan peperangan, demi ego masing-masing dan pengorbanan pemimpin mereka yang telah gugur dalam medan perang."


"Pada akhirnya tidak ada lagi yang bisa dilakukan kedua orang tuaku, keduanya pun melakukan sihir terlarang di tengah medan pertempuran, dengan membakar habis spirit di dalam tubuh dan mengorbankan masa kehidupannya."


"Dengan begitu berakhirnya masa perang, keadaan pun mendadak hening dan eksistensi yang sebelumnya masih bertahan di medan pertempuran menghilang begitu saja, bahkan ras-ras netral yang hanya berdiri menonton dari dekat ikut terseret dalam lingkup sihir terlarang milik kedua orang tuaku."


Bukankah sejarah mengatakan bahwa para iblis dan dewa bertarung dan mengalami kehancuran di medan pertempuran? Kemudian para ras lainnya yang ikut dalam peperangan mengalami kehancuran karena kekuatan destruktif dari kedua ras tersebut? Mengapa cerita pria itu berbeda sekali dengan apa yang dimiliki kuil suci? Untuk sesaat Yennefer jatuh dalam pemikiran yang mendalam dan mulai meragukan pihak mana yang harus dia percayai.


"Lantas, ke mana perginya mereka semua? Apa mereka masih hidup?"


"Mereka memang menghilang, akan tetapi aku sangat yakin mereka masihlah hidup di suatu tempat. Tidak ada yang tau di mana keberadaan mereka yang menghilang, bahkan diriku. Lagipula, sudah berpuluh-puluh tahun lamanya aku terkurung di tempat gelap ini. Aku telah kehilangan kontak dengan dunia luar dan tidak tau keadaan sudah menjadi seperti apa. Dahulu, para pendahulu kuil suci mengatakan bahwa aku dapat menciptakan dunia yang damai dan itu hanya perlu membutuhkan sedikit pengorbanan dari diriku."


Pria itu tiba-tiba tertawa dengan cara yang tidak biasa, membuat Yennefer yang duduk di hadapannya tidak bisa untuk tidak merasa aneh.


"Yah, saat itu aku masih terlalu muda dan naif sehingga mempercayai para manusia itu, sampai akhirnya aku terjebak di tempat ini dan mereka mulai memanfaatkan aku. Setiap hari mereka datang untuk mengambil darahku dan entah apa yang mereka rencanakan dengan itu."


"Mengapa kau tidak mencoba melarikan diri? Bukankah kamu keturunan dari setengah iblis dan dewa? Apa itu menyebabkan tubuhmu mengalami penyimpangan spirit sehingga tidak memiliki kemampuan?"


"Itu tidak benar, setiap saat aku memiliki pemikiran untuk melarikan diri, hanya rantai pengekangan ini tidak sesederhana yang terlihat. Tidak tau bagaimana mereka mendapatkannya, itu haruslah milik dari salah satu dewa tertinggi. Tidak peduli seberapa keras aku mencoba kekuatanku telah ditekan pada tingkat terlemah, aku tidak bisa melepaskan jeratan ini dari tubuhku."


"Bagaimana dengan memutus kedua pergelangan tanganmu? Bukankah itu akan mudah? Setelah kamu berhasil pergi dari sini kamu hanya perlu menemukan seorang ahli yang dapat menggunakan sihir penyembuhan dan menyambungkan itu kembali," kata Yennefer dengan penuh keyakinan.


"Kamu terlalu memandang remeh rantai milik dewa ini. Meski dari luar permukaan itu hanya mengekang pergelangan tanganku, akan tetapi sejatinya itu mengikat jiwaku dari dalam. Dengan mencoba melepaskannya secara paksa hanya akan mencari kematian. Yah, walaupun aku tidak suka dimanfaatkan oleh para manusia hina ini, aku masihlah tidak ingin mengakhiri hidupku dengan percuma, setelah apa yang mereka lakukan terhadapku."


"Dan di sinilah kamu berada, aku telah melihat dalam dirimu memilki kemurnian yang cukup baik. Sudah saatnya untuk aku pergi dan beristirahat. Mulai dari sini dengarkan perkataanku baik-baik, aku bisa membantumu keluar dari tempat ini dengan mewariskan kekuatanku padamu, hanya kamu harus bersumpah pada langit bahwa kamu harus mengabulkan satu permintaanku."


"Tunggu, aku belum memutuskan untuk mempercayaimu."


"Kalau begitu kamu harus cepat dalam memutuskannya. Sebelum mereka kembali dan menemukanmu berada di tempat terlarang ini, lain kamu tidak akan bisa selamat dari kematian yang menyedihkan. Sebelumnya aku telah beberapa kali melihat di antara mereka yang memasuki ruangan ini dan berakhir mati di tangan pemimpinan kuil suci ini. Kamu hanya memiliki sedikit waktu untuk merenungkannya sampai berganti hari, pikirkan dengan baik-baik."