Friends After Marriage

Friends After Marriage
Pertemuan Kembali



Happy Reading!!!


Pertemuan Kembali


Yuan berjalan kembali ke arah ruang TV. Disana sudah ada Pria yang tadi mandi di kamarnya. Pria itu sedang memakan makanan ringan bersama Ghifari.


"Yuan, mana Prempuan yang katanya mau mandi?"


"...dia enggak jadi!" serunya datar.


Pria itu mengerutkan dahi melihat sikap Yuan yang berbeda dari yang tadi. Tapi karna rasa lelahnya lebij besar dari rasa keponya, dia tak memikirkannya.


"..jadi gua bisa istirahatkan didalam.." ucapnya.


"Hemmm.."


Pria itu lalu pergi ke kamar. Tersisa Yuan dan Ghifari di ruang TV.


Ghifari menengok kearah Yuan yang matanya kearah TV. "Kenapa gak jadi? Bukannya kamar mandinya mampet?" tanya Ghifari.


"Dia udah mandi di kamar Mikael.." jawabnya.


Ghifari lantas melebarkan mata tak percaya. Bagaimana tidak, Karna dia tak menyangka Mikael akan mengizinkan orang lain ke kamarnya, apalagi ini Wanita.


"Waahh keren juga Al!" kagumnya sambil menggelengkan kepala tak percaya.


Sedang Yuan masih nampak diam. Pikirannya nampak sedang berkeliaran dengan perasaannya yang campur aduk.


###


Selesai sholat magrib Al keluar kamarnya. Dia berjalan kearah dapur yang darisana terdengar suara orang yang sedang memasak.


Dilihatnya Bu Mira istri dari Pak Mansur sedang menyiapkan hidangan makan malam.


Wanita berkerudung panjang itu menghampori Wanita setengah baya yang sedang memotong dedaunan.


"Ibu sedang masak apa?" tanya Al memperhatikan Wanita setengah baya itu yang sedang memotong daun yang diperkirakan Al Daun pepaya.


"..Nona Al, ini Ibu mau masak Rumpu Rampe. Masakan khas sini, bahannya dari daun pepaya.." jawab Wanita itu.


"...namanya Rumpu Rampe. Unik sekali Bu.." balas Al. Wanita itu tersenyum.


"...Bu, Al boleh bantu? Sekalian Al belajar, soalnya tadi sore masakan laut Bu Mira, MasyaAllah laziz (enak).." ungkap Al.


"Dengan senang hati Nona Al.." sambutnya.


###


Didalam kamar yang lumayan besar nampak dua Pria sedang tiduran dikasur yang satu sedang bermain dengan HPnya dan satunya sedang memejamkan mata.


Sedang satu Pria lainnya nampak sedang tertidur diatas kasur lipat yang ada diatas lantai.


Pria yang tidur diatas kasur lipat itu membuka matanya yang masih mengantuk. Dia terlihat sedang memegang perutnya yang rata.


"Ben, tumben udah bangun!" seru suara yang diatas kasur.


Pria yang sedang menguap itu lalu menengok kearah sampingnya. "Iya Ghif, soalnya daris tadi perut gua bunyi mulu.." ungkapnya yang kemudian menguap.


"Coba lo cek ke dapur, mungkin Bu Mira sudah selesai masak.." usul Pria itu.


"Kalau sudah jangan lupa kabari kemari yaa.." kekehnya.


"iyaaa.." balasnya yang kemudian bangkit dari posisi duduknya.


Dengan pelan diberjalan menuju pintu kamar.


"Cklek" pria itu membuka pintu kamarnya.


"Huwaaahhh.." pria itu kembali menguap dengan mata terpejam.


"Ahhh.." Pria itu reflek menutup mulutnya yang terbuka lebar saat matanya menyadari terdapat sosok didepannya.


Dia kaget melihat sosok Wanita bercadar didepan pintu kamarnya. Nampak Wanita itu terdiam ditempatnya menatap kearah Pria yang menguap itu.


"Kenapa Ben?" tanya Ghifari menengokkan kearah pintu terbuka.


Pria yang ada dipintu itu menyingkirkan tubuhnya agar sahabatnya yang diatas kasur dapat melihat sosok yang ada didepannya.


"..ohh Al, ada apa?" tanya Ghifari.


Saat Ghifari menyebut nama Al. Yuan yang sedang memejamkan mata, matanya seketika terbuka dan Pria yang dipintu menengok kearah Al yang masih nampak diam terpaku.


"...Eee..aku kesini hanya ingin mengatakan kalau makan malam telah siap.." ucapnya gugup sambil menundukan kepala.


"Ohh iya terimakasih ya, Al.." balas Ghifari. Al segera pamit dari ambang pintu menuju kamar Mikael.


Ghifari menyenggol lengan Yuan memberi kode untuk makan. Lalu dia beranjak dari kasur menuju pintu.


Dilihatnya Pria yang tadi kelaparan masih terdiam ditempatnya. "Kenapa lo? Bukannya tadi lo bilang lapar! Kenapa masih diam aja disini?"


"...Wanita tadi namanya Al.." ucap Pria itu.


"Iya, emangnya kenapa?"


"...ahhh tidak, namanya mirip dengan nama seseorang yang kekenal.." balasnya.


Ghifari hanya membulatkan mulutnya. Dia lalu kembali melihat kearah Yuan yang masih diatas kasur.


"Yuan, ayo makan. Ngapain loh masih nemplok diatas kasur!" seru Ghifari yang dianggukinya malas.


###


Al berjalan pelan menuju kamar Mikael. Dia memegang dadanya yang sedikit terasa sesak.


Perasaannya saat ini seperti rujak bebek, yang dimana semua bercampur menjadi satu.


Sampai di kamar Mikael Al menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan. Setelah itu dia mengetuk pelan pintu kamar itu.


"...Kak El..makan malam sudah siap.."


Tak ada jawaban dari dalam Al kembali mengetuk pelan pintu tersebut. Saat akan berkata kembali seketika pintu terbuka.


Al bersikap tenang seperti biasanya. Dia menatap kearah Mikael dengan ramah.


"...Kak, makanan sudah siap.." ucapnya kembali.


"Al numpang kamar mandi Kak El ya.." izinnya menunjuk kearah dalam kamar Mikael.


Mikael menganggukinya. Dia menggeser tubuhnya, mempersilahkan Al lewat. Lantas Wanita itu segera masuk kedalam, berjalan kearah kamar mandi.


Saat didalam, seketika air matanya jatuh. Al menutup mulutnya, menahan suaranya yang risaknya.


Al terdiam sejenak menenangkan perasaannya. Perasaan takut melihat sosok yang menguap tadi berwajah kecewa dan rindunya karna sudah lama tak jumpa.


Sosok yang dimaksud Al adalah Beni. Teman suaminya dan juga dua Pria yang rambutnya dicat.


Beni merupakan merupakan sosok yang sangat berperan penting dalam kehidupan Al setelah Neneknya meninggal. Karna orang yang tersebut yang mengajarkan Al menjadi sosok yang tegar, orang selalu memotivasi Al, dan juga Sosok Kakak yang mengajarkan Al hal baru.


Tapi, dia tak kuasa bertemu sosok tersebut, karna Al yakin pasti dirinya kecewa dengan Al yang tiba-tiba keluar dari club dan menghilang seperti ditelan bumi tanpa kabar.


Tapi dalam hatinya dia bersyukur dan merasa senang karna Beni sehat dan terlihat baik-baik saja. Dia juga tak ada perubahan sama sekali. Masih seperti Beni yang pertama kali Al temui terakhir kali.


Al segera mencuci mukanya. Merasa matanya tak merah dan mukanya sudah kembali dengan ekspresi tegarnya. Al kembali mengenakan cadarnya. Lalu keluar dari kamar mandi.


Saat pintu terbuka, Al kaget melihat sosok Mikael yang masih didalam kamar.


"...Kak El.." gumam Al.


Mikael bangkit dari posisi duduknya menghampiri Al diambang pintu kamar mandi.


"Perutmu sakit?" tanya Mikael dengan ekspresi datar.


Al hanya menggelengkan kepalanya, dia nampak bingung mendengar perkataan Mikael.


Ketika paham maksud perkatan Mikael, Al mengembangkan senyum tipis. "Al, baik-baik saja Kak.." ucapnya lembut.


Mendengarnya perasaan Mikael tenang. Mereka lalu keluar kamar, menuju meja makan bersama.


###


Suasana hening menyelimuti ruang makan. Mereka nampak sedang sibuk dengan pikiran masing-masing.


Usai makan, Al segera membantu membereskan piring di meja lalu membawanya kedapur untuk mencucinya.


Yuan dan Mikael memilih kembali ke kamar menyisakan dua Pria di kursi meja makan.


Selesai mencuci piring. Al ingin kembali ke kamarnya.


Saat melewati meja makan. Dia melihat sosok Beni yang masih duduk disana. Al segera menundukan kepala ketika melewatinya.


Sedang Pria itu memperhatikan sosok Al yang berjalan sampai hilang terhalang tembok kayu.


###


Siang harinya. Mereka melakukan perjalanan ke Pulau Rutong. Dipulau nan cantik dan indah itu, mereka berencana untuk Snorkling dan juga Diving.


"Kamu serius Al ingin snorkling dengan pakaian ini?" tanya Ghifari yang memperhatikan Al masih dengan pakaian lengkapnya.


"Tentu, memangnya kenapa Kak?"


Beni mengerutkan dahinya. Setaunya kebanyakan orang ketika snorkling akan berpakaian renang. Jikapun dia berkerudung pasti pakaian yang dipakainya ringan. Tak seperti Al yang terlihat berat.


"Bajumu saja sekarang terlihat berat, bagaimana jika terkena air. Tentu akan semakin berat dan membuat susah berenang.." ucapnya kembali.


"Tenang saja, Al sudah biasa kok berenang dengan pakaian seperti ini. Lagi pula Al hanya snorkling.." balasnya.


"Betul tidak apa-apa, banyak kok Wanita yang berpenampilan sepertinya. Jika hanya snorkling tidak akan masalah.." sambung instruktur penyelam.


"Lain hal jika diving, itu tak bisa di lakukan, karna akan menyelam kedalam laut. Jika berpakaian seperti ini akan susah berenangnya.." lanjutnya menjelaskan.


Ghifari menganggukinya paham. Begitu juga para Pria lain yang sejak tadi mendengarkan percakapan itu.


Mereka lalu masing-masing menerima snorkel (selang berbentuk huruf J yang dilengkapi pelindung mulut)


Tiga Pria lain sudah mulai menyelam, tersisa Al dan Mikael.


Al melihat kearah Mikael yang masih belum juga menyelam.


"Kenapa Kak?" tanya Al yang memperhatikan Mikael diam.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin bilang saat menyelam nanti kau jangan-jangan jauh-jauh dari ku.." ucapnya melihat kearah depan.


Al yang mendengar perkataan Mikael merasa berdebar. Tanpa sadar kembali bibirnya menyunggingkan senyum.


"Baik.." balasnya.


Al lalu mengangkat cadarnya untuk memasukkan alat snorkel kemulutnya. Saat sudah siap dia mulai menyelam mengikuti Mikael disampingnya.


Untuk hal selam menyelam, Al bisa dibilang biasa, karna dulu saat masa SMA dan awal kuliah. Setiap liburan sehabis perlombaan Al dan clubnya selalu pergi berwisata. Entah itu ke pantai, gunung ataupun tempat wisata lainnya.


Tapi hal yang paling Al suka adalah pantai. Entah mengapa dia merasa senang melihat air dan bermacam-macam biota laut. Hal tersebut sungguh membuat Al senang.


Al berenang melewati terumbu karang yang yang sangat cantik. Dia juga melihat ikan-ikan hias kecil yang nampak berenang didekatnya.


Setelah cukup lama melakukan snorkling. Al dan para Pria itu kembali kepinggir pantai.


Mereka nampak beristirahat sambil meminum air mineral yang telah disiapkan.


Setelah beristirahat, terlihat para Pria bergantian pergi untuk mengganti pakaian untuk Diving.


Intrukturnya penyelamnya secara bergantian juga membantu para Pria itu secara memakai peralatan menyelam.


Al yang nampak duduk dipinggir pantai. Dihampiri salah seorang Pria, dia lalu duduk disamping Al dengan beberapa jarak


"Sepertinya kamu sangat menyukai laut.." ucap Pria itu.


"...iya.." balas Al.


Mereka kemudian kembali terdiam. Pria itu nampak sedang berfikir untuk kembali memulai obrolan.


"...oh iya aku belum memperkenalkan diri.."ucapnya.


"Namaku Beni.." Pria itu menjulurkan tangannya kearah Al.


Al langsung menempelkan kedua telapak tangannya. "Salam kenal, Kakak bisa manggil saya Al.." balasnya.


Kemudian mereka kembali diam.


"...oh iya, dari yang aku dengar dari Ghifari. Katanya awal Ghifari dan Yuan mengenalmu, berawal dari Mikael.."


"...iya.." balas Al singkat.


"..setelah tiga tahun mengenalnya. Ini pertama kalinya aku melihat Mikael berteman dengan Wanita.." ucapnya sambil tersenyum. Al hanya menganggukan kepala karna tau.


Dalam hatinya Al merasa senang karna bisa bercakap dengan Beni, karna dia rindu momen seperti ini. Disisi lain Al takut, jika Beni menyadari dirinya adalah Al kenalannya. Dan membuat Pria itu menjahuinya.


"...Al.." ucap Pria itu kembali.


Merasa namanya dipanggil Al menengok kearah Pria disampingnya.


"..kamu tau, namamu sangat mirip dengan nama seorang Gadis kenalanku.." ucapnya kemudian.


Mendengar kelanjutannya Al tertohok, dia kembali melihat kerah depan.


"...wahh kebetulan sekali ya.." balas Al.


"...hahaha iya kebetulan sekali, saking kebetulannya mata dan suaramu sama dengannya.." ucapnya.


Al menelan slavinanya mendengarnya. "...apakah sepersis itu?" tanya Al pura-pura.


"Walaupun suara kalian mirip, tapi nada saat berucap terdengar berbeda.." tambah pria itu. Al melirik sekilas kearahnya.


"Saat berbicara kamu berkata dengan lembut, sedangkan gadis yang ku kenal...yahh sedikit bar-bar dan dia penuh semangat.." jelasnya.


Al kembali mengingat-ingat dirinya saat berkata dulu. "Apakah aku duku sebar-bar itu berkata! Tapi kalo untuk sekarang aku masih tetap semangat kok.." serunya dalam hati.


"...dan soal penampilan...360 derajat sangat berbeda denganmu.." Beni terlihat mengingat penampilan Al yang dikenalnya sangat tomboy.


"...setiap mau pergi dia selalu mengenakan kaos dan celana jins dengan rambut yang diikat. Dia seseorang yang sangat tomboy dan sedikit cengeng, hehehe walaupun terakhir bertemu dia sudah sangat tegar.." Pria itu tersenyum mengatakan Prihal Gadis yang dikenalnya.


Al ikutan tersenyum mendengarnya. Sosok cengeng! Benar yang diucapkan Pria itu Al dulu merupakan Wanita cengeng.


Dari kejauhan, Mikael yang baru saja mengganti pakaian. Melihat pemandangan yang membuat dadanya panas.


Dia menghampiri dua sejoli itu yang nampak sedang ngobrol.


"Ben, sekarang giliran lo.." ucapnya. Beni dan Al melihat kearah sosok yang menghampirinya.


"...iya.." balasnya lalu pergi.


Sosok yang berbaju renang pas ditubuh itu memperhatikan Al yang sedang menatapnya.


"Kak El.." gumam Al menyadari sosok eksotis Mikael yang berpakaian ketat didepannya.


Tanpa sadar tatapan Al tertuju pada satu titik yang sangat intim. Al segera memalingkan wajahnya.


"Astagfirullahal'adzim, apa yang barusan kamu perhatikan.." batin Al.


Mikael mengerutkan dahi melihat tingkah Al yang tiba-tiba membuang muka.


Setelah Beni mengenakan peralatan memyelamnya, mereka memulai untuk menyelam kedalam laut. Sedang Al menunggu di pinggir pantai sambil bermain dengan air atau membuat rumah pasir layaknya anak kecil.


###


Sampai di rumah mereka nampak sangat kecapean setelah cukup lama berenang. Al dan Para Pria itu tempar di kamar masing-masing setelah makan malam.


###


Pagi-pagi, sekitar jam 4 subuh. Kamarnya Al dan Mikael sudah di gedur oleh Ghifari. Dia menyuruh mereka berdua bersiap-siap.


Ba'da subuh mereka berangkat kesalah satu tempat tujuan turis karna termpat tersebut terkenal akan pemandangannya yang indah. Nama tempat tersebut adalah Watu Zape.


Mereka berlima menuju ke Watu Zape dengan mobil. Sampainya disana, mereka menaiki bukit itu.


Tepat saat matahari hendak keluar dari tempat persembunyiannya. Al dan keempat Pria itu sampai diatas bukit. Mereka secara langsung melihat pancaran sinar matahari yang mulai muncul.


Al tak hentinya mengucapkan 'MasyaAllah' karna melihat pemandangan yang begitu luar biasa indah.


Apalagi saat matahari memancarkan senyumannya. Al melihat penampakan pemandangan tujuh belas pulau Riung.


Begitu juga ke empat Pria yang nampak terpesona. Walaupun mereka sering melihat pemandangan yang indah, tapi untuk hal ini mereka benar-benar sangat terpesona.


Dua Pria yang sejak tadi membawa tas besar. Mulai mengeluarkan isinya.


Ghifari nampak mengeluarkan kompor gas camping dan juga panci. Sedang Beni mengeluarkan 5 bungkis mie, sosis, bakso dan sayur sawi.


Ghifari lalu mencari sosok Al. Didapatinya sosok Wanita itu yang sedang asik memangdang. Dihampirinyalah Wanita itu.


"Al.." panggilnya. Al melihat kearah Ghifari yang tersenyum-senyum.


"...? Kenapa Kak?"


Ghifari menengok kearah belakang yang dimana terdapat barang-barang yang tadi dikeluarkannya.


Al yang melihat seketika paham. "Baiklah!" serunya lalu bangkit dari posisi duduknya.


Seperginya Al, Ghifari menyadari tatapan tajam dari sosok didepannya. "Kenapa?" tanyanya kepada Mikael yang lalu membuang mukanya kearah lain. Ghifari mengerutkan dahi melihat tingkah sahabatnya itu.


Al enggan menghampiri Beni, tapi tak mungkin dia tak kesana. Karna secara tak langsung Ghifari memberi kode menyuruhnya memasak.


Mau tak mau Al menghampiri Beni yang nampak sedang memasang gas untuk kompor camping yang dibawa.


"Kak, mari Al bantu!" serunya.


"Bener nih!"


"Iya.." balasnya.


Al kemudian mengambil batu sebagai alasan duduk. Setelha duduk dia mengambil panci yang ada diatas rumput. Dibukanya panci tersebut yang didalam terdapat 4 butir telur didalam plastik.


Dikeluarkannya telur tersebut dari dalam panci. Diarahkan pandangannya mencari air.


"...Kak airnya dimana?" tanya Al tak melihat air mineral sama sekali.


"Oh..airnya ada didalam tas.." ucapnya lalu segera mengeluarkan beberapa botol air.


Setelah gasnya terpasang. Beni langsung menyalakan kompornya. Setelah itu Al menaruh panci yang telah diisi air keatas kompor tersebut.


Kemudian Al memotong sayur yang telah dicuci dan juga beberapa bahan lainnya.


Selama Al meotong, Beni hanya memperhatikan Al yang mengegerakkan tangannya dengan cepat.


"Kamu sepertinya sudah terbiasa memasak.." ucap Beni disela Al sedang memotong bakso.


"..aa..iya Kak.." balas Al.


"Kamu tau gadis yang kemarin namanya mirip denganmu.." kata Beni. Al menganggukan kepalanya.


"Dia bisa memasak tapi gerakannya saat memotong sangat kaku.." tambahnya. Pria itu terlihat tersenyum membayangkannya.


Al ikutan tersenyum. Mengingat dirinya yang dulu tak bisa masak.


"...Kak..memang sekarang sosok gadis yang Kakak bicarakan berada dimana saat ini?" kata Al memberanikan dirinya bertanya.


Walaupun Al masih takut untuk mengungkap dirinya. Setidaknya dia ingin tau apa Pria didepannya ini mencarinya atau tidak.


Beni nampak diam tak berkata apapun.


"...Al, air sudah mendidih tuh.." ucap Beni.


Seketika Al teringat dengan air yang dimasaknya, dia lalu segera memasukkan bahan yang tadi dipotongnya.


Dari kejauhan sejak tadi Mikael memperhatikan sosok yang sedang bercakap-cakap.


Lagi-lagi timbul perasaan panas, melihat Wanita bercadar itu akrab dengan Pria lain.


Begitu juga dengan Yuan yang diam-diam memperhatikan Mikael yang matanya sejak tadi menatap tajam kesejoli yang memasak.


###


Setelah kenyang dengan perutnya. Mereka kembali meligat pemandangan yang indah itu.


Tentu tak lupa mereka mengambil foto.


"Al ayo foto!" seru Ghifari menyuruh Al mendekat.


"Al tidak ikutan deh Kak, mending Al saja yang mengambil foto Kakak-Kakak.." tolaknya halus.


"Kenapa?" tanya Ghifari. Al hanya mengelengkan kepalanya. Hal tersebut membuat para Pria itu bingung. Dalam pikiran mereka Al tidak suka berfoto.


Al lalu mengambil kamera yang diberikan oleh Beni.


Saat akan mengambil foto Al melihat wajah Mikael yang nampak tanpa ekspresi begitu dengan wajah Yuan.


Kalau untuk Mikael, suaminya Al paham. Tapi untuk Yuan yang sekali ketemu langsung tau sifatnya aslinya yang suka senyum. Membuat Al bingung.


"Kak Yuan, senyumnya.." ucap Al. Yuan seketika langsung tersenyum kaku.


Al lalu mengambil foto dengan memberi kode hitungan tangan. Saat terakhir Al menatap kearah Mikael.


"Kak El, bahasa Inggrisnya keju.." ucap Al ketika Mikael berkata Al segera mengambil fotonya.


Tampak di foto terakhir hanya Mikael yang tersenyum datar sedang Pria lainnya berwajah bingung.


Melihat foto itu para Pria tertawa karna wajah mereka terlihat aneh.


Dari Bukit Watu Zape mereka pergi ketempat berikutnya yaitu Watu Mitong. Disana sama tempat untuk melihat pemandangan.


Hal yang dilakukan disana sama dengan yang di lakukan Bukit sebelumnya mengambil beberapa view setelah itu mereka pulang.


###


Matahari mulai sudah mulai mencapai puncaknya. Al dan Para Pria itu memilih turun dari bukit Watu Mitong.


Mereka memilih untuk pulang karna merasa capek dan ngantuk.


Sampainya di rumah mereka terlebih dahulu menyantap makan siang yang telah dimasak Bu Mira. Setelah itu menuju kamar masing-masing.


###


Malamnya, para Pria itu berniat untuk pergi minum keluar. Ghifari mengajak para Pria itu karna melihat Yuan yang sejak kemarin terlihat lebih diam dibanding biasanya.


Suasana gelap menyelimuti temoat minum itu. Para Pria itu duduk dibawah payung pantai dengan minuman didepannya.


Ghifari dan Beni nampak bercakap-cakap, sesekali Mikael ikut menimbrung. Tidak dengan Yuan yang masih diam.


Sejak datang Yuan lebih memilih, meneguk minuman ditangannya tanpa henti.


Ghifari yang melihat tingkah sahabatnya itu, merasa tak nyaman.


"Yuan, lo kenapa?"


Yuan hanya menggelengkan kepala sambil terus menegak minumannya.


"Kalo lo ada masalah, cerita! Udah dua hari ini, lo irit bangat ngomong. Biasanya juga mulut lo selalu nyerocos.." ucap Ghifari yang merasa risih dengan diamnya Yuan.


"Gua gak papa!" serunya. Yuan kembali menikmati minumannya dan mengambaikan para Pria didepannya kembali.


Malam semakin larut. Hawa dingin semakin menyergap ke kulit. Keheningan mulai menyelimuti.


Nampak satu diantara empat Pria yang duduk bersama itu sudah mulai terpengaruh oleh minuman yang diteguknya sejak tadi.


'Brak!' Yuan menaruh botol minumnya dipegangnya dengan kasar keatas meja. Membuat tiga Pria itu menengok.


"..lo kenapa?" tanya Ghifari.


Yuan tak mengubris perkataan Ghifari. Dia malah menatap lurus kedepan kearah Mikael yang terlihat santai meminum sedikit demi sedikit minuman ditangannya.


"Dada gua sakit!" serunya.


Mendengarnya, para Pria itu lantas melihat keraah Yuan yang memegang dadanya.


"Kalau dada lo sakit, ayo ke rumah sakit.." ucap Ghifari kahawatir. Dia mengajak Yuan untuk ke rumah sakit, tapi dirinya melepaskan tangan Ghifari yang mau mengajaknya pergi.


"Dada gua sakit, pas tau..Al istrinya Mikael.." ucapnya kemudian. Terlihat mata sendu Yuan.


Perkataan itu membuat Beni dan Ghifari membulatkan mata. Mereka lalu melihat kearah Mikael yang nampak santai.


"Lo kayaknya udah kebanyakan minum.." ucap Ghifari menghentikan Yuan yang akan kembali meneguk minuman.


"Gua masih sadar!" serunya kearah Ghifari.


"Selama ini lo gak curiga apa, sama sikap Al ke Mikael?" tanyanya melihat Ghifari. Pria itu hanya diam.


"Ditambah, Mikael yang anti Wanita, tiba-tiba memiliki teman seperti Al.." Lanjutnya.


"Padahal...gua berharap, Al bukan istrinya.." ucap Yuan kembali getir.


"...lo suka sama dia?" kata Mikael membuka suara.


Yuan terdiam, dia kembali meneguk minuman ditangannya. "...gua gak tau persis, gua suka apa enggak..tapi saat gua tau dia istri lo, dada gua seketika sakit.." balasnya.


Ghifari nampak mulai paham dengan perkataan Yuan. Begitu juga Beni yang hanya mendengarkan pembicaraan mereka sambil memahaminya sedikit demi sedikit.


"...yang gua pengen tau! Kenapa lo enggak bilang ke kita kalau dia istri lo?" tanya Yuan. Dia juga merasa sedih dengan Mikael yang selalu menyembunyikan sesuatu.


"...karna itu tidak penting!" serunya.


"Lagi pula lo tau, sejak awal gua nikahin dia, hanya untuk membungkam rumor gua.." jawabnya santai.


Yuan tersenyum getir. "...sampai sekarang masih sama! Lo masih nganggap enggak penting?" ucapnya kembali.


"...setelah Al, nunjukin semua perhatiannya sama lo secara terang-terangan..." lanjutnya. Mendengar ungkapan Yuan, Mikael sedikit tertohok.


"Gua aja...bisa ngerasain..kalo Al cinta bangat sama lo.." ucapnya.


"..walaupun awalnya gua gak peduli sama perasaan istri lo, tapi sekarang lain hal setelah gua kenal dia.."


Perkataan Yuan seperti sambaran petir ke hati Mikael. Pria berambut panjang itu nampak diam.


Seketika Yuan ambruk keatas meja. Dia tertidur setelah minum dengan banyak. Menyisakan ketiga Pria yang sibuk dengan pikirannya.


"....Gua antarin Yuan dulu ya. Kasihan nanti dia masuk angin.." ucap Ghifari tersenyum kaku. Dia takut melihat eksoresi Mikael yang begitu dingin.


Beni yang berada disamping Mikael juga merinding. Membuatnya ikut serta mengantar Yuan.


Mikael yang ditinggal sendiri di tempat itu. Meluapkan perasaanya dengan meminum, minuman didepannya. Dia menegak satu botol itu sampai tandas.


Pikrannya saat ini bercampur aduk menjadi satu. Mikael menghentakkan botol kosong yang dipegangnya keatas meja.


Jangan lupa tinggalkan tanda, agar SMIM semangat menulisnya.


Tandamu sangat berharga bagi SMIM


Thank you very much