
Happy Reading!!!
Bunyi alaram membangunkan Al dari tidurnya. Dia membuka matanya yang masih berat. Tubuh kecilnya digeliatkan diatas sambil mengogoskan telapak tangannya diatas seprai.
Dia mengerjapkan matanya beberapa kali agar kantuknya hilang.
Setelah menunggu beberapa saat dia lalu mendudukkan tubuhnya yang kemudian menurunkan kakinya dari atas ranjang.
Sudah benar-benar sadar, Wanita berambut panjang itu baru beranjak dari tempatnya lalu berjalan kearah pakaian gamisnya yang digantung.
'Cklek'
Pintu kamar terbuka, nampak suasana hening menyambutnya.
Merasakan kering di tenggorokannya, Dia lalu melangkahkan kakinya kearah dapur. Disana dia mengambil segelas air lalu meminumnya sampai tandas.
Diperhatikannya sekeliling yang tak menunjukan tanda-tanda adanya Mikael maupun Wanita setengah baya yang menyambutnya tadi pagi.
Diarahkannyalah kakinya kearah depan untuk menghirup udara segar. Disana dia melihat sosok Wanita yang sedang menyiram tanaman dihalaman yang tak lain Bi Rima.
Bi Rima yang sedang menyiram bunga, menyadari ada seseorang yang memperhatikannya Bibi itu menolehkan kepalanya kearah teras rumah yang ternyata terdapat sosok Al.
Wanita itu lalu menghentikan aktivitasnya menyiram bunga lalu menghampiri Wanita itu.
"Nona Al sudah sejak tadi bangun.."
Wanita itu menggelengkan kepalanua pelan. "Tidak Bi, Al baru saja bangun.." senyumnya.
Al lalu melihat halaman yang tak ada mobil yang ditaikinya semalam.
"Oh iya Bi kok mobil Kak El tak ada. Apa Kak El pergi?"
Wanita setengah baya itu menengok sekilas kearah halaman lalu kembali melihat kearah Al. "Iya Nona, Tuan Mikael baru saja pergi untuk menjenguk Pak Ibnu.." jawabnya. Mendengar hal itu, Al merasa sedih karna Pria itu pergi tanpa mengajaknya.
"Ayo kita makan Nona. Bibi tadi tadi sudah memasak ayam kecap, tumis kangkus dan tempe goreng.." ajaknya masuk kedalam rumah.
Diruang makan, sebulum menyatap hidangan utama seperti biasa Al selalu memakan buah terlebih dahulu.
Sambil menunggu buah itu di cerna, dia bercakap-cakap dengan Bi Rima.
"Sudah berapa lama Kakek di rumah sakit, Bi?" tanyanya membuka percakapan.
"..sekitar dua hari Nona, Tuan Ibnu di rumah sakit.." jawabnya mengingat.
"..sebenarnya Tuan Ibnu beberapa kali ini sudah bolak balik masuk rumah sakit, tapi baru kali ini Tuan Ibnu meminta Tuan Mikael kemari.." lanjutnya.
Al menggertakkan giginya. Dia kaget prihal Pria tua itu yang sudah beberapa kali masuk rumah sakit dan baru kali ini dia mengetahuinya.
"Sebenarnya Pak Ibnu sakit apa ya, Bi?" tanyanya penasaran.
"..sebenarnya Bibi tidak tau prihal penyakitnya," jawabnya.
"..setau Bibi, jika Tuan Ibnu kesakitan pasti beliau selalu memegang daerah dada dan yang paling terlihat jelas adalah kakinya yang membengkak.." jelasnya.
Al menggit bibir bawahnya pelan, mendengar gejalan itu fikirannya tiba-tiba tertuju pada satu penyakit. Dia berharap Pria itu hanya sakit biasa.
"..untuk prihal penyakit Pak Ibnu, yang tau hanya Pak Umar.." lanjutnya.
"Bibi tak berani bertanya ataupun ikut campur prihal tersebut.." ucapnya yang dipahami Al.
Bi Rima kemudian melirik sejenak kearah jam dinding. "..Nyonya ayo kita makan!" ajaknya yang mulai menyendokkan nasi kepiringnya.
"..iya, Bi.." sahut Al yang mengikuti menyendokkan nasi.
###
'Tap tap tap'
Seorang Pria nampak berjalan di lorong, matanya memperhatikan setiap nomor yang tertempel di pintu.
Langkahnya seketika berhenti, saat mendapati nomor kamar tujuannya.
"..224!" gumamnya dengan senyum tipis. Dia lantas membuka pelan pintu berdaun satu tersebut.
'Cklek'
suara pintu terbuka mengalihkan pandangan Pria setengah baya yang sedang duduk sambil membaca koran.
Mengetahui siapa yang datang, Pria itu lantas segera menutup korannya yang kemudian berdiri menyambutnya.
Pria setengah baya itu menyambut dengan wajah senang.
"..assalamu'alaikum Tuan Mikael.." salamnya terlebih dahulu.
"Walaikumsalam, Pak Umar!" jawabnya yang membuat Pria pemberi salam kaget, karna biasanya Pria gondrong itu jarang menjawab salam.
"Sejak kapan Kakek tidur?" tanyanya yang sambil berjalan mendekat kearah Pria tua yang sedang terbaring diatas ranjang.
"Tuan besar tidur sehabis meminum obat.." jawabnya sambil menunjuk kearah bekas makan pagi yang ada di meja.
Mikael hanya melirik sekikas kearah benda itu laku kembali melihat kearah Pria tua itu.
"..bagaimana keadaan Kakek?" tanyanya kembali sambil merapikan selimut Pria tua itu yang melorot
"..keadaannya masih sama, Tuan. Lemas dan tak ada ada tenaga.." jawabnya yang kemudian tersenyum terpaksa.
Pria gondrong itu memperhatikan wajah pucat Kakeknya dan pipinya yang semakin tirus.
"Apa yang Dokter katakan prihal penyakit, Kakek?" liriknya kearah Pria disebelahnya.
Pak Umar mengalihkan iris matanya sejenak kearah kanan atas lalu berkata, "..Dokter mengatakan, hanya penyakit Tua.."
"..ohh begitu.." tenangnya yang merasa sedikit lega.
"Pak Umar, pulanglah dan beristirahatlah di rumah. Aku akan menjaga Kakek!" perintahnya.
"..baik, Tuan.." ucapnya.
"Kalau begitu, saya pemisi Tuan. Assalamu'alaikum.." pamitnya.
"Wa'alaikumsalam.." balas Mikael yang kemudian kembali menatao wajah Kakeknya.
Dia menjulurkan tangannya lalu menaruhnya diatas kepala Pria tua itu yang botak bagian depannya.
"Cepat sembuhlah , Kakek! Mikael kangan candaan Kakek.." ucapnya sambil mengelusnya pelan.
###
"Bibi tau, dimana rumah sakit Kakek?" tanyanya Al saat sedang mencuci piring bersama.
"Tau Nyonya!" serunya.
"Nyonya mau kesana, biar Bi Rima temani.." ucapnya.
"I..iya mau kesana, tapi Bi Hilda tak perlu temani Al. Al bisa sendiri kok.." balasnya.
"Hahaha, baiklah jika Nona Al ingin sendiri. Bibi akan memberikan alamat lengkapnya, jadi Nona Al pergilah menggunakan taksi.." ucapnya.
"Baik, Bi.." setuju Al.
###
Sambil menunggu Kakeknya yang masih tertidur, Mikael menghabiskan waktunya dengan menyelesaikan beberapa pekerjaannya melalui HPnya.
Tak henti matanya mematap layar HP, membuat matanya merasa lelah.
Dioejamkannyalah matanya lalu menyenderkan kepalanya ke tembok, tak lama dia membuka matanya kembali.
Tubuhnya seketika beranjak dari posisi duduknya lalu mendekati orang berada diatas ranjang.
"Sejak kapan Kakek bangun?" tanyanya yang lalu mengelus lembut kepalanya yang banyak ditumbuhi uban.
Pria tua itu nampak tersenyum. Dia senang dapat melihat cucunya, saat membuka matanya.
"..sudah sekitar tujuh menit yang lalu.." tawanya kecil.
"Kenapa Kakek tidak memanggil El, jika sudah bangun?"
"..kamu nampak sangat serius, Kakek tak ingin mengganggumu.." balasnya.
"Tentu saja Kakek tak mengganggu, karna Kakek yang terpenting.." balasnya yang lalu memeluk Pria tua itu. Pria tua itu tersenyum senang mendengarnya.
Mata Pria tua itu lalu melihat sesuatu diatas meja.
"El!" seru Pria tua itu.
"Iya Kek.." jawabnya yang lalu melepas pelukan.
"Kakek mau itu!" tunjuknya kearah cemilan yang diberikan rumah sakit pada Pria tua itu.
"..oh iya, cemilan Kakek ya.." ucapnya lalu mengambil piring kecil yang berupa makan ringan yang boleh dimakan pasien.
Mikael lalu membuka plastik yang ada pada makanan tersebut lalu memberikannya pada Kakeknya.
"Kakek benar tak ingin Mikael suapi saja?"
"Iya, Kakek bisa makan sendiri.." ucapnya yang lalu menyendokkan makanannya kedalam mulut.
Mikael melihat Kakeknya yang sama sekali tak seperti orang sakit. Malah Kakeknya nampak berenerjik walau wajahnya pucat dan kurusan.
"Mikael!" panggil Pria tua itu kembali.
"Iya," sahutnya.
"Kamu kesini sendiri?"
Mikael nampak diam memahami perkataan Kakeknya. "..iya, Mikael sendiri.." jawabnya.
"Memang kenapa, Kek?" ucapnya kembali bertanya.
Pria tua itu nampak sedih mendengarnya.
"..tidak apa-apa, Kakek pikir kamu kemari bersama Al. Wanita yang waktu itu kamu ajak menginap ke rumah.." sahutnya.
Mikael nampak berfikir sejenak yang lalu berkata.
"..maksud Kakek kemari itu ke suka bumi. Mikael fikir ke rumah sakit.." pahamnya.
"Mikael ke Sukabumi memang bersama Al, tapi dia masih di rumah Kakek.." balasnya.
'Tok tok tok'
Suara ketukan pintu mengalihkan pandangan Mikael, nampak dua orang prawat datang membawa sesuatu ditangannya.
Prawat itu nampak kaget melihat Pria tampan yang menjaga Pria tua yang sakit itu.
"Misi Mas, kami mau ganti seprai Kakek Ibnu.." ucap Prawat muda itu.
Mikael mengganggukan kepala lalu keluar dari ruangan untuk mencari makan pagi karna tadi belum sempat makan.
Seperginya Mikael Prawat itu segera mengganti seprai dan selimut Pak ibnu.
Usai menggantinya, Prawat muda yang tertarik akan ketampanan Mikael lantas berkata, "Kakek Ibnu, yang tadi siapa?" tanyanya to the point.
Pria tua itu nampak tersenyum jahil. "Hehehe kenapa, ganteng ya!"
Prawat itu menganggukan kepala mengiyakan.
"..yang tadi cucu Kakek namanya Mikael.." beritahunya dengan cengiran.
"Kek, Mas Mikael udah taken belum?" tanyanya kembali.
Prawat yang satunya hanya menggelengkan kepala mendengar perkataan Prawat mudah disampingnya. Itu karna Pria tua yang mereka datangi ini sering melucu membuat mereka tak kaku saat melayaninya.
Pria tua itu tersenyum hanya tersenyum ramah kearah Wanita itu.
"Terimakasih Kakek.." ucapnya Prawat muda itu yang diangguki Pak Ibnu
"Baiklah, kami permisi.." pamit Prawat yang satunya.
Diluar Prawat yang satunya berkata, "Wahhh kayaknya kamu enggak di restuin deh sama Kakek Ibnu.." ledeknya.
"Bukan enggak di restuin tapi, Pria tampan tadi sudah ada yang punya.." balasnya.
"Tau dari mana lo. Kakek Ibnu saja tidak mengatakan apapun.." ucapnya yang balas dengan gedikan bahu oleh Prawat muda disebelahnya.
"Permisi!" ucap Wanita yang menghampiri kedua Prawat itu.
"Iya, Ba.." balas Prawat muda itu ramah.
"..Suter, saya mau nanya ruangan Pak Ibnu dikamar nomor berapa ya?"
"Ohhh Pak Ibnu ada di kanar 224.." jawab Prawat satunya.
"Terimakasih.." balasnya yang lalu ke kamar yang disebutkan.
Kedua Prawat itu memperhatikan Wanita yang masuk kedalam kamar yang tempat mereka keluar.
"Jangan-jangan dia.." gumam Prawat muda itu yang mendapat senggolan Prawat disebelahnya.
"Ayo selanjutnya kamar ini!" ajaknya yang sudah memegang seprai pengganti.
###
Mikael nampak menenteng dua plastik lumayan besar yang dimana plastik sebelah berisi air sedang satunya berisi makanan.
Sampainya didepan pintu, dia yang ingin membuka pintu tak jadi karna pintu yang tiba-tiba terbuka. Menampakkan sosok bercadar.
"Kak El!" seru Wanita itu.
Mikael masih nampak diam karna melihat Al yang sudah ada di kamar.
Al yang melihat bawaan suaminya banyak lantas berinisiatif membawakannya.
"Mari Al bawakan!" ucapanya.
"Aku saja! Kamu buka lebar saja pintu agar aku bisa masuk!" perintahnya yang lalu Al segera membuka pintu lebar.
Pak Ibnu yang melihat Mikael datang berkata, "Kamu beli apa saja, kelohatan berat sekali.."
"..Mikael beli minum dan makanan.." katanya yang lalu mengeluarkan dua botol satu liter dan makanan.
"Al kamu tak perlu membeli minum, Mikael sudah membelinya.." ucap Pak Ibnu kearah Al yang Wanita itu angguki.
Al lalu melihat suaminya mengambil roti lalu membukanya.
"..Al bawa makanan dari rumah Kakek.." katanya menunjukan rantang yang dipegangnya.
Mikael yang sudah membuka roti lalu menutup kembali roti yang dibukanya.
"Kemarikan! Aku akan memakannya.." ucapnga.
Al lalu berjalan kearah suaminya. Dia duduk disamping Pria itu lalu membukakan kotak yang berisi bekal itu.
Mikael lalu menyantap makanan itu dengan lahap. Al hanya melihatnya dengan senyum. Begitu juga dengan Pak Ibnu.
###
Haripun mulai gelap, Pak Umar kembali ke rumah sakit dengan membawa satu dus botol satu liter.
Didalam kamar 224 dia mendapati percakapan yang sangat riang disana yang berasal dari suara Pak Ibnu, Mikael dan juga Wanita pembawa suasana, Al.
Kedatang Pak Umar mengalihkan mata mereka. Al melihat Pak Umar yang menenteng satu dus minuman.
"Waahhh, Pak Unar enggak tanggung-tanggung belinya.." kata Al menggelengkan kepalanya. Pria setengah baya itu hanya tersenyum.
Melihat kehadiran Pak Umar, Mikael lalu bangkit dari duduknya. "Kakek, El pamit ya. Besok El kesini lagi.."
"..iya, kamu hati-hati dijalannya.." ucapnya.
"Al juga pamit Kek," salimnya ketangan Pria itu yang bergantian dengan Mikael.
Usai mengucap salam kedua orang itu lalu pergi keluar dari kamar.
Di rumah Kakek
Di kamarnya, Mikael nampak sedang mengetik sesuatu di leptopnya.
Walaupun dia mengambil libur, masih ada beberapa hal yang harus diperiksa dan dikerjakan.
Al yang baru masuk kamar lalu melepas gamis yang dikenakannya.
Dia lalu berjalan menghampiri Mikael yang ada diatas ranjang.
Dilihatnya suaminya yang nampak sibuk bekerja. Lantas dia memilih pelan-pelan naik keatas ranjang dengan melewati Mikael yang duduk di pinggir.
"Maaf ya Kak.." ucap Al yang melangkah perlahan melewati suaminya.
Saat Al melewatinya tercium bau harum dari rambut Wanita itu yang basah. Membuatnya gagal fokus dan memperhatikan Al.
Al terdiam melihat suaminya yang memperhatikannya. "Kenapa, Kak?"
"..kamu keramas.." ucapnya.
"..iya, Kak. Soalnya kepala Al gatal.." balasnya dengan cengiran.
Pria itu lalu menatap mata Al, dia seperti mengirim kode rahasia pada Wanita itu.
Mendapat tatapan itu, Al mengerti maksud suaminya walaupun Pria itu tak berkata apapun.
"Kakak berwudhulah. Al akan menunggu disini.." ucapnya.
Mikael lantas tersenyum lalu segera menutup leptopnya yang kemudian berjalan keluar dari kamar.
Tak berapa lama Pria itu kembali. Kali ini, dia dikagetkan dengan Al nampak sudah berganti pakaian.
Mikael menghampiri Al yang ada ditempat tidur demgan perasaan berdebar. "Kenapa kamu mengganti pakaianmu?" tanyanya penasaran.
"..aaa..ini untuk mempermudah Kak El, saat melepas pakaian Al.." jawabnya malu-malu dengan kepala tertunduk.
Jawaban itu membuat Mikael semakin bernafsu pada sosok Wanita didepannya.
Mengingat, terakhir dia menyentuh Wanita itu. Saat di perpustakaannya, itupun diganggu oleh sahabatnya.
Al lalu memberanikan menatap mata suaminya, "Kak, ini.." kata Al yang menyedorkan kertas yang berisi doa sebelum melakukan hubungan suami istri.
"..tidak perlu, aku sudah menghafalnya!" serunya yang lalu memegang kepala Al untuk berdoa.
Dimulailah, rangsangan-rasangan ringan dengan kecupan didaerah wajah.
Setelah itu, turun kebagian leher putih Al. Selanjutnya begitulah...(SMIM tak sanggup melanjutkan adegan plus plusnya hahaha)
###
Beberapa haripun berlalu, Pak Ibnu nampak masih dirawat di RS. Dokter mengatakan Pak Ibnu belum boleh pulang karna kesehatannya yang belum benar-benar pulih.
Tapi karna Al dan Mikael harus kembali bekerja, jadi terpaksa mereka pamit pulang.
Pagi ini, Al dan Mikael nampak sudah siap dengan koper mereka masing-masing.
Mereka bertujuan ke rumah sakit terlebih dahulu, setelah itu baru pamit untuk balik ke Jakarta.
"Al pamit ya, Kek.." peluknya kearah Pria tua itu.
"Sehat-sehat ya Kek, agar kita bisa jalan-jalan bertiga.." bisik Al pada telinga Pria tua itu.
"Al sayang, Kakek.." lanjutnya yang lalu melepas pelukannya diikuti Pria tua itu.
Pria tua itu menganggukan kepala sambil tersenyum mengiyakan perkataan Al yang hanya didengarnya.
Selanjutnya Mikael yang memeluk Pria tua itu. Pak Ibnu menepuk-nepuk pelan punggung cucunya.
"Kami pamit ya, Kek.." ucapnya Mikael. Dia lalu melihat kearah Pak Umar.
"Pak, kabari ya kesehatan Kakek!" perintahnya.
"Baik, Tuan.."
Al dan Mikael lalu pergi dari ruangan tersebut. Mereka lalu berjalan kearah lift.
Saat akan masuk lift, dia teringat akan sesuatu yang ingin dikatakan pada Kakeknya.
"Al, kamu pergilah ke mobil terlebih dahulu. Ada sesuatu yang terlupakan.." ucapnya yang lalu memberikan kunci mobil pada Al kemudian keluar dari lift.
Mikael lalu berjalan, kearah kamar Kakeknya kembali. Saat didepan pintu dan ingin membukanya.
Tiba-tiba pintu terbuka menampakkan sosok Bi Rima.
"..Tuan Mikael," kagetnya.
Mikael lalu melihat kedalam kamar Kakeknya yang terdapat beberapa orang.
"Bi, itu siapa yang datang?"
"..Dokter, Tuan. Beliau lagi memeriksa Tuan Ibnu.." jawabnya.
"..saya permisi ya, Tuan. Ingin membeli tisu basah dan pempers.." pamitnya. Mikael menganggukan kepala.
Mikael tak langsung masuk, tetapi dia menunggu didepan pintu. Untuk menanyakan prihal penyakit Kakeknya. Karna selama lima hari disini. Kakeknya seperti menyembunyikan penyakitnya.
Usai Dokter bercuap-cuap didalam. Orang tersebut lalu keluar bersama dua Prawat yang mengikutinya.
Saat berjalan keluar, Dokter tersebut nampak tersenyum kearah Mikael yang berada di lorong.
"Dokter!" panggilnya yang menghentikan langkah Pria itu.
"Iya, ada yang bisa saya bantu.." balas Pria itu.
"Saya ingin menanyakan prihal penyakit Kakek di kamar 224.." ucapnya.
Dokter itu nampak diam lalu tersenyum. "Kamu pasti Mikael, cucu dari Pak Ibnu.." ucapnya yang dikageti Mikael.
###
Mikael merasa dadanya sesak. Dia berjalan dengan tertatih menuju kamar Kakeknya.
Saat didepan kamar, dia menarik nafasnya dalam. Lalu mendorong yang tak dikunci itu pelan.
Saat masuk seutuhnya, dia mendengar percakapan didalam.
"..melihat sikap Tuan Mikael pada Nona Al. Sepertinya Tuan sudah mencintai Nona.." ucap suara Pria yang berasal dari Pak Umar.
"..iya, saya juga merasa demikian.." balas Pak Ibnu.
"Aku senang, akhirnya rencanaku berhasil.." lanjutnya.
Mikael yang mendengarnya merasa bingung. Dia lantas berjalan pelan kearah kedua Pria itu yang terhalang tembok kamar mandi.
"Maksud, Kakek apa?" tanyanya.
Sampai sini dulu ya.
Lanjutannya nanti
Maaf alurnya atau cerita kurang jelas.
Selamat membaca