
Happy Reading!!!
Permulaan
Malam hari setelah tahlilan
"Kalian besok jadi pulang?" tanya Pak Khodir saat Ela dan Mikael pamit pulang.
"Iya, Pak.." sahut Al.
Pak Khodir tampak tersenyum tipis.
"Kalau begitu kalian hati-hati ya! Kalau libur kembali main kemari.." ucapnya.
Al dan Mikael hanya tersenyum lalu mereka segera menyalim tangan pria tua itu lalu menuju mobil karna Pak Ibnu, Pak Umar dan Bu Rima sudah menunggu di mobil.
Perjalanan pulang
"...aahhh.." desah pria tua didalam mobil.
Orang yang ada didalam mobil lantas menengok kearah Pria itu.
"Kakek, kenapa?" tanya Mikael yang melihat raut wajah Pria tua itu yang lesu.
"..tidak, apa-apa.." jawabnya.
Tak lama setelah itu Pria tua itu kembali menghela nafas dengan keras membuat orang yang didalam mobil kembali menengok.
"Ada yang Kakek ingin kan?" tanya Al kemudian.
Pak Ibnu melihat kearah Al, dia menganggukan kepalanya.
"Memangnya Kakek menginnginkan apa?" tanya Al kembali. Mikael, wajahnya nampak biasa aja tapi kupingnya terpasang untuk mendengar ucapan Kakeknya.
"...sejak kemarin malam, Kakek sangat menginginkan jagung bakar.." jawabnya.
Al nampak tersenyum mendengar ucapan Kakeknya sedang Mikael nampak bingung mendengarnya. Dia berfikir sejak kapan Kakeknya jika menginkan sesuatu akan bersikap seperti tadu. Biasanya juga dia akan mengatakannya langsung pada Mikael.
"Nanti Al akan membelikannya.." ucap Al menenangkan Pria tua itu. Pria tua itu nampak kembali senang.
Sampai di rumah, mereka segera turun dari mobil. Begitu juga Al yang langsung menghampiri Pak Umar yang turun.
"Pak!" panggil Al. Pak Umar menengok kearah suara.
"Iya, Nona Al.." sahutnya.
"Pak Umar temani Al untuk mencari jagung bakar, ya?" tanya Al.
"...Ee.." Pak Umar tampak diam mendengar ucapan Al.
"Al, Mikael akan menemanimu untuk membelinya!" sambar Pak Ibnu. Mikael lantas melihat kearah Pria tua itu begitu juga dengan Al dan Pak Umar.
Rasanya Mikael ingin menolaknya, tapi dia tak bisa karna itu perintah Kakeknya. "Baiklah.." ucap Mikael pasrah.
Mikael lalu berjalan kearah Pak Umar untuk mengambil kunci mobil. Dia lalu segera masuk kedalam mobil.
Sedang Al masih nampak diam, dia masih tak menyangka melihat tindakan suaminya ini yang tak bisa mengatakan tidak pada Kakeknya.
"Ayo masuk!" perintahnya.
"..Aa..iya, Kak.." sahutnya. Al segera masuk kedalam mobil.
Mikael segera melajukan mobilnya, meninggalkan halaman rumah Kakeknya.
Dijalan raya
Tak hentinya mata Al dan Mikael mencari sosok penjual jangung bakar. Mereka memperhatikan trotoar tempat kaki lima berjualan.
Tak jauh didepan, Al melihat keramain. "Kak, mungkin disana jualan jagung bakar.." tunjuk Al pada keramaian didepan yang disana terdapat banyak tenda terpasang.
Mikael yang melihatnya mengiyakan, karna sejak tadi mereka tak menemukan sosok penjual jagung bakar.
Tak jauh dari tempat keramaian. Mikael memarkikan mobilnya. Mereka lalu berjalan kesana.
Tempat tersebut dipadati oleh para pengunjung. Disana banyak tenda yang terpasang, ada tenda berjualan makanan dan pakaian maupun lainnya.
Dari jauh Al melihat asap dari sederetan stand makanan. Dia berharap asap tersebut berasal dari jagung yang dibakar.
Sampainya di sumber asap, dia senang ternyata harapannya benar. Lantas dia memberi kode pada Mikael mendekat.
"Pak, jagung bakarnya 4 ya. Rasanya campur saja.." ucap Mikael pada penjual.
"Siap, Mas.." balas penjual.
Setelah memesan, mereka lalu duduk didalam tenda untuk menunggu jagung.
Al melihat kearah Mikael yang mulai memainkan HPnya. "Kak El, tidak menginginkan jagungnya?" tanya Al.
"Tidak.." balasnya singkat. Al menganggukan kepala. Dia kembali melihat kedepan, memperhatikan orang-orang yang lalu lalang.
Tak lama Al kembali menengok kearah Mikael. "...Kak, sambil nunggu jagung. Kita lihat-lihat pasar malam, yuk.." ajak Al.
Dengan cepat Mikael langsung menggelengkan kepalanya. Al lantas kembali diam.
"...kalau kamu mau, pergi aja sendiri. Setelah itu kembali kemari.." ucap Mikael.
Al nampak berfikir sejenak tak lama dia menganggukan kepala. Setelah pamit dia berdiri dari tempatnya lalu keluar dari tenda jagung bakar.
Dalam hati dia berharap suaminya ikut, tapi dia tak bisa memaksanya. Mau tak mau dia pergi sendiri.
Al berjalan pelan melihat-lihat sekitar. Tatapannya berhenti pada satu permainan yang suka ditaikinya saat masa kecil.
Dia menghampiri tempat itu. Senyumnya mengembang melihat permainan yang berputar kencang yang bergelombang seperti ombak. Apalagi ketika mendengar suara jeritan orang-orang yang naik permainan itu karna senang gerakannya semakin cepat.
Melihat permainan itu Al merasa kangen. Dia sangat ingin menaikinya. Tapi dia mengingat usianya tak muda. Ditambah yang menaiki permainan untuk sebagian besar anak-anak dia mengurungkan niatnya. Alasan lainnya karna dia tak membawa uang sepeserpun. Lantas dia memilih memandanginya saja.
Usai cukup lama Al disana. Dia kembali berjalan, mendekat kearah tenda yang di kerumuni orang.
Dari belakang kerumunan orang Al menjinjit, disana dilihatnya seorang Bapak didalam tenda bersama Bapak-Bapak lain.
Mereka nampak sedang bermain tebak-tebakan tentang posisi bola yang ditutupi mangkuk kecil. Permainan tersebut menggunakan taruhan uang. Jika benar maka uang yang mereka taruhkan berlipat ganda.
Melihat permainan itu Al menggelengkan kepalanya. Dia lantas kembali berjalan ke tenda berikutnya.
Tenda tersebut nampak lebih rame dari pada tenda sebelumnya. Didalam tenda tersebut berjajar berbagai benda seperti dari minuman, mainan, elektronik dan benda lainnya.
"Bang, gua sepuluh ribu!" seru Pria yang tak jauh dari posisi Al berdiri.
Abang-abang yang mengadakan permainan tersebut menghampiri Pria itu. Dia mengambil uang sepuluh ribu itu. Lalu memberikan 3 lemparan berbentuk lingkaran.
Al melihat Pria itu melepar benda tersebut kearah jam tangan yang ada didepannya. Dalam satu menit lemparan yang ditangannya habis. Dan dia tak mendapat apa-apa.
Sedang disampingnya seorang gadis nampak mengincar boneka yang ada didepannya. Saat lemparan pertama dan kedua nampak meleset. Tapi saat melempar yang ketiga. Lingkaran tersebut mengenai target lingkaran.
Pria yang ada didalam tenda lantas menghampiri benda itu lalu memberikan pada gadis yang disebelahnya.
Al kembali menggelengkan kepala. Walaupun sebenarnya dia tertarik dengan permaian itu, tapi dia tak akan pernah bermain permaianan itu lagi karna sama dengan judi. Makanya dia lebih memilih melihatnya saja.
Cukup lama Al berada disana. Sampai akhirnya dia memutuskan kembali berjalan kearah tempat jagung bakar.
Saat akan ingin beranjak, suara tepuk tangan dari para pengunjung menghentikan langkah Al. Al lantas melihat kearah Pria pemilik permainan yang menghampiri benda yang kelihatannya didapati oleh pemain.
Al membulatkan bibir melihat benda yang didapatinya yaitu sebuah kompor gas 2 tungku untuk camping. Al memicingkan mata untuk melihat siapa orang yang melempar, seketika dia kaget melihat sosok Mikael.
Dia segera menghampiri, pria itu yang nampak sedang bersiap-siap untuk melempar kembali.
Al bingung, orang-orang nampak mengerubungi disekitar Mikael. Jika yang mengerubungi Wanita, Al masih bisa masuk diantaranya. Posisinya saat ini yang melingkarinya adalah Pria.
"Kak El.." panggil Al. Dia berharap Mikael mendengar, sayangnya yang mendengar orang yang tepat ada didepan Al.
Al segera menundukan kepalanya karna malu mendapat tatapan dari orang yang ada didepannya.
###
Sejak Al pergi tadi, Mikael sudah mengikutinya dibelakang. Entah mengapa dia merasa tak tenang melihat Al pergi sendiri.
Dia memperhatikan Al yang berjalan pelan sambil melihat-lihat.
Seketika Mikael berhenti ketika Al diam di satu permaian yang dulu pernah dinaikinya saat masa kanak-kanak.
Mikael melihat Al yang memperhatikan permaian itu dengan seksama.
Dilihatnya Al yang sedang merogoh sesuatu dibalik kerudung panjangnya. Entah apa yang dicari Wanita itu. Setelah itu dia kembali memperhatikan permainan ombak itu.
Setelah cukup lama dia kembali berjalan sampai dilihatnya Al menghampiri tenda yang nampak rame.
Mikael memperhatikan Al yang terlihat berjinjit untuk melihat sesuatu yang ada didalam tenda.
Tak lama Al meninggalkan tenda itu, beralih ke tenda selanjutnya.
Mikael nampak penasaran pada tenda yang rame itu yang membuat Al berjinjit, lantas dia juga melihatnya. Didalam dilihatnya satu orang yang kegirangan karna diberikan uang pada Bapak didepannya sedang dua lainnya nampak lemas karna uang didepannya diambil.
Mikael kembali melihatnya kearah Al yang berhenti di tenda yang nampak lebih rame. Mikael berfikir Al hanya sekedar melihat tapi dia malah lama berdiri dipinggir tenda itu.
Karna penasaran, Mikael mendekati tenda itu. Saat melihatnya Mikael nampak menganggap sepele permaian itu.
Dia kembali melihat Al yang memperhatikan orang-orang yang melemparkan benda bulat ditangannya.
Melihat tersebut, Dia terpancing untuk bermain.
Mikael membeli enam lemparan. Dia mengambil ancang-ancang itu melempar kearah benda incarannya.
Dia mengincar benda yang paling mahal ditenda itu. Tak lain adalah TV berukuran besar.
Dilemparkannya lemparan pertamanya, hasilnya meleset.
Mikael lalu mengambil ancang-ancang. Dilemparkan kembali benda itu, kali ini tak meleset tapi yang didapatnya minuman kaleng.
Mikael menyipitkan mata mendapatkan benda pertamanya yang ternyata salah sasaran.
Dia lalu kembali melempar lemparan ke tiga, empat dan lima. Lagi-lagi tak mendapat benda incarannya, yang didapatnya melainkan cemilan, minuman botol dan jam tangan. Tapi pas lemparan ke 5 dia mendapati tepuk tangan dari para pelempar lain yang asik melihatnya.
Mikael kembali mengambil ancang-ancang untuk melepar lemparan terakhir. Setelah dilemparkan, Mikael nampak tersenyum melihat benda incarannya akhirnya dia dapati yaitu TV.
Diarahkan matanya kearah sudut tenda. Dia nampak kaget tak mendapati sosok Wanita yang diikutinya sejak tadi.
Lantas dia segera menuju keluar dari keramaian itu. Abang yang ada didalam memanggil Mikael yang pergi begitu saja.
Saat keluar dari kerumunan, dia kaget melihat sosok yang dicarinya.
"Kak El.." ucap Al.
Mikael terdiam, dia bernafas lega mendapati sosok Wanita didepannya, tapi dia bingung berkata apa pada Wanita yang menatapnya.
Dari arah samping Pria yang tadi ada didalam tenda menghampiri Mikael. "Mas, bagaimana hadiahnya?" tanya Pria berotot itu.
Saat Mikael akan berkata. Dia melihat Al yang memegang lengan bajunya. Dia nampak menggelengkan kepala.
Mikael mengerutkan dahi mendapat isyarat Al.
"Tidak usah Pak.." jawab Al seketika.
"Suami saya hanya ingin bermain saja. Tidak apa-apakan jika tak diambil hadiahnya?" lanjutnya.
Bapak tersebut nampak senang dengan wajah bingung. "...tidak apa-apa.." balasnya.
Lalu Al dan Mikael meninggalkan tenda itu. Mikael masih bingung dengan sikap Al. Walaupun dia dari awal dia tak berniat mengambil benda itu. Tapi dia tak menyangkan Al benar-benar menolak TV dengan ukuran 40 inci.
###
Suasana hening menyambut Al dan Mikael saat masuk kedalam rumah.
Al membawa jinjingannya yang berisi jagung bakar kearah dapur, mencari sosok pemesan.
Sayangnya didapur tak ada seorangpun. Ditaruhnya bungkusan itu diatas meja makan. Dilangkahkan kakinya ke tempat cuci piring untuk mencuci tangannya. Setelah itu dia mengambil segelas air.
"Nona Al baru sampe.." ucap Wanita setengah baya yang lewat kearah dapur.
Al menengok kearah suara. "...iya Bi.." balasnya.
"Kakek sudah tidur, Bi?" tanya Al kemudian.
Mereka lalu berjalan kearah meja makan lalu mendudukinya.
"Iya Nona, Tuan Ibnu sudah tidur.." jawabnya setelah duduk.
"Kata beliau, jagung bagiannya disimpan. Besok beliau akan memakannya.." lanjutnya.
"Kalau gitu, Bi Rima temani Al ya makan jagungnya. Tadi Kak El beli 4.." ucap Al menyodorkan jagung kearah Bi Rima.
###
Sekembalinya dari menyantap jagung bakar. Al jalan kearah kamar.
Saat membuka pintu, dia kaget melihat sosok Mikael yang nampak sedang membaringkan tubuhnya diatas ranjang.
Dengan mengembangkan senyum Al menghampiri Mikael lalu duduk dipinggir ranjang.
"Malam ini Kakak temani Al!" serunya sambil tersenyum lebar.
"Tidak, aku hanya rebahan sebentar.." jawabnya.
"Lama juga gak papa kok.." balas Al.
Mikael yang rebahan lantas kembali duduk. "Keluarlah, aku ingin mengganti pakaian!" perintahnya.
Al mengiyakan lalu keluar dari kamar tersebut. Tak lupa, dia juga mengambil HPnya yang ada di meja.
Dia berjalan menuju kearah ruang tamu.
Disana dia membuka HPnya yang sejak sore tak dipegangnya.
Al kaget melihat 10 panggilan tak terjawab dari sahabatnya Via.
Saat dia ingin menelponnya, tiba-tiba masuk panggilan dari nomor tersebut. Al segera mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum Vi.." senyum Al.
"Wa'alaikumsalam," balasnya.
"Kamu kemana aja Al. Aku telponin daris tadi kok enggak kamu anggkat.." sambarnya cepat.
"Hehehe...maaf Vi. Sejak sore aku enggak megang HP.." balasnya.
"..fuuhh...kamu bikin aku mikir macem-macem!" serunya. Al hanya menyengir.
"Kamu kebiasaan selalu enggak megang HP bikin orang khawatir.." tuturnya.
"Maaf ya.." balas Al tersenyum.
"..oh ya Al, kita pindah ke vidiocall ya. Soalnya Ayah sama Mama mau lihat wajah kamu.." ucap Via.
"Oke, tapi aku mau ambil hadset ya.." balas Al.
"Sip.." sahut Via. Mereka lalu memutuskan panggilan masing-masing.
Al lalu berjalan kearah kamar. Dia langsung membuka pintu kamar. Matanya seketika membulat mendapat pandangan yang "WAW"
Dia segera membalikkan tubuhnya. "Maaf Kak.." ucapnya.
"Tidak apa-apa.." jawab Mikael santai. Dia lalu melanjutkan memakai bajunya yang tanpa lengan.
"Kakak sudah pake baju?"
"Sudah.."
Al kembali melihat kearah Mikael. Dengan mukanya yang sedikit memanas.
"Sebentar ya Kak, Al cuman mau ambil hadset.." ucapnya yang lalu menuju kearah tasnya.
Setelah memgambilnya Al segera berjalan keluar kamar dengan memegang pipinya.
"Kak El.." gumamnya mengingat tubuh bagian atas Mikael yang perfec.
Sampai diruang tamu, Al kembali menelpon Via. Tak berapa lama Via mengangkatnya.
Tapi kali ini wajah yang ada di kamera adalah wajah. Ayah dan Mamanya Via.
"Assalamualaikum Al.." salam Mama dan Ayahnya Via.
"Walaikumsalam.." balas Al sambil tersenyum bahagia.
"Gimana kabarmu Al. Gimana lebaran disana?" tanya Mama Via.
"Kabar Al, alhamdulillah baik Bu. Lebaran disini enak kok, rasanya seperti lebaran tahun sebelumnya.." balas Al.
"Jujur saja! Lebih enak lebaran dimarikan!" seru Ayahnya Via.
"Hemmm..sepertinya..sama saja. Kalaupun beda disini enggak ada Bapak sama Ibu.." balas Al. Mereka nampak tersenyum.
###
Mikael yang sudah mengganti setelannya dengan pakaian rumah. Dia lantas melangkahkan kaki ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok giginya.
Usai itu, dia berjalan kekamar Kakeknya yang ada disamping kamarnya.
Saat dia hendak membuka pintu kamar Kakeknya. Mikael mencoba mendorongnya beberapa kali, tapi tidak terbuka.
"Jangan-jangan Kakek menguncinya!" gumamnya dalam hati.
Diliriknya kursi yang ada didepan TV. Dia menggelengkan kepala melihat kursi yang hanya sepanjang setengah tubuhnya.
Dia lalu mengingat jika kursi yang ada di ruang tamu sepanjang tubuhnya.
Mikael kembali ke kamarnya mengambil bandal dan selimut dari dalam lemari lalu membawanya ke ruang tamu.
Disana dilihatnya Al yang sedang duduk dikursi singgle. Dia nampak sedang berbicara dengan seseorang dengan senang.
Mikael lalu berjalan menghampiri kursi panjang kemudian duduk disana.
Al yang sedang tertawa lantas diam karna kaget dengan sosok orang yang ada didepannya.
"Kenapa Al?" tanya suara disebrang.
"Tidak apa-apa, Bu.."
Mikael lalu memberi Al kode untu lanjut telpon di kamar. Al menginyakan lalu berjalan kearah kamar Mikael.
###
"Al, aku tutup ya telponnya. Mas Ilham ngajak aku bobo.." pamitnya.
"Iya, aku juga mulai ngantuk.." balas Al.
Setelah mengucapkan salam Al dan Via memutuskan panggilan.
Al lalu meletakkan HPnya disamping meja yang ada ditempat tidur.
Dia lalu berdiri kemudian keluar dari kamarnya.
Dilihatnya lampu ruang tamu masih menyala. Dia arahkan kakinya kesana untuk mematikannya.
Diruang tamu, dia melihat Mikael sedang tiduran sambil bermain dengan HPnya.
Dihampirinya Pria itu.
"Kak El tidur disini?" tanya Al ketika berada didekat Mikael, karna disana dia baru sadar ada bantal dan juga selimut.
Mikael yang sejak tadi fokus dengan HPnya. Dia kaget melihat Al yang sudah ada didekatnya.
"..iya...soalnya kamar Kakek di kunci.." jawabnya.
"Kalau begitu, Kakak tidur bareng Al saja.." usul Al.
"...tidak apa-apa, aku tidur disini saja.." balasnya.
"Mending sekarang kamu tidur, supaya besok, pag-pagi kita bisa pulang.." lanjutnya.
Al nampak masih diam ditempatnya. Tapi dia segera berdiri melihat suaminya yang meletakkan HP dan mencari posisi nyaman untuk tidur.
###
Suasana dingin semakin terasa. Mikael merabakan tangannya sambil dengan mata terpejam.
Seketika tangannya berhenti merasakan kain tebal. Dia lalu menariknya kearahnya sampai kedepan dada.
Saat tanggan ditaruh didepannya, dia merasakan tangan lainnya. Disentuhnya tangan asing itu dengan tangan kanannya.
Mikael lantas membuka matanya, dia membulatkan mata mendapati sosok mungil yang meringkuk tepat didepan tubuhnya.
Dimundurkannyalah tubuhnya. Dia juga melepas tangan kanannya yang memegang tangan Wanita disampingnya.
Mikael menelentangkan tubuhnya. Dia mengingat-ingat jika tadi malam, dia tidur di ruang tamu, tapi bagaimana bisa dia terbangun dikamarnya.
Ditenggokkannyalah kepalanya kearah Al yang tertidur sangat pulas.
Dia memperhatikan wajah Al yang nampak polos. Seketika tatapannya berhenti di bibir mungil Al.
Mikael segera mengalihkan matanya kearah leher Al. Seketika Matanya melebar, ketika menyadari belahan padat yang ada didalam baju tidur Al yang tanpa lengan.
Dialihkan kembali matanya kearah bawah. Sayangnya dia lagi-lagi mendapati pemandangan yang tak disangkanya yaitu paha putih mulus Al yang terpampang jelas.
Mikael semakin melebarkan matanya. Dia menelan salvinanya sambil meremas selimut yang menyelimuti ditubuhnya.
Dia segera membelakangi Al. Dia menarik nafas perlahan menghilangkan rasa debar dan panas yang mulai merambat.
"Bagaimana bisa dia berpakaian seperti itu, dia saat pintu tak dikunci.." batinnya.
Mikael seketika memperhatikan selimut single yang diremasnya bukanlah miliknya yang diambil.
Lantas dia membalikkan tubuhnya kearah Al. Dengan perasaan tak tenang dia kembali memperhatikan sosok didepannya yang entah mengapa sungguh menggoda. Membuat Mikael tanpa sadar menjulurkan tangannya, seketika dia kembali menariknya lalu melepaskan selimut ditubuhnya lalu nelimuti Wanita didepannya.
Mikael segera beranjak dari tempat tidur dan berjalan kearah pintu. Saat akan membukanya dia kaget melihat pintu yang terkunci dari dalam.
Tanpa memperdulikannya dia segera membuka kunci lalu keluar dari kamarnya.
Didepan pintu kamar, Mikael segera menuju kearah dapur untuk mengambil air minum.
Dia meminum satu gelas air dengan cepat dan berharap rasa panas dalam tubuhnya sirna.
"Kamu sudah bangun?" ucap suara yang mengagetkan Mikael yang sedang berdiri didepan kulkas.
"...Kakek.." ucapnya dengan wajah kaget.
"Kenapa kamu sekaget itu, seperti melihat hantu saja.." ucap Pria tua itu.
"..tidak apa-apa.." balasnya. Pria tua itu mengangkat sebelah alisnya lalu melanjutkan jalannya kembali.
"...kenapa Kakek mengunci kamar tadi malam?" tanya Mikael sambil mengikuti Pria tua itu.
"..maaf Kakek lupa," jawabnya tanpa bersalah.
###
Mikael yang berniat melanjutkan tidurnya dikamar Kakeknya. Ternyata tak sesuai dengan harapannya, karna alam mimpi tak menghampirinya.
Dia tetap terjaga dengan mata tertutup tapi pikirannya kembali ke prihal tadi, yang membuat hatinya tak tenang.
Flashback On
Malam itu, Mikael terbangun dari tidurnya karna udara dingin yang menyelinap dari sela dinding kayu rumah itu.
Tanpa sadar dia berjalan kearah kamarnya yang memang tak dikunci oleh Al. Dia berjalan kearah kasur lalu tidur diatasnya.
Seperti malam
Al yang sedang tertidur pulas, seketika terbangun dari tidurnya, karna suatu rutinitasnya setiap hari dikerjakan yaitu menjalankan sholat malam.
Saat membuka mata Al kaget melihat sosok Mikael yang ada disampingnya, karna tak mau menggangu tidurnya Al pun turun dari kasur dengan pelan-pelan.
Usai sholat, Al kembali ingin tidur karna jam masih menunjukan pukul tiga lewat sepuluh.
saat akan naik keatas ranjang, Al menyadari bahwa dirinya tidur mengenakan daster layaknya ema-ema.
Dia lalu membuka kopernya mencari baju tidur lainnya, Sayangnya hanya ada baju mini dress milik yang diberikan oleh Via.
Mau tak mau dia mengambil baju itu. Sebelum mengenakannya. Al mengunci pintu terlebih dahulu. Setelah itu baru menggantinya.
Usai mengenakan mini dresa, dia kembali naik keatas kasur. Dia menutupi bagian pahanya yang tefpampang jelas dengan selimut single dikasur itu.
(Sisanya ada divceeita diatas)
Dia baru tertidur dengan pulas sampai siang hari, ketika sudah masuk waktu dhuha.
Tinggaljan tanda untuk menyemangati SMIM, karna tandamu berharga.
Salam hangat SMIM