
Happy Reading!!!
"Kak El!"
"Kak!" panggil suara itu kembali.
Al melihat sekeliling apartemennya yang nampak hening.
"Kak El kemana? Kok sepi bangat!" gumam Al yang tak mendapati sosok suaminya.
"Aaaaaaa hahaha..pintar.."
Al terdiam, ketika tiba-tiba mendengar suara teriak dan tertawa anak-anak.
"..darimana suara itu?" tanyanya kembali.
Wanita itu lantas berjalan kearah sumber suara yang berasal dari kamar yang bertuliskan, "Arsyad & Rosyad"
Cklek
Al melihat ke arah kamar, mencari sumber suara. Di lihatnya tubuh besar suaminya yang terduduk diatas lantai memunggungi pintu.
Dia juga mendapati dua bocah Pria yang sedang tertawa.
"Arsya, Rosyad, kalian disini! Katanya kalian mau pergi ke rumah Ammah Via?" tanyanya karena melihat dua sosok bocah itu ada di kamar.
Dua bocah itu lalu melihat kearah Wanita yang mendekat itu.
"..iya Ma, tadi Arsyad sama Rosyad ke tempat Ammah Via. Tapi, Nadhif tidak ada.." jawab bocah berbaju merah yang bertuliskan Arsyad.
"Nadhif sedang pergi bersama Uncle Ilham. Jadi, kami pulang lagi.." lanjut bocah disebelahnya memakai baju sama tetapi bertuliskan Rosyad.
"Ohhh begitu.." angguk Al yang berhenti tepat dibelakang suaminya.
"Terus, kalian main apa sama Papa sampai tertawa senang begitu?" tanya Al yang lalu berjalan ke arah depan suaminya.
Seketika Al terdiam, mendapati sosok bayi mungil yang ada di dekapan suaminya.
Bayi itu terlihat memegang kartu yang bergambar buah-buahan.
"..Nayla!" serunya kaget, melihat Bayi itu ada di rumahnya.
Al lantas melihat kearah dua bocah yang ada didepan Bayi itu.
"Arsyad, Rosyad, apa kalian tadi izin membawa Nayla?" tanyanya sambil tersenyum kearah bocah kembar itu.
Mereka yang sedang tertawa lantas segera diam. Mereka menggelengkan kepala kearah Al.
Wanita itu lalu duduk bersimpuh diatas lantai, dengan mata masih ke dua bocah itu.
"..astagfirullah, kalian ini. Nanti kalau Ammi Via nyariin Nayla gimana?" ucap Al menatap lembut kearah dua bocah itu.
"Bukannya kata Mama, kalau mau ajak Nayla pergi. Ijin dulu sama Ammah Via.." lanjutnya.
Kedua bocah itu terlihat diam. Mereka menundukkan kepala.
Tapi walau begitu mereka tetap saja mengulang kesalahan yang sama, karna mereka belum paham mana yang benar dan mana yang salah.
"Maaf, Ma.." ucap mereka bersamaan.
Al menghela nafasnya, pasalnya ini bukan kali pertama atau kedua. Si kembar membawa Nayla tanpa izin.
"Baiklah, Arsyad and Rosyad.." ucap Al memegang kedua tangan anaknya lalu menatap keduanya bergantian.
"Pokoknya, Mama mohon sama kalian. Kalau mau ajak Nayla, izin dulu sama Ammah Via atau uncle Ilham.." jelasnya.
"Seperti saat kalian ingin bermain, kalian izin terlebih dahulu sama Papa atau Mama.." lanjutnya.
"Paham, anak sholeh Mama!" senyumnya tetapi terlihat tegas.
Anak kembar itu menganggukkan kepala paham.
"Baiklah, sekarang kita izin dulu ya sama Ammah Via buat ajak Nayla main.." ajaknya pada Arsyad dan Rosyad.
"Iya.." balas Rosyad yang segera berdiri. Sedang Arsyad mengganggu kan kepala dan ikutan berdiri juga.
Al lalu mengalihkan pandangannya kearah Mikael yang masih bermain dengan Nayla.
"Nayla sayang...ayo sini Ammah gendong.." ucapnya sambil tersenyum.
Tangannya menjulur untuk menggendong anak Perempuan berusia dua tahun itu.
Saat Al ingin menggendongnya, Mikael nampak menahannya.
Al lantas melihat kearah suaminya yang juga melihat kearahnya. Pria itu lalu memberikan anak kecil itu ke gendongan Al.
Al memperhatikan suaminya yang diam dengan tangannya memegang kartu yang dipegang Nayla tadi.
"Mama ayo!" ajak Rosyad yang sudah berada di pintu.
"Iya, sayang.." sahut Al melihat ke bocah itu. Karna anaknya sudah menunggunya, Al lantas mengabaikan tatapan suaminya.
Wanita itu kemudian, kembali melihat kearah suaminya untuk meminta izin.
"Kak El, kami keluar sebentar ya.." pamitnya.
Ting tong ting tong
Al memencet bel apartemen sahabatnya itu.
Tak lama apartemen di buka oleh sosok anak laki-laki.
"Assalamu'alaikum Nadhif.." salam Al saat melihat bocah didepannya.
"..Wa'alaikumsalam, Ammah.." ucap lucu bocah Pria itu.
"Nadhif!" seru dua bocah yang berada disamping Al. Mereka lalu segera ingin masuk kedalam rumah.
"Arsyad, Rosyad! Salam dulu.." kata Wanita itu menghentikan pergerakan dua bocah yang ingin berlari kedalam.
"Assalamu'alaikum.." salam mereka sambil berlari masuk kedalam.
Al hanya tersenyum melihat anaknya dan juga Nadhif. Di lalu ikut masuk, tak lupa juga menutup pintu.
Di langkahkan kakinya kearah ruang tamu yang TVnya menyala.
"Ehhh Al, kebetulan sekali kamu kemari!" seru suara Wanita dari arah dapur.
Al lantas menengok kearah sosok tersebut yang sedang menaruh makanan keatas piring.
"Vi, maaf ya. Anakku bawa Nayla tanpa izin kamu lagi.." ucap Al tak enak. Dia lalu menghampiri Wanita itu.
"..iya tidak apa-apa.." balasnya santai.
"Lagi pula, tadi Kak Mikael kesini memberitahu Nayla ada di tempat kalian.." beritahunya.
"Kak El.." ulang Al.
"Iya.." angguknya.
"Ini buat kamu!" ucapnya menyodorkan piring berisi makanan yang barusan dibuatnya.
"MasyaAllah, Makasih ya.." balas Al.
Via kemudian jalan ke wastafel. Dia terlebih dahulu mencuci tangannya yang kotor karena masakan lalu kembali lagi kearah Al.
"Ayo sini, Mama gendong.." ucap Wanita itu mengambil alih anak Perempuan ditangan Al.
Anak Perempuan itu, segera beralih ke pelukan Mamanya yang ternyaman.
"Kalau begitu, aku balik ya. Makasih makanannya.." ucap Al.
Al lalu pamit, kembali ke apartemennya.
Saat kembali kedalam Al terlebih dahulu menaruh makanan pemberian Via ke meja di dapur.
Dia lalu berjalan kearah kamar si kembar, tempatnya tadi meninggalkan suaminya. Dirinya penasaran kenapa suaminya melihatnya seperti itu tadi.
Sampainya di kamar si kembar, sayangnya suaminya tak ada. Lantas dia memeriksa kamarnya yang ternyata suaminya ada.
Di hampirinyalah Pria itu yang sedang dudu diatas kasur sambil memainkan HP. Matanya hanya melirik sekilas ke arah Al yang masuk.
Al lalu duduk di pinggir ranjang memperhatikan Pria itu yang nampak serius dengan HPnya.
"Kak.." panggil Al.
Al nampak bingung melihat sifat suaminya ini. Seingatnya, dia tak membuat kesalahan apapun.
"Kak El, kenapa?"
"Kok diam aja, apa Al membuat kesalahan?" tanyanya kembali sambil menggoyangkan paha Pria itu.
Sayangnya, Pria itu masih diam tak berkata. Hal ini membuat Al semakin bingung.
Mau tak mau dia melakukan satu cara yang biasanya dilakukan jika suaminya tak berkata apa-apa jika di ajak bicara.
"..anak-anak sedang di rumah Via. Kakak mau itu.." ucap Al malu-malu tapi tangannya mengelus paha suaminya.
Sesuai dugaannya, suaminya mengalihkan pandangan kearah dirinya saat ini.
Matanya terlihat sendu menatap Al.
Al yang di tatap nampak bingung dengan suaminya yang sifatnya berubah-ubah layaknya Wanita PMS.
"Kak El, memangnya kenapa?" tanyanya penasaran.
"..tidak apa-apa. Maafin aku ya bersikap seperti tadi.." ucapnya. Pria itu lalu meletakkan HPnya diatas meja kecil samping ranjang.
Al tersenyum melihat wajah suaminya yang saat ini lucu dan menggemaskan
"..enggak papa kok Kak.." balas Al tersenyum.
Pria itu lalu terdiam sejenak kemudian menatap Al dalam.
"...aku sungguh egois.." ucapnya.
"..aku menginginkan anak kembali..tapi aku takut kalau kamu.." lanjutnya yang terhenti.
Al terdiam, memahami perkataan suaminya barusan.
Seketika bibirnya berbulat kecil, paham akan maksud perkataan Pria di depannya.
Wanita berkerudung panjang itu tersenyum membalas tatapan suaminya.
Dirinya, kembali mengingat kejadian enam tahun lalu. Saat dia melahirkan Arsyad dan Rosyad.
Saat itu, Mikael menyaksikan sendiri bagaimana perjuangan Al melahirkan si kembar.
Sampai sekarang, dia masih mengingat wajah suaminya yang sangat khawatir.
Apalagi, satu kejadian yang masih melekat jelas diingatannya. Wajah panik suaminya, saat dirinya mengalami pendarahan besar ketika melahirkan Rosyad. Tak lama melahirkan si bungsu, Al jatuh pingsan dan tak mengingat apapun lagi.
Setelah kejadian tersebut, Al yang baru sadar setelah satu hari pingsan. Langsung di suruh KB, oleh Mikael. Pria itu mengatakan cukup Arsyad dan Rosyad saja.
Kemudian, dua tahun lalu saat Al dan El menjenguk Via yang melahirkan. Al mendapati wajah suaminya yang terlihat senang pada bayi tersebut.
Di buka tangannya lalu memeluk sosok Pria itu.
"Rizki, jodoh dan maut. Hanya Tuhan yang tau. Jika belum waktunya, orang tersebut pasti tidak akan meninggal. Jika sudah waktunya, sedang apapun orang tersebut pasti akan di cabut nyawanya.." ucap Al.
Tak lama, dia melepas pelukannya. Di alihkan matanya sebentar kearah lain kemudian menatap suaminya.
"..sebenarnya, Al sudah hampir setahun tidak KB.." ucap Wanita itu membuat Mikael kaget.
"Benarkah.." ucap Mikael tak percaya.
"Iya.."
"tapi, sepertinya Al belum dikasih amanat lagi jadi.." ucapnya terputus.
"..sabar ya, Kak.." sambungnya.
Mikael lantas segera memeluk Istrinya, baginya Wanita di pelukannya ini betul-betul memahaminya.
"Tentu saja, aku akan bersabar.." balasnya.
Mikael kemudian melepas pelukannya lalu menatap Al penuh makna.
"Mari kita usaha bersama-sama, sekarang.." ucapnya.
"..sekarang!" seru Al mengulangnya.
"Iya sekarang! Bukannya katamu tadi anak-anak sedang ada di tempat Via.." kata suaminya mengingatkan.
"..iya sih..tapi, apa gak bisa entar malam.." tawar Al sambil tersenyum tipis dan manaikkan alisnya.
Mikael menggelengkan kepalanya.
"Sekarang dan juga entar malam.." balasnya.
"Kita harus usaha!" serunya menyemangati Al.
Pria itu lalu turun dari ranjang menuju kamar mandi. Dia terlihat sangat senang serta semangat.
Sedangkan Al yang ditinggal, masih terdiam ditempatnya. Melihat suasana sepi ini bisa-bisa suaminya meminta beberapa ronde.
"...aaahhhh siap-siap perih deh.." gumamnya.
"Tapi enggak papa Al. Menyenangkan suami pahala! INGAT PAHALA!" serunya menyemangati diri sendiri.
# # #
Esok pagi
Pagi ini, keluarga Al nampak sudah berkumpul di meja makan menikmati sarapan pagi yang sehat.
"Akhirnya rapi juga!" seru Al yang selesai merapikan kamarnya dan si Kembar.
Sebenarnya si Kembar sudah diajarkan cara merapikan kasur, tapi namanya anak umur enam tahun. Pasti tak serapi orang dewasa.
Di dapur, menaruh makanan yang di masaknya tadi ke kotak bekal si Kembar. Sedang untuk suaminya, dia masukkan kedalam rantang.
Selesai itu, Al kembali ke meja makan untuk menemani keluarganya sarapan. Sampai tak terasa jam sudah menunjukan pukul setengah tujuh.
"...! Arsyad sayang, kok buah kamu belum dihabiskan.." tanya Al yang melihat masih ada beberapa potong buah didepan piring anak itu.
"..Arsyad sudah kenyang, Ma.." ucapnya lucu sambil memegang perutnya.
Al lalu menghampiri bayi kecilnya, lalu berkata. "Nanti mubazir dong, kalau gak di makan.." balas Al.
"Mama kan sering bilang, Allah enggak suka orang yang mubazir. Karna orang yang mubazir temannya..." jelas Al yang terputus agar anaknya melanjuti ucapannya.
"Setan!" ucap Rosyad kencang sedang Arsyad pelan.
"Iya...Arsyad abisin. Arsyad gak mau jadi teman setan, nanti masuk Neraka.." ucapnya yang segera memakan buahnya kembali.
"Anak sholeh Mama pintar.." katanya sambil mengelus kepala dua jagoannya.
Dari tempatnya duduk, Mikael hanya tersenyum. Untuk masalah nasehat menasehati itu urusan Al, sedang dirinya belum bisa bicara seperti itu karna dia kadang juga suka menyisahkan makanan seperti saat ini.
Mikael tersenyum kembali sambil menganggukkan kepala kearah Istrinya, yang baru sadar piringnya masih tersisa beberapa potong buah.
Usai rapi semua ruangan Al dan sekeluarga keluar bersama. Kebetulan sekali mereka bertemu dengan Via dan juga keluarganya yang ingin pergi juga.
Inilah kehidupan baru Al, setelah anaknya mulai sekolah paud.
Setiap pagi, mereka pasti diantar Mikael ke sekolah dua bocah mungil itu. Tapi pas siang, mereka akan di jemput oleh Pak Usman.
Hari biasa, Al dan keluarga kecilnya tinggal di rumah yang ada di komplek. Sedang hari liburan, mereka tinggal di Apartemen.
Alasannya, karena si kembar ingin bermain dengan Nadhif. Hal itu juga membuat keluarga Via setiap akhir pekan tinggal di Apartemen juga.
"Papa, hati-hati ya.." ucap Al malu. Dia merasa tak biasa memanggil suaminya dengan sebutan Papa.
"Iya.." balas Mikael.
Melihat kedua bocah yang duduk dibangku belakang turun, Mikael menyuruh Al mendekat kearahnya.
"Iya Kak.." ucapnya yang mendekat lalu Mikael segera menggeser cadar Al lalu mencium bibir pinknya.
Pria itu nampak tersenyum, setelah melepaskan ciumannya. Sedang Al hanya menatap suaminya malu.
"..aku pergi, assalamu'alaikum.." salamnya yang lalu mencium tangan suaminya.
"Wa'alaikumsalam, Mama.." balas Mikael. Dia menebarkan senyum menawannya.
Jangan lupa diberi komen dan like serta votenya...
salam hangat SMIM