
Kejadian tak terduga
Happy Reading!!!
Al baru saja menutup panggilan telpon dari Pak Usman. Saat melihat keluar jendela kejadian tak terduga terjadi. Sebuah motor terjatuh di jalan raya.
Ilham yang juga melihat kejadian itu. Langsung meminggirkan mobilnya lalu menghampiri orang yang terluka tersebut.
Tampak seorang Pria tua yang berdarah karna jatuh ke aspal. Pria tersebut terlihat tak sadarkan diri. Ilham segera meminta tolong pada Via untuk mengambil P3K yang ada didalam mobil.
Dokter Ilham langsung memeriksa keadaan korba. Sedang Al menekan pendarahan pada area kaki korban yang mengeluatkan banyak darah. Setelah Via memberikan kotak P3K. Ilham menggunakan sarung tangan terlebih dahulu baru mengambil perban untuk menghentikan pendarahan pada bagian kaki korban. Setelah itu dia lalu membawanya ke dalam mobil untuk dibawa ke rumah sakit.
"Dokter bagaimana motornya?" tanya Al. Al menunjuk kearah motor yang tersungkur.
"Motornya rusak tidak?"
"Tidak sepertinya.."
"Kamu bisa ikutin saya dari belakang dengan motor itu?" tanya Dokter Ilham. Al menganggukan kepala dengan percaya diri.
"Yasudah, Al hati-hati ya. Kamu ikuti saja mobilku dari belakang.."
Al lansung menuju kearah motor yang tergeletak di aspal. Dia dirikan motor tersebut lalu memperhatikan motor yang masih terlihat mulus tersebut.
Sesudah memasuki mobil Ilham memberi kode pada Al agar mengikutinya. Al segera menaiki motor, sebelum menjalankannya dia berdoa terlebih dahulu.
Saat perjalanan Al sedikit mengalami kesusahan membawa motor yang lumayan goyang stangnya. Tapi hal tersebut tak menganggu Al untuk melajukan motor.
Sampai di halaman rumah sakit Al terlebih dahulu memarkirkan motor yang ada di dekat UGD. Sedangkan dokter Ilham dan juga Via meminta tolong pada satpam agar diberikan ranjang rumah sakit.
Setelah mengangkat korban. Perawat dan juga dokter UGD segera menangani korba tersebut. Tersisalah Ilham, Via dan Juga Al yang sedikit bernafas lega. Tampak baju mereka yang terkena darah Bapak Tua itu.
Mereka tak langsung pulang. Melainkan menunggu korban yang sadar terlebih dahulu.
Akhirnya setelah 3 jam mereka menunggu korban sadar. Dia memberi tahukan kunci yang ada di HPnya baru memberitahu nomor istri dan anaknya.
Setelah menunggu 2 jam. Akhirnya keluarga korba datang. Istri korban terlihat sangat khawatir. Dia sangat berterimakasih pada Al, Via dan juga Ilham. Tak lupa Al juga memberitahu keberadaan motor suaminya yang rusak dan lebih baik diperbaiki sebelum digunakan. Setelah itu mereka pamit.
Tampak jelas raut wajah lelah mereka. Ilham yang sebagi cowok jentel menawarkan mengantar kedua wanita tersebut. Setelah sampai di gang Ilham menurunkan mereka. Ilham lalu pamit pulang.
Setelah kepergian mobil itu dari arah belakang muncul taksi. Al yang awalnya akan beristrirahat mengurungkan niatnya. Dia mengurungkan niatnya.
"Al benar kamu gak mampir dulu?" tanya Via.
"Benar Vi. Aku langsung pulang aja.." jawab al meyakinkan.
"Kamu hati-hati ya.."
"Iya Assalmualaikum.." ucap Al lalu memasuki mobil taksi yang telah diberhentikannya.
"Walaikumsalam.." jawab Via. Dia lalu melambaikan tangan kearah Al. Kemudian masuk kedalam gak rumahnya.
Al terlebih dahulu memberitahukan alamatnya pada supir taksi tersebut. Baru dia menyandarka tubuhnya yang terasa letih disandaran belakang.
Setelah perjalanan kurang lebih satu jam karna keadaan jalan masih sangat lenggang akhirnya Al sampai didepan pagar rumah. Dia segera membayar Bapak taxi kemudian mengucapkan terima kasih.
Dari luar pagar Al memanggil nama Pak Mamat penjaga rumah. Tak berapa lama Pak Mamat keluar dengan menggunakan baju koko dan sarung yang menampakkan beliau ingin melaksanakn sholat.
"Pak, maaf ya Al ganggu.." ucap al merasa tak enak.
"Enggak kok Nyonya, Bapak udah selesai sholat kok.." balasnya. Pak Mamat memperhatikan wajah Al yang tampak kusut.
"Nyonya terlihat cape sekali.." tutur Pak Mamat.
"Iya Pak, Al sedikit merasa lelah. Al kedalam dulu ya.." izinnya. Paka Mamat mengganggukan kepala.
Saat Al melewati Pak Mamat. Sekilas Pak Mamat melihat ada noda berwarna merah yang berada di lengan dan gamis bagian bawah Al.
"Apa Nyonya terluka?" batin Pak Mamat. Tapi segera dia abaikan dan yang dia beranggapan yang dilihatnya hanya ilusi semata.
Sebelum masuk rumah Al mengucapkan salam terlebih dahulu. Dia melangkah gontai menuju kamarnya yang ada di lantai 2. Seperti biasa sebelum masuk kamar dia sempatkan terlebih dahulu mengintip kearah pintu kamar Mikael. Al sedikit menyunggingkan senyum. Melihat cahaya dari cela pintu kamar itu.
Didalam kamar Al segera membersihkan dirinya. Usai itu dia memakai pakaian yang diambilnya asal dari dalam lemari. Lalu dia menuju kasur untuk merebahkan tubuhnya.
"Ahhh nyamannya.." Al menggeliat di atas kasur dengan selimut menyelimuti tubuhnya.
Tak berapa lama alam mimpi menyambut Al yang mulai terbuai akan empuknya kasur.
###
Mikael duduk di ruang tamu. Dia duduk diam disana sambil melihat saluran televisi. Tapi tak ada satupun saluran yang menyuri perhatiannya. Karna itu dia lebih memilih membaca koran pagi ini.
Dari arah tangga Bi Hilda turun membawa pakaian di dalam dekapan tangannya. Bi Hilda segera menaruh pakaian Al yang baru diambilnya lalu menghampiri Mikael.
"Tuan, ingin Bibi buatkan sesuatu.." tawar Bi Hilda.
"Secangkir kopi saja Bi.." ucap Mikael tanpa mengalihkan pandangan. Bi Hilda mengangguk lalu menuju kearah dapur.
Selesai membuatnya Bi Hilda meletakkannya diatas meja. Lalu izin kebelakang.
Mikael melirik kearah dapur. "Kemana Wanita itu. Tumben dia belum nongol. Biasanya pagi-pagi dia sudah bangun dan menyapaku.." batin Mikael.
"Sudahlah, ngapain gua mikirin dia. Entar dia juga paling nongol.." gumamnya kembali.
###
Tempat cuci pakaian.
Bi Hilda mengetahui ke pulangan Al tadi pagi. Dia melihat Al yang menaiki tangga dengan wajah letih.
Saat ke kamar Al tadi juga, Bi Hilda mendapati Al yang sedang tertidur dengan pulasnya di balik selimut. Bi Hilda enggan membangunkannya. Makanya dia ke kamar Al hanya mengambil pakaiannya yang terlipat didalam kamar mandi.
Bi Hilda menggebyarkan pakaian Al. Dia memperhatikan sebuat noda merah yang mulai menghitam ada di bagian bawah baju dan pergelangan tangannya.
"Nyonya sedang haid? Tapi kok kalau haid sampai sebawah ini merahnya terus kok bisa ke pergelangan tangan?" batin Bi Hilda bertanya.
Tapi Bi Hilda berfikir positif kalau itu mungkin darah haid nyonyanya.
###
Pak Usman dan Pak Mamat sedang menyantap sarapan mereka dengan segelas kopi di meja makan kecil yang ada di dapur. Mereka bercakap-cakap sambil menikmati singkong rebus yang masih hangat.
Bi Hilda yang baru selesai mencuci pakaian Al ikut menimbrung para Pria itu.
"Ibu dari mana, kok basah gitu?" tanya Pak Usman yang memperhatikan istrinya.
"Baru nyuci baju Nyonya Al Pak. Noda di baju Nyonya lumayan susah hilangnya.." tutur Bi Hilda.
Pak Mamat terdiam sejenak. Dia mengingat kembali akan noda yang dia lihat tadi pagi.
"Nodanya berwarna merah?" tanya Pak Mamat memastikan.
"Iya..Warna merah yang mulai menghitam.." ucap Bi Hilda.
"Apa nona terluka?" gumam Pak Mamat yang langsung mendapat teguran dari pasangan suami istri didepannya.
"Begini Pak Usman dan juga Bi Hilda. Tadi pagi saat saya membuka pagar. Wajah Nyonya tampak pucat dan lemas. Saya juga sama melihat noda merah ada di pakaian Nyonya Al. Tapi saya fikir itu hanya ilusi saya.." Jelas Pak Mamat.
"Tapi tadi saya dari kamar Nyonya. Beliau terlihat sangat pulas tidurnya dan wajahnya tak terlihat seperti kesakitan.." tutur Bi Hilda.
"Apa ibu melihat lengan nyonya Al?" tanya Pak Usman.
"Tidak Pak, semua tubuh Nyonya Al tertutupi selimut.." ucap Bi Hilda.
"Coba Ibu cek sekali lagi.." perintah Pak Usman. Bi Hilda segera menuju ke kamar Al.
Saat melewati ruang TV, Bi Hilda masih melihat Mikael yang berda di ruang itu sambil membaca koran harian.
Di kamar Al, Bi Hilda mendekat kearah Al yang sedang tertidur mengenyamping, membelakangi Bi Hilda.
Bi Hilda mengangkat pelan selimut Al yang berada di ujung. Seketika dia kaget melihat warna merah yang ada di kasur Al. Dia segera berlari dengan tergesa-gesa kearah Pak Usman.
"Pak, Nyonya Pak!" ucap Bi Hilda dengan panik.
"Di kasur Nyonya terdapat banyak darah.." tutur Bi Hilda. Pak Usman segera bangkit dari kursinya begitu juga dengan Pak Mamat.
Mereka kemudia menuju tangga ke kamar Al. Mikael yang masih berada di ruang tamu menghentikan mereka yang hendak menaiki tangga.
"Kenapa kalian terlihat terburu-buru?" tanya Mikael dengan mata yang masih melihat kearah koran.
Pak Usman lalu mendekat kearah Mikael dan berkata. "Tuan, tadi Bi Hilda mendapati darah di pergelangan dan baju bagian bawah Nyonya Al. Saat Bibi melihat ke kasurnya Bi Hilda juga melihat banyak darah di atas seprai Nyonya.." jelas Pak Usman.
Seketika Mikael kaget. Pantas saja Wanita itu tak muncul. Mikael pun juga menuju kearah kamar Al.
Bi Hilda membuka pintu terlebih dahulu baru memasuki kamar Al di ikuti Mikael. Sedangkan Pak Usman dan Pak Mamat menunggu di luar kamar.
Mereka mendekat ke arah kasur Al yang darahnya terlihat jelas karna masih tersingkap.
Fokus mata Mikael tertuju pada noda merah yang ada di kasur. Sedangkan tubuh Al masih tertutup selimut, hanya kepalanya saja yang terlihat.
Didekatkan dirinya kearah Al untuk menyingkap selimut yang menutupi tubuh Al. Saat selimut tersingkap Mikael mendapat pemandangan yang di luar dugaannya. Dia melihat tubuh Al yang hanya di baluti mini dress yang terlihat tipis, sampai-sampai pakaian dalamnya terlihat warnanya. Pandangan Mikael tertuju pada bokong Al yang terdapat banyak noda merah. Sedangkan Bi Hilda memeriksa bagian pergelangan tangan Al dan kakinya yang tak apa-apa.
"Di...dingin.." gumam Al degan mata terpejam. Dia meraba selimutnya untuk menutupi tubuhnya. Sayangnya dia tak mendapati selimut yang inginkannya membuat dia terpaksa membuka matanya.
Pandangan matanya tertuju pada selimunya yang ada di dekat kakinya. Dia lalu melentangkan tubuhnya dan duduk untuk menarik selimutnya. Tapi ujung matanya mendapatkan se sosok orang.
Al terkaget saat melihat Mikael yang saat ini berada di sampingnya. Begitu juga dengan Miksel yang masih terbengong memperhatikan kemolekan tubuh Al.
"Kakak.." gumam Al. Dia lalu membersihkan beleknya yang ada dimatanya. Dia juga merapikan rambutnya rambut panjangnya.
Bi Hilda yang ada di samping Mikael mendekat kearah Al. "Nyonya terluka?" tanya Bi Hilda merasa khawatir.
Al mengerutkan dahi mendengar ucapan Bi Hilda. "Tidak Bi, Al baik-baik saja.." tutur Al.
"Tapi Nyonya berdarah sangat banyak.." ucap Bi Hilda. Al mengikuti arah yang di tunjuk pada Bi Hilda.
Seketika wajah Al langsung memerah dan dia melihat ke arah Mikael yang masih diam berdiri memandang kearahnya.
"Bi boleh aku minta tolong katakan pada kakak agar menunggu di luar.." Al berbisik pada Bi Hilda.
Bi Hilda segera menghampiri Mikael yang masih diam di tempat. Mikael yang sebenarnya mendengar penuturan Al melihat memperhatikan wajah Al yang sedikit tertutup rambut. Tetapi guratan merah di wajahnya masih terlihat jelas. Mikael lalu keluar kamar.
Sekeluarnya Mikael Al langsung berlari kearah pakaiannya dan mengambil beberapa pakaian dan pembalutnya.
Al membersikan dirinya kembali dan keluar dengan pakaian baru. Bi Hilda masih menunggu Al di luar kamar mandi dengan khawatir.
Bi Hilda menghampiri Al yang baru keluar kamar mandi. "Nyonya tidak apa-apa kan?"
"Al tidak apa-apa kok Bi.." Al menuju kearah kasurnya dia menaruh selimutnya kebawah lantai dan melepas seprainya yang bernoda merah.
"Tapi Nyonya, Anda berdarah sangat banyak.." ucap Bi Hilda panik.
"Bi, itu darah haid Al.." ucap Al menenangkan. Bi Hilda langsung bernapas lega. Pikiran Bi Hilda sungguh kalut sampai tak terpikirkan hal itu.
"Tapi Nyonya, Kok bisa sebanyak itu.." ucap Bibi kembali.
"Iya, tadi Al lupa pake pembalut Bi.." cengir Al.
"Jadi darah yang ada di pergelangan baju yang nona pakai kemarin, juga darah haid.."
Al kembali menyengir. Dia lalu mengajak Bi Hilda duduk di kasur yang tak terkena haidnya. Dia lalu menjelaskan perihal darah yang ada dibajunya.
###
Di luar kamar. Pak Usman kaget melihat Mikael yang sudah keluar kamar. Tapi sayangnya tuannya tak berkata apapun dia malah pergi ke ruangan membacanya. Akhirnya Pak Usman harus sabar menunggu istrinya keluar.
Akhirnya setelah menunggu lama istrinya keluar sambil membawa seprai dan selimut. Bi Hilda lalu menceritakan perihal darah tersebut. Pak Usman nampak terlihat bernafas lega mendengar penuturan istrinya yang mengatakan Al tidak apa-apa.
###
Setelah dibantu Bi Hilda membersihkan noda darah pada selimut, seprai dan tentu pada bagian kasur yang di tiduri Al. Akhir Al bisa bernafas lega.
Dia menyesali perbuatan teledornya tadi pagi. Seandainya dia tadi pagi memakai pembalutnya terlebih dahulu pasti hal memalukan seperti tadi tidak terjadi. Ditambah suaminya melihat darah tersebut. Al mengingat jelas Mikael terpaku ditempat melihat Al yang berdarah seperti itu.
Al kembali menghela nafasnya kasar. "Setelah kejadian ini, Mas pasti jijik ngeliat aku.." batin Al. Dia memeluk kedua lututnya mengingat wajah terpaku suaminya.
'Tok tok' suara ketukan pintu di luar mengalihkan pikiran Al.
"Nyonya Al, Bibi masuk ya!" seru orang dibalik pintu.
"Iya Bi.." sahut Al.
Kemudian Bibi membuka pintu. Sambil membawa segelas teh hangat dan bubur yang dibuatnya.
"Nyonya Al, ayo makan terlebih dahulu!" Bi Hilda meletakkan nampan yang dibawanya keatas meja kecil samping tempat tidur Al.
"Makasih ya Bi.." ucap Al. Bibi memperhatikan Al yang tampak sangat lesu tak bersemangat.
"Nyonya sakit? Nyonya tampak tak bersemangat. Apa perut Nyonya sedang sakit karna masa haid?" tanya Bi Hilda khawatir.
Al menggeleng kepalanya pelan-pelan. "Al sehat Bi. Perut Al juga baik. Hanya saja Al malu mengingat kejadian tadi. Apa lagi Mas Mikael melihatnya.." jelas Al.
Bibi bernafas lega mengetahui Nyonyanya sehat. Bi Hilda terlihat tersenyum melihat rona merah di wajah Al. "Nyonya Al tak perlu malu...itu kan hal biasa yang dialami semua wanita.." ucap Bi Hilda.
Al paham maksud perkataan Bibi Hilda. Sayangnya ini kali pertama Al dilihat orang dalam keadaan berdarah-darah.
"Biklah Bi.." ucap Al kembali.
Kemudian Bi Hilda kembali keluar kamar Al. Sedang Al menyantap bubur yang nampak menggiurkan itu, karna sejak pagi dia belum mengisi perutnya sama sekali.
###
Matahari senja menembus masuk melalui jendela kamar. Al memandang kearah jendela. Ingin rasanya dia keluar dari kamar ini, tetapi dia enggan. Dia lebih memilih didalam kamar sambil membaca buku.
Mungkin untuk hari ini dia berniat akan berada didalam kamar seharian. Sedang besok dia akan kembali seperti biasa.
Tapi Al menyangi perbuatannya. Dia jadi tak bisa memandang suaminya. Padahal hanya hari pekan suaminya berada disini.
Suara ketukan pintu. Menghentikan lamunan Al. Setelah Al mengizinkan masuk, orang yang berada di balik pintu membukanya pelan.
Al kaget melihat sosok yang tak disangkanya masuk kedalam kamarnya, yang tak lain Mikael. Setelah semua tubuhnya masuk dia kembali menutup pintu kamar Al.
"Mas.." Bibir Al tanpa sadar mengucapkan hal itu.
Mikael melihat kearah Al tajam. Dia memperhatikan Al yang saat ini memakai daster dengan rambut yang disanggul seperti Bo jamu. Tapi hal tersebut membuat leher Al terlihat jenjang.
"Kak Mikael.." Al berucap dengar suara yang lebih keras tapi lembut. Mikael kembali mendekat kearah Al sampai berdiri tempat disamping ranjang Al.
Mikael hanya melihat kearah Al tanpa berkata. Hal tersebut sungguh menyesakkan Al yang sesekali menunduk dan sesekali melihat kearah Mikael.
"Bersiap-siaplah!" perintah Mikael. Setelah mengatakan hal tersebut. Pria itu langsung keluar dari kamar Al.
Al langsung bernafas lega. Saat Mikael keluar dari kamarnya.
"Bersiap-siap?" Al mengulang kembali perkataan Mikael.
"Apa Mas mau ngajak aku pergi!" gumamnya. Al menggurat senyum senang. Dia segera beranjak dari ranjangnya dan segera menuju ke kamar mandi.
(Jangan lupa VOTE, tekan tanda ini π, comment πdan Reting πππππ ya...)
############################################################
Maaf ya jika banyak typo...
Jangan lupa comment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.
Dan tinggalkan tanda hati.
Jangan lupa vote yang teman-teman.
Saya juga nulis cerita yang judulnya UHIBBUKI jangan lupa mampir ya.....
Terimakasih