
Seperti tersengat Mavis merasa tubuhnya mendidih dan sesuatu dari dalam tubuhnya pecah. Dia mengatupkan giginya, menahan rasa sakit yang menjalar begitu luar biasa. Kuda-kuda kakinya bergetar dan seperti tergoyahkan. Namun, kedua pasang mata itu masih memperlihatkan keyakinan diri.
Kali ini pasti bisa! Seperti sebelum-sebelumnya. Begitu yang Mavis pikirkan dan itu yang membuat dia bersemangat.
Akan tetapi seiring berjalannya waktu, tidak ada tanda-tanda akan keberhasilan. Seperti munculnya asap berwarna hitam, ataupun angin yang berputar di sekitar, itu tidak muncul sama sekali. Diapun mulai berkeringat dan mengistirahatkan tangannya.
"Apa yang terjadi?"
[Sistem : Mengekstrak bangkai telah gagal]
"Gagal?"
Sebuah notifikasi muncul di hadapan Mavis, itu menambah kepanikan dirinya. Pikirannya menjadi kalut, hanya saja dia tidak menampakannya di hadapan yang lain.
"Tuan...."
Samantha khawatir.
Tak ada satupun yang bisa memberikan penjelasan kepada Mavis. Mereka hanya menatap ke arah tuannya itu dengan tatapan sedih. Itu diluar kemampuan mereka dan hanya tuannya itulah yang paling tahu. Kemampuan membangkitkan itu sedari awal memang sudah sangat kuasa. Bahkan Samantha dengan segala kemampuannya tidak mengerti tentang hal itu.
"Mengapa tidak terjadi apa-apa? Apa aku telah melewatkan sesuatu? Apa kaum iblis tidak bisa dibangkitkan dengan kemampuan dari sistem?" Mavis bergumam.
Dia duduk dengan tangan menutup wajah, dia masih syok. Tak lama dengan sedikit menggeser jarinya, dia melirik ke arah bangkai Mikaela dari arah balik celah.
"Bukankah iblis juga makhluk hidup? Mengapa...."
Dia bingung. Apa yang harus dia lakukan? Semuanya sudah terjadi dan itu kesalahannya. Apalagi Mikaela terlalu berharga jika mati dengan sia-sia, itu kesalahannya.
"Tidak. Pasti ada sesuatu yang kulewatkan."
"Tuan, mungkin hamba bisa membantu menyelesaikan masalah ini."
"Buster? Itu kau?"
"Ya, Tuan," kata Buster melalui telepati.
"Apa kau tahu sesuatu? Mengapa kali ini aku gagal?"
"Hamba dapat mengatakannya jika Tuan mengizinkan."
"Cepat... katakan!"
"Baik, itu kemungkinan karena iblis bernama Mikaela berada di level yang berbeda dengan yang bisa Tuanku tangani. Tidak seperti hewan biasa dan manusia, meski iblis lemah sekalipun itu tetaplah diluar kendali Tuan."
"Jadi apa yang harus kulakukan? Ini semua salahku, karena aku terlalu lemah."
"Tuan, apa Tuan membutuhkanku saat ini?" Darius ikut-ikut mengirimkan sinyal pikiran kepada Mavis. Itu terjadi karena Mavis membuka kontak dengan Buster, dan Darius sekarang sudah berada satu tempat dengan Buster, jadi mau tidak mau Darius juga dapat berbagi pendengaran dengan Buster.
"Kau ... bukan masalah yang serius sampai aku membutuhkanmu. Aku lebih tertarik dengan kabarmu saat ini. Rubah tua itu, apakah dia merencanakan sesuatu lagi?"
"Aku tidak yakin pasti, tapi pagi tadi dia memanggil seorang wanita berpakaian tertutup jubah coklat di kediamannya."
"Siapa?"
"Maaf atas ketidak mampuanku, Tuan. Aku sudah berusaha menggalih informasi dari ingatan diriku sebelumnya. Namun, tetap tidak mengenali wajah wanita itu."
"Apa kau melihat apa yang mereka lakukan? Atau membicarakan sesuatu, mungkin?"
"Selir Juleaha hanya memberikan sebuah slip kertas kepada wanita itu dan tidak berkata apa-apa. Dan di sini aku merasakan mereka sedang merencanakan sesuatu."
"Baik-baik saja maka, aku akan bermain lagi dengan jalang itu. Dan kamu jika mempunyai kesempatan selidiki wanita berjubah itu dan laporkan kepada aku."
"Baik Tuan."
Mavis menarik napas panjang dan menghembuskannya. Moodnya bertambah buruk mendengar laporan dari Darius. Padahal dia sudah cukup kesal dengan ketidak jelasan sistem tentang kemampuan membangkitkan itu, yang mana membuatnya gagal dalam mengekstrak salah satu pelayan iblisnya.
"Tuan harap tenang, itu bukan sesuatu yang sulit ataupun mustahil bagi Tuanku."
"Benarkah?" kata Mavis.
"Ya, Tuan."
Kemudian Mavis jatuh dalam pemikirannya.
Ini semua pasti berkaitan dengan sistem! Ya!
Segera Mavis mencaritahu dengan memanggil layar tatap muka sistem. Jari-jarinya mulai menari dan mengklik opsi-opsi yang tersedia.
"Apa ini seperti persyaratan level?"
"Maksud Tuanku?" Buster kebingungan.
"Ah, kamu tidak akan mengerti, jadi lupakan," kata Mavis. Dia baru ingat kalau Buster tidak bisa melihat tampilan sistem, begitu juga dengan yang lainnya.
"Ah, ya!" Mavis tiba-tiba teringat akan sesuatu.
Bukankah sistem ini mempunyai kesamaan dengan cara kerja suatu game?
Segera dia berpikir keras untuk menghubungkan itu dengan level dia saat ini, yang mana tidak memiliki perkembangan yang signifikan.
Sebelumnya, saat mengekstrak bangkai Buster, dia hanyalah pemula dengan status awal. Proses yang terjadi juga sangatlah mudah. Kemudian saat mengekstrak Darius, dia sudah menaikan levelnya berkat Buster yang membunuh bawahan selir Juleaha sebekmlumnya, dan berhasil mengekstak manusia itu meski Mavis sedikit dalam kesulitan. Sekarang Mikaela, dan dia gagal mengekraknya. Dapat disimpulkan bahwa syarat pelevelan sepertinya berlaku pada Mavis.
"Bagaimana caraku mengetahui berapa level yang aku butuhkan? Keterangan yang menjelaskan tentang itu saja tidak ada!"
Lihat saja, tidak ada keterangan di sana.
Mavis mengklik tombol.
[Sistem : menampilkan keterangan kemampuan Mengekstak Bangkai]
Mengeksrak Bangkai : [2/3] Kemampuan ilahi seorang penguasa, kekuatan raja kegelapan. Dapat menghidupkan kembali makhluk hidup yang sudah mati. Penggunaan terbatas.
"Sebelumnya aku terlalu berlebihan menilai sistem. Nampaknya sesuatu seperti itu juga memiliki sebuah kecacatan," kata Mavis, kemudian mendengus kesal. Dengan malas dia bangkit dan mendekat ke arah Mikaela dan yang lainnya.
"Aku ingin tau sesuatu, jika seorang iblis mati apakah akan membusuk juga?"
Mereka saling menatap dan pada akhirnya Samantha yang menjawab. Ini mungkin karena mereka sudah terbiasa dengan adanya Mikaela yang mewakili mereka.
"Ya, seorang iblis juga akan membusuk pada akhirnya saat sudah mati. Hanya saja itu membutuhkan waktu kurang kebih seminggu dalam hal prosesnya."
"Baik-baik saja maka." Mavis bisa sedikit bernapas setelah mendengar jawaban Sanantha. Jujur, Mavis tidak rela jika iblis seperti Mikaela mati begitu saja.
Dengan kenyataan dia masih mempunyai waktu kurang dari seminggu, itu sudah cukup melegakan baginya.
"Samantha, aku ingin meminjam kekuatanmu. Katakanlah apa yang bisa kau lihat. Apakah kau mendapat pengelihatan tentangku?"
Samantha mendongak dan menatap ke arah Mavis.
"Tuan, kemampuanku sejatinya hanya memprediksi segala sesuatunya di masa depan. Bukan kemampuan ilahi yang bisa mengetahui takdir. Dan juga aku tidak mempunyai kemampuan memahami kekuatan ilahi milik Tuan," kata Samantha.
"Yah, aku melupakan itu."
"Kalau begitu, sambil aku memikirkan tindakan apa selanjutnya, mari kita kembali. Aku ingin salah seorang diantara kalian untuk tetap tinggal di sini mengurus dan menjaga tubuh Mikaela."
"Tuan, jika tidak keberatan aku ingin tetap tinggal. Sembari menunggu di tempat ini, aku dapat mencari informasi dari para petualang," kata Sera dengan senyuman manis dan tatapan penuh keyakinan.
"Itu ide yang bagus, aku mengizinkanmu," kata Mavis.
"Karena sudah diputuskan Sera akan tetap tinggal, kalian datang dan ikut aku."
Mavis melirik Giraldo, Samantha, Ozzi, dan Akio. Kemudian dia berbalik dan mulai berjalan menuju pintu. Kemudian dengan senyum tipis dia berkata, "Mari pergi menemui Bulan dan Bintang."