
Happy Reading!!!
Pak Umar menaruh semua barang yang didalam mobil kehalaman rumah. Lalu dia memasukinya satu persatu, termaksud bingkisan yang ada didalam mobil kedalam rumah.
" MaafTuan Mikael, semua barangnya taruh di kamar Tuan?" tanya Pak Umar sambil menunjuk semua barang yang diangkatnya barusan.
"Iya Pak, barang-barangnya tolong taruh ke kamar Mikael.." jawabnya.
Pak Umar menganggukan kepala paham lalu mendorong koper Al dan Mikael, sedang bingkisannya dipegang olehnya.
"Tunggu sebentar, Pak Umar!" seru Pak Ibnu. Pak Umar lantas berhenti, dia lalu melihat kearah Pak tua itu yang sedang melihat kearah Cucunya.
"El, kamu akan sekamar dengan Al?" tanya Pak Ibnu pada cucunya lelakinya.
"Tidak, Kek.." jawab Mikael.
"Lalu mengapa kamu menyuruh Pak Umar membawa koper Al ke kamarmu.." tanyanya kembali.
"Karna dia akan tidur di kamar El, Kek.." balasnya.
"Lalu kamu tidur dikamarmu juga!" seru Kakeknya.
"...tentu tidak, Aku akan tidur di kamar Kakek Ibnu.." ucapnya dengan layaknya anak-anak.
Al dan Pak Umar yang melihat tingkat kekanakan Mikael lantas tersenyum. Mikael seketika berlagak dingin kembali.
"Pak, tolong ya bawa ke kamar Mikael semuanya.." ucapnya. Pak Umar menganggukan kepala lalu membawa barang itu kembali.
Pak Ibu melihat jam yang menggantung di dinding kayu. "Sudah jam lima. Kalian sudah sholat subuh?"
"Belum Kek.." jawab Al sedang Mikael menggelengkan kepala.
"Yasudah kalian mandi lalu segera sholat. Kakek akan menunggu kalian karna sebelum sholat Ied Kakek ingin mampir ke suatu tempat terlebih dahulu.
Al dan Mikael segera berdiri, mereka lalu menuju ke kamar Mikael. Didalam kamar, Al ingin membuka kopernya untuk mengambil pakaiannya. Sedang Mikael ingin membuka lemari karna ingin mengambil bajunya yang ada disana.
"El!" panggil Kakeknya dari ambang pintu. Mikael dan Al lantas menengok.
"Iya Kek," sahutnya.
"Laki-laki sama Prempuan yang bukan mahrom gak boleh berdua-duan didalam kamar.." ucap Pria tua itu.
"..tapikan pintunya dibuka Kek. Lagipula El cuman mau ngambil baju, setelah itu El langsung keluar.." balasnya.
"Tetap saja, tidak boleh!" tegasnya. "Kecuali Al istrimu, kalian berdua-duan dikamar sambil tutup pintu dan dikunci juga. No problem, Orang gak bakal salah paham!" ucapnya kembali sambil tersenyum jahil.
Mikael lantas berdiri lali pergi dari kamar itu. Al hanya tersenyum melihat Mikael yang tak bisa berkutik dari Kakeknya.
Al yang sudah mengambil bajunya lantas keluar, dia melihat Mikael yang berdiri didepan pintu.
"Kak, Al mandi duluan ya.." ucapnya.
"Iya.." balasnya lalu dia masuk kedalam kamarnya.
Mikael membuka lemarinya untuk mengambil pakaian rumahnya. Lalu meletakkannya diatas ranjang.
Dia lalu merebahkan tubuhnya yang lelah akibat menyetir dalam waktu lumayan lama.
Saat menggerakkan punggungnya, Mikael merasa ada mengganjal dibagian punggungnya lantas dia mengambilnya benda yang mengganjal itu.
Matanya terbelalak melihat benda yang dipegangnya saat ini. Tanpa sadar dia melempar benda tersebut kearah abstark. Al yang kembali ke kamar karna ketinggalan benda sakralnya menerima lemparan Mikael.
Al melihat benda yang dilempar Mikael lalu segera menyembunyikannya. "Maaf Kak, tadi Al lupa.." ucapnya lalu dia kembali keluar kamar.
Mikael menggelengkan kepalanya. Dia yang tadinya ngantuk kembali melek karna benda itu. Dia lantas berdiri menuju dapur.
Didapur Bi Rima nampak sedang memanaskan opor ayam dan juga rendang. Dilihatnya sosok Mikael yang duduk di meja makan. Dia menghampiri Tuan mudanya itu.
"Tuan Mikael ingin makan.." tanyanya.
Mikael menggelengkan kepalanya. "Tidak Bi, Mikael hanya haus.." balasnya.
Setelah minum Mikael memilih keluar untuk menghirup udara segar.
###
Al nampak sudah rapi dan wangi. Dia juga sudah solat subuh tadi di ruang tengah menggunakan mukenah Bi Rima.
Usai sholat, dia mencari sosok Mikael yang tak kelihatan sejak tadi. Al tadi sudah ke kamarnya Mikael, tetapi yang didapati hanya bajunya diatas tempat tidur.
Al kemudian melihatnya ke halaman depan. Disana dilihatnya sosok suaminya yang tertidur dengan pulas.
Sebenarnya Al tak tega membangunkan suaminya, tapi jam akan menunjukan pukul setengah enam. Sedang waktu subuh hanya sebentar ditambah mereka ditungguh oleh Pak Ibnu.
"Kak, Kak El.." Al membangunkan Mikael dengan lembut.
"Kak bangun! Sekarang giliran Kak El mandi.." seru Al.
Mikael membuka matanya, dia lalu menguap, dengan cepat Al menutup mulut suaminya yang terbuka.
Seketika Al terpaku menyentuh bibir Mikael, begitu juga Mikael yang tersadar saat bibirnya disentuh.
Al segera menarik telapak tangannya kembali. "Ma..maaf Kak.." ucap Al menundukan kepala.
Al takut suaminya ini marah, karna dia mengetahui sikap Mikael yang tak suka disentuh. Tapi tadi dengan refleks Al menjukurkan tangan melihat suaminya yang menguap tanpa menutup mulut.
Mikael segera berdiri meninggalkan Al didepan tanpa berkata. Dikamarnya dia menyentuh bibirnya yang tadi disentuh Al. "Wanginya.." gumamnya.
###
Tepat pukul jam 6 kurang 15 menit. Mereka pergi dari rumah. Mereka menaiki mobil ke tempat tujuan yang jaraknya berada dijalan raya dekat perkampungan, dimana Pak Ibnu tinggal.
Tujuannya pergi pagi ini untuk membayar zakat Fitrah yang merupakan kewajiban bagi setiap umat islam yang memiliki kelebihan bahan makan pokok pada hari raya.
Sejak dulu, Pak Ibnu memiliki kebiasaan membayar zakat Fitrah pada hari H. Sebelum melaksanakan sholat Idul Fitri.
Sampainya dijalan raya yang lenggang, mereka lalu membagikan uang dengan seharga bahan pokok yang dimakan. Mereka membagikannya kepada orang yang berhak menerima zakat.
Karna Al dan Mikael sudah membayar zakat Fitrahnya di Jakarta. Jadi mereka hanya sekedar menemani Pak Ibnu.
Setelah membayar zakat Fitrah, mereka menuju mesjid terdekat yang ada dijalan yang mereka lewati. Disana mereka melaksanakan sholat Idul Fitri.
Usai melaksanakan sholat dan juga mendengarkan kutbah dari khotib. Mereka kembali kedalam mobil.
Arah tujuan mobil kali ini ialah silaturahim pada teman Pak Ibnu yang tinggal di kampung lain yang tak jauh dari tempat tinggal Pak Ibnu. Kira-kira jaraknya dua KM.
Sampailah mereka dibangunan kecil yang dikelilingi kebun kecil. Rumahnya dibangun dengan dua bahan yaitu Bawah bagunan dibangun dari batu yang dilapisi semen sedang bagian atasnya dibangun dengan kayu. Sedangkan atapnya terbuat dari asbes.
"Ayo turun!" ajak Pak Ibnu itu.
Al nampak bingung dengan siapa sosok yang dikunjunginya. Lalu Pak Ibnu mendekat kearah Al.
"Ini merupakan rumah teman Kakek," ucapnya. Seperti menjawab pertanyaan hati Al.
Al lantas menengok kearah Pak Ibnu. "Teman Kakek!"
Pak Ibnu terlihat menganggukan kepala. "Iya, teman Kakek sejak muda.." lanjutnya sambil mengembangkan senyum.
Saat mereka sampai di halaman rumah. Nampak Kakek Tua yang seumuran dengan Pak Ibnu.
Kakek tersebut berjalan keluar rumah. Matanya yang masih jelas, melihat sosok yang sangat dikenalnya yang jalan mendekat.
"Ibnu!" serunya. Pak Ibnu tersenyum dari kejauhan.
"Assalamu'alaikum, shohibiy.." salam Pak Ibnu dengan riang dengan tangan kanan diangkat ketas.
"Wa'alaikumsalam shohibiy.." jawabnya dengan riang juga, gerakannyapun sama dengan Pak Ibnu.
Mereka lalu berjabat tangan lalu berpelukan layaknya laki-laki sejati.
"Maaf ya, aku kesini gak bawa apa-apa!" seru Pak Ibnu.
"Hahaha tidak apa-apa, sudha biasa.." canda Pria tua itu.
"Gimana kabarmu? Ada gak puasamu yang batal!" tutunya kembali pada Pak Ibnu.
"Kabarku baik-baik saja." balasnya. "Alhamdulillah puasaku gak ada yang batal.." tambahnya.
"Alhamdulillah. Aku fikir puasamu ada yang batal seperti tahun... sebelumnya..." ucap Pria tua itu kepotong seketika.
"...hahaha...kamu masih ingat saja prihal jaman dulu.." jawabnya yang mengikuti candaan Pria tua didepannya.
Lalu mata Pria tua itu menangkap sosok baru yang datang kerumahnya. Dia tersenyum melihat sosok tersebut.
"Ayo masuk!" serunya menyuruh tamunya masuk.
Pria tua itu lalu merangkul Pak Ibnu masuk kedalam rumah. Mereka nampak berbisik sesuatu.
Keempat orang yang berada dibelakang Pak Ibnu ikutan masuk. Mereka lalu dipersilahkan duduk di tikar berwarna-warni yang dibawahnya dilapisi semen.
Dari dalam muncul Wanita tua yaitu istri dari Pria tua tadi. Dia menyalami para tamunya kemudian masuk kembali untuk menyiapkan hidangan untuk para tamunya.
Tak berapa lama Wanita tua itu kembali keluar dengan hidangan pisang rebus, kue lapis, dan biskuit. Ditemani dengan teh hangat.
"Silahkan!" seru Wanita Tua itu ramah.
Pak Ibnu menganggukan kepala. Dia segera meminum teh itu lalu mengambil pisang rebus. Diikuti Ela dan yang mengambil hal sama begitu juga yang lainnya. Kecuali Mikael yang hanya meminum teh, karna di jam segini dia tak terbiasa makan.
Dilanjutkanlah percakapan Pria tua itu dan Wanita tua itu Mengenang masa muda mereka.
Lalu percakapan mereka beralih pada Mikael yang masih focus pada HPnya.
"Seperti biasa ya, El selalu tak bisa jauh dari benda ditangannya.." ucap Pria tua itu.
"Benar, dirumah saja dia hanya melihat HPnya. Tanpa mempedulikan Kakeknya yang sudah tua ini.." ucap Pak Ibnu dengan drama.
Mikael lantas menengok kearah Kakeknya. "Kata siapa aku tidak mempedulikan Kakek. Aku peduli kok.." ucapnya. Kakeknya tampak menghela nafas.
"Kalau kamu peduli pasti kamu mengabulkan keinginan Pria tua ini.." ucap Pak Ibnu.
Mikael seketika terjebak perkataan Kakeknya. "Ini nih, pasti ujung-ujungnya.." batin Mikael.
"Padahal Kakek cuman minta kamu kasih Kakek cicit yang lucu.." ucapnya. "Soalnya cucu Kakek gak lucu lagi.." lanjutnya.
Yang lain nampak tersenyum kecuali Mikael yang berwajah cemberut.
"Ngomong-ngomong soal cicit. Pasti Wanita sholiha ini istrimu Mikael.." ucap Pria tua itu menunjuk kearah Al.
Para tetua disana tampak tersenyum sedang Al hanya diam ingin mendengar jawaban Mikael.
"Wanita ini hanya teman Mikael saja.." balasnya.
"Wahhh sayang sekali padahal kalian sangat cocok loh.." ucap Kakek Khodir kembali. Mikael hanya tersenyum.
Setelah bercakap-cakap cukup lama. Mereka berpamitan. Mikael nampak jalan terlebih dahulu menuju mobil.
Disana dari kejauhan dilihatnya para tetua itu sedang bercakap-cakap. Tak lama Al menyalim tangan tetua itu lalu berjalan ke mobil.
###
Sampai di rumah, Al melihat halaman rumah Pak Ibnu, rame dengan orang.
"Ada apa Kek, rame sekali?" tanya Al pada Pak Ibnu yang duduk disampingnya.
"Ini hanya kebiasaan setiap hari raya Idul Fitri. Setiap tahun, Kakek selalu mengundang warga setempat untuk datang.." balas Pak Ibnu.
"MasyaAllah.." gumam Al.
Masuklah mobil yang mereka taiki ke halaman. Warga yang dihalaman segera bergeser memberi jalam mobil untuk lewat.
Saat mobil berhenti, Mikael turun, diikuti Pak Ibnu dan juga Al. Kemudian Bu Rami dan Pak Umar. Para warga datang bersalaman dengan Pak Ibnu.
Setelah pintu di buka para Warga dipersilahkan menikmati kue yang ada di ruang tamu.
Bu rami segera masuk kedalam rumah untuk mengeluarkan makanan yang ada didalam untuk menaruhnya diteras. Dia dibantu oleh Al dan Pak Umar.
Sedang Pak Ibnu dan Mikael pergi ke kamar Mikael.
"Mikael, kamu sudah menyiapkannya.." ucap Pak Ibnu.
"Sudah kok," balasnya. Mikael segera membuka kopernya mengeluarkan dua amplop coklat besar.
Dia lalu memberikan kedua amplop coklat besar pada Pak Ibnu. "Yang ini untuk orang tuanya sedang ini untuk anaknya.." ucapnya sambil memberikan tanda pada masing amplop.
Inilah kegitan yang ditunggu warga yaitu THR dari Pak Ibnu.
Warga segera mengantri. Untuk mendapat THR.
Secara bergatian Pak Ibnu memberikannya amplop puti pada orang tuanya dan amplop dengan gambar pada anak kecilnya.
Saat memberikan amplop, tak lupa Pak Ibnu selalu memberikan pesan. Jangan tinggalkan sholat, terus mengaji dan pesan-pesan lainnya. Termasuk juga kepada anak-anak, prihal patuh kepada orang tua dan lainnya.
Acarapun selesai. Al membantu Pak Ibnu dan Bu Rami merapikan makanan yang diteras untuk membawanya kedalam.
Selesai itu Al izin ke kamar karna ingin beristihat. Dia merasa sangat ngantuk dan capek.
Saat membuka kamar dilihatnya Mikael sedang tidur-tiduran disana.
Al segera masuk, tanpa sadar ia menutup pintunya. Dia kemudiam berjalan kedepan lemari membuka kerudungnya. Saat akan membuka baju Mikael mencegatnya.
"Al, apa yang kamu lakukan?"
"Membuka gamis ini," ucapnya yang lalu menurunkan resleting bagian depan gamisnya.
"Tunggu!" serunya menghentikan Al.
"Aku keluar dulu, setelah itu baru kamu buka bajumu.." ucap Mikael yang segera berdiri.
"Tenang saja Kak, Al mengenakan pakaian didalam gamis Al. Tunjuknya pada kaos biru dalam gamisnya.
Mikael bernafas lega, karna jantung tadi tiba-tiba bergerak cepat.
Al lalu kembali membuka gamisnya, yang menyisakan kaos dan celana hitam panjangnya. Setelah itu dia menggantung pakaiannya dibelakang pintu.
Saat Al berjalan mendekat kekasur. Terdengar suara panggilan dari luar kamar.
"Mikael!" seru Pak Ibnu.
Mikael seketika gelagapan dia melihat Al yang hanya mengenakan pakaian rumah. Ditambah mereka didalam kamar yang tertutup.
Tak berapa lama, terdengar suara ketukan dari pintu kamarnya, Mikael segera berlari kebelakang pintu.
Mikael memberi kode pada Al agar menemui Kakeknya.Al mengiyakan lalu mengenakan kerudungnya. Dia membuka sedikit pintu karna tak mengenakan gamis.
"Iya Kek.." jawab Al.
Saat Al membuka pintu, jantungnya Mikael berdebar karna takut Kakeknya tiba-tiba mendorong pintu kebelakang.
"Kamu yang didalam, Kakek fikir Mikael.." ucap Pak Ibnu.
"Iya Kek.." jawab Al.
Mikael lalu melihat Al yang mengetuk pintu sekali sambil memiringkan kepalanya.
"...Kakek fikir Mikael ada didalam," ucapnya kembali. "Mungkin sekarang dia sedang jalan-jalan sambil menghirup udara segar.." lanjut Kakeknya.
"Yasudah, kamu istirahat Al.." ucapnya lalu pergi.
Ketika Kakeknya Mikael berbalik. Al segera menutup pintu lalu melepas kerudungnya. Dilihatnya Mikael yang hendak membuka pintu.
"Kakak mau keluar sekarang?" tanya Al.
"Takutnya saat Kakak keluar, Kakek masih didepan.." lanjutnya.
Mikael membenarkan perkataan Al. Dia mengurungkan niatnya. Dia lalu duduk dikursinya yang ada dikamar.
"Mending sekarang Kakak istirahat. Mata Kakak kelihatan lelah sekali.." usul Al.
Al menggeser tubuhnya ke pinggir agar Mikael bisa tidur dikasur. Tak lupa dia menaruh batal guling Mikael ditengah.
Mikael menurutinya. Dia memang merasa sangat mengantuk. Lantas dia merebahkan tubuhnya di kasur.
Tak berapa lama mereka tertidur. Alam mimpi menyambut pasangan pasutri itu.
Thank you...
Tinggalkan tanda ya...
Salam hangat SMIM