
"Benar saja, seperti dugaanku perjalanan itu sama sekali tidak layak dibandingkan resiko besar yang dihadapi. Terlebih setelah mengetahui sifat asli Raja Kwon yang sangat pelit, ibuku hanya membuang-buang waktu meminta bantuan padanya." Mavis mengalami sakit kepala ketika memikirkan tentang kondisi ini. Berdiri di luar balkon kamarnya, dia menatap ke arah kejauhan.
Menurut apa yang telah dilaporkan Wed yang datang menjemput rombongan sang ratu, Mavis memiliki sedikit pemahaman tentang banyaknya prajurit yang dikirimkan oleh kakeknya itu. Setelah mengetahui jumlah keseluruhan prajurit biasa yang dikirimkan berkisar lima ribuan, beserta beberapa ahli berlencana biru, Mavis kehabisan kata-katanya. Pak tua itu benar-benar tega mengantar putri satu-satunya itu pergi hanya dengan pasukan kecil seperti itu.
Setelahnya, beberapa waktu berlalu dan tiba-tiba sosok yang tidak asing muncul dari atas dan jatuh di balkon kamar itu dengan posisi sempurna. Sosok itu tak lain merupakan Becca, dia datang kemudian mengambil posisi setengah bersujud di hadapan Mavis.
"Salam, Tuan."
"Bagaimana, apa sudah mendapatkan kabar tentang ayahku?" kata Mavis.
"Ya, Tuan. Raja Cornelius bersama dengan pasukan besarnya telah pergi meninggalkan ibu kota. Menurut informasi yang aku dapatkan dari salah seorang prajurit, rombongan itu haruslah pergi menuju benteng besar yang ada di selatan, tempat di mana Pangeran Sulton memerintah," kata Becca.
Dalam penyerbuan kali ini terdapat tiga fokus gabungan kerajaan yang bersatu untuk menghancurkan Kerajaan Sriwijaya. Gabungan itu terdiri dari pasukan Kerajaan Mori, Kerajaan Ephraim, dan Kerajaan Jianheeng. Dua dari ketiganya berada di selatan kerajaan, Kerajaan Mori dan Ephraim. Sementara Kerajaan Jianheeng berada di bagian barat laut dari kerajaan.
Mengingat jarak tempuh dari kerajaan Jianheeng ke ibu kota Kerajaan Sriwijaya sangat jauh, harus mengambil jalan memutar karena melewati kerajaan kecil lainnya yang bersekutu dengan Kerajaan Sriwijaya seperti Kerajaan Tori dan Kerajaan Brahma, pasukan Kerajaan Jianheeng sudah dapat dipastikan tidak akan bergerak langsung untuk menyerang. Pasukan mereka pasti pergi dan bergabung di wilayah selatan, entah itu di Kerajaan Mori atau Kerajaan Ephraim.
Raja Cornelius telah memperhitungkan hal tersebut, maka dari itu memfokuskan untuk bergerak menuju benteng yang berada di selatan kerajaan untuk membuat sistem pertahanan. Seluruh kekuatan dikerahkan, berjumlah belasan ribu pasukan, ditambah para petualang yang secara sukarela membantu sang raja mempertahankan kerajaan ini, pergi bersama-sama menuju benteng di selatan. Termasuk juga pasukan elite kecil yang berjumlah kurang lebih seribu orang, beserta lima petualang berlencana merah! Pasukan itu merupakan bantuan yang datang dari benua bagian utara, kerajaan berafiliasi tingkat delapan, Kerajaan Baratajaya.
Hal ini terjadi karena di luar perkiraanya, awalnya Mavis berpikir bahwa sang raja akan memfokuskan untuk membuat pertahanan di ibu kota kerajaan. Namun, itu berbalik seratus delapan puluh derajat, sang raja dengan sikap berani maju ke barisan terdepan pertahanan untuk berperang.
Mavis sebenarnya kagum dan salut, meski ayahnya itu sudah mengetahui batasan bahwa peperangan ini akan sangat sulit untuk dimenangkan, akan tetapi dia tidak gentar sekalipun. Sang raja tetap bersikukuh maju untuk bertempur bersama seluruh pasukannya di medan perang yang akan mendatang. Hanya, dia tidak ingin sang raja berada dalam bahaya, bagaimanapun dia tetaplah sang ayah di dunia ini, Mavis tidak ingin kehilangan sosok orangtunya itu.
"Baik, karena ayahku telah pergi, seharusnya sudah tidak ada yang bisa membatasiku untuk pergi." Mavis mengangguk sebelum pada akhirnya kembali masuk ke dalam kamarnya. Sebelumnya Mavis hanya bisa berdiam diri di dalam mansion karena sang raja melarangnya untuk berkeliaran selama masa sulit ini. Namun, sekarang tidak ada lagi yang bisa mengurungnya.
Segera, setelah Mavis masuk ke dalam kamarnya beberapa sosok pun muncul dari asap hitam yang mengepul dari bawah tanah. Kemudian begitu mereka selesai mengambil wujud di permukaan, semuanya langsung mengambil posisi setengah bersujud, memberi salam penghormatan kepada tuannya itu.
"Bersiaplah, beberapa dari kita akan kembali ke wilayah selatan." Mavis berkata sembari mengedarkan pandangannya. Setelah beberapa detik berlalu, dia pun telah memutuskan sesuatu hal, lalu melanjutkan perkataanya, "Wed akan kembali ke ibu kota bersama rombongan yang di bawa oleh sang ratu. Untuk Akio, Darius, dan Giraldo, kalian bertiga akan tetap tinggal di sini untuk membantu Wed melindungi ibu kota. Sementara yang lainnya akan ikut aku pergi ke medan perang."
"Baik, Tuan." Meski sebenarnya ketiga makhluk bayangan itu memiliki kerinduan untuk bertempur bersama tuannya, baik itu Akio, Darius, dan Giraldo, tidak ada dari ketiganya yang memiliki keraguan dan keberatan dengan pengaturan yang diberikan oleh tuannya itu.
"Kita berangkat," kata Mavis dengan sumringah di wajahnya.