Friends After Marriage

Friends After Marriage
Menerima



Happy Reading!!!


Ba'da isya, Al sudah nampak rapi dengan pakaian tidur ternyamannya.


Diatas tempat tidur, dirinya terlihat tersenyum sambil mengelus perut datarnya. Sampai saat ini, dia masih tak percaya kalau dirinya sedang hamil.


Tetapi seketika senyum itu luntur, mengingat ekspresi suaminya yang terlihat tak menyukai dirinya yang sedang hamil.


Saat makan siang dan malam tadi juga, suaminya tak ada percakapan prihal janin diperutnya. Dia hanya bicara seperlunya. Tak membahas prihal kehamilannya.


Hal tersebut lantas membuat Al merasa kecewa pada suaminya. Dirinya sampai tak memandang mata suaminya saat berbicara.


"..apa aku keterlaluan ya tak menatap Kak El saat berbicara tadi.." batinnya. Dirinya merasa bersalah.


Al lantas memejamkan matanya, dia memaksa dirinya agar segera tidur karna besok dirinya sudah mulai bekerja kembali.


* * *


Disisi lain, seorang Pria terlihat tak tenang. Dia membalikkan tubuhnya berulang kali.


Karna tak kunjung tidur, Pria itu lantas membuka matanya. Matanya menatap kearah langit-langit kamarnya.


Terlihat raut wajah gusar dari Pria itu. Seperti memikirkan banyak hal di kepalanya.


Dia nampak tak tenang, terlihat dari kakinya yang terus bergerak tak henti dan tangannya yang sedikit mengepal.


"..Mikael turunin ego lo!" batinnya menegakkan dirinya.


Pria itu lantas bangun dari posisi tidurnya kemudian beranjak dari ranjang.


Dia lalu keluar dari kamarnya kemudian berjalan kearah kamar sebelah.


Didepan kamar, dia menarik nafas sejenak lalu menjulurkan tangan kemudian mengetunya.


'Tok tok tok'


Tak ada suara dari dalam, lantas Pria itu kembali mengetok pintu itu.


'Tok tok tok'


Lagi-lagi sama tak ada jawaban dari dalam.


"..apa dia sudah tidur?" tanyanya dalam hati.


"..atau dia marah lalu menghindariku.." batinnya. Dia mengingat saat makan tadi Al berbicara hanya saat di tanya saja dan menjawabnya tak memandang matanya.


Karna takut jika memang hal itu terjadi, Mikael lalu memegang gagang pintu kemudian membukanya.


Ternyata pintu tersebut tak dikunci sama sekali oleh pemilik kamar.


Dibukanyalah lebar pintu tersebut, menampakkan sosok seseorang yang sedang tidur diatas ranjang.


Mikael lalu menginjakkan kaki kedalam Kamar itu yang langsung disambut udara panas dari dalam.


Dia merasakan kamar Al jauh lebih panas dari area diluar kamar Wanita itu.


Dia lalu melihat kearah AC Al yang ternyata, AC tersebut masih rusak.


"..ternyata belum dibetulkan.." gumam Mikael yang tak menyangka sama sekali.


Pria itu lalu berjalan mendekat kearah ranjang Al. Dia memperhatikan Al yang nampak tidur dengan pulasnya.


Ada sedikit keringat memenuhi dahi Wanita yang tidur itu.


"..baimana kamu bisa tidur dengan nyaman ditempat yang panas seperti ini.." ucap Mikael.


Pria itu lalu menyingkap selimut yang menutupi sebagian tubuh Al. Dia lalu mendapati paha Al yang putih mulus karna pakaiannya tersingkap.


Mikael lantas menelan salavinanya kasar.


"Tahan diri lo!" serunya memperingatkan diri.


Dengan perlahan, Dia lalu menaikan sebelah kakinya untuk menggapai tubuh tubuh mungil itu.


Usai merai tubuh Wanita itu, Pria itu segera menggendongnya ala putri.


"..ringan sekali!" batin Mikael saat dirinya membawa Al di kedua tangannya.


Mikael bisa melihat jika tubuh Al saat ini terlihat lebih kurus dari terakhir dirinya melihatnya dua bulan lalu.


Matanya menatap sedih kearah Wanita digendongannya.


# # #


"..sshhh.." gumam Al tanpa sadar. Dia merasakan aura dingin ditubuhnya.


Dengan mata masih tertutup dia meraba selimut untuk menariknya tapi tangannya melaikan mendapatkan benda lain yang jauh lebih hangat. Lantas Al merapat kearah benda kokoh itu.


Al terdiam sejenak merasakan benda kokoh dipelukannya saat ini, benda ini tak seperti bantalnya yang lembut dan lembek.


Karna penasaran Al lantas membuka matanya. Dia terkaget mendapati tubuh seseorang didepan matanya.


Al terdiam, dengan perlahan dia mendongakkan kepalanya melihat sosok yang dipeluknya saat ini. Sosok itu tak lain adalah suaminya.


Dirinya merasa malu mendapati suaminya yang ternyata masih terjaga. Pria itu menatapnya intens, membuat Al menundukan kepala.


Sebenarnya, Al enggan dan masih ingin memeluk tubuh suaminya. Tapi, entah mengapa dia perlahan melepaskan pelukannya lalu mundurkan tubuhnya agar membuat jarak antara dirinya dengan Pria didepannya.


Mikael yang menyadari hal itu, lantas memegang pinggang belakang Al menahannya. Dia malahan merapatkan tubuh Wanita itu kearahnya.


Al nampak kaget dengan sikap suaminya, dia nampak bingung dengan suminya yang tak bisa dibaca pikirannya.


Mikael yang mendapati wajah istrinya yang terlihat tak senang lantas melepas tangamnya dari Wanita itu lalu membuat jarak anatara tubuhnya dengan tubuh Al.


"..jika kamu tak suka, katakan saja.." ucap Mikael kemudian.


Mendengar itu, Al segera mengangkat kepalanya. Matanya menatap kearah mata Mikael yang terlihat sedih.


"..Al bukannya tak menyukainya, tapi Al merasa sangat senang.."


"..tapi kenapa wajahmu terlihat tak senang.." ucap Pria itu kembali.


"..aku hanya merasa bingung dengan sikap Kak El. Kufikir Kakak menghindariku karna tak suka mengetahui diriku sedang mengandung.." ucapnya.


Mikael terdiam, "..maaf.." jujurnya merasa bersalah.


Mendapati reaksi jujur suaminya, Al kaget. Dadanya terasa sakit mendengarnya.


"..kenapa? Apa Kakak tak menginginkan anak dari rahim Al.." ucapnya tertunduk.


"Bukan!" jawab Mikael segera. Membuat kepalanya kembali terangkat.


"..tapi karna memang aku belum siap, memiliki anak dalam waktu dekat ini.." beritahunya.


"..apakah karna suatu alasan?" tanya Al kembali.


"...iya.." jawabnya.


"..aku takut belum bisa merawatnya dan mendidiknya.." lanjutnya.


Mata Mikael menatap dalam mata Al. Ucapannya nampak jujur.


Ini pertama kalinya, Al melihat wajah Mikael yang nampak takut.


Al lantas mendekat dirinya kearah Pria didepannya, dia lalu menangkup wajah Pria itu dikedua tangannya.


"..Kakak tidak perlu takut, karna Al ada disisi Kak El. Kita akan menjaga buah hati kita bersama. Mendidiknya bersama-sama, kemudian melihatnya menjadi anak yang sholeh dan sholeha.." ucapnya menenangkan hati Mikael.


"..kita akan melakukannya bersama-sama.." ucap Al mempercayai suaminya.


Itu merupakan kata biasa yang sering diucapnya orang, tetapi Mikael nampak luluh karna yang mengucapkan Al.


Wanita itu mengucapkannya dengan tulus.


Mikael menatap dalam Al, tangannya yang ada didepannya lantas bergerak kebelakang tengkuk Wanita itu. Dia lalu mendorong pelan tengkuknya dan memajukan kepalanya.


Pria itu menempelkan bibirnya lembut ke bibir mungil itu. Rasa rindu yang tertahan lantas menguap. Ciuman yang awalnya perlahan mulai bertambah cepat.


Mereka menyalurkan rasa rindu masing-mansing yang sudah lama tak jumpa. (dan sisanya....)


# # #


Suara alaram dari HP, membangunkan sosok Wanita mungil dibalik selimut. Dia membuka matanya yang masih sangat mengantuk. Dia lalu melihat sekitar kamar yang masih nampak gelap.


Suasana pagi ini nampak enggan bagi Al untuk segera bangun, tapi karna dirinya harus bekerja. Mau tak mau dia harus bangun.


Usai sholat subuh tadi, Al dan Mikael kembali tidur. Karna mereka masih merasa ngantuk karna aktivitas semalam yang lumayan memakan waktu lama.


Saat ingin bergerak, tubuhnya merasakan sesuatu yang berat melingkar di dadanya. Al lantas mengangkat pelan tangan Pria dibelakangnya.


Saat ingin mengangkatnya, tangan itu malah semakin mengeratkan pelukannya.


Mendapati Pria itu yang tak ingin melepas pelukannua lantas Al memilih keluar dari kungkungan itu dengan cara bergerak kebawah. Sayangnya hal itu percuma, dia tak bisa bergerak sama sekali. Malahan dirinya merasa pengap karna pelukan yang erat itu.


"..Kak El, aku susah nafas.." ucapnya menepuk lengan Pria itu pelan.


"Kak!" panggil Al kembali.


Pria itu lantas melonggarkan Pelukannya.


"Tidurlah kembali.." ucapnya.


Al lalu membalikkan tubuhnya kearah Mikael.


"..aku harus berangkat kerja, Kak. Bukannya Kak El juga harus berangkat kerja.." ucapnya mengingatkan.


"..aku ingin tidur sebentar lagi.." balasnya manja. Dia menyandarkan kepalanya kekepala Al.


"Tapi aku harus kerja.." ucapnya.


"..kamu berhenti saja, bukannya kamu sedang hamil. Harusnya banyak istirahat.." ucap Mikael.


Al terdiam, dirinya tak mungkin berhenti tiba-tiba dan ada alasan lain mengapa dia harus masih tetap bekerja.


"..iya Kak, tapi tidak sekarang, kan gak bisa tiba-tiba.." balasnya.


Mikael yang saat ini terdiam. Dia lalu membuka matanya menatap kearah Al.


"Baiklah, tapi aku akan mengantarmu!" serunya.


Al tersenyum sambil menganggukan kepalanya.


Pria itu lantas melepaskan pelukannya dari Al lalu beranjak dari tempat tidur diikuti Al.


"Al!" panggilnya saat Al ingin berjalan kearah pintu.


"..iya Kak?"


"Kapan kamu ingin memeriksa kandunganmu?"


"Hari ini Kak, di Klinik tempat aku kerja.." jawabnya.


"Di rumah sakit saja, peralatan disana lebih lengkap!" balas Mikael.


"Baiklah," jawab Al mengiyakan.


"Nanti siang aku akan menjemputmu untuk mengantar kesana.." ucap Mikael yang diangguki Al.


# # #


Di Klinik


"Alhamdulillah akhirnya selesai sebagian.." ucapnya yang sudah menginput data pasien Klinik pagi tadi.


Al lantas merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku.


Dari belakang, lalu datang seorang Wanita berhijab biru menghampirinya.


"Al, sekarang giliran kamu istirahat.." ucapnya.


"..kamu sudah, cepat ya.." cengir Al yang lalu bangkit dari kursinya.


"Aku Isoma dulu ya.." ucapnya yang diangguki Wanita itu.


Al lantas segera solat, usai itu dia baru memakan makanan siangnya yang tadi dibawanya dari rumah.


Saat memakan makan siangnya, Al iseng memainkan HPnya. Mencari Dokter kandungan Prempuan.


Sampai akhirnya dirinya mendapati beberapa Dokter kandungan Prempuan yang bekerja di beberapa rumah sakit di Jakarta.


"MasyaAllah, lumayan banyak juga Dokter kandungan Prempuan.." gumam Al.


Dia lalu memperhatikan di rumah sakit mana saja Dokter Prempuan itu, sampai akhirnya dia mendapati rumah sakit yang dikenalnya, tempatnyapun tak jauh dari apartemen milik Mikael.


"...? Ini kan rumah sakit tempat Via kerja!" gumam Al yang mengenal rumah sakit itu.


Al lantas teringat dengan sahabatnya yang sudah lama tak saling bercerita.


"Bagaimana ya kabar Via sekarang?" tanya Al dalam hati. Dia sangat merindukan sahabatnya itu.


Usai makan, Al mencari kontak nomor suaminya. Usai mendapatkannya, dirinya lalu menekan tanda telpon.


'Tut tut tut'


Al menunggu suaminya mengangkat teleponnya lalu mendengar suaranya, tapi tak kunjung terdengar.


Al lalu menjauhkan HPnya dari kuping untuk melihat ke layar yang ternyata sudah tersambung.


Dirinya sungguh lupa, saking lamanya tak berteleponan dengan suaminya. Dia sampai lupa kebiasaan suaminya yang tak bersuara setelah mengangkat telpon.


"..Assalamu'alaikum.." salam Al


"Wa'alaikumsalam.." balas si pengangkat.


"..maaf ya Al ganggu Kak El kerja!" serunya.


"..Al mau nanya ke Kak El, apa Kakak sudah menentukan rumah sakit mana akan membawa Al?"


"..sudah! Aku juga sudah membuat janji pada Dokter itu!" beritahunya.


"...ahhh sudah ya...Al fikir belum.." sedihnya.


"..hmm..maaf ya ganggu waktu Kak El.." ucap Al yang lalu menjauhkan sedikit HPnya dari kuping.


"..kamu tidak ganggu kok," ucap suara disebrang kemudian.


Mendengarnya Al tersenyum kecil.


"Baiklah, Al tutup ya. Sampai ketemu nanti siang. Assalamu'alaikum.." ucapnya yang segera dijawab oleh sebrang.


Setelah merapikan peralatan makanan dan mencucinya, Al lalu beranjak dari tempatnya kemudian berjalan kembali bekerja.


# # #


Jam sudah menunjukan pukul setengah tiga siang kurang. Mikael nampak sudah masuk ke area parkiran Klinik tempat Al bekerja.


Al yang masih didalam menyadari akan mobil suaminya yang datang lantas dia segera pamit pada sahabatnya untuk pulang duluan.


"Maaf ya aku pamit duluan, aku sudah di jemput.." ucapnya menunjuk kearah mobil diluar.


Wanita berkerudung biru itu lalu melihat sekilas kearah keluar kemudian melihat kearah Al kembali.


"Santai aja Al!" seru tersenyum ramah.


Al lantas membalas senyum Wanita didepannya. "Makasih ya, kalau begitu aku pamit Assalamu'alaikum.."


"Wa'alaikumsalam, hati-hati ya!" ucapnya sambil melambaikan tangan yang dibalas anggukan dan lambaian tangan dari Al.


Dia lalu jeluar dari Klinik menghampiri mobil yang terparkir.


Sampainya didekat mobil, Al segera membuka pintunya lalu masuk.


"Assalamu'alaikum Kak.." salamnya yang lalu menggapai tangan suaminya.


"Wa'alaikumsalam.." balas Pria itu. Dia membiarkan Wanita disampingnya mencium tangannya.


Usai itu mobil meninggalkan area Klinik, melaju ke tempat tujuan selanjutnya.


Suasana kota Jakarta siang menjelang sore ini masih lenggang belum banyak mobil berlalu lalang karna belum jam pulangnya kerja.


Maka tak butuh waktu lama bagi Mikael sampai di rumah sakit tempat tujuannya.


Saat memasuki rumah sakit itu, Al nampak kaget ternyata tujuan rumah sakit suaminya adalah rumah sakit yang ingin ditujunya juga.


Sekali dayung dua pulau terlampaui, sehabis mengontrol kandunganya, dia bisa mengunjungi Via yang bekerja.


Lalu Al nampak berfikir, dia tak tau Via ada shif atau tidak.


Al lantas mengambil HPnya mengirim pesan pada Ilham, suaminya Via.


Dia menunggu balasan WA dari Pria itu yang belum dibalas.


Mikael yang sudah memarkirkan mobil, lalu melihat kearah Al yang sedang memainkan HP.


"Al ayo turun!" serunya.


Al lalu memalingkan matanya kearah suaminya yang telah diluar mobil.


"..iya Kak.." kekehnya yang segera mematikan HP lalu keluar mobil.


Dilangkahkan kakinya mengikuti langkah suaminya yang memasuki gedung rumah sakit.


Suasana sudah nampak sepi karna sudah hampir jam setengah empat.


Mikael mengajak Al menaiki lift menuju kelantai tiga yang merupakan tempat Dokter kandungan.


Tibanya di lantai tiga, dia lalu berjalan mencari ruangan Dokter itu.


"Ini dia.." gumam Mikael saat mendapati ruangan tersebut.


Sebelum memasuki ruangan itu, Pria itu tak lupa mengetuk pintu terlebih dahulu.


'Tok tok tok'


"Masuk!" seru suara dari dalam.


Mikae lantas membuka pintu, dia menyuruh Al masuk terlebih dahulu baru dirinya.


"Pak Mikael!" seru Wanita Tua kearah Mikael.


"Iya Dokter, saya ingin memeriksa kandungan Istri saya.." ucapnya menunjuk kearah Al.


"Ini pertama kalinya bagi Bu Mikael memeriksa kandungannya!" seru Dokter itu.


"..iya Dokter.." angguk Al.


"Baiklah, mari ikuti saya keruangan sebelah.." ucap Dokter itu lalu berjalan ke ruangan sebelah yang diikuti Al.


Tak lama Dokter kembali dengan Al. Dokter itu lalu duduk di tempatnya begitu juga Al yang duduk disamping Mikael.


"Bagaimana Dok?" tanya Mikael.


"Tidak gimana-gimana, alhamdulillah bayi dan Ibunya sehat-sehat.."


Mikael dan Al bernafas lega mendengarnya.


"Saya akan meresepkan vitamin dan susu yang baik untuk Ibu Mika.." ucapnya sambil menulis resep.


"Kontrollah kemari sebulan sekali!" lanjutnya.


Mikael dan Al menganggukan kepala mendengar ucapan Dokter Tuan itu.


Keluarnya dari ruang Dokter. Al kembali memeriksa HPnya, ternyata Ilham sudah membalas pesannya.


Mendapati pesan itu Al tersenyum, tanpa dia sadari kalau dirinya akan menginjak lantai yang licin.


"Al apa kau tak lihat lantai ini basah!" Mikael memegang tangan Al yang hendak menginjak lantai itu.


"..ahhh maaf Kak.." ucap Al yang segera mengalihkan pandangannga ke lantai. Yang hendak diinjaknya.


"Kalau sedang jalan jangan sambil main HP!" seru Mikael. Dia menggelengkan kepala.


"Hehehe maaf Kak.." kekeh Al.yang melihat ke Khawatiran suaminya.


"Memangnya kau sedang melihat apa, sampai tak fokis?" Liriknya kearah HP yang digenggam Al.


"Al sedang membaca pesan dari Kak Ilham?"


"Ilham!? Siapa Pria itu?" tanyanya segera.


"Dia suaminya Via, Kak. Kak El masih ingat kan Via, sahabatku.." ucap Al mengingatkan.


"..ahhh iya.." balasnya yang mengingat Via.


"..tapi, buat apa kamu mengirim pesan pada suaminya?" tanyanya kembali.


"Untuk menanyakan jam kerja Via hari ini. Aku ingin memberikan kejutan kunjunganku padanya.." jawab Al senang.


"Syukurnya, Via mendapat shif siang jadi, aku bisa ketemu dengannya.."


"Aku sangat merindukannya!" serunya yang tak sabar bertemu dengan Wanita itu.


Mikael memperhatikan mata Al yang benar-benar sangat merindukan sahabatnya, begitu juga Wanita itu yang juga sangat merindukan Al. Mengingat kemarin saat Via datang menanyakan keberadaan Al.


"Tidak apa-apakan Kak, kita mampir.." tanyanya menatap mata suaminya.


"Iya, tidak apa-apa.." balas Mikael.


"Makasih.." sumringahnya.


# # #


Dua orang Wanita nampak duduk bersebelahan menatap layar komputer masing-masing.


Salah seorang diantara mereka memegang perutnya yang sejak tadi berbunyi.


"..kalau kamu lapar makan dulu aja.." ucap Via melihat kearah patner kerjanya hari ini.


"Hehehe maaf ya Vi, aku lupa makan tadi siang. Makanya lapar sekarang.." kekehnya.


"Aku pamit sebentar ya, kamu mau nitip sesuatu?" tanyanya.


"..tidak usah, aku masih kenyang.." balas Via.


Wanita itu lalu pergi meninggalkan Via ditempatnya.


Tak selang berapa lama temannya pergi Via mengistirahatkan terlebih dahulu matanya.


Dia memejamkan matanya beberapa saat karna merasa lelah menatap layar.


"Permisi Suster.." ucap suara Prempuan.


"..iya.." balas Via. Dia lalu membuka matanya kemudian mengangkat kepalanya. Ketika melihat sosok Wanita didepannya, Via terkejut matanya membulat.


"Al!?" serunya tak percaya.


"Assalamu'alaikum Via.." salam Al.


Wanita itu lalu keluar dari tempatnya kemudian berjalan kearah Al.


"Wa'alaikumsalam," jawanya.


Mereka lalu saling berjabat tangan dan cipika-cipiki.


"Sama siapa kamu ke sini?"


"Aku kesini sama Kak El.." tunjuknya kearah suaminya yang duduk di kursi untuk pasien.


Via lalu mengajak Al duduk dibangku yang tak jauh dari Mikael.


Dia memperhatika Mikael yang tak terlihat seperti kemarin lemas dan tak bersemangat. Saat ini Wanita itu nampak lebih fresh.


"Gimana kabarmu Vi?"


"Alhamdulillah aku baik, kalau kamu gimana?"


"Alhamdulillah aku baik Vi.." jawab Al.


"..aku kesini karna sangat rindu denganmu dan aku mau minta maaf dengan kelakuanku bebetapa waktu lalu.." ucapnya kemudian dengan suara pelan.


Mendapati Al mengucapkan dengan pelan, dia paham jika Wanita itu tak ingin jika suaminya dengan.


"Tidak apa-apa kok," balas Via.


"Sebenarnya aku khawatir dan ingin bertanya alasannya, tapi mengetahui sikapmu yang selalu memedam masalah sendiri dan sekarang aku melihatmu sudah baikan. Sepertinya masalahmu sudah selesai.." ucap Via.


"Maaf ya sekali lagi.." ucap Al.


"Sudahlah tidak apa-apa.." balasnya.


"Oh ya ngomong-ngomong, kamu ngajak suamimu untuk di kenalkan dengankukan.." ucapnya menunjuk kearah Mikael.


"..ahhh iya aku lupa.." balas Al.


Dia lalu mengajak sahabatnya mendekat kearah Mikael yang sedang memaikan HPnya.


"Kak El!" panggil Al. Mikael lalu mengalihkan matanya kearah Wanita itu.


"..selama ini aku hanya menceritakan prihal Via. Sekarang, aku ingin mengenalkannya pada Kak El.." ucap Al memperkenalkan Via.


"Assalamu'alaikum Kak, saya Via sahabatnya Al.." ucap Via.


"Waalaikumsalam, saya Mikael suaminya Al.." balas Mikael.


Terimakasih sudah membaca, jangan lupa untuk meninggalkan tanda...


Salam hangat SMIM


Baca terus ya ini beberapa episode terakhir sebelum tamat.


Jangan lupa komentarnya berkaitan cerita...


PS: Maafken SMIM yaaa, membuat konflik baru.


Padahal sudah mau ending hahaha...