
Duduk di ujung meja panjang, disaksikan oleh banyak pasang mata, Mavis dengan tenang menggigit buah apel miliknya. Sambil mengunyah, dia mengedarkan pandangannya ke arah mereka yang hadir kemudian mengangguk, sebagai maksud mempersilahkan para tamunya itu untuk menyampaikan pesan tersebut.
"Salam, Pangeran Asta. Namaku Rafael, aku mewakili para utusan yang dikirimkan Yang Mulia Raja untuk membacakan surat berikut kepada Pangeran." Kemudian pria itu mengeluarkan sebuah perkamen berpita merah.
"Dengan ini tertanda sebagai Pemimpin Kerajaan Sriwijaya, Raja Cornelius Dixon memerintahkan kepada Pangeran Asta Dixon untuk kembali ke benteng ibu kota utama secepatnya. Hal ini dikarenakan kerajaan akan segera mulai berperang, terhitung tiga bulan dari sekarang."
"Bukankah seharusnya lima atau enam bulan lagi? Mengapa itu menjadi begitu cepat, apa sesuatu telah terjadi pada kerajaan?"
"Benar Pangeran, sesuatu hal yang besar telah terjadi tak lama setelah kepergianmu. Seperti yang semua orang di ruangan ini ketahui, semua ada kaitannya dengan mantan selir yang telah pergi menghilang dari mansion kerajaan sejak insiden pembunuhan misterius para tabib tahanan," kata Rafael dengan wajah yang meredup. Mavis baru menyadari bahwa pria itu merupakan salah satu orang yang selalu berada di sisi sang raja dan berada pada barisan setiap kali ayahnya itu berpergian. Pantas saja dia mengetahui tentang insiden kematian para tabib tahanan, mengingat kejadian itu sangat dirahasiakan dan hanya diketahui oleh segelintir orang di dalam mansion kerajaan.
"Ini berkaitan dengan identitas asli wanita itu, yang sebenarnya merupakan adik sepupu Raja Titus dari Kerajaan Mori yang berafiliasi tingkat empat. Menurut ahli pengintai kami, sebuah rumor telah beredar di luar kerajaan, mengatakan bahwa Yang Mulia Raja Cornelius telah berbuat buruk dan keji kepada mantan selirnya itu. Sehingga memicu kebencian yang berlebih di hati Raja Titus, dia pun memutuskan untuk mengubah rencana awalnya untuk mempercepat penyerangan."
"Jadi ini semua ulah rubah licik itu?" Mavis menyeringai puas dan tiba-tiba melirik ke arah Reus yang tengah berdiri di sudut ruangan, bersama dengan Sasha dan para bawahan setia Rafael. "Sangat baik, akan sangat membosankan jika wanita itu mati dengan sangat mudah. Setelah semua yang dia lakukan terhadap sang ratu, aku tidak akan membiarkannya mati dengan tenang. Dia harus merasakan rasa sakit yang teramat, dan memohon-mohon di kakiku untuk kematiannya!"
Seketika ruangan itu menjadi begitu sunyi, sementara suara yang terdengar hanya datang dari Mavis yang tengah tertawa. Kemudian setelah berhenti dia pun melanjutkan, "Maaf aku hanya sedikit bersemangat setelah mendengar kabar sebelumnya, mari kita lanjutkan pembicaraan kita ini."
"Ba-baik."
Para perwakilan dari kerajaan mengangguk dengan ekspresi wajah yang tertekan, keringat dingin di sekitar dahinya, dan tangan yang tak bisa untuk tidak bergetar. Mereka sejatinya tiba-tiba merasakan aura mematikan datang dari para pelayan sang pangeran, menuju ke arah mereka sesaat setelah mereka berpikir bahwa sang pangeran di hadapannya itu sangatlah aneh.
Rafael mengangkat tangannya, membuat fokus Mavis yang sebelumnya teralihkan langsung tertuju kepadanya. "Pangeran, aku membawa pesan lainnya dari Yang Mulia Raja Cornelius. Sebenarnya ini tidak ada kaitannya dengan kerajaan, hanya ini ditujukan kepada Pangeran pribadi karena berhubungan langsung dengan wilayah yang dimilik Pangeran di perbatasan luar Kerajaan Osaka. Sebuah dungeon yang cukup besar tiba-tiba saja muncul satu bulan yang lalu di daerah tersebut, tak lama berselang beberapa hari itu terbuka dan keluar dengan sendirinya. Para penduduk yang mendiami wilayah tersebut pun banyak yang memilih pergi dan berpindah ke tempat lain. Dalam kasus ini mereka pergi ke wilayah Kerajaan Osaka untuk mendapatkan tempat yang lebih aman."
"Bagaimana tanggapan dari Raja Ragnar mengenai hal ini? Apa pihak kerajaan mengirimkan bala bantuan untuk membersihkan dungeon?"
"Raja Ragnar menghormati keputusan Pangeran, oleh karena itu menunggu balasan dari Pangeran tentang masalah dungeon ini. Sampai saat ini pihak Kerajaan Osaka hanya menerima dengan baik para penduduk yang melarikan diri dan membantu merawat mereka, sementara para petualang masih bebas memasuki dungeon tingkat serigala tersebut."
"Baik-baik saja, kalau begitu tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Mavis mengedarkan pandangannya ke arah para utusan yang hadir, lalu tatapannya berhenti ketika melihat ke arah Rafael. "Semua persiapanku telah selesai, kalian lebih baik pergi untuk beristirahat karena besok kita akan melakukan perjalanan jauh kembali ke ibu kota. Mengenai dungeon yang berada di perbatasan luar Kerajaan Osaka, kalian tidak perlu khawatir. Para pelayanku yang akan menangani masalah itu."
"Tidak perlu melihatku heran seperti itu, lagipula aku sudah merencanakan untuk kembali ke ibu kota dalam waktu dekat ini, ada bisnis yang ingin aku lakukan dengan seseorang di ibu kota." Kemudian Mavis tersenyum melihat mereka menghela napas lega dan mengangguk.
Setelah semua urusan dengan sang pangeran selesai, Rafael bangkit dan disusul para utusan lainnya. Kemudian pria gagah itu memberikan salam penghormatan kepada sang pangeran, sebelum pada akhirnya pamit membawa yang lainnya pergi dari ruangan itu. Selepas pintu itu tertutup, tersisa hanya Mavis bersama dengan para pengikutnya, ditambah dengan adanya keberadaan Reus dan Sasha yang berdiri ragu di dekat salah satu tembok ruangan itu.
"Kalian berdua duduklah, aku ingin mendengar alasan mengapa kalian berdua bisa sampai ada di tempat ini," kata Mavis dengan wajah penuh ketenangan. Sebenarnya, dia sudah memiliki pemikiran kasar tentang keberadaan Reus, pasti tujuan pria itu datang ke tempat ini karena dia telah memutuskan untuk melayaninya.
"Kamu juga, mengapa kamu datang ke tempat ini? Bukankah sebelumnya aku sudah menyuruhmu untuk merawat ibuku?" Mavis benar-benar hampir kehilangan kata-katanya. Berbeda dengan pria di hadapannya, Mavis masih tidak paham mengapa pelayan wanitanya ikut datang ke wilayah perbatasan ini? Seorang pelayan, terlebih pelayan yang mengurusi mansion keluarga kerajaan tidak semestinya pergi meninggalkan ibu kota kerajaan. Lain itu hanya akan mendapatkan hukuman berat dan diberhentikan dari pekerjaannya jika melanggar peraturan tersebut.
"Pangeran, seperti para utusan sebelumnya yang membawa pesan dari Yang Mulia Raja, aku juga membawa pesan rahasia dari Yang Mulia Ratu!" Dengan dagu yang sedikit terangkat Sasha melirik ke arah Reus dengan penuh kebanggaan.
"Oh, apa itu?"
"Bukankah sudah kukatakan itu sangat rahasia, kau tau...." Lagi-lagi pelayan wanita itu melirik ke arah Reus, mengisyaratkan kepada sang pangeran agar menyuruh pria itu keluar terlebih dahulu karena ini sangat rahasia.
"Tidak perlu untuk menyuruhnya keluar, katakan saja apa pesan itu."
"Baiklah." Sasha mengernyit pahit saat melihat Reus tersenyum senang melihatnya gagal meyakinkan sang pangeran untuk mengusir pria itu. Kemudian setelah dia berhasil menenangkan diri, Sasha pun melanjutkan perkataannya yang sempat terhenti, "Sebenarnya ini semua berkaitan dengan penyakit yang dialami sang ratu sebelumnya."
"Yang Mulia Ratu mengatakan kepadaku bahwa penyakit itu awal mulanya datang dari ramuan yang diberikan Selir Juleaha kepada sang ratu. Pada saat itu sang ratu tidak memiliki kecurigaan sama sekali dan mempercayai bahwa ramuan tersebut dapat menyehatkan tubuhnya. Mengingat bagaimanapun di samping selir itu berdiri seorang pria menggunakan pakaian serba putih menemaninya. Pria itu tampak seperti orang suci dipermukaan, selalu tersenyum dengan hangat, dan terus mengatakan hal-hal bijak bahwa dia merupakan salah satu pelayan setia para dewa. Tentu, sang ratu menyambutnya dengan sangat baik dan mempercayai hal itu begitu saja."
".... sampai sini Pangeran pasti mengerti maksud dari pesan sang ratu. Ini semua bukan semata ulah dari mantan selir licik itu, melainkan ada campur tangan lain dari pria misterius berpakaian serba putih tersebut. Pangeran harap berhati-hati jika dikemudian hari bertemu dengan orang seperti itu."
Mavis mengangguk alih-alih mengomentari perkataan pelayannya itu. Dia jatuh dalam pemikiran yang mendalam, ingatannya kembali saat malam insiden meledaknya tubuh para tabib tahanan itu. Benar saja apa yang ada dipikirannya saat itu, seseorang pasti telah mengendalikan para tabib tahanan itu dari belakang, sehingga mereka tidak bisa mengatakan rahasia meski telah menerima siksaan yang begitu menyakitkan.
Sosok misterius yang berada di balik kematian para tabib itu pasti orang yang sama dengan pria berpakaian serba putih yang bertemu dengan sang ratu. Hanya segalanya masih belum begitu jelas, dan sebenarnya siapa identitas pria itu dan dari mana datangnya dia? Dan lagi sebenarnya apa motif dia mencelakai sang ratu, alih-alih sang raja itu sendiri yang merupakan satu-satunya pemegang kekuasaan tertinggi kerajaan?