I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 141 : Perburuan Master



"Tim pemanah dan pelontar bersiaplah pada posisi! Tunggu aba-aba dariku!" Mavis menaikan tangan kanannya, berbicara dengan suara lantang sembari mengamati banjir pasukan musuh yang semakin lama semakin mengambil jarak dari tempatnya sekarang berada. Beberapa menit pun berlalu dan kesempatan itu akhirnya tiba, sudah saatnya mereka melancarkan hujan anak panah kepada pihak musuh.


Sang pangeran pun membelah tangannya secara vertikal di udara, menandakan bahwa itu akhir dari napas terakhir prajurit dari pihak musuh. Prajurit lini belakang yang didominasi oleh para goblin wanita itu segera melepaskan anak panah. Selanjutnya, Mavis memberikan perintah kepada kelompok dwarf untuk melontarkan bebatuan besar, dibantu oleh prajurit yang datang dari Kekaisaran Menara Kembar.


Hujan panah pun dibebankan kepada prajurit aliansi tiga kerajaan yang menyerbu maju. Mereka sebenarnya memiliki kecerdasan dan peralatan yang cukup mendukung dalam medan tempur, begitu melihat anak panah yang ditembakkan, mereka segera berhenti dan mengangkat tameng untuk berlindung di bawahnya. Namun, bagi beberapa prajurit yang terlambat menyadari itu berakhir tidak baik, mereka tertembak panah di beberapa titik fatal dan berakhir mati di tempat dengan kondisi nahas.


Sementara itu, menyusul serangan berikutnya datang dari bebatuan besar yang melambung di langit dan kemudian mulai berjatuhan, menimpa tameng prajurit musuh. Prajurit yang terkejut tidak sempat untuk menghindar, alhasil banyak di antara mereka tumbang, tubuh mereka serasa remuk dan mati rasa karena tak kuasa menahan kekuatan bebatuan yang menimpanya.


Ratusan prajurit yang berada di barisan terdepan pun mati pada gelombang pertama, bagi pasukan berjumlah lebih dari tiga puluh ribu tentu bukanlah jumlah yang banyak. Setelah menyadari bahwa serangan jarak jauh itu telah berhenti, para prajurit musuh menggeram dan berlarian menyerang.


"Selesaikan ini dengan cepat, berpencarlah dan kerahkan seluruh kekuatan kalian. Tidak perlu untuk menahan diri." Mavis mengirimkan pesan melalui sambungan telepati kepada seluruh makhluk bayangan yang berada di medan perang. Mereka pun mengangguk puas dan mulai mengambil posisi masing-masing.


"Kau dengar, kan? Tuan telah mengatakan kepada kita untuk tidak menahan diri." Becky melemparkan senyuman miring kepada saudarinya itu. Pasalnya, setiap kali Becky bertarung dengan musuh-musuhnya, dia selalu saja kehilangan kemampuan untuk mengontrol kekuatannya. Saat itulah Becca selalu menegur adiknya itu untuk tidak berlebihan ketika berhadapan dengan musuh yang lemah.


"Berhentilah mengoceh, aku mengerti mengapa Tuanku memberikan instruksi kepada kita untuk mengerahkan seluruh kekuatan," kata Becca dengan wajah datar dan kemudian melanjutkan, "Itu karena aku sendiri merasakan kehadiran sosok kuat dari pihak musuh. Berbicara apa adanya, kekuatannya haruslah pada tingkat yang sama dengan kita."


Becca berjalan beberapa langkah, kemudian mulai fokus membuat segel di udara menggunakan salah satu tangannya. Tak lama setelah dia berhasil menyempurnakan segel itu, sebuah simbol aneh pun muncul di dalam lingkaran yang dibuatnya. Kemudian Becca menggigit jari telunjuknya, lalu menempelkan itu ke tanah.


Suara dentuman.


Sebuah pergerakan terjadi dari dalam tanah, kemudian tak berselang lama sebuah retakan muncul dan itu semakin lama semakin menjalar ke segala arah di sekitar. Cahaya kemerahan menyeruak dari dalam dasar lubang yang tak berujung, hal itu tentu segera menarik perhatian para prajurit di sekitarnya. Pada dasarnya mereka segera menyingkir dan menjaga jarak begitu retakan pertama merambat di sekitar Becca. Pandangan para prajurit sesaat teralihkan, akan tetapi buru-buru Mavis mengingatkan kepada mereka untuk tetap fokus pada pergerakan lawan jika tidak ingin kehilangan nyawa.


Ketika retakan itu berhenti meluas, sebuah pedang panjang dengan diameter kecil keluar dari dasar lubang, kemudian melayang di hadapan Becca. Langsung saja dia meraih gagang pedang tersebut lalu berlari menuju barisan terdepan. Sekilas terlihat pedang itu seperti pedang biasa di permukaan, akan tetapi begitu Becca dengan sengaja menggaris pedangnya itu menyentuh tanah, di mana pun dia pergi bunga darah muncul dan bermekaran, kemudian bercak api mulai membakar bunga itu dengan sendirinya layaknya kertas di tengah perapian. Siapapun yang melihat itu pasti barulah menyadari nilai sesungguhnya dari pedang tersbebut.


Dimulai.


Kedua kakak beradik itu berdampingan menerobos masuk barisan pasukan musuh dan melibas semua yang berada di jarak pandang keduanya. Puluhan prajurit musuh langsung saja ditumbangkan kurang dari satu menit. Mode amukan, kedua mata kembaran itu menyala, yang satu memancarkan aura sebiru es dan yang satunya memancarkan cahaya kemerahan. Keduanya telah mengerahkan delapan puluh persen kekuatan aslinya, kekuatan paling besar yang baru pertama kali keduanya kerahkan semenjak peperangan yang terjadi pada masa lampau, ketika keduanya masih aktif bertarung melawan para sekutu yang mendukung para dewa.


Becky menebas tombaknya itu ke arah depan secara horizontal, mengirim beberapa prajurit mundur dan jatuh karena kehilangan keseimbangan. Tak lama kemudian sesosok ahli muncul dari arah pihak musuh, membelah kerumunan prajurit itu dan kini mengambil jarak di hadapan Becky. Dengan tenang pria berambut panjang itu tersenyum dengan cara yang aneh. Penampilan pria itu pada dasarnya terlihat sangat rapih, dengan balutan pakaian jubah biru yang terlihat mahal, serta lencana merah yang menempel di jubahnya. Di tangannya terdapat sebuah suling kuno dengan garetan-garetan yang indah.


"Salam, Nona." Pria itu bersikap ramah kepada Becky. Sedikit memberi kesan aneh pada wanita itu dan membuatnya mulai bertanya-tanya. "Perkenalkan namaku Zayn, izinkan aku memainkan satu buah lagu khusus untuk wanita secantik dirimu."


Pria itu kemudian mengangkat sulingnya dan mulai memainkan instrumen nada yang terdengar sangat menenangkan. Kemudian dia hanyut dalam suasana dan memejamkan kedua matanya. Beberapa menit pun berlalu, sesuatu terjadi setelahnya pada prajurit kedua belah pihak yang berada pada jangkauan pria tersebut. Para prajurit itu mulai memuntahkan seteguk darah dan beberapa di antaranya bahkan kehilangan kesadaran dengan meninggalkan wajah yang pucat. Pria itu masih memainkan lagunya, menikmati instrumen lagunya itu bercampur dengan teriakan yang datang dari para prajurit.


"Lagu ini adalah lagu terbaik yang pernah kumainkan khusus untuk nona manis sepertimu. Sekarang biarkan aku melihat bagaimana ekspresi wajahmu yang indah setelah mendengarkan lagu terlarang ini." Pria itu berbicara sembari membuka kedua matanya, kemudian mencari keberadaan wanita yang seharusnya masih berada tepat di hadapannya. Pria itu pun tak bisa untuk tidak terkejut dan membelalakkan mata, begitu menyadari sosok yang sedang dicarinya itu telah berpindah tempat dan muncul dari arah belakang tubuhnya.


"Bagaimana mung-"


Belum sempat pria itu menyelesaikan perkataanya, kesadarannya perlahan menghilang. Tombak naga es milik Becky telah menembus jantung pria itu dengan sangat dalam. Perlahan setelah tombak naga es itu dicabut oleh sang pemilik, tubuh pria itu pun menjadi membeku di tempat. Kini hanya menyisahkan patung es yang mempertontonkan seorang pria sedang membawa sulingnya.


"Kau terlalu memandang tinggi dirimu sendiri, sampai berpikir untuk meracuniku hanya dengan trik murahan seperti itu." Becky berkata dengan sorot mata yang dingin, dia benar-benar tidak lagi menaruh simpati kepada pria satu itu. Bagaimanapun Becky memiliki pemikiran yang tinggi dalam membantu pekerjaan sang tuan. Jika saja pria itu memang memiliki kepribadian yang baik, mungkin saja dia akan membawa pria itu kepada tuannya. Namun, setelah menyadari pria itu tidaklah menaruh mata kepada prajurit sekutunya dan pada akhirnya meracuni puluhan prajurit di sisinya, Becky benar-benar telah salah menilai pria itu sedari awal.


"Meski bukan yang terbaik di seluruh daratan, racun es yang ada dalam tubuhku ini masih jauh lebih mematikan dibandingkan permainan anak-anak di tanganmu," kata Becky dengan tersenyum remeh. Selanjutnya dia kembali melesat dan memburu para ahli berikutnya yang akan menjadi lawannya.