
Terimakasih sudah membaca cerita ini. Sampai ketemu diepisode berikutnya...
Just Friend
Happy Reading!!!
Al menyamarkan suara tangisannya dengan suara acara televisi yang dia besarkan volumenya.
Dia merasa sangat sedih. Ini pertama kalinua Al merasakan lebaran sendiri. Walaupun Al tak memiliki keluarga tetapi setiap lebaran Al selalu ada yang menemani. Yaitu keluarga Via yang menerima Al dengan tangan terbuka.
Sebelum ketemu keluarga Via. Saat lebaran sebelumnya, dia bersama para anggota pelatihan. Tapi sejak Al keluar dari tempat tersebut, karna sebuah masalah dia tak pernah lagi kontekan dengan mereka. Setiap Al mengontek mereka tak pernah membalas.
Isakan demi isakan keluar dari mulut mungil Wanita itu. Seketika isakannya terhenti karna merasakan pelukan dari arah sampingnya.
Al terdiam sejenak, dia mencium wangi yang tak asing dan sangat dikenalnya.
###
Mikael masih nampak tak tenang. Diliriknya hadiah Al disamping, seketika dia teringat dengan suatu benda yang ada dikamarnya.
Mikael segera memuter balikkan mobilnya kembali menuju kearah rumah.
Didepan rumah dia tak memasukkan mobil ke halaman karna dia hanya berniat memberikan benda yang ada dikamarnya, setelah itu pergi kembali.
Saat membuka pintu keheningan menyambutnya. Tak ada suara apapun. Diarahkan langkahnya kedalam rumah.
Dilihatnya ruang TV yang tak ada sosok yang dicarinya. Samar-samar dari sana Mikael mendengar suara berasal dari atas. Dia lantas berjalan kearah sumber suara.
Mikael berhenti tepat didepan kamar Wanita yang dicarinya. Suara nampak lumayan keras terdengar didepan.
Dibukalah pintu tersebut. Membuat suara acara yang ditonton semakin keras. Dia membula lebar pintu mendapati sosok yang dicarinya sedang memeluk lututnya.
Rambut panjangnya menutupi bagian samping wajahnya, membuat Mikael tidak jelas melihat wajahnya.
Mikael berjalan, mendekat kearah sosok yang memeluk lutut itu. Takutnya sosok itu sedang sakit, makanya dia menghampirinya.
Saat semakin dekat. Mikael melihat tubuh yang meringkuk itu bergetar dan samar-samar terdengar isakan kecil yang memilukan.
Mikael terdiam ditempat. Tanpa ia sadari dia kembali mendekat mengembangkan kedua tangannya lalu memeluk sosok yang meringkuk itu kedalam dada bidangnya.
Seketika isakannya yang dipelukannya terhenti. Mikael tak langsung mepas pelukannya, dia masih tetap mendekapnya dalam pelukannya.
"Kak El.." gumam sosok itu pelan.
Sosok tersebut mengangkat kepalanya, dari sela-sela rambutnya dia dapat melihat tubuh kekar disampingnya.
"Kak El.." ucapnya dengan suara serak.
Mikael segera melepas pelukannya lalu menghadapkan tubuhnya kedepan sosok itu.
Disingkirnya rambut panjangnya yang terurai dari wajahnya. Tampak wajah Wanita didepannya yang sembab dengan mata bengkak, Bibirnya yang sedikit memerah serta pipinya yang basah.
Sosok itu menggetarkan kembali bibir mungilnya. Dia kembali mengalirkan air mata membasahi pipinya.
"Kak El.." ucapnya senang.
Sosok yang sedang menangis adalah Al. Dia tak menyangka suaminya akan kembali.
Ingin rasanya saat ini dia memeluk sosok Pria didepannya yang berwajah tak dapat ditebak, tapi dia tak berani. Pria tersebut datang saja Al sudah sangat senang apalagi tadi dia mendapat bonus pelukan.
Mikael yang melihat Al kembali menangis seketika bingung. Mungkin jika saat ini didepannya Wanita lain yang menangis, dia akan meninggalkannya. Tetapi saat ini Al yang menangis. Tadi saja saat menyadarinya menangis tanpa sadar dirinya mendekat dan memeluknya.
"Peluk!" seru Mikael dalam hati.
Seketika dia teringat saat tadi memeluknya, Wanita itu diam. Mikaelpun mengembangkan tangannya kembali untuk memeluk Wanita didepannya.
"Su..sudah jangan menangis.." ucapnya sambil menggerakkan tangan mepuk punggung Al. Seperti menenangkan anak kecil.
Al membalas pelukan suaminya ini. Dia menenggelamkan wajahnya di dada bidang Pria itu. Bukannya berhenti Al semakin menangis.
Saat Al membalas pelukannya, Mikael terdiam. Dadanya berdegup. "Kenapa denganku?" batin Mikael.
H
I
K
S
Cukup lama Al menangis dipelukannya Mikael. Setelah tenang Al melepas pelukannya. Diikuti dengan Mikael.
Al melihat kaos yang dipakai suaminya basah.
"..Kak maaf. Bajunya jadi basah.." ucapnya menundukan kepala.
Mikael yang awalnya memalingkan wajah kesamping lalu menunduk melihat kausnya. Dia kemudian menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa, aku bisa menggantinya nanti.." ucapnya.
Al memberanikan mengangkat kepala melihat wajah suaminua yang tak terlihat marah. Hanya saja saat mata mereka bertemu Mikael segera mengalihkannya.
Mereka kembali diam. Al bingung ingin berbicara apa, begitu juga dengan Mikael.
Dalam hatinya, Al berharap jika suaminya kembali karna dirinya tapi dia tidak berani berharap seperti itu.
"...Kak El...ada sesuatu yang tertinggal.." tanyanya tanpa melihat kearah Mikael.
Mikael terdiam, dia melirik kearah Al sekilas lalu kemali melihat kearah lain.
"Iya, ada sesuatu yang tertinggal.." jawabnya.
Al tampak lemas, rasanya dia ingin kembali menangis tapi ditahannya.
"Cengeng sekali kamu Al!" serunya dalam hati. Al merasa kesal pada dirinya yang tiba-tiba secengeng ini.
"..a..apa yang..tertinggal, Kak.." ucapnya. Al berusaha mendatarkan suaranya agar tak bergetar.
"..Al..akan mem..bantu mengambilnya.." lanjutnya.
Mikael yang merasakan sosok Wanita didepannya yang ingin menangis kembali lantas mengangkatn wajahnya lalu ditangkupnya dengan kedua tangannya.
Dilihatnya mata Al yang sudah mengambang air yang siap terjatuh.
Dihapunyalah air mata itu dari matanya. "Jangan menangis!" serunya.
"Tujuanku kembali menjemputmu!" lanjutnya.
Al membelalakkan mata mendengarnya. "Benarkah!" serunya.
"Iya," balasnya. Mikael tak kuat melihat Wanita didepannya menangis. Padahal setiap membuat Wanita lain menangis dia akan sebodo teing.
"Sekarang bereskanlah pakaianmu!" lanjutnya.
Al nampak tersenyum senang. "Baik, Kak.."
Mikael lantas melepas tangannya dari wajah Wanita didepannya. Tampak Wanita itu kembali bersemangat dengan wajah ceria seperti biasanya.
Mikael memperhatikan Wanita itu dengan semangat memasukkan beberapa baju kedalam tas kopernya.
Ketika melihat baju. Dia teringat benda yang ingin diambilnya. Lantas dia berdiri.
"Ke kamar, kamu pelan-pelan saja menyusun bajunya. Aku tidak akan meninggalkanmu.." ucapnya. Al menganggukan kepala sambil tersenyum.
###
Di kamarnya, Mikael berjalan kearah lemari. Dia membuka salah satu lemari. Lalu dijulurkannya tangannya kedalam untuk menggapai sesuatu.
Setelah mendapatkannya dia mengeluarkannya dengan hati-hati agar pakaian yang didepannya tak berantakan.
Mikael nampak mengeluarkan 2 kantung. Berkukuran besar dan kecil dengan warna yang sama.
Setelah mendapat kantung itu. Mikael mendudukkan tubuhnya dipinggir ranjang.
Dia kembali teringat dengan tindakannya yang mengajak Al.
"Kenapa aku bisa mengatakan perkataan tadi?"
Mikael bingung dengan dirinya. Apa yang harus dia katakan pada Kakeknya prihal Wanita yang di ajaknya.
Dia lalu merebahkan tubuhnya dengan kaki masih menggantung. Ditutupnya matanya dengan tangan kanan.
Kembali teringat sensasinya saat memeluk Wanita di kamar sebelah. Apalagi saat Wanita itu membalas pelukannya.
Seketika Al merasakan degupan kembali di dadanya. Dialihkan tangannya dari matanya lalu memegang dadanya.
"Kenapa denganku?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Mikael segera mendudukan tubuhnya kembali. Ditariknya nafas dalam-dalam, berharap debarannya berkurang.
Setelah merasakan sedikit stabil, dia lantas beranjak dari tempat tidur meninggalkan kamarnya.
Dia keluar kamarnya sambil menenteng dua kantung yang diambilnya. Saat berada didepan kamar Al dia tertegun.
Matanya terbuka lebar melihak sosok didepannua. Tanpa sadar dia menelan ludahnya karna sosok Al yang 'Hot'.
Dia lantas segera meninggalkan tempat itu lalu berjalan kearah dapur. Saat ini dia merasakan tubuhnya memanas.
###
Al yang merasa gerah memilih mandi terlebih dahulu. Usai mandi dia melupakan pakaian dalaman dan juga bajunya, lantas dia keluar hanya menggunakan haduk kecil yang menutupi bagian kewanitaanya.
Setelah mengambil baju. Al menyadari pintunya yang masih terbuka. Dia lantas berjalan kearah pintu untuk menutupnya. Lalu dia kembali ke kamar mandi menggunakan pakaiannya.
Usai memakai pakaiannya dia segera merapikan rambut terus mengenakan kerudungnya.
Dilangkahkan kakinya keluar kamar sambil mendorong kopernya, dia berjalan kearah kamar Mikael.
Didepan kamar Mikael, dia lalu mengetuk pintu kamarnya. Sayangnya tak ada jawaban. Dia lalu pergi ke arah tangga. Dituruni tangga tersebut. Dibawah dilibatnya sosok suaminya yang sedang duduk di sofa ruang TV.
Dihampirinyalah suami tercintanya. "Kak, Al sudah siap.." ucapnya.
Mikael menganggukan kepala, dia lalu beranjak dan berjalan mendahului Al keluar rumah.
Setelah Mikael mengunci pintu, dia mengajak Al keluar pagar. Disana Al melihat mobil Mikael yang terparkir diluar.
Mikael menyalakan mobil terlebih dahulu, setelah itu membuka bagasi mobil untuk menaruh koper Al dan juga 2 bingkisan yang dipegangnya.
###
Perjalanan yang mereka lalui cukup lama. Ada sedikit kemacetan dibeberapa titik membuatnya sampai ditempat tujuan dengan waktu yang meleset.
Al yang sejak tadi tidur terbangun. Dia melihat mobil yang dinaikinya nampak berhenti. Dilihatnya kesamping sosok Mikael yang nampak tidur sangat pulas. Matanya ditutupi dengan kain, tubuhnya ditelentangkan dikursi yang telah di sejajarkan.
Al tersenyum melihat suaminya yang nampak lucu. Dipun meraih HPnya untuk memfoto suaminya.
'Ckrik' suara kamera.
Al melihat hasil jebretannya. "Gelap.." ucapnya. "Tapi tak papa.." ucapnya kembali. Dia lalu kembali mengambil foto dirinya dan Mikael melalui kamera depan.
Dipandanginya hasil foto mereka berdua. Al tertawa senang melihat-lihat foto Mikael.
"Ehm..kamu sudah bangun.." ucap Mikael.
Al lantas menutup HPnya lalu melihat kearah Mikael. "Iya, Kak.." balasnya.
Mikael kembali membetulkan posisi bangkunya. Lalu menghidupkan mobil untuk kembali melanjutkan perjalanan.
Sampailah mereka di kediaman Pak Ibnu. Tampak langit yang masih gelap menyeliputi tempat itu.
Mikael masih didalam mobil tak keluar. Dia masih memikirkan perkataan apa yang cocok dikatakan pada Kakeknya prihal Wanita yang diajaknya.
"Kak El, kenapa?" tanya Al melihat Mikael yang nampak diam.
"Tidak apa-apa.." jawabnya.
Dari arah luar tiba-tiba ada yang mengetuk kaca mobil Mikael. Sosok tersebut adalah Pak Umar yang ingin menyapu halaman.
"Tuan Mikael!" serunya dari luar.
Lantas Mikael segera menurunkan kaca mobil. "Ehem iya Pak.." jawabnya.
Pak Umar melihat sosok yang ada disamping Mikael. Sosok tersebut tersenyum pada Pak Umar begitu juga dengan Pak Umar.
Mikael lali keluar dari mobil begiti juga dengam Al. Mereka menghirup udara yang amat segar.
Mikael lalu memberikan kunci mobilnya pada Pak Usmar, karna biasanya Pak Umar yang membawa kopernya.
Mereka lalu berjalan kedalam rumah. Saat membuka pintu, sosok yang dilihatnya adalah kakenya yang sedang duduk.
"..assalamu'alaikum Kek.."
Kakeknya lantas menengok sambil tersenyum. "Wa'alaikumsalam,"
Mikael dan Al menghampiri Pria tua itu. Mikael nampak tersenyum kaku pada Kakeknya.
Pak Ibnu lalu melihat sosok Wanita cantik disamping Mikael.
"Ayo duduk!" perintahnya menyuruh Al duduk. Al menganggukan kepala.
Pak Ibnu menyenggol lengan Mikael dengan genit. "Siapa Wanita yang bersamamu.."
Mikael nampak diam berfikir. "....ee..dia..teman Mikael, Kek.." ucap Mikael.
Mendengar perkataan Mikael, Al nampak kaget. Dia melihat wajah suaminya.
Sedang Pria tua itu, diam sejenak lalu kembali berkata dengan usil. "Teman atau demen!"
"Temen Kek.." balas Mikael meyakinkan Kakeknya.
Kakeknya menganggukan kepala. "Namamu siapa?" tanyanya kearah Wanita disamping Mikael.
Al lantas melihay kearah Pria tua it. "Nama saya Ufairah Almasah Basimah, Kakek bisa panggil saya Al.." ucapnya. Pria tua itu nampak tersenyum.
Thank you for reading...
Tinggalkan tanda yang untuk SMIM. Supaya SMIM semangat menulis seperti hari ini...
Hatta ilal liqo....