
Happy Reading!!!
Sikap Palsu
Hening...
Mereka terdiam, suasana kembali hening. Al yang merasa bingung lantas kembali berjalan perlahan untuk melihat suaminya.
Walaupun ruangan tampak gelap, Al dapat melihat jelas raut wajah Mikael. Ketika memperhatikannya seketika dia tersenyum senang.
Mikael yang menyadari Al yang sudah berada disampingnya sedang melihat kearahnya, segera mengalihkan wajahnya kearah samping lalu menutup sebagian wajahnya dengan tangan kanannya.
"Bukankah sudah kubilang berhenti!" sentaknya.
Al yang mendapat sentakan tak merasa takut. Dia malah tetap berjalan mendekati Pria itu lalu berhenti tepat didepannya.
Dada Mikael semakin berdegup kecang. Sudut matanya yang tak sengaja bertemu dengan mata Al segera dialihkannya ke depan, tapi lagi-lagi matanya kembali melihat kearah Al yang matanya sedang menatap kearahnya.
"Aku senang, kufikir Kakak masih marah padaku. Ternyata tidak.." ucapnya bahagia.
Al mengucapkan perkataan itu karna menyadarinya dari wajah Mikael yang dilihatnya tadi, disana tak ada sedikitpun aura kemarahan.
Mikael menelan slavinanya dengan susah melihat Al yang berderi didepannya.
Al memiringkan kepalanya. "Kakak kenapa? Mengapa menutup wajah Kakak dengan tangan?" tanya Al. Dia melangkah mendekati Mikael untuk melihatnya dengan seksama.
Merasakan jaraknya semakin dekat, Mikael segera memundurkan langkahnya. Dadanya saat ini berdegup sangat kencang. Dia berharap Wanita didepannya tak mendengar suaranya.
"Aku gak papa.." jawabnya lalu membalikkan badan berjalan kearah pintu.
Melihatnya keluar, Al segera mengejar Pria itu. Tak lupa dia terlebih dahulu menutup ruangan Pria itu lalu mengambil bukunya dan juga tasnya yang ada diatas bangku.
Didepan lift Mikael kembali memegang dadanya. Dia berharap pintu lift cepat terbuka.
Saat terbuka Mikael segera masuk diikuti Al yang setengah berlari kearahnya.
Mikael menundukan kepalanya. Tak sengaja dia melihat pakaian yang dikenakan Al. Dia lalu memperhatikan baju yang dirasanya sangat familiar di matanya.
"Baju itu.." gumam Mikael. Al yang samar mendengar ucapan Mikael lalu melihat kearah gamis yang dikenakannya.
"..ini pakaian yang diberikan Kak El.." balasnya sambil memegang bagian bawah gamis yang dikenakannya.
"Pakaiannya sangat cantik, Al sangat menyukainya. Terimakasih Kak.." ucapnya menatap mata Mikael.
Mikael tak sengaja kembali menatap mata tulus Wanita disampingnya. Dia kembali menelan slavinanya. Tanpa sadar dia berjalan mendekat kearah Al sampai Wanita itu menempel ke dinding lift.
'Ting' pintu lift terbuka.
"Kak El.." panggil Al yang melihat keanehan pada suaminya.
"Pintu lift sudah terbuka.." tunjuk Al kearah lift yang menampakkan lobi didepan.
Mikael kembali tersadar. Dia segera mengambil jarak dengan Al lalu menghentikan lift yang ingin kembali tertutup, kemudian berjalan keluar lift meninggalkan Al dalam kebingungan.
Pria itu berjalan kearah mobilnya yang terpakir dihalaman depan. Setelah menekan kunci mobilnya dia segera membuka pintu lalu memasukinya.
Dia terduduk didalam sambil menundukan kepala. Kedua tangannya memegang kepalanya.
Mikael kembali mengingat tindakannya tadi yang tanpa sadar dilakukannya. Dia tak menyangka akan kekuatan hasratnya yang mendorong dirinya untuk mencium Wanita itu. Untungnya ada kain yang menghalanginya ditambah lift segera terbuka, membuatnya tak melakukan hal seperti itu didalam lift.
Al yang tadi ditinggal, mengikuti Mikael dari belakang. Dia melihat Mikael berjalan kearah mobil hitam ceper miliknya kemudian masuk kedalamnya.
Dilangkahkan kakinya mendekati mobil mewah itu. Dari luar mobil Al tak melihat apapun karna kacanya yang sangat gelap. Jadi dia memilih diam, menunggu disamping mobil itu.
Mikael yang didalam mobil, masih menundukan kepalanya. Dia tak menyangka hasratnya bisa mengendalikan tubuhnya sendiri.
"Bahaya sekali jika hanya berduan dengannya.." gumamnya pelan.
Pria itu lalu mengangkat kepalanya. Dia kemudian menyalakan mesin mobilnya.
Saat akan memasang sitbelt dia menyadari sosok Al yang ada disamping mobilnya.
Dia terlebih dahulu membuat ekspresinya nampak biasa, lalu menurunkan kaca mobil miliknya. Al yang menyadarinya lansung menundukan badannya.
"Pulanglah naik taxi!" ucap Mikael yang terdengar dingin.
Al terdiam. Padahal dia berharap suaminya pulang dengan dirinya. "..hari ini Kakak tidak pulang ke rumah?"
"Tidak.." balas cepat.
Mendengarnya Al memaksa senyumannya. "...kalau begitu, Kakak hati-hati ya. Al pulang dulu.." ucapnya. Setelah mengucapkan salam dia menegakkan tubuhnya kembali lalu jalan menjauh.
Melihat Wanita itu menjauh, ekspresi wajahnya kembali berubah menjadi gugup. Mikael kembali memegang dadanya, saat ini jantungnya nampak mulai normal. Dia menghembuskan nafas karna lelah.
###
Al terdiam sedih didalam Taxi. Dia bingung dengan sikap suaminya. Dari tak ingin bertatapap mata, tiba-tiba tadi menghimpitkan tubuhnya dan perubahan sikapnya yang menjadi dingin.
Dreet dreet dreet
Merasakan ada getaran di tasnya, Al segera meraih ponselnya. Dia lalu mengangkat telpon tersebut.
"Assalamu'alaikum.." salamnya.
"..."
"Enggak, memangnya kenapa?"
"..."
"...baiklah, aku akan kesana.."
Telpon terputus, Al memasukkan kembali HPnya kedalam tas.
Dia lalu mengarahkan matanya kearah Bapak supir Taxi yang dinaikinya.
"Pak, saya tidak jadi ke XXX. Saya ingin ke XXX saja.." pintanya.
"Baik, Nona.." balas supir itu.
###
Sampainya di Apartemen, Mikael langsung merebahkan tubuhnya yang terasa lelah diatas sofa ruang TVnya. Dia memejamkan matanya sekejap untuk menghilangkan penat.
Pria itu kembali membuka matanya. Dia menatap langit-langit aparyemennya.
"Haahhh.." dihembuskan nafasnya panjang.
Mikael merasa kesal karna persiapan hatinya untuk pulang hari ini ke rumahnya batal karna melihat kehadiran Al di perusahaan. Andaikan Wanita itu tak datang, pasti dia bisa pulang ke rumah untuk menemuinya. Dengan sikap seperti biasa tak sedingin tadi saat di parkiran.
Tapi dirinya tak bisa menyalahkan Al sepenuhnya, karna dia juga salah karna tak pernah membalas pesan Wanita itu. Jadi membuat Wanita itu bertekad menemuinya.
"Sampai kapan gua harus seperti ini.." gumamnya.
Mikael merasa lelah, harus melarikan dirinya seperti ini. Tapi dia juga tak bisa bertemu langsung, karna perasaannya bisa tergambar jelas jika melihat Wanita itu.
Dia belum mau Wanita itu mengetahui perasaannya, karna dia masih belum percaya sepenuh dengan Wanita yang sudah hampir sepuluh bulan dinikahinya.
Pria itu kembali menutup matanya, tak lama dia tertidur karna pikirannya yang menjelimet.
Z
Z
Z
Tik tik tik tik tik
Pria itu membuka matanya. Suasana gelap ruangan menyambutnya saat membuka mata. Dia mengangkat tangannya memegang kepalanya sejenak.
Dia terdiam untuk mengembalikan sisa nyawanya yang masih mengambang. (lebih tepatnya agar sadar sepenuhnya, karna kalau baru bangun langsung diri belum seimbang tubuhnya)
Setelah sadar sepenuhnya, didudukannya tubuhnya lalu menaruh kakinya yang masih mengenakan kaos kaki keatas lain.
Diedarkan pandangannya kearah jam dindingnya yang menunjukan pukul setengah sembilan malam.
Dia melihat dirinya yang masih mengenakan jasnya. Dilepaskannya jas terlebih dahulu lalu meletakkannya disampingnya.
Saat akan beranjak berdiri ingin ke kamarnya, terdengar suara bel apartemennya. Mikael mengurungkan niatnya untuk ke kamar dan memilih untuk pergi menghampiri pintu depan.
Tak lupa juga dia menyalakan lampu apartemennya yang sejak ke pulangannya belum menyalakan.
Cklek
Sosok Pria berambut bule lokal nampak tersenyum kearah Mikael yang berwajah datar.
"Udah gua kira lo disini!" seru Pria itu. Dia lalu memperhatikan Mikael yang masih memakai pakaian kantornya kecuwali jas yang sudah di lepasnya.
"Lo baru pulang!" ucapnya kembali.
Mikael tak memperdulikan perkataan sahabatnya. Dia hanya ingin tau untuk apa sahabatnya datang ke tempatnya.
"Ada apa?" tanyanya to the point.
Beni hanya tersenyum, seperti biasa saat Mikael lagi gak mud dia tak suka basa basi.
"..ini.." Ghifari mengeluarkan undangan dari kantung jasnya.
"Ayah sama Ibu gua ngundang lo ke acara ulang tahun pernikahan mereka.." beritahunya lalu disodorkannya undangan tersebut kearah Mikael.
Mikael menerimanya lalu memperhatikan tanggal dan tempat perayaannya. "Baiklah.." ucapnya.
Mikael lalu melihat kembali kearah Pria yang ada didepannya. "Apa ada lagi yang ingin lo sampaikan?"
Ghifari menggelengkan kepalanya. "Tidak itu saja, hanya saja gua pengen ke toilet.." ucapnya.
Mikael segera menyingkir dari pintu, mempersilahkan Pria itu berjalan masuk. Dengan cepat Ghifari masuk lalu berjalan kearah kamar mandinya.
Saat akan menutup pintu apartemennya. Mikael menghentikannya gerakannya karna Dia mendengar nama suara Wanita yang dihindarinya.
"Kak Al.." panggil suara Pria.
"Kakak benar pulang sendiri, tidak mau aku anterin.." ucap Pria itu.
"Iya, Kakak pulang sendiri saja.." balasnya ramah.
"Lagi puka Kakak nanti naik Taxi, jadi kamu gak perlu khawatir.." lanjutnya.
"Yasudah kalau begitu, Aku antar Kakak sampai lift ya.." ucapnya kemudian.
Percakapan terputus, Mikael tak mendengar kembali percakapan orang itu. Karna penasaran dia membuka kembali pintunya untuk melihat sosok yang dipanggil Al itu.
Dari kejauhan dia melihat Wanita itu berjalan kearah lift bersama seorang pemuda disampingnya. Mikael membulatkan mata ketika menyadari pakaian yang digunakan Wanita itu.
"Al.." gumamnya.
Melihat Wanita itu memasuki lift dengan menghadap kearah apartemennya, Mikael kembali menutup pintu apartemennya.
"Apa yang dilakukan Wanita itu, malam seperti ini di rumah sebelah?" batinnya bertanya.
"..." Mikael nampak berfikir. Dia seketika teringat dengan tetangga sebelahnya yang di lihat beberapa waktu lalu.
Dia lantas segera berjalan kearah dalam apartemennya. Dia meletakkan kartu undangan pemberian Ghifari diatas meja lalu meraih kunci mobil miliknya. Kemudian berjalan kearah pintu keluar.
###
Al menatap kearah pintu Apartemen yang tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Tak lama pintu apartemen tempatnya berdiri terbuka.
"Al, akhirnya kamu sampai juga.." ucap suara Wanita. Dia mengajak Al masuk lalu mereka cipika cipiki.
Wanita itu mengajak Al kearah meja makan yang sudah tertata berbagai makanan yang menggugah selera.
"MasyaAllah, kamu yang masak semua ini!" kagum Al. Dia mencium wanginya masakan Wanita disamping yang menggelitik perutnya.
Al terlebih dahulu menaruh tasnya keatas sofa kemudian mencuci tangan dan mukanya. Setelah itu baru menghampiri penghuni rumah ke meja makan.
Mereka menyantap makanan dengan nikmat. Tak ada percakapan sampai makanan dipiring mereka masing-masing tandas.
Usai makan, Al dan Wanita pemilik rumah yaitu Via menjalankan sholat isya. Sedang para Pria menuju Musholla yang ada di bangunan apartemen itu.
Aktivitas beribadah selesai, Al dan Via menuju ruang TV. Disana mereka duduk sambil bercerita prihal liburan lebaran.
Via yang melihat suaminya pulang, lantas izin meninggalkan Al untuk melayani suaminya yang akan dinas malam.
Di sisi lain, Ahmad yang sudah selesai mengganti baju menghampiri Al. "Kak Al, lihat!" Pria muda itu menyodorkan kertas kearah Al yang sedang duduk sendiri.
Al menerima kertas itu lalu melihat nilai-nilai adeknya Via yang diluar dugaannya. "Wahhh...MasyaAllah nilaimu bagus-bagus ya Ahmad.." puji Al.
Pria muda itu tersenyum senang. "Iya dong, kalau usaha pasti bisa dapat nilai segitu.." balasnya bangga.
Lalu Ahmad menjulurkan tanggan meminta hadiah. Al yang melihatnya mengerutkan alis.
Sedangkan Via yang kebetulan lewat mendengar ucapan adeknya langsung berkata.
"Ahmad...kebiasaan deh, bukannya Kakak bilang jangan biasain minta seperti itu. Itu sama saja seperti mental pengemis.." kata Via lembut. Dia mengingatkan adeknya.
Ahmad merengut mendengar ucapan Kakak kandungnya. "Ahmad bukannya minta-minta, tapi mau nagih janji Kak Al, tahun lalu.." jelasnya.
Al yang baru teringat janjinya lantas tertawa. "Hahaha iya Via. Aku lupa tahun lalu pernah janji, kalau dia nilainya bagus aku bakal kasih hadiah.." ucap Al.
"Maaf ya Ahmad, Kakak lupa.."
Ahmad nampak cemberut pada kedua Wanita yang menyengir didepannya.
"Maafin Kakak ya, adek Kakak yang ganteng.." ucap Via. Begitu juga Al yang memberikan tanda pis kepada Ahmad.
"Baiklah," ucapnya melihat kearah kedua Wanita itu lalu berhenti pada Al.
"Terus kadonya!" pintanya kemudian.
Ahma menyelidik melihat Wanita yang ditatapnya menyengir kuda. "Pasti Kakak juga lupa bawa kadonya.." balas Pria muda itu.
"...gini aja," Al melepas gelang yang ada ditangannya.
"Sementara Kakak titip gelang ini, nanti setelah membeli kadonya kamu kembalikan gelang Kakak.." tawar Al.
Ahmad nampak berfikir, tak lama dia mengangguki kepalanya. "...baiklah.." balasnya setuju.
Via hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kekanankan adeknya yang padahal usianya tak anak-anak lagi.
Setelah suaminya Via pergi dinas, mereka kembali melanjutkan percakapan mereka.
Malam semakin larut, Al melirik kearah jam yang di HPnya mmenunjukan pukul setengah sembilan lewat.
"Vi, aku pamit ya.." ucapnya.
"Udah mau pulang? Ku kira kamu akan nginap malam ini.." balas Via.
"Iya, Kak Al nginap saja!" bujuk Ahmad.
"Lain kali saja aku nginap ya.." balasnya.
Al segera beranjak dari posisi duduknya lalu menyelempangkan kembali tas yang ada disampingnya.
Mereka lalu berjalan kearah pintu untuk mengantar Al.
Didepan pintu Ahmad nampak berfikir lalu berkata. "...aku antar Kakak ke rumah ya.."
Via yang mendengarnya lantas menggelengkan kepalanya, tanda tak boleh. Al paham betul maksud gelengan kepala Via.
"Hahaha...yang ada malah setelah ngantar Kakak ke rumah, Kakak malah ngantar kamu balik.." balasnya.
Ahmad tak berkata lagi, dia paham maksud perkataan Al yang artinya dirinya belum hafal jalan. Bisa-bisa setelah mengantar Al, dia malah kesasar dan tak bisa pulang.
Setelah mengucapkan salam, Al mekangkahkan kakinya keluar apartemen Via.
Dia melirik kearah pintu apartemen sebelah yang bergerak pelan untuk menutup. Lantas dia segera membelakanginya lalu berjalan kearah lift.
Hati Al berdebar, takut jika Pria didalam sana melihatnya.
Saat berjalan, dia kembali berhenti mendengar panggilan dari Ahmad.
"Kak Al.." panggil suara Pria. Al segera menengok kearah suara yang berasal dari Ahmad.
Dia terlebih dulu melihat kearah pintu apartemen yang berjarak enam meter dari tempatnya berdiri. Dia memperhatikan pintunya yang menurutnya sudah tertutup.
"Kakak benar pulang sendiri, tidak mau aku anterin.." ucap Pria itu karna masih ingin bersama Wanita bercadar itu.
Al menggelengkan kepalanya pelan. "Iya, Kakak pulang sendiri saja.." balasnya ramah.
"Lagi pula Kakak nanti naik Taxi, jadi kamu gak perlu khawatir.." lanjutnya.
"...yasudah kalau begitu, Aku antar Kakak sampai lift ya.." ucapnya kemudian. Al menganggukan kepala setuju.
Setelah Al masuk lift, dia terlebih dahulu melihat kearah pintu apartemen didepannya. Setelah itu baru melambai kearah Ahmad yang tersenyum mengantarnya.
Setelah pintu lift tertutup, Ahmad berjalan kembali ke apartemen tempatnya tinggal.
Dari pintu apartemen yang berada jauh didepannya, keluar seorang Pria dengan memakai celana bahan biru dan kemeja biru. Dia berjalan mendekat kearah Ahmad.
Saat berpapasan, Ahmad melihat tatapan dingin dari mata Pria yang berwajah tampan itu.
Ketika melewatinya Ahmad segera berbalik melihat punggung tegak dan kekar Pria yang menatapnya tadi. Lalu kembali menuju ke pintu apartemennya.
Dalam hatinya, dia merasa takut melihat Pria yang menurutnya baru pertama kali dilihatnya. Di berharap tak pernah melihat lagi walaupun kecil kemungkinan.
###
"Ahhh leganya!"
Ghifari memegang perutnya yang berasa plong setelah mengeluarkan hajatnya yang telah tertahan sejak sampai di apartemen Mikael.
Dia berjalan kerah ruang TV lalu mengedarkan pandangan mencari sosok pemilik rumah.
"Mikael!" panggilnya.
"Mikael!" panggilannya kembali dengan suara lebih keras tetapi masih sama tak ada jawaban.
Dia melihat kearah meja diatas sofa yang terdapat undangan pemberiannya. Disana juga terdapat tas kerja milik Mikael dan jasnya yang berada diatas sofa.
Ghifari lalu melangkahkan kakinya kearah kulkas, dia kemudian mengambil satu minuman kaleng dingin dari dalam sana.
Crek
Ghifari meminuman kaleng yang terlihat segar itu sampai tandas lalu membuang kalengnya ketempat sampah.
"Kemana dia?" gumamnya.
"Apa sedang mandi? Tapi tumben tas dan jasnya berserakan.." batinnya.
Ghifari lalu berjalan kearah kamar Mikael.
"Mikael, gua pulang ya. Makasih buat tumpangannya dan minuman kalengnya.." ucapnya dengan keras. Setelah itu dia berjalan kearah pintu.
Didepan pintu apartemen Mikael, dia melihat seorang Wanita muda nampak sedang menunggu didepan pintu apartemen samping apartemen Mikael.
Tak sengaja Wanita itu menoleh dan bertemu wajah dengan Ghifari yang sedang menatapnya. Wanita itu mengangukan kepala kearah Ghifari yang dibalas olehnya.
"Pakaiannya persis seperti Al, tetapi bedanya dia tak mengenakan kain untuk menutupi wajah cantiknya.." batin Ghifari.
Pria berambut bule lokal itu berjalan pelan mendekat kearah Wanita yang berdiri itu. Lalu dari dalam rumah temoatnya berdiri keluar seorang Pria muda membawa dua kantong berukuran sedang.
"Kak, ini ajakan sampahnya.." ucap Pria muda itu.
"Iya.." balas Wanita itu.
Saat melewati pintu yang terbuka, matanya kembali bertemu dengan penghuni rumah itu yang tak lain si Pria muda. Ghifari bersikap ramah menganggukan kepala. Begitu juga dengan Pria muda itu yang melakukan hal yang sama.
Ghifari lalu berjalan melewati Wanita dan Pria muda itu menuju lift.
"Kak Via, siapa Pria itu?" bisik Pria muda itu yang tak lain Ahmad.
"Mungkin tetangga sebelah, soalnya dia keluar dari rumah itu.." jawab Via pelan sambil menunjuk kearah pintu apartemen yang diujung.
Ahmad kaget melihat apartemen yang ditunjuk Kakaknya. Yaitu apartemen, tempat keluar Pria dingin yang dilihatnya tadi.
"...dan wajahnya nampak tak asing.." batinnya. Lalu dia melihat wajah adiknya yang nampak ketakutan.
"Kenapa wajahmu ketakutan seperti itu?"
"...tidak apa-apa. Hanya saja tadi aku melihat Pria yang berbeda keluar dari pintu apartemen itu. Dia berambut hitam dikuncir dibelakang, Wajahnya tak ramah dan terlihat dingin.." ucapnya.
Via mengerutkan dahi mendengar penuturan adiknya. Selama disini dia tak pernah sekalipun melihat orang yang seperti di deskripsikan oleh adiknya.
Mereka lalu sampai disamping Ghifari yang masih menunggu lift terbuka.
Tak lama lift terbuka mereka lalu naik bersama.
Mereka nampak diam didalam, sampai akhirnya Ghifari angkat bicara.
"Baru pindah Mba sama adeknya?" tanyanya kearah Ahmad yang ada disampingnya dan juga Via yang ada disampingnya.
"...iya Kak.." balas Ahmad.
"Aku sama Kakakku memang baru pindah, soalnya kami mengikuti Kakak ipar dari Kakakku.." lanjutnya menunjuk kearah Kakaknya.
Ghifari membulatkan bibirnya. "Sayang sekali, ternyata sudah taken.." batinnya.
Ahmad yang sejak tadi penasaran dengan penghuni disamping lantas berkata.
"Kakak yang tinggal di apartemen sebelah ya?"
"..oh bukan, saya teman dari orang yang tinggal disebelah.." jawabnya.
"...apa teman Kakak yang rambutnya berwarna hitam terus dikuncir itu. Terus tatapannya sangat dingin..." tanyanya memastikan.
"Rambut hitam dan dikuncir, benar. Tapi tatapan dingin.." batin Ghifari.
"...ahhh iya itu dia.." ucapnya setuju. Karna baginya Mikael juga sering memberi tatapan dingin.
"Kamu sering melihatnya?"
"Tidak, saya baru melihatnya tadi.." balasnya menggelengkan kepala.
"Tadi kufikir Kakak yang tinggal, ternyata teman Kakak yang pergi tadi.."
"Pergi!" serunya mengulang perkataan Pria muda itu.
"Iya, tadi aku liat teman Kakak pergi.." ucapnya kembali.
"Pantesan dipanggil tak ada, ternyata dia pergi. Tapi kemana malam-malam dia pergi?" batinnya bertanya.
Ting
Pintu lift terbuka, terpisahlah mereka. Ghifari menuju parkiran sedang Via dan Ahmad pergi ke tempat pembuangan sampah.
Jangan lupa tinggalkan tanda supaya SMIM semakin semangat nulisnya.
Terimakasih yang sudah tetap membaca cerita ini walau banyak kesalahan dan membosankan, karna SMIM juga penulis awal.
Ambillah makna dari cerita ini, jika ada sesuatu yang jelek tinggalkan.
Makasih buat semangatnya
Salam hangat SMIM