Friends After Marriage

Friends After Marriage
Kepuasaan Mikael



Happy Reading!!!


Seorang Wanita nampak meringkuk diatas ranjang. Dia menggeliatkan tubuh kecilnya dari balik selimut yang tebal karna merasa pegal akibat aktivitas semalam.


Wanita cantik itu membuka matanya, dia melihat sekeliling ruangan yang terasa asing baginya.


Seketika dia terbesit tentang kejadian semalam. Wanita itu memejamkan matanya kembali sejenak, mengingat tindakan beraninya yang mengajak suaminya.


Ditolehkan kepalanya kesamping kirinya, mencari sosok yang bersamanya tadi malam. Sayangnya sosok itu tak ada.


Saat mengetahui sosok tersebut tak ada. Perasaan sedih kembali menyelimuti hatinya.


"Apa kamu benar-benar menganggapku seperti itu.." gumam Al.


Wanita berambut panjang itu lalu mendudukkan tubuhnya. Seketika selimut yang menutupinya sampai ke leher jatuh, memperlihatkan bagian atas tubuhnya yang tak mengenakan apapun.


Tangannya langsung begerak cepat menutupi tubuhnya. Wanita itu baru menyadari jika saat ini, dia tak mengenakan apapun.


"Apa semalam aku ketiduran?" batinnya bertanya, karna dia lupa prihal dirinya yang tertidur. Yang diingatnya semalam suaminya sangatlah bersemangat.


Diarahkan pandangannya kesekeliling ruangan. Pandangannya berhenti pada benda berbentuk segi empat yang menggantung di dinding.


Seketika matanya membulat penuh, dia tak menyangka akan telat bangun. Sedang dia belum menjalankan kewajibannya di pagi hari.


Diedarkannya pandangannya mencari pakaian yang semalam dipakainya. Ternyata pakaian itu ada di meja, didekat jendela.


"Jauh sekali!" gumamnya yang lalu menarik selimut tebal itu menutupi tubuhnya secara bekeliling.


Digeserkan kakinya kearah pijakan. Lalu memijakkan kakinya kelantai.


Saat berdiri dirinya seketika terjatuh lalu terduduk kembali. Dia merasakan sakit pada daerah bagian bawahnya.


"..sss..ahh.." ringisnya menahan sakit.


Dia terdiam sejenak menahan rasa sakitnya. Baru setelah itu bangkit kembali. Dia lalu jalan kearah kamar mandi dengan perlahan.


"Aku tidak menyangka akan sesakit ini.." gumamnya dalam hati.


Wanita itu merambat pada tembok, sebagai tempat mehan tubuhnya yang tak kuat menegakkan kaki.


Didalam kamar mandi, dirinya menaruh selimut yang menutupi tubuhnya diatas bettab. Setelah di baru menyalakan shower.


Tak lupa sebelum mandi dia meniatkan dalam hati untuk mandi suci agar dibersihkan dari hadas kecil maupun besar.


Usai mandi suci, Wanita itu, kembali mengenakan handuk berbentuk kimono yang semalam dipakainya.


Dia berjalan pelan dari kamar mandi kearah pakaian yang dipinjamkan Ibunya Ghifari semalam.


Setelah mengambilnya dia kembali membawanya kekamar mandi untuk dipakainya.


Setelah itu dia baru menjalankan kewajibannya.


###


Didalam kamar berwarna biru, seorang Pria berambut coklat nampak membuka matanya. Dia menengok kearah sebelah yang terdapat sahabatnya yang sedang duduk sambil menatap sesuatu ditangan kanannya.


"Tumben lo udah bangun!" seru suara serak tersebut.


Pria yang duduk itu, menengok kearah sampingnya. "..ini udah jam 10, mas bro.." balasnya.


Pri berambut coklat itu menyengir lalu kembali menutup matanya.


"...Yuan, semalam lo tidur jam berapa?" tanya Pria yang duduk itu dengan mata kearah tangannya.


"...kalau gak salah jam tiga. Emang kenapa?"


"..enggak kenapa-kenapa, gua nanya aja.." balasnya.


"Jadi lo tau dong si Mikael semalaman tidur disini.." ucapnya kembali.


Yuan yang matanya tertutup terbuka kembali mendengar perkataan Ghifari yang membingungkannya.


"Maksud lo?"


"Maksud gua, kalau lo semalam tidur jam 3. Lo tau dong kalau Mikael, semalaman tidur disini.." ucapnya kembali sambil menggerakkan kepala menunjuk kearah sofa.


Yuan mengalihkan kepalanya kearah sofa yang tak jauh dari ranjang. Disana terdapat sosok Mikael yang sedang tertidur pulas. Dengan tangan kiri menutupi bagian matanya.


"...? Jadi semalaman Mikael tidur disini?" tanya Yuan kembali kearah Ghifari.


"..? Kok lo balik nanya. Gua aja semalam tidur duluan.." balasnya.


"..gua juga gak tau. Soalnya seingat gua sekitar jam satuan dia balik ke kamarnya. Sampai gua tidur, dia sama sekali enggak datang ke mari.." jelasnya.


Kedua Pria itu mengkerutkan dahi. Mereka melihat Mikael dengan bingung, karna dirinya yang tiba-tiba tidur dikamar Ghifari.


###


"..ang.." gumam Mikael membuka kedua matanya yang terasa berat.


Dia menyipitkan mata, karna cahaya matahri yang masuk kedalam ruangan tersebut mengenai wajahnya.


"Lo udah bangun!" seru suara dari dekat almari.


Mikael menolehkan kepalanya kearah suara yang berasal dari sahabatnya, Ghifari.


"Hemmmm.." dehemnya.


Ghifari mengalihkan pandangannya dari Pria yang kembali memejamkan matanya itu. Dia melihat kearah al marinya yang berisi pakaian.


"Semalam, lo tidur disini?"


"Hemmm.." jawabnya.


Pria yang mengambil baju dari almari lantas melihat kearah Pria yang masih tiduran di sofa.


"Jadi lo ninggalin Al, tidur sendiri.." ucapnya kembali sambil memakai pakaian yang diambilnya.


"Hemmm.." balasnya kembali.


Ghifari menyipitkan mata melihat kearah Mikael hanya jawabannya selalu. "Daris tadi lo ham hrm aja.." kesalnya.


Dumelan Ghifari tak dihiraukan Mikael, dia masih saja diam ditempatnya.


Pikirannya kembali ke 10 jam yang lalu saat kejadian tadi malam.


Saat itu dirinya, tak bisa lagi menahan hasratnya. Apalagi saat Al menggodanya. Pertahanan yang dibuatnya dengan susah seketika runtuh.


Flash back On


Malam itu, Mikael sengaja berlama-lama di kamar Ghifari. Supaya Wanita yang menununggunya tidur.


Sayangnya sampai di kamar, yang didapati bukanlah istrinya yang berbaring diranjang dengan selimut tebal menutupi tubuhnya, melainkan sosoknya yang sedang berdiri dengan memakai pakaian pemberiannya.


Tentu, hal tersebut membuat dirinya kaget dan jantungnya semakin berdebar cepat.


Apalagi, saat Al bersikap seperti merayu dan mendekat kearahnya. Itu membuat sekujur tubuh Mikael tegang. Rasanya hewan buas yang ada didalam dirinya yang sudah terbangun ingin menerkam istrinya.


Dia berusaha menahannya dengan cool dan berwajah acuh. Tapi seketika pertahan tersebut runtuh ketika Wanita itu dengan beraninya menempelkan bibirnya di jidatnya.


Karna itu, tanpa ba bi bu dia menyambar bibir mungil Al.


Olahraga malampun dimulai


Al dan Mikael nampak sama-sama mengucurkan keringat. Keringat mereka menyatu menjadi satu akibat aktivitas yang saling bersentuhan itu.


Entah sudah keberapa kalinya Mikael keluar. Tapi bagian dari dirinya masih saja tegang dan menginginkan lebih pada Wanita dibawahnya yang sudah sangat kelelahan.


"Kakak masih menginginkannya?" tanya Al menatap kearah suaminya yang sedang menatapnya.


Mikael tak menjawabnya, dia hanya diam.


Al yang memang sangat peka, apalagi setelah sadar milik suaminya yang masih menginnginkan lebih hanya tersenyum lembut.


"Ambillah air wudhu, setelah itu kita melakukan lagi.." ucap Al tersenyum manis.


Pria itu lantas segera menjauhkan tubuhnya dari Al lalu berjalan kearah kamar mandi dengan cepat.


Al kembali mengatur nafasnya yang masih sedikit memburu. Dia menatap langit kamar.


Sejujurnya dia sangat ngantuk dan lelah tapi dia tak tega melihat suaminya yang belum menuntaskan hasratnya.


Dialihkan matanya kearah pintu kamar mandi yang masih tertutup. "Aku ingin tidur sebentar saja!" gumamnya lalu memehamkan mata.


Didalam kamar mandi, tiba-tiba panggilan alam datang membuat Mikael terlebih dahulu nongkrong.


Setelah hajatnya tersampaikan dia kembali mengambil air wudhu. Habis itu dia kembali kedalam kamar.


Sampainya didekat tempat tidur, dirinya terdiam melihat Wanita yang berolahraga bersamanya sedang tertidur dengan pulasnya.


Wanita itu meringkuk bagaikan anak kecil. Melihat hal tersebut, dia tak tega untuk me33mbangunkannya.


Tapi melihat Wanita itu hanya mengenakan kain tipis menutupi tubuhnya membuat gejolak didada Mikael kembali muncul. Dia lalu segera menarik selimut tebal yang ada didekat kakinya lalu menutupi tubuh Wanita itu.


Pria itu lalu mengmbil celananya yang berserakan dibawah lalu mengenakannya. Tak lupa juga dia mengambil lingeria dan pakaian dalam Al lalu menaruhnya diatas meja.


Setelah itu dia merebahkan tubuhnya disamping Wanita itu.


Dipandanginya wajah tidur Wanita disampingnya sejenak lalu menegakkan tubuh dan kepalanya menatap langit-langit.


Senyum mengembang seketika diwajahnya. Yang dirasakan saat ini adalah kesenangan dan kelegaan.


Flash back Off


Tapi ada satu perasaanya yang menyesalnya, dirinya menyesal mengatakan Al sebagai Wanita murahan. Karna selama ini persepsinya Wanita yang memakai pakaian seksi dan menerawang adalah Wanita murahan.


Mengingat perkataan kasarnya itu, Mikael merasa malu. Padahal semalam dia yang lebih bersemangat dari pada istrinya yang mengajaknya.


Mikael kembali membuka matanya. Dia terkaget melihat Yuan dan Ghifari yang tiba-tiba muncul didepan wajahnya.


Wajah kedua Pria itu nampak bingung melihat kearah Mikael.


"Kalian berdua kenapa?" tanya Mikael mengerutkan dahi.


"...harusnya kita yang nanya. Lo tadi kenapa senyum-senyum terus cemberut kemudian sedih?" ucap Yuan memicingkan mata.


"Maksudnya?" tanyanya balik tak paham.


"Pas tadi lo tutu mata, raut wajah lo berubah-ubah.." timbal Yuan. Ghifari menganggukinya srmangat.


Mikael menelan ludahnya, dia tak menyangka pikirannya tadi akan terekspresikan diwajahnya.


"..ohh...itu, aku hanya sedang memikirkan suatu hal.." balasnya.


"Memangnya apa yang lo pikirkan?" tanya Yuan penasaran.


"Adalah, sesuatu.." balas Mikael. Kedua Pria itu kesal mendengar jawab Mikael.


Mikael lalu duduk dari posisinya berbaring. "Gua mau mandi!" serunya kemudian lalu bangkit dari duduknya. Kedua orang itu hanya melihat Mikael dengan penasaran.


"Mikael!"panggil Yuan saat Pria itu akan menutup pintu kamar mandi. Mikael menengok lalu menggerakkan kepalanya keatas yang artinya 'apa'.


"Kenapa semalam lo tiba-tiba tidur disini?" tanyanya kemudian.


"...itu, gua lagi pengen sesekali tidur satu ruangan dengan kalian.." baalasnya yang lalu menutup pintu kamar mandinya.


Dua Pria yang rambutnya dicat itu nampak tambah kesal mendengar jawaban Mikael. Karna, mereka tau persis Mikael tak suka tidur dengan orang lain.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu, mengalihkan perhatian mereka. Yuan yang hanya mengenakan handuk untuk menutupi bagian bawahnya lantas berjalan kearah pakaian Ghifari untuk mengambilnya.


Sedang Ghifari menghampiri pintu lalu membukanya seukuran badannya.


"Makanan sudah siap, sebentar lagi Bapak dan Ibu, Tuan muda akan turun.." ucapnya.


"Baik Bi, terimakasih.." balasnya.


Ghifari lalu melihat kearah tangan Bibinya yang sedang memegang pakaian yang tak asing baginya.


"Itu baju siapa, Bi?"


"Ini baju Nona Al, Tuan.." jawanya.


"Saya permisi, Tuan. Saya ingin ke kamar Nona dan Tuan Mikael.." pamitnya lalu pergi dari ambang pintu kamar Ghifari.


Disisilain


"Nyonya Al, Bibi masuk ya!" seru Wanita dari luar pintu setelah mendapat jawaban masuk dari Al.


Wanita berusia setengah baya itu lalu masuk. Dia mendapati Nyonya yang dipanggilnya nampak sedang duduk.diatas tempat tidur. Tangannya memegang sebuah buku bersampul hijau.


Wanita itu kemudian menghampiri Al. "Nonya, ini pakaiannya.." ucapnya memberikan pakaian milik Al yang telah dicuci semalam.


"...terimakasih, Bi.." senyum Al sambil menerima pakaian yang sudah rapi dan wangi.


"Nona Al, makanan sudah siap. Tuan dan Nyonya besar sebentar lagi akan menuju ke ruang makan.." beritahunya.


"...Bi, Al makannya nanti saja ya.." ucapnya tak enak.


"..kenapa Nona? Apa Nona tidak enak badan?" khawatirnya.


"..Al sehat kok. Hanya saja, Al makannya ingin nanti saja.." balasnya. Wanita setengah baya itu menghembuskan nafas lega mendengar Nona didepannya baik-baik saja.


"Baiklah, Kalau begitu Bibi keluar dulu ya.." pamitnya yang disenyumi oleh Al.


Al menghembuskan nafas lega setelah kepergian Wanita itu, dia merasa tak sopan menolak ajakan makan, tapi mau bagaimanalagi.


Dirinya masih merasakan sakit dibagian bawahnya ketika berjalan.


Bisa saja dia merenggangkan kakinya supaya tak sakit, tapi mana mungkin dia melakukannya di rumah orang lain.


"...laparnya!" gumamnya mengelus perutnya yang sejak tadi sudah bernyanyi.


Dilirknya air minum yang ada di meja. "Untunya ada air minum dikamar ini.." ucapnya bersyukur.


Setidaknya dia tidak akan dehidrasi, jika didalam kamar.


###


Tap tap tap


Mikael melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Disana didapatinya pemilik rumah yang lengkap dan sahabatnya. Tapi ada satu yang kurang yaitu Al yang tak berada disana.


"Ayo makan!"ajak pemilik rumah yang berwajah cantik. Dia mengenakan riasan tipis diwajahnya.


"Iya, Tante.." balas Mikael dengan senyum simpul. Dihampirinya bangku yang berada disamping Yuan.


Mereka lalu dimeja makan, makan bersama dengan tenang.


Saat makan esekali Mikael melirik kearah tangga, mencari sosok istrinya yang tak kunjung turun.


Hatinya bertanya, mengapa istrinya tak ada. Apa dia sakit atau kenapa?


Usai makan Mikael segera pamit dari meja makan. Dia berjalan kearah kamar tempatnya making in love semalam.


Cklek


Pria yang rambutnya diurai tersebut, mencari sosok Wanita yang dicarinya.


Seketika matanya berhenti pada sosok Wanita yang membuka pintu kamar mandi.


Al menggigit bibir bawahnya menahan sakit. Dia memegang gagang pintu kamar mandi dengan kuat.


"Al..kamu lebai bangat sih. Sakit begini doang.." batinnya.


Palanya yang awalnya tertunduduk terangkat melihat bayangan yang mendekat.


"Kak El.." gumamnya terdiam kaku.


"Kamu sakit perut?" tanyanya to the point.


"..." Wanita yang rambutnya dikuncir kuda itu diam sejenak lalu menggelengkan kepalanya.


"Al sehat kok.." balasnya.


"..Lalu kenapa kamu tidak turun untuk makan?"


"...itu..karna Al ingin makannya nanti saja.." jawabnya tersenyum manis.


Mendengar jawaban Al, Mikael berfikir jika istrinya ini belum lapar. Padahal di tak tau Al sangatlah lapar, ditambah karna aktivitas semalam.


"...kalau begitu, bersiaplah kita akan pulang!" perintahnya. Al menganggukan kepala menjawabnya.


Seperginya suaminya, Al merenggangkan kakinya lalu melangkah kearah pakaiannya yang ada diatas tempat tidur.


Setelah mengenakan kembali pakaiannya dan merapikan barang-barangnya dan juga tempat tidur dia melakah kearah pintu.


Sekeluarnya dari kamar tersebuy. Kakinya yang awalnya renggang didekatkan kembali. Membuat bagian intimnya perih.


Dia lalu berjalan perlahan sambil merambat ketembok. Begitu juga saat menuruni tangga, dia memegangnya dengan sangat kuat.


Sampai dibawah Al tak langsung menuju keruang tengah tetapi berjalan kearah dapur yang berlawanan arah dengan ruang tengah.


Disana dia terlebih dahulu mengisi tenaganya dengan beberapa buah-buahan yang ada.


###


Diruang tengah, tiga Pria muda dan orang tua Ghifari nampak bercakap-cakap.


Ibunya Ghifari yang tak melihat Al tak kunjung datang lantas permisi kedalam untuk menghampirinya, karna di ingin mengatakan sesuatu pada Wanita itu.


Pas sekali saat akan menaiki tangga dia melihat Al yang keluar dari arah dapur.


"Al!" panggilnya. Dia lalu menghampirj Wanita itu yang jalannya sangat lama.


"Kamu habis makan ya, pantesan daris tadi kamu gak nongol.." ucapnya Wanita itu.


"Iya, Tante.." bales Al malu.


Mereka lalu berjalan kearah bangku kecil yang ada didekat tangga.


"...Tante, Al minta maaf ya. Tadi tidak makan bareng.." ucapnya tak enak.


"Tidak, apa-apa kok.." jawabnya santai.


"..oh iya, Tante mau bilang makasih.." lanjutnya.


Al memiringkan kepala bingung. "Makasih untuk apa?"


Wanita setengah bahaya itu tersenyum. "Untuk ucapanmu semalam.." balasnya.


"..." Al nampak berfikir lalu paham maksud perkataan Wanita didepannya.


"Jadi, Tante makai pakaian yang diberikan Kak El.." ucapnya polos.


Wanita itu membulatkan mata mendengar ucapan Wanita muda didepannya. "...jadi kamu tau, isi hadiah Mikael!"


Al menganggukan kepala. "Tentu saja, karna saat Kak El membelinya Al ikut.." ucapnya.


"Jangan-jangan kamu mengucapkan perkataan itu, karna perintah Mikael?"


"Tentu saja tidak, Al hanya menemani Kak El saja kok. Tidak ikut-ikutan dalam hal kado.." jawabnya.


"Kalau perkataan Al semalam murni perkataan Al, tanpa suruhan.." lanjutnya.


Mendengar itu, Wanita setengah baya itu tersenyum. Sebenarnya dia biasa saja, kalaupun benar dia disuruh, dirinya tak akan marah. Hanya saja mendengar itu murni pendapatnya, Wanita setengah baya itu merasa Mikael sangat beruntung mendapat istri seperti Wanita diselahnya.


Mereka lalu berjalan kembali ke ruang keluarga. Kali ini Wanita yang tanpa hijab itu. Melihat keganjilan saat berjalan bareng Al.


Dia baru sadar Wanita disampingnya jalan sangat pelan.


"Kakimu sakit?" katanya melihat kearah Al.


"..tidak kok Tante, kaki Al bai-baik saja.." balasnya.


"..lalu kenapa kamu jalan pelan sekali dan seperti menahan sakit?"


"..tidak apa-apa, hanya bagian selang... Al sakit.." jawabnya.


"...ohhh..selang..." Wanita setengah baya itu tersenyum kearah Al.


"Kamu semalam juga melakukannya.." ucapnya sambil menyenggol Al. Al menganggukan kepala malu.


"Pantesan itumu sakit, ...tapi setahu Tante, itu sakit jika baru pertama kali.." menurutnya.


"Apa Mikael melakukannya kasar denganmu?" curiganya.


Dengan semangat Al menggelengkan kepala. "Tidak kok, Kak El melakukannya dengan lembut.." balas Al.


Wanita setengah baya itu, berfikir. "Kalau bukan kasar berarti..." lantas dia kembali tersenyum.


"Kalau itu, mungkin saja.." gumamnya.


###


Al sudah berada didalam mobil, Mikael yang berniat masuk dipanggil oleh Ibunya Ghifari.


"Mikael, terimakasih ya untuk hadiahnya.." ucapnya Wanita itu. Ghifari yang ada disamping Ibunya menelan slavinanya sedang Yuan tersenyum.


"..ahh iya Tante.." balasnya canggung.


Wanita setengah baya itu lalu menarik Mikael menjahui kedua sahabatnya yang masih jomblo.


"Apa kamu tau Al sedang merasakan sakit didaerah..." ucap Wanita itu terang-terangan, mengatakan daerah intim Al. Lantas Mikael berwajah kaget.


"Kenapa diam?" tanya Wanita itu kembali.


"..tidak, Tante.." balasnya segera.


Wanita itu menggelengkan kepalanya. "Kamu seharusnya memperhatikan Al, masa sejak tadi kamu tak sadar jika dia berjalan pelan sambil menahan sakit.." ucap Wanita itu. Mikael menggelengkan kepala karna sama sekali tak sadar.


"Mulai sekarang kamu harus memperhatikannya!" perintah Wanita itu. Mikael menganggukan kepala paham.


"..oh ya satu lagi. Tante suka juga semangatmu saat sampai membuat Al susah berjalan.." godanya. Mikael menelan ludahnya, dia malu akan perkataan Ibunya Ghifari.


"..Mikael, permisi ya Tante.." kaburnya. Wanita itu menganggukan kepala sambil melambaikan tangan.


Mikael lalu pergi, melajukan mobilnya meninggalkan perkarangan rumah yang luas dan rumah tempatnya malam pertama.


Ghifari dan Yuan yang penasaran akan perkataan Wanita itu dan Mikael lantas bertanya.


"Ibu, tadi bicara apa sama Mikael?" keponya.


Bukannya menjawab Wanita itu malah tersenyum. "..beri Ibu cucu dulu baru nanti Ibu katakan.." balasnya lalu masuk kedalam rumah.


Ghifari terdiam dia paham maksud Ibunya yang menyuruhnya segera menikah. Sedang Yuan menyengir melihat sahabatnya itu.


Maaf ya lama up.


Soalnya SMIM lagi sibuk didunia nyata (sibuk menghayal hehehe). Jadi harus pintar2 bagi waktu.


Makasih udah baca, jangan lupa koment, live dan like ya. Kalau bisa share biar cerita ini banyak yang baca.


Hahaha makasih my Reader