Friends After Marriage

Friends After Marriage
Bertambahnya Amanah



Happy Reading


"Mama!"


"Mama!"


"Mama!" Panggil dua bocah imut itu bersamaan.


Salah seorang bocah yang badannya gempal lantas berjalan kearah Wanita setengah baya yang sedang lewat.


"Bibi!" Panggilnya membuat sosok itu berhenti.


"...Tuan Rosyad, iya ada apa!" Sahut Wanita itu lalu mensejajarkan tingginya dengan bocah itu.


"Bibi lihat Mama!" seru bocah gembul itu.


"Iya, Bi. Arsyad sama Rosyad udah cari mama, tapi enggak ketemu.." tambah bocah yang disebelahnya.


"...Arsyad sama Rosyad sudah ke kamar Mama?" tanya Wanita itu yang akan pergi ke kamar Orang tua bocah imut itu.


"Sudah, tapi tidak ada sahutan.." jawab bocah gembul itu menganggukan kepala.


"Ayo Bibi temani cari Mama, tapi Bibi taruh pakaian ini ke kamar Mama dulu ya.." ucap Wanita itu.


Ke dua bocah itu menganggukkan kepala setuju.


Mereka lalu jalan kearah lantai dua menuju kamar Al dan Mikael.


Didepan pintu, tak lupa Bi Hilda mengetuknya terlebih dahulu.


Tok tok tok


"Tuan, Nyonya.." panggilnya memastikan ada atau tidak orangnya didalam.


Mengetahui tak ada jawaban, Wanita itu lalu memegang kenop pintu untuk membukanya tetapi pintu terkunci.


"...kok tidak bisa di buka?" batinnya.


Wanita itu kembali mencobanya tapi sama saja.


"...jangan-jangan.." gumamnya yang lalu melihat kearah dua bocah yang berada didekatnya.


"...kita cari Mama di bawah saja ya.." ajaknya kearah dua bocah itu.


"..kata Bibi mau naruh pakaian itu.." ucap Arsyad kearah keranjang pakaian yang di pegang Bi Hilda.


"...iya, tapi ada beberapa baju yang sekalian pengen Bibi taruh. Jadi Bibi ambil dulu.." jawabnya yang lalu segera mengajak dua bocah itu menjahui pintu.


Disisi lain


"Hah hah hah...Kak.." ucapnya yang terputus karena bibirnya di tutup oleh lawannya.


"Mmm....mmm....hah hah hah..Kak..El.." desah Wanita itu yang segera menghentikan gerakan Pria diatasnya.


"..kamu gak suka.." tatapnya dengan wajah sedihnya yang di buat imut.


"..bu..bukan, tapi.." ucapnya yang menunjuk kearah pintu agar Pria itu mendengar suara didepan pintu.


Pria itu lalu mendengar samar suara Wanita dan bocah didepan pintu.


Mendengar suara itu, Mikael tersenyum dan melanjutkan gerakan tubuh bagian bawahnya yang semakin di percepat.


"...Kak.." ucap Al yang kembali terputus karna Pria diatasnya menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


"Shhuuuutttt....nanti anak-anak bisa dengar loh.." ucapnya lembut di telinga Wanita itu.


Pria itu lalu melepaskan tangannya dari mulut Wanita di bawahnya sedang si Wanita nampak menggit bibir bawahnya kuat agar ******* tak keluar dari bibirnya.


Wanita itu nampak kesakitan karna menggigit bibir bawahnya lumayan keras, karna tindakan Pria diatasnya yang gerakannya membuat sekujur tubuhnya bergetar.


"...aaaaahhhhhhhhhhh.." desah Pria itu yang telah mengeluarkan cairan putih.


Usai hasratnya keluar, Pria itu ambruk di samping tubuh Wanita itu.


Tak henti, nafasnya memburu. Bibirnya nampak mengembangkan senyum kepuasaan.


Diliriknya Wanita disebelahkan yang nafasnya sama memburu dengan dirinya. Tapi Wanita itu masih setia menggigit bibirnya.


"..keluar suaramu, mereka sudah pergi.." ucap Pria.


Wanita itu lalu melepas gigitan bibir bawahnya.


"..Hah hah hah.."


Al mengalihkan kepalanya kearah Pria di sebelahnya yang telah memejamkan mata.


Wanita itu kembali menggit bibir bawahnya pelan. Dia merasa kesal dengan sikap Pria itu saat ini.


* * *


Di taman belakang


Al nampak tersenyum melihat wajah dua bocah yang bermain kejar-kejaran.. Dia lantas menghampirin mereka.


"Hati-hati!" Seru Al mengingatkan.


"Mama!" Seru senang duanbocah itu melihat sosok Ibu yang melahirkannya.


Drap drap drap bugh


Bocah gembul terjatuh karna mengikuti Kakaknya.


Wajahnya nampak ingin menangis, dengan mulut yang siap mengeluarkan suara.


"Ayo bangun!" Seru bocah satunya sambil tersenyum. Dia ikut berjongkok dengan tangan menjulur kearah saudara kembarnya.


"...i..iya.." balasnya yang menjabat tangan saudara kembarnya.


Mereka lalu berjalan menghampiri Ibunya yang tersenyum melihat sikap dewasa anak sulungnya.


Al menyetarakan tubuhnya dengan tubuh bocah gembul itu.


"Yang mana yang sakit?" Tanyanya yang mengusap air mata bocah itu yang telah membasahi wajahnya.


"..ini.." tunjuk ya kearah lututnya yang merah.


"Coba, mama lihat.." ucap Al yang melihat kearah lutut anaknya yang sedikit memerah.


"Ayo kita obati.." ajaknya menatap mata anak gembul itu.


Dia lalu menggandeng tangan kedua bocah itu lalu membawanya ke kamar mereka.


* * *


"Mama kita boleh main sepeda di sekitar komplek?" Tanya Arsyad sambil tersenyum.


"Diluar!" gumamnya.


Dia lalu mengingat, Prihal dua bocah ini yang telah lancar bermain sepeda. Tentu halaman depan akan membosankan bagi mereka.


"Boleh, tapi nanti sore ya. Soalnya masih panas sekarang.." lanjutnya.


Arsyad yang di bolehkan lalu mendekat kearah Rosyad sambil tersenyum senang.


* * *


Sorenya kedua bocah itu nampak sudah bersiap, begitu juga dengan Al.


Tapi, sebelum keluar tentu mereka harus bilang ataupun izin terlebih dahulu pada Mikael selaku kepala keluarga.


"..Arsyad, kamu sama Rosyad izin dulu ke Papa. Mama akan mengeluarkan sepeda kalian.." ucap Al.


"Papa ada di Perpus ya.." lanjut Al.


"Iya.." balas bocah itu semangat. Dia lalu mengajak saudara kembarnya menuju ke perpus.


Tok tok tok


"Papa!" Seru dua bocah itu sambil mengetuk pintu besar kayu didepannya.


Pria yang ada didalam lalu membuka pintu sambil menyambut dua bocah imut yang nampak rapi itu.


"..ada apa sayang.." ucapnya yang lalu meletakkan lututnya dilantai.


"Arsyad sama Rosyad mau izin main sepeda di taman komplek sama Mama.." ucap Arsyad sambil tersenyum senang.


"..sama Mama, terus Mamanya mana?" seru Pria itu yang tak melihat sosok Istrinya sejak dia bangun.


"Mama di bawah, lagi keluarin sepeda Arsyad sama Rosyad.." balas bocah satunya.


"..yasudah, hati-hati ya.." ucap Pria itu mengusap kepala mereka bergantian.


Setelah Salim mereka lalu segera meninggalkan Mikael yang masih terdiam diambang pintu.


Pria itu lalu berjalan kearah kamarnya. Dia merasa aneh, tak biasanya yang izin ke dua bocah itu. Biasanya Al yang akan izin dan tentu mengajaknya ikut serta.


Di balkon, dia melihat sosok Istrinya yang sedang mendorong sepeda. Dengan di bantu Pak Usman.


Tak lama, dua bocah itu turun. Mereka menghampiri sepeda masing-masing.


Tak sengaja mata mereka bertemu, Mikael mengerutkan dahi melihat Al yang segera mengalihkan pandangan.


"Kenapa dengannya?" batinnya melihat tindak istrinya.


* * *


Tok tok tok


"Papa!" Seru bocah dari luar kamar.


"Masuk!" Balas suara di dalam.


Arsyad lantas berjinjit agar sampai ke gagang pintu.


Didalam dua bocah itu lalu berlari kearah Mikael yang sedang duduk di ranjang sambil menyandarkan tubuhnya.


"Papa, kata Mama makan.." ucap Rosyad sambil menarik pelan ujung baju Mikael.


"..sudah waktunya makan.." ucap. Mikael yang diangguki mereka berdua.


"Ayo ke bawah.." ajaknya lalu menaruh HP di genggamanmnya.


Di meja makan, Mikael melihat kearah Istrinya yang sedang menyajikan makanan.


Mata Pria itu tak lepas dari Istrinya yang terlihat jelas tak ingin bertemu mata dengannya.


Sikapnya saat ini seperti biasanya, tetapi terasa berbeda.


Saat menaruh piring milik suaminya ke depannya. Mikael sengaja memegang tangan Al agar Wanita itu melihat kearahnya.


Benar saja Al segera melihat kearah Pria itu yang menatapnya intens.


Tatapan yang ingin mengetahui, mengapa Wanita itu tak menatapnya.


Tetapi, Al kembali mengalihkan pandangannya yang lalu melepaskan tangannya dari Suaminya. Dia beralih kearah dua bocah yang piringnya masih kosong.


Tang Ting tang Ting


Nampak hening, mereka menikmati makanan masing-masing, kecuali Mikael yang tak ***** makan karna sikap Istrinya.


Mata Pria itu tak henti menatap kearah Al yang menikmati makanannya. Dia ingin tahu alasan Wanita itu mengabaikannya.


"Mama sudah!" Ucap Rosyad yang menunjuk kearah piringnya yang bersih.


"Pintar!" Seru Al. Dia lalu melihat kearah piring Arsyad yang tersisa sedikit makanan.


"Ayo, sedikit lagi makanannya.." ucapnya yang diangguki bocah itu.


Al lalu melirik kearah piring suaminya yang hanya sedikit di sentuh karna sejak tadi Pria itu fokus menatapi dirinya. Yang tentu disadari Al sejak tadi.


"Mama, Papa gak pintar dong. Makanannya masih banyak.." ucap Rosyad yang melihat kearah makanan Mikael yang masih tersisa banyak.


Al terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Dia lalu melihat kearah suaminya yang masih menatap kearahnya.


Wanita itu nampak menggigit bibir bawah bagian dalamnya.


"Entar, Papa juga abisin makanannya kok.." ucap Al.


Mendengar perkataan Wanita itu. Mikael mengeratkan tangannya yang memegang sendok.


Pria itu lantas meletakkan sendok ditangannya lalu meminum sedikit air dari gelas yang ada di dekatnya.


"Sayang, Papa ke atas dulu ya.." ucapnya kearah dua bocah itu lalu tak tak lupa dia memberikan tatapan tajam kearah Al.


Al yang melihat perlakuan suaminya itu kembali menggigit bibir bawahnya.


"Apa aku kelewatan?" batinnya bertanya.


Wanita berkerudung panjang itu, bersikap demikian tentu ada alasannya. Dia merasa kesal pada suaminya yang engois siang tadi. Dia pengen Pria itu menyadarinya, tetapi sayangnya Pria itu tetap saja tidak peka.


Tetapi dirinya juga bingung, mengapa dia sangat baperan saat ini. Biasanya juga dia akan menganggap biasa sikap suaminya. Tapi saat ini, tidak.


Arsyad dan Rosyad yang melihat Papa dan Mama nya tak seperti biasa lantas bertanya.


"Mama sama Papa kenapa?"


"..tidak apa-apa kok sayang.." jawab Al.


"..kalau sudah selesai, ayo kita rapikan.." ucapnya.


Usai merapikan meja makan yang tentu di bantu Bi Hilda. Al lalu mengajak dua bocah itu ke kamarnya.


Disana mereka bersiap mengaji, karna sehabis Magrib tadi, dua bocah itu beralasan cape.


Setelah itu, mereka meminta menonton acara kartun yang biasa di tonton mereka saat hari libur.


Sebelum menonton, tak lupa mereka menyikat gigi terlebih dahulu.


Tak seling berapa lama, dua bocah itu telah terlelap. Al lantas membenarkan posisi tidur dua bocah itu lalu menyelimuti mereka kemudian mematikan lampu.


Sebelum ke kamar, Al terlebih dahulu mengambil makanan untuk suaminya lalu membawa ke kamar.


Cklek


Di edarkan pandangan mencari sosok suaminya yang duduk di atas ranjang dengan tangan memegang sebuah buku.


Al menghampiri Pria itu lalu duduk di pinggir ranjang.


"Kak ayo makan, tadi Kakak baru makan sedikit.." ucap Al.


Pria itu mengabaikannya dan masih tetap membaca buku. Dia malah menjauhkan tubuhnya dari Al.


Saat ini yang yang terlihat bingung, jika suaminya sudah bersikap begini tentu cuman satu cara dapat di lakukannya.


Wanita itu lalu membawa kembali piring di genggamannya lalu menaruhnya ke atas meja.


Dia lalu berjalan ke arah almari. Disana dia mengambil kain yang berada di tumpukan paling bawah.


Dia menggenggam kain yang sudah lama tak di pakaian. Kain tipis yang biasa di pakainya hanya saat suaminya mendiamkannya atau Pria itu menginginkan dia memakainya.


Dari arah kasur, Mikael melihat Istrinya yang berjalan ke arah kamar mandi. Sebenarnya dia tak marah, hanya kesal karna Wanita itu mendiamkannya.


Dia ingin, jika melakukan kesalahan diberi tahu, bukannya di diamkan.


Mikael kembali membaca bukunya, tak selang berapa lama dia kembali melirik kearah kamar mandi yang sudah nampak sosok Istrinya yang mengenakan pakaian transparan.


Gluk


Hanya melirik sekilas saja, bagian bawah dirinya menegang. Dia lantas berpura-pura kembali fokus membaca buku. Tak lupa dia menutup bagian bawahnya dengan selimut.


Di depan pintu kamar mandi, Al diam sebentar sebelum kembali berjalan ke kasur. Dia berharap suaminya tak mendiamkannya.


Dengan langkah pelan dia menghampiri Pria diatas nakas. Dia lalu menaiki kasur perlahan dengan merangkak membuat gerakan itu nampak seksi di mata Mikael yang sejak tadi menelatan salivanya berulang kali.


Sampainya di dekat suaminya, Wanita itu lalu memepetkan dadanya ke lengan kekar suaminya. Sedang tangan kanannya ke dada sixpack Mikael. Sedang paha putih mulusnya terpampang jelas.


Al mengelus dada itu dengan lembut yang lalu beralih pada perut berkontak itu.


"Kak, maaf atas sikap Al tadi.." ucap Wanita itu.


Mikael dapat merasakan hembusan nafas di area samping pipinya yang tentu membuat tubuhnya terus bergetar.


Jika di tanya, apa dia tergoda. Tentu dia sangat sangat tergoda. Apalagi Al sangat jarang bersikap genit seperti ini.


Al yang melihat suaminya masih mengabaikannya lantas mengalihkan tangan kanannya masuk ke dalam selimut.


Itu lah titik terlemah suaminya, jika itu di sentuh tentu suaminya akan luluh.


Tapi tak semudah itu, Mikael yang menyadari tangan Al yang akan masuk kedalam selimut lantas menahannya. Dia tak ingin Wanita itu sadar, bahwa adiknya kecilnya telah berdiri tegak dan menuntut agar segera di tuntaskan.


"Cukup!" Serunya.


"Tidurlah! Malah ini aku tak ingin melakukan apapun!" Ucapnya kembali tanpa menatap mata Al.


Mendengarnya Al tersenyum getir, tangannya yang di genggam suaminya lalu di lepaskan. Pria itu lalu menjauhkan tubuhnya ke pinggir ranjang.


Melihat tindak suaminya, dia segera menjauhkan tubuhnya kearah sisi satunya.


Wanita itu kembali menatap kearah suaminya yang kembali fokus pada buku yang di bacanya.


Wanita itu lalu melihat kearah tubuhnya yang terpampang jelas. Dia merasa malu atas tindakannya tadi.


Lantas di tariknya selimut lalu menutup sekujur tubuhnya. Dia lalu merebahkan tubuhnya memunggungi Mikael.


Air mata yang sejak tadi siap jatuh, lantas segera membasahi bagian samping wajahnya.


Sedang Mikael nampak kaget saat melihat Wanita yang menggodanya tadi benar-benar mundur.


Dia nampak bingung, tak biasanya Istrinya ini menyerah segampang itu. Biasanya dia benar-benar akan membuat pertahanan dirinya runtuh.


Dengan sentuhan-sentuhannya. Seperti mencium wajah, leher ataupun langsung memegang adik kecilnya. Tapi sekarang tidak.


"Bisa-bisa main solo nih.." batinnya.


Mikael lantas mengingat ke jadian beberapa waktu silam.


Saat dirinya pulang dari perjalanan bisnis selama seminggu lebih.


Dia tak sabar agar segera hasratnya tertuntaskan lantas harus bermain solo karna Al yang ternyata tiba-tiba mengeluarkan darah haid.


Mengingat itu, Mikael segera menggelengkan kepala. Dia tak ingin bermain solo kembali, itu sangat menyiksakan dan tak puas.


Di tolehkan kepalanya kearah Wanita yang memunggunginya. Di tatapnya Wanita itu.


"Ayo Mikael! Kau tak ingin bermain solo bukan!" serunya pada diri sendiri.


Pria itu lalu meletakkan buku di tangannya kemudian mendekat kearah Wanita di sebrang kasur perlahan.


"Al!" Seru lembut Mikael yang membalikkan tubuh di balik selimut itu.


Pria itu terdiam, dia kaget melihat mata Wanita di cintainya meruraikan air mata, serta bibirnya nampak bergetar.


"Kenapa kamu nangis?" tanya Pria itu gelagapan, karna dirinya benar-benar sangat jarang melihat Wanita berambut panjang itu menangis.


"Al kumuhon berhentilah menangis! Aku minta maaf, atas sikapku tadi!" ucap Pria itu kembali.


Bukannya berhenti, kali ini Al malah bertambah nangis dengan suara yang mulai keluar.


Membuat Mikael kembali bingung. Pria itu lantas menarik Wanita itu ke dalam pelukannya.


"Cup cup cup.." usap pelan punggung Wanita di pelukannya.


"...maafkan aku ya, jika perkataanku tadi menyakitimu.." ucapnya yang lalu mencium puncak kepala Al


* * *


"Hufh hufh hufh...aku juga minta maaf ya Kak.." ucap Al setelah tangisannya berhenti.


"Sudah kumaafkan!" seru Pria itu.


"Tapi, kenapa kamu tiba-tiba mendiamkanku?" tanyanya kemudian.


"Ma maaf Kak, aku kesal karna sikap Kakak siang tadi.." jawab Al menatap malu kearah Mikael.


"Siang tadi? ...maksudmu saat kita sedang enak-enak itu.." ucap Pria itu memastikan.


"..iya, aku kesal karna saat aku minta Kakak berhenti Kak El malah..." ucap Al yang bertambah malu mengingat ke jadian siang tadi.


"...setelah Kakak puas, Kak El malah meninggalkanku tidur.." lanjutnya.


Mendengar penjelasan Al membuat Mikael bingung. Tak biasanya hanya karna masalah sepele itu, dia baperan.


"...yasudah, maafin aku ya. Atas sikap egoisku siang tadi.." ucapnya tulus sambil tersenyum.


Al menganggukan kepala sambil ikutan tersenyum. Dia lalu kembali memeluk tubuh suaminya.


Mikael lantas membalas pelukan Wanita itu. Tapi masalahnya, saat ini adik kecilnya masih menuntut di bawah.


"..Al.." panggilnya lembut.


"Iya Kak.." balas Al yang masih memeluk tubuh ke kar suaminya.


" Kamu tidak sedang haid kan.." ucap Pria itu kemudian.


"...tidak, memangnya kenapa Kak?" tanya Wanita itu kembali.


Mendengar jawaban tidak, Mikael lantas bersyukur. Dia takutnya, Al baperan karna sedang haid. Ternyata tidak.


"...kalau begitu kamu bisa bantu aku kan.." ucapnya yang saat ini tangannya mulai mengelus-ngelus lengan Al.


Wanita di pelukannya lalu melepaskannya, kemudian menatap lembut kearah Pria itu.


"...Kak, aku ke kamar mandi sebentar ya.." izinnya yang segera keluar dari dalam selimut.


Wanita nampak terburu kearah almari.


Setelah mengambil sesuatu dari sana, dia lalu berjalan kearah kamar mandi.


Mikael yang di tinggal sendiri lantas terbengong-bengong.


"...apa jangan-jangan dia merasa sedang haid.." gumamnya.


Pria itu segera menggelengkan kepala. Dia tak ingin membayangkan jika dia akan bermain solo.


"Al cepatlah keluar, aku sudah tak tahan.." ucap Pria itu.


Tik


Tok


Tik


Tok


Sudah lima belas menit berlalu, tapi Wanita itu tak kunjung ke luar. Mikael lantas khawatir, dia segera beranjak dari kasur.


Tok tok tok


"Al, are you oke?"


Clek


Pintu terbuka menampakkan sosok Al yang nampak tersenyum senang.


Wanita itu lalu menunjukkan benda panjang di genggamannya.


Melihat benda itu, Mikael tau itu merupakan testpack. Dia memperhatikan benda itu yang disana terdapat dua garis.


Pria itu melebarkan mata kaget lalu kembali melihat Al.


" Kamu hamil!" Senangnya.


Wanita itu menganggukan kepala mengiyakan. Pria itu segera memeluk erat tubuh didepannya.


Akhirnya, setelah penantian lama. Sang khalik kembali memberikan mereka amanah bertambahnya seorang anak.


Terimakasih sudah membaca....


Akhirnya setelah tidak up dalam waktu lumayan lama...


Nantikan episode terakhir Friend After Marriage...


Maaf ya banyak typo...


Salam hangat SMIM