Friends After Marriage

Friends After Marriage
Episode Tambahan, menggantikan Al



Happy Reading!!!


Tuk tuk tuk tuk


"Haaahhh haahhh haaahhh"


Khuk khuk khuk


Diliriknya Wanita beranak dua yang sedang memotong sayur tersebut. Mata Wanita itu nampak sayu dan juga gerakannya tak segesit biasanya.


"Nyonya Al, sakit?" tanyanya dengan nada khawatir.


"...tidak kok Bi, hanya tenggorokanku terasa tak enak.." jawabnya tak lupa sambil tersenyum.


Wanita setengah baya itu lalu mendekati Wanita yang sedang memotong sayur. Punggung tangannya lalu di letakkan diatas jidat Wanita itu.


"Nyonya demam!" kagetnya. Dia merasakan panas di punggung tangannya


"Sebaiknya Nyonya istirahat, sisanya biar Bibi yang kerjakan.." ucap Wanita setengah baya itu.


"Tidak apa-apa kok, Bi. Al masih sanggup.." kekehnya yang merasa masih bisa melakukannya.


Al merasa, sakit seperti ini biasa di rasakannya. Palingan akan sembuh sendirinya jika dia melakukan aktivitas.


"..kalau begitu, Bibi saja yang potong sayurnya. Nyonya Al yang merebus ayam.." pinta Wanita setengah baya itu. Takut-takut Al salah memotong.


Al mengangguki setuju. Dia menaruh pisau yang ada di tangannya lalu berjalan kearah ayam yang akan di cucinya terlebih dahulu.


Acara masak berjalan lancar, empat macam masakan telah terhidang di meja makan.


Selesai melakukan aktivitas masak, Al melangkah ke lantai dua ke kamar Arsyad dan Rosyad.


"Arsyad, Rosyad.." panggilnya kearah anaknya yang sedang menggambar.


Dia lalu berjalan mendekati dua bocah itu yang ada di meja belajar kecil mereka.


"Wahhh gambar Arsyad sama Rosyad bagusnya!" puji Wanita itu kearah dua bocah yang terlihat senang.


Mereka lalu tersenyum sambil melihat gambarnya.


"Sudahan dulun gambarnya ya, waktunya mandi.." ujarnya menatap bergantian kearah dua bocah itu.


Mereka lantas menggelengkan kepala sambil memegang alat gambarnya.


"Arsyad belum gambar matahari sama pohon, Ma.." ucap Arsyad yang melihat gambarnya yang kurang beberapa objek.


"Rosyad juga belum gambar oranya.." sambungnya.


"Nantikan, bisa di lanjutin lagi. Sekarang mandi dulu, soalnya sebentar lagi sholat magrib.." kata Wanita itu memahamkan anaknya.


Mereka berdua nampak diam berfikir lalu menganggukan kepala setuju.


Kedua bocah itu lalu membereskan buku gambarnya kemudian berlari kearah kamar mandi. Tak lupa mereka melepas baju terlebih dahulu baru membasahi tubuh mereka.


Melihat dua bocah itu sudah didalam kamar mandi. Al melangkahkan kaki kearah almari. Dia mengambil baju dua bocah itu serta pakaian dalamnya.


Selesai itu dia masuk kamar mandi untuk memandikan dua bocah itu.


Dengan cepat dan teliti. Al bergantian memandikan Arsyad dan Rosyad. Dia terlebih dahulu menggosok badan Aryad setelah itu baru Rosyad. Sehabis menggosoknya dengan sabun dia segera membilasnya.


"aaaa dingin.." ucap Rosyad sambil memeluk handuk erat. Begitu juga Arsyad yang merasa dingin ketika keluar kamar mandi.


"Dikeringin dulu badannya, baru pakai bajunya.." kata Al mengingatkan karna Rosyad yang sudah memegang pakaiannya.


Al kembali membantu dua bocah itu mengeringkan badan. Setelah kering dia membalurkan minyak telon ke perut dan dada dua bocah itu. Setelah itu menaburkan sedikit bedak di pipi mereka.


Rambut mereka yang masih berantakan segera Al sisir dengan rapi.


Melihat kedua anaknya sudah rapi dan wangi. Al membaringkan tubuhnya diatas kasur. Dia merasa kepala mulai nya berat dan nafasnya terasa lebih panas.


Tin tin tin


Dua bocah yang mengenal suara klakson itu tersenyum, kemudian berlari kearah pintu.


"Arsyad, Rosyad, jalannya pelan-pelan.." ucap Al mengingatkan.


Dia lalu beranjak dari kasur, memakai kembali kerudung yang tadi sempat di lepaskannya setelah itu dia berjalan ke luar pintu.


* * *


Benar saja, saat Mikael masuk rumah dia mendapat serangan pelukan dadakan dari dua bocah itu.


Mereka meminta Mikael untuk menggendongnya di punggung dan juga didepan.


Mikael lalu berjalan sambil menggendong dua bocah itu. Di dapati Istrinya yang menghampiri dirinya sambil tersenyum manis.


Wanita itu terlebih dulu menyalim tangan suaminya, setelah itu dia mengambil tas yang dipegang suaminya.


Pria itu terdiam sejenak menatap kearah Istri. Dia lalu melihat kearah punggung tangannya yang terasa panas.


Dari belakang Al mengikuti suaminya yang menuju ke kamar.


Sampainya di kamar, Pria itu menurunkan dua bocah yang di gendongnya.


"Ayo siap-siap sholat, sudah adzan.." ucapnya kearah dua bocah itu.


Mereka menganggukan kepala mengiyakan. Sebelum pergi, tertelebih dahulu dua bocah itu mencium tangan Pria. Setelah itu, mereka pergi sambil berlari kecil ke luar kamar.


Al yang ingin mengikuti dua bocah itu keluar kamar, di pegang tangannya oleh Mikael.


Pria itu lalu menjulurkan tangan dan meletakkan punggung tangannya di jidat Al.


"Badanmu panas sekali!" ucapnya kaget.


"Tidak kok, Kak. Hanya panas biasa.." balas Al menenangkan suaminya.


Pia itu tau, jika itu bukan panas biasa. Tetapi panas tinggi, terlihat dari bibir istrinya yang baguan luarnya mengering serta matanya yang sangat sayu.


Inilah kebiasaan Al, jika sakit dia selalu bilang "tak apa-apa" atau "ini sakit biasa" atau lainnya.


Mikael paham, Wanita itu tak ingin membuat orang di kekelilingnya khawatir tapi dengan dia bersikap seperti ini orang pasti akan jauh lebih khawatir.


"Kalau begitu, sekarang kamu istirahat!" perintahnya menunjuk kearah kasur.


"..tapi nanti ya, setelah membantu anak-anak wudhu.." balasnya.


"No!" tegasnya.


"Kalau itu, Kakak aja. Sekarang kamu sholat setelah itu istirahat.." perintahnya mutlak tanpa ingin Al membantah.


Wanita itu mengiyakan. Mikael lantas segera ke kamar dua bocah tadi untuk membantu mereka berwudhu.


# # #


"Ibu Al hanya sakit demam biasa, Pak.." beritahu Dokter Wanita itu.


"Saya akan meresepkan obat untuk Ibu Al, jadi mohon istirahat dan makan makanan yang di rebus.." lanjutnya yang kemudian menuliskan resep obat.


Diluar kamar


"Terimakasih, Dok.." ucap Pria setengah baya itu yang menerima resep tersebut.


"Mari saya antar keluar.." ucap Pria itu yang lalu mengantar Ibu Dokter.


Mikael dan kedua bocah yang ada disamping Al nampak melihat Wanita itu dengan tatapan sedih.


Mikael yang sedang mengopres Al, nampak gemas dengan dua bocah itu yang menatap Al khawatir.


"Mama sakit apa?" tanya Rosyad yang berada disamping kiri Al.


"Mama hanya demam biasa.." balas Wanita itu tersenyum manis kearah anaknya.


"Tapi badan Mama panas bangat!" seru Arsyad yang berada disamping Rosyad.


Anak itu memegang tangan Al yang terasa panas.


Wanita itu kembali tersenyum lalu nenjawab, "Namanya juga demam, tentu panas sayang.."


Al lalu diam sejenak, berfikir kemudian berkata. "Kalau mau Mama cepat sembuh, Makanya Arsyad dan Rosyad doain Mama.." ujarnya.


Mendengar kata Ibunya, Arsyad dan Rosyad saling pandang. Kemudian mereka menghadap kiblat, kemudian mengangkat tangan.


"Ya Allah sembuhkan Mama, ya Allah.." ucap Arsyad memulai doa yang kemudian mereka berkata Aamiin


Mendengar panjatan doa dari anaknya yang sangat singkat membuat Al dan Mikael tersenyum.


Tapi hal itu barusan yang mereka lihat merupakan kebanggaan bagi pasangan itu.


"Yasudah, ayo ke kamar sama Papa. Biar Mama istirahat dulu.." ajak Pria itu yang mulai bangkit dari duduknya.


"Asryad, masih mau sama Mama.." tolaknya sambil menggeleng kepala.


"Aku juga.." sambung Rosyad yang mengikuti saudara kembarnya.


"Katanya mau Mama cepat sembuh. Nanti kalau Rasyad sama Rosyad disini, Mama gak bisa istirahat gara-gara kalian berisik.." ucap Mikael.


"Arsyad enggak berisik!" serunya mengunci mulut.


"Rosyad juga!" timpalnya yang juga ikut mengunci mulut.


Mikael lalu melihat kearah Al yang menganggukan kepala. Dia memberi kode, agar membiarkan dua bocah itu di kamar.


"Baiklah! Tapi janji ya kalian jangan berisik, Ok.." kata Mikael mengingatkan kearah dua bocah itu.


Mereka menganggukan kepala setuju. Drngan bibir satu sama lain mengatup.


Mikael lalu melihat kearah Al, "Aku pergi dulu ya, beli obat kamu.." izinnya yang lalu pergi dari kamar tersebut.


* * *


"Aakhh.." ringisnya merasa pusing di kepala.


Dia juga merasa, nafasnya serta badannya juga terasa jauh lebih panas. Tangan dan kakinya pun terasa pegal, membuatnya ingin mencopotnya sejenak.


Diarahkan iris matanya kearah dua bocah yang tertidur diatas kasurnya.


Dia mengelus pala mereka satu persatu, sambil tersenyum.


Flashback On


Orang dewasa, jika disuruh diam pasti hanya akan bertahan sekitar tiga puluh sampe satu jam. Tetapi bagaimana dengan anak umur enam tahun.


Baru saja tiga menit, setelah Mikael keluar kamar. Arsyad yang usil menyenggol lengan Rosyad.


Rosyad yang badannya lebih gemuk dari kembarannya, membalas menyenggol tubuh Arsyad sampai bocah itu terjatuh ke kasur.


Tak lama setelah senggol-senggolan. Mereka yang kembali bosan turun dari ranjang.


Mereka melihat sekeliling kamar mencari benda menarik untuk mereka mainkan.


Sayangnya, sepanjang mata memandang tak ada satupun gantungan atau benda menarik di kamar itu.


Karena tak menemukan apapun yang menarik, mereka lantas mencarinya di lemari dan laci.


Tapi, tetap saja. Mereka titak menemukan apapun yang menarik.


Awalnya, kejar-kejaran mereka dengan suara kecil. Tetapi lama-kelamaan mereka mulai bersuara kencang.


Al yang sejak tadi menutup matanya lalu membukanya. Dia tak bisa tidur sama sekali melihat kelakuan dua bocah itu.


"Aaaaaaa" teriak Rosyad karna saudara kembarnya akan menangkapnya.


Dia lalu berlari kearah sisi ranjang yang dekat dengan posisi Al berbaring. Bocah itu lalu tersudut dan tak sengaja memegang baskom, yang berisi air kompresan yang ada diatas meja kecil samping ranjang dan...


Byuuurrr


Air itu tumpah mengenai Al yang tertidur. Dua bocah itu nampak diam ditempat melihatnya.


Al lantas membuka matanya dengan berat. Dilihatnya dua bocah itu berdiri disamping ranjang dengan wajah bersalah.


"Mama, maaf.." ucap Rosyad yang ingin menangis.


"Maaf, Mama.." begitu juga Arsyad.


Al tersenyum, dia mengelus kepala dua bocah itu lembut.


"Tidak apa-apa, ayo bantuin Mama beresinnya.." ajak Al yang diangguki dua bocah itu.


Mereka berdua lalu membantu Al membersihkan ke kacauan tersebut.


Usai membersihkannya serta Al sudah mengganti baju, dia lalu meminta dua bocah itu berbaring diatas tempat tidur.


Al lalu memberikan cerita sebelum tidur seperti biasanya. Dia menceritakan tentang nabi atau sahabat yang sangat mereka suka.


Flashback Off


Al merebahkan tubuhnya. Merasa bibirnya sangat kering, dia lalu turun dari ranjang. Mengambil botol minum yang telah di sediakan diatas meja dekat jendela.


Cklek


Pintu terbuka, menampakkan sosok Mikael.


Pria itu lalu melihat Al yang berjalan dari arah jendela kemudian menghampiri Wanita itu.


"Kok kamu bangun?" tanyanya yang lalu membantu Al kembali ke kasur.


"Aku haus.." jujur Al.


Saat membantu Al merebahkan tubuh, dia melihat bantal dan juga kasur bagian Al basah.


"..kok basah.." gumamnya.


"..itu Kak, tadi air kompresan tumpah ke kasur.." ucap Al menunjuk wadah kompresan yang tak ada airnya.


Mikael kemudian, juga memperhatikan Istrinya yang bajunya berbeda dengan yang tadi.


Diliriknya kearah dua bocah laki-laki itu yang sedang tidur. Entah mengapa, Mikael paham apa yang terjadi.


"..yasudah kamu tidur sebelah sana saja. Nanti aku akan tidur di tengah-tengah.." ucap Pria itu.


Al menganggukan kepala. Dia lalu berjalan kearah sisi sebelah, kemudian merebahkan tubuhnya.


Sedang Mikael menggendong dua bocah itu di kedua tangannya.


Tak lama keluar, Bi Hilda datang membawa bubur, air dan obat.


Wanita setengah baya itu, segera menyuapi Al kemudian memberikannya obat yang tadi Mikael beli agar diberikan pada Al sehabis makan.


Mikael yang telah kembali dari kamar dua bocat tadi. Meminta Bi Hilda mengganti bantal yang basah serta melapisi kasurnya juga.


Saat malam hari, setiap dua jam sekali. Al selalu bangun untuk buang air kecil. Setelah itu dia kembali minum air yang disediakan. Dia meminum 750 ml setiap kali habis buang air kecil.


Esok paginya


Al masih sakit, membuat Bi Hilda mengurus dua bocah itu. Entah itu peralatan sekolah, pakaian, maupun makanan.


Wanita setengah baya itu, sedikit ke walahan untuk mengurusnya dua bocah itu. Pasalnya selama ini yang mengurus mereka Al, Wanita setengah baya itu hanya dimintai tolong untuk menjaga saja sesekali.


Seperti pagi ini, Rosyad berdrama karna tak ingin mandi.


Kini, Bi Hilda kembali di suguhkan drama lainnya. Arsyad yang tak ingin menghabiskan makanannya.


"Tuan muda Arsyad, ayo di habjskan dulu makanannya.." pinta Bi Hilda yang sejak tadi menyuapi Arsyad yang tak mau makan sendiri.


"Arsyad, sudah keyang.." ucap bocah itu lalu merapatkan mulutnya.


Merasa kasihan kepada Bi Hilda, Mikael lalu berkata pada bocah itu.


"Arsyad, ayo di habisin dulu buahnya.." ucap Mikael.


"Arsyad sudah kenyang Papa.." balas bocah itu.


"Arsyad, ayo dihabisin dulu, Rosyad saja sudah habis.." ucap Mikael.


Arsyad lalu mengambil piring buah miliknya yang ada ditangan Bi Hilda lalu memberikannya didepan Rosyad.


"Ini buat kamu Rosyad.." ucap bocah itu.


Rosyad yang doyan makan lantas menghabiskannya.


Melihay piringnya bersih, Arsyad lalu mengambil piringnya kembali lalu menunjukannya kearah Mikael.


"Sudah habis.." ucapnya sambil tersenyum kearah Mikael.


Mikael terdiam menggelengkan kepala.


Rasanya pemandangan Arsyad yang suka tak menghabiskan makanan sering terjadi.


Dia juga sering mendengar Al mengatakan perkataan agar bocah itu mau menghabiskan makanan. Tapi mengapa saat dia yang ingin dikatakannya tak keluar.


Selesai drama di pagi hari. Mikael lalu berangkat ke kantor. Dia mengantarkan dua bocah kembar itu terlebih dahulu dan juga Pak Usman untuk menjaga mereka.


# # #


"Haaaahhhhh capenya!" seru Mikael yang merasa lelah.


Di langkahkan kakinya kearah kamar, ingin rasanya dia mengadu prihal dua bocah itu pada Al.


Tapi dia segera menggeleng, dia tak ingin membuat istrinya kepikiran dan membuat tambah sakit.


"..assalamu'alaikum, Kak.." sapa Wanita didalam ke kamar dengan wajah segar dan senyum mengembang.


Mikael lantas segera menuju kearah Wanita itu.


"..wa'alaikumsalam.." jawabnya.


"Al kamu sudah sembuh.." ucapnya tak percaya.


Al menganggukan kepala mengiyakan.


Selama seharian ini, dirinya hanya bangun, tidur makan dan tidur kembali. Membuat dirinya merasa jenuh dan bosan.


Al memiringkan kepala menatap wajah suaminya yang sangat lesu.


"Wajah Kakak cape sekali, apa di kantor banyak pekerjaan?"


Mendengar pertanyaan itu, Mikael segera memeluk istrinya.


"Kenapa Kak?" tanya Al bingung.


Flashback On


"Arsyad, Rosyad. Jangan lari-lari nanti jatuh!" perintah Mikael yang melirik sekilas kearah dua bocah yang kejar-kejaran.


Tak lama setelah itu. Mikael dan Pak Usman yang meleng sebentar.


"Tuan Arsyad, Tuan Rosyad kalian ngambil kertas itu dari mana?" tanya Pak Usman yang melihat dua bocah itu membuat pesawat kertas.


Rosyad menunjuk kearah kertas yang ada di lemari. Nampak lemari yang berisi kertas itu sudah berantakan.


Dan kejadian-kejadian lainnya yang membuat dua Pria dewasa itu kewalahan.


Flashback Off


Al tertawa, dia tertawa bukan karna sikap anak-anaknya tetapi karna wajah suaminya yang lucu saat menceritakannya.


"Selama ini, setiap kali kamu ke kantor membawa Arsyad dan Rosyad. Mereka selalu anteng, makanya aku meminta Pak Usman membawanya.." ujarnya.


"..tapi aku tak menyangka, mereka benar-benar.." sambungnya yang terputus karna mengingat anak-anaknya yang tak mau diam.


Al tersenyum, dia menjukurkan tangannya kemudian memegang tangan suaminya.


"Mereka sebenarnya anteng kok, Kak. Asal kita tau caranya.." ucap Al.


"Saat anak-anak melakukan sesuatu yang menurut kita itu berbahaya atau bandel. Jangan sampai kita mengatakan tidak.." uajarnya.


"Maksudnya?" tanya Mikael tak paham.


"..contonya seperti ini! Ada anak kecil yang mencoret tembok, kita sebagai orang tua jangan sampai bilang 'Jangan di coret' karna yang anak dengar hanya kata coret, yang artinya di boleh mencoret.." jelasnya.


"Contoh lainnya, ada anak yang lari-larian. Sebagai orang dewasa kita jangan mengatakan 'Jangan lari' yanga anak dengar hanya kata lari yang membuat anak itu terus berlari.." kata Al memberi contoh kembali.


"Terus, harus berkata apa? Agar anak itu berhenti atau tak melakukannya?" tanya Mikael kembali.


"Kita harus menjelaskannya, dengan penjelasan sederhana.." jawabnya.


"Contohnya, kalau anaknya lari-larian kita bilang 'kalau lari-larian bisa jatoh lo, terus kalau jatoh nanti sakit. Kamu mau nanti kakinya sakit' seperti itu.." kata Al memberi contoh.


"Contoh lainnya, kalau anak coret tembok. 'temboknya bersih, kalau di coret nanti kotor. Kalau kotorkan jelek' seperti itu.." tambah Al memberi penjelasan.


Mikael nampak kaget dengan Al. Dia kagum akan penjelasan yang istrinya katakan.


Selama ini Mikael, hanya kerja kerja dan kerja. Dia menyerahkan seutuhnya soalnya anak pada Al. Membuat dirinya, buta akan mendidik seorang anak.


Pria itu nampak malu, sebagai Ayah dia gagal karna tak tau apapun untuk mendidik anak.


Al yang paham ekspresi suaminya lalu menangkup wajah Pria itu.


"Tidak ada kata terlambat untuk mendidik Kak. Arsyad dan Rosyad pasti akan membutuhkan peran Kak El, agar tau jati diri mereka.." ucapnya.


"Untuk awal, seperti sekarang memang Al yang mengajar, karna Al guru pertamanya. Tapi saat mereka sudah bertambah umur dan menginjak remaja. Kak El sangat berperan penting.." lanjutnya menatap dalam mata suaminya.


"Jadi, ayu kita belajar bersama-sama.." ajaknya.


Mikael terdiam mendengarkan setiap kata yang istrinya ucapkan. Dia benar-benar merasa bersyukur menikahi sosok Wanita seperti Al.


"Iya, ayo kita belajar bersama.." balasnya setuju.


Mikael memegang tangan Istrinya yang ada di pipinya.


Selamat membaca


Jangan lupa tinggalkan tanda, karna itu menyemangati SMIM.


Terimakasih


Salam hangat SMIM