
Pantang Menyerah
Happy Reading!!!
Datanglah hari yang di tunggu-tunggu semua umat islam, yaitu Ramadhan. Karna dibulan ini ibadah yang kita kerjakan mendapat pahala yang berlipat.
Bulan itu juga terdapat peristiwa besar yang mungkin hanya sebagian muslim yang tau seperti perang badar Al kubro, perang Khondak, Fathum Mekkah (pembebasan kota mekah) hingga perang Tabuk.
Tidak hanya itu, tradisi perjuangan ini tidak hanya itu saja. Umat Islam tetap berjihad perang Khodisiyah pada 15H Ramadhan, perang 'Ijalut pada 658 H Ramadhan, pembebasan Amuriyah pada 223 H Ramadhan, begitu juga pembebasan Andalusia pada 92 H dan pembebasan Bosnia pada 791 H.
Ramadhan juga disebut bulan yang sangat istimewa karna Al-Qur'an turun pada saat bulan Ramadhan ditambah keistimewaan 10 hari terakhir Ramadhan yaitu malam laylatul Qadar.
Hal tersebut tak disia-siakan oleh Al. Dia tekun beribadah, seperti menambah bacaan Al-Qur'an dan memahami isinya, sholat sunnahnnya yang kadang bolong dikerjakan dan tentu tak lupa dia berbakti ke suaminya karna surga seorang istri adalah ridho suami.
Usai makan malam. Di kamar, Mikael langsung melepas celana pendek selututnya lalu meninggalkan celana boxer ketat pendeknya.
Saat ingin membuka bajunya untuk menggantinya dengan pakaian tanpa lengan. Terdengar suara ketukan dari luar kamarnya
'Tok tok tok'
"Kak El, ini Al.." ucap suara didepan.
Mikael mengurungkannya melepas pakaian lalu berjalan kearah pintu untuk membukanya.
Dibalik pintu dilihatnya sosok Al yang mengenakan mukena berwarna putih polos.
"Hemm.." guamnya mengangkat sebelah alisnya.
"...Kak, besokkan udah masuk bulan Ramadhan. Malam ini...Al mau ngajakin Kak El buat sholat bareng.." ucap Al yang terdengar gugup.
"..Lain kali saja, hari ini aku cape.." balas Mikael jujur. Mikael memang cape tapi ada plusnya yaitu M A L A S.
Nampak jelas tatapan mata Al yang sedih karna ditolak suaminya. "..ya sudah, Al balik ya. Setelah istirahat, Kakak jangan lupa sholat ya.." ucapnya lalu pergi.
Mikael kembali menutup kamarnya. Dia berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaiannya yang tanpa lengan.
Saat melewati kaca tinggi yang ada dikamarnya, dia terpaku melihat bagian bawah dirinya yang hanya menggunakan celana boxer. Dia menepuk kepalanya mengingat tindakannya yang tadi membuka pintu dengan penampilan ini.
"Aishh.."
###
Esok hari lagi-lagi Al mengajak Mikael, tapi lagi-lagi dia selalu menolaknya dengan jawaban yang sama.
Sudah sejak bulan lalu Mikael sering pulang ke rumah. Oleh karna itu untuk bulan ini, karna Mikael terlihat dirumah membuatnya selalu diajak oleh Al untuk sholat berjamaah.
Mungkin dalam hal puasa Mikael masih bisa mengerjakannya tanpa meninggalkannya. Tapi untuk sholat hal tersebut memberatkannya, karna sudah sejak lama dia tak menekuninya.
Karna merasa jengah, selama 5 hari berurutan Al selalu menerornya sholat berjamaah (Bukan meneror tapi hanya mengajaknya setiap hari tanpa menyerah).
Olehkarna itu, saat ini Mikael malas untuk pulang. Dia lebih memilih tinggal di apartemennya.
Hari-hari Ramadhan berlalu...
Sudah lebih dari seminggu Mikael tak pulang. Dia merasa kangen dengan masakan Al (masakan apa orangnya Mikael). Tapi rasa malasnya meladeni Al lebih besar dari rasa kangennya pada masakan Wanita itu, membuat dia tetap berada di apartemennya.
Pagi ini Mikael hendak berangkat ke kantor. Untuk pertamakalinya dia berpapasan dengan tetangga apartemennya.
Mereka tak sengaja berpapasan saat Mikael hendak masuk kedalam lift sedang tetangganya yang berjenis klamin Pria itu keluar dilantai tempat kamar apartemennya.
Saat berpapasan tetangganya itu tampak ramah tersenyum tipis kearah Mikael. Mikael lantas membalasnya dengan senyum tipis juga
###
Esok harinya Mikael lebih cepat pulang dari kantor. Saat masuk lift apartemennya, Pria muda datang dan ikut didalam bersamanya.
Mikael tak begitu memperdulikannya, dia fokus menatap layar HPnya. Saat Mikael sedang menscrol HPnya dia mendengar suara HP berbunyi.
Suarapun berhenti berganti menjadi percakapan Pria muda itu.
"Assalamualaikum, Kak.." salam Pria muda itu.
"..."
"Iya Kak aku tau, tadi Kak Ilham udah mengirim pesan. Aku sudah belanja kok semuanya yang dikirim Kak Ilham.." ucap Pria muda itu melihat ke kantong yang dipegangnya.
"..."
"Benar Kak! Kak Al mau datang?" ucap Pria muda itu senang.
Mikael yang mendengar nama Al lantas menengok kearah Pria muda disampingnya.
"..."
"Siap, Kak.." ucap Pria muda itu. Setelah menjawab salam Pria muda itu memasukkan HPnya kembali kedalam kantong.
Tak berapa lama lift terbuka. Mikael lantas memperhatikan Pria muda itu yang turun dilantai yang sama.
Mikael melihatnya masuk kedalam kamar yang ada didekat kamarnya.
Dalam hati Mikael merasa yakin, jika Pria muda tadi menyebut nama 'Al'.
"Apa tadi gua salah dengar? Kaalupun benar, nama Al banyak di dunia ini.." gumam Mikael dalam hati.
###
Wanita ninja yang berpakaian tertutup nampak duduk dikursi lobi apartemen. Dia terlihat sedang menunggu seseorang.
Tak berapa lama sepasang kekasih datang. Si Wanita terlihat melambaikan tangan kearah Wanita ninja itu.
"Assalamu'alaikum Al, maaf ya lama nunggu.." ucap Wanita itu lalu mereka cipika-cipiki.
"Wa'alaikumsalam. Tidak kok, aku juga baru datang.." balasnya.
Mereka lalu bersama-sama masuk kedalam lift menuju kelantai tempat yang mereka tuju.
Sampai di lantai tujuan, mereka lalu keluar berjalan kearah salah satu pintu.
Sedangkan Wanita ninja itu terlebih dahulu memperhatikan pintu yang tak jauh jaraknya dari tempatnya berdiri.
Dalam hatinya dia berharap jika pemilik disamping keluar. Sayangnya hal tersebut hanya harapan belakang. Lastas dia segera masuk lalu mengucapkan salam.
Wanita ninja itu terlebih dahulu menaruh tasnya. Dia kemudian berjalan kearah dapur.
"Al, mending kamu lepas cadarmu saja.." ucap suara Wanita yang ada disampingnya.
"Ah iya.." angguk Al yang lalu melepas cadarnya kemudian meletakkannya didekat tasnya.
Dua Wanita cantik itu nampak bergejelimet didalam dapur. Setelah lebih dari setengah jam. Akhirnya masakan sederhana mereka jadi.
Mereka lalu menata makanan dan juga minuman yang mereka buat dimeja makan. Tak lupa kurma juga tersedia disana.
"Al, aku mau ganti baju dulu. Kamu mau ganti baju juga.." ucap Via.
"Iya," balas Al.
Mereka lalu pergi ke kamar Via. Al tak masuk kedalam kamar Via, karna suaminya sedang istirahat didalam. Jadi dia meninggu didepan.
Tak berapa lama Via datang membawa bajunya yang tertinggal saat Al menginap. Setelah menerima baju miliknya yang diberikan Via, Al berkata.
"Vi, buka puasa berapa menit lagi?"
"Kayaknya 40 menit lagi, memang kenapa?"
"...aku mau.." Al menggerakkan kedua tangannya silih berganti.
Via yang melihatnya nampak tersenyum. "Yasudah, kamu ke kamar sebelah aja.." ucap Via. "Tapi jangan lupa waktu, bentar lagi buka!" ingatnya. Al membuat tanda 'oke' sambil menganggukan kepala.
###
Akhirnya setelah 10 hari, Mikael memilih pulang ke rumah. Karna satu hal, Mikael bosan dengan masakannya sendiri beberapa hari ini.
Jadinya malam ini dia memilih pulang ke rumah.
Sampainya di rumah, Mikael disambut Al dengan sangat senang.
Istrinya itu menanyakan apa Mikael sudah makan atau belum. Tentu Mikael menjawabnya belum, karna sejak buka tadi dia hanya memakan beberapa butir kurma dan air putih.
Di meja makan, Al menyiapkan masakan yang tadi dia panaskan sebentar.
Setalah piringnya penuh, Mikael segera melahap makanan yang ada didepannya.
"..." Mikael tampak berfikir. Dia merasakan masakan didepannya berbeda.
"Kok masakanmu terasa berbeda?" tanya Mikael melihat kearah Al yang duduk disampingnya.
"Maaf Kak, ini masakan Bi Hilda bukan Al.." jawabnya.
"Hari ini kamu tidak memasak?"
"Iya Kak, soalnya tadi Al buka puasa di rumah teman.." balasnya.
Seketika Mikael kembali teringat pada Pria muda yang satu lift dengannya. Tapi dia segera menyingkirkan hal tersebut.
###
Akhir malam yang dihindari Mikael datang. Malam ini seperti malam kemarin-kemarin, Al datang ke kamarnya untuk mengajaknya sholat bersama.
Mikael yang hendak menolaknya. Diurungkan karna perkataannya.
"Kak, Al minta maaf!" serunya.
"Al mengajak Kak El sholat bersama karna ingin merasakan menjadi makmumnya Kak El.." ucapnya dengan mata menatap Mikael.
Mikael terdiam, dia tak tega dengan wanita didepannya. Apalagi wajahnya saat ini nampak terlihat kasihan.
"Mikael, dia cuma minta lo jadi imamnya, bukan minta harta atau tahta lo!" serunya dalam hati.
"...baiklah.." ucapnya.
"Hanya untuk kali ini saja.." batin Mikael berkata.
Seketika Al tersenyum gembira. "Benar Kak!" serunya berbinar-binar.
"Kita sholat dimana? Di kamar Kakak, aku atau di ruang tengah?" tanyanya.
"...dikamarmu saja.." jawab Mikael.
"Siap Kak, Al tunggu ya.." ucapnya lalu pergi ke kamarnya.
Dengan cepat Al merapikan kamarnya yang sebenarnya sudah rapi. Dia menggelarkan dua sajah lalu mengembangkannya.
Tak berapa lama Mikael datang, dengan baju koko dan juga sarung. Melihat sosok suaminya yang seperti itu, Al tambah falling in love sama suaminya.
Sholatpun dimulai, Mikael menjadi imam yang baik dan pelafalan ayat Al-Qur'annyapun dibilang lumayan untuk ukuran dirinya yang gak pernah ngaji. Mungkin kebiasaan mengajinya yang dulu dikerjakan, masih berbekas di benaknya.
Akhirnya sholatpun usai. Mereka bersama-sama melafalkan niat puasa.
Saat Mikael hendak bangun, dia melihat kantung kecil berwarna biru yang ada dibawah meja rias Al.
"Kenapa Kak?" tanya Al yang melihat Mikael diam.
"Tidak ada apa-apa.." ucapnya lalu segera bangkit. Begitu juga Al yang lekas berdiri.
"...Kak, makasih ya.."
"..iya.." balas Mikael. Dia lalu pergi keluar kamar Al.
Sampainya dikamar, Mikael memegang dadanya yang merasa jauh lebih tenang.
Than you...
Ayo semangati SMIM dengan Like, Com and share...