
Panggilan Al
Happy Reading!!!
Sejak pagi keadaan Pak Usman masih seperti semalam. Masih tampak lemah tak bertenaga.
Bi Hilda sudah mengajaknya untuk ke rumah sakit. Tapi Pak Usman selalu menolak. Dia selalu mengatakan, setelah istirahat kondisinya akan pulih. Sayangnya tidak.
Oleh sebab itu sorenya Bi Hilda memaksa Pak Usman untuk pergi ke klinik. Karna Pak Mamat tadi pagi izin untuk pergi menghadiri acara pernikahan keponakannya. Pak Usman dan Bi Hilda ke klinik menggunakan taksi.
###
Mikael menghabiskan 4 minggu lebih di Paris. Pulang dari sana seperti janjinya pada Kakeknya, dia mengunjungi Pria Tua itu. Tapi dia hanya semalam berada disana.
Mikael melihat ke arah jalan. Seketika dia sadar jika mobilnya menuju kearah rumahnya, bukan ke apartemennya. Karna jaraknya ke rumah lebih dekat. Mau tak mau dia mampir ke tempat itu.
Sampainya didepan pagar, Mikael menunggu untuk dibukakan pagar. Sayangnya tak ada tanda-tanda yang akan membukakan pagar.
"Kemana Pak Mamat?" batin Mikael.
Dia lekas turun dari mobilnya. Melihat pagar rumahnya yang masih tertutup rapat. Di masukan tangannya kedalam pagar untuk membuka slot pintu pagar.
"Digembok?" gumamnya. Mikael segera kembali ke mobil untuk mengambil kunci cadangan miliknya yang ada didalam tasnya.
Setelah membuka lebar pagar, Mikael kembali kedalam mobil lalu memarkirkan mobilnya.
Dari halaman terasa suasana sepi, menyelimuti kediamannya yang sudah di tinggalkannya selama sebulan.
Sehabis menutu dan mengunci pagar kembali. Dia segera mengeluarkan tas jinjing, kopernya dan juga satu godi bag sedang.
Mikael yang akan memasuki rumah. Mendorong pintu yang ternyata di kunci juga. "Tidak seperti biasanya pintu rumah di kunci?" batin Mikael kembali.
"Apa tidak ada orang di rumah?" tanyanya dalam hati.
Dia lekas membuka pintu rumah. Suasana sepi menyambutnya. Sensasi yang dirasakannya berbeda saat masuk ke rumah saat ini. Bagaimana tidak, biasanya selama ini Al selalu menyambutnya ketika dia pulang ke rumah, tapi kali ini tidak.
Mikael lekas kembali mengunci pintu rumah lalu melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya.
Saat melewati kamar Al, dia sempat berhenti sejenak. Mikael mengulurkan tangannya mendekati gagang pintu. Tapi saat tangannya menempel di gagang pintu dia segera menariknya kembali lalu menuju kamarnya.
###
Taksi berhenti tepat didepan pagar rumah. Dari luar pagar, pasangan yang baru saja turun dari taksi dapat melihat jelas lampu rumah yang sudah menyala, menandakan didalam sudah ada orangnya.
"Pak Mamat tidak jadi pulang?" gumam Pak Usman.
"Sepertinya, Pak.." sahut Bi Hilda.
Mereka lekas membuka pintu pagar. Saat masuk kedalam, Pak Usman kaget melihat mobil di halaman.
"Bu, Bapak kedalam duluan. Ibu yang kunci pintu ya.." ucap Pak Usman.
"Baik, Pak.." balasnya.
Setelah membuka pintu rumah. Kunci kembali diberikan pada Bi Hilda.
Pak Usman langsung menuju ke arah tangga. Saat sampai di ruang TV, ternyata dugaannya benar. Sosok Tuannya sedang duduk di ruang TV sambil menonton acara komedi.
"Tuan Mikael.." sapa Pak Usman.
Mikael yang menghilangkan kebosanannya dengan menonton TV sambil memakan cemilan, mendengar panggilan dari sosok Pak Usman yang sudah ada disampingnya.
"Pak Usman sudah datang.." ucapnya. Dia menoleh sebentar kearah Pak Usman. Setelah itu dia kembali menatap layar besar itu.
"Tuan sudah sampai sejak tadi?" tanya Pak Usman.
"Iya, saya sampai tadi sore.." jawab Mikael. Dia kembali asik mengunyah makanan sambil menonton acara komedi.
Pak Usman kembali diam. Dia bingung ingin berkata 'apa' pada Tuannya ini.
"Dari mana Pak? Tidak seperti biasanya, rumah tak ada orangnya.." ucapnya. Dari perkataan Mikael ini Pak Usman dapat mengetahui maksud Mikael.
Biasanya jika di rumah tak ada orang, Pak Usman pasti akan mengabarkan pada Mikael. Tapi sayangnya tadi dia lupa untuk memberitahu Mikael karna kondisinya.
"Begini Tuan, Pak Mamat tadi pagi izin untuk menghadiri hajatan keponakannya besok. Sedangkan saya dan Bi Hilda tadi pergi ke klinik.." balasnya.
Setelah mendengar perkataan Pak Usman yang mengunjungi klinik. Dia segera menoleh kearah Pak Usman. "Apa anda sakit, Pak?"
"..Saya hanya lemas, Tuan. Jadi saya tadi meminta Vitamin agar kembali segar.." ucapnya.
Mikael memperhatikan wajah Pak Usman yang masih sedikit pucat. Apalagi daerah bibirnya yang putih dan pecah-pecah.
Bi Hilda yang baru masuk setelah mengunci pintu. Segera menghampiri ruang TV yang terdengar suara orang bercakap-cakap.
Dia lalu menghampiri Pak Usman yang sedang berdiri disamping Mikael. "Ada apa, Pak?" ucapnya tanpa suara. Pak Usman membalasnya dengan gelengan kepala.
"Baguslah jika Pak Usman tak apa-apa! Pak Usman beristirahatlah!" perintah Mikael.
"Baik Tuan, terimakasih.." balasnya. Setelah Mikael menganggukkan kepala Pak Usman mengarahkan kakinya ke kamarnya.
Bi Hilda yang tak Paham. Lantas bertanya pada suaminya ketika sampai di dapur.
"Ada apa, Pak?" tanyanya kembali.
"Tidak ada apa-apa. Tuan hanya bertanya mengapa rumah sepi." jawab Pak Usman.
Bi Hilda langsung mendekati Pak Usman lalu berbisik. "Apa Tuan menanyakan prihal Nyonya Al?" tanyanya.
"Tuan tidak bertanya.." jawab Pak Usman lalu pergi ke kamarnya. Dia tak begitu memahami perkataan Bi Hilda karna badannya masih begitu lemas.
Bi Hilda seketika bernafas lega. Sampai sekarang Bi Hilda belum memberitahu prihal Al yang posisinya saat ini tak diketahui.
Di ruang tamu, Mikael masih bertanya-tanya prihal Al. Biasanya, tanpa ditanya Pak Usman akan mengatakan prihal Wanita itu. Tapi kali ini tidak.
###
Bi Hilda yang bersiap akan tidur, mendengar panggilan dari ponselnya yang ada didalam tas. Lantas dia segera mengambil benda itu.
Nama panggilan di layar sungguh membuat Bi Hilda kaget. Tanpa menunggu dia langsung mengangkat telpon tersebut.
"Assalamu'alaikum.." salam suara Wanita disebrang.
"Wa'alaikumsalam.." jawabnya. "Nyonya Al ada dimana sekarang? Nyonya sehat-sehat kan?" tanya Bi Hilda khawatir dengan nada pelan. Agar tak menggangu Pak Usman yang sedang tidur.
"Karna, ketika sampai di Solo Al sama sekali gak buka HP. Al baru saja membuka HP, Al kaget melihat panggilan dan pesan dari Bi Hilda. Makanya Al langsung menelpon, Bibi.." lanjutnya.
"Bibi tenang jika Nyonya Al baik-baik saja.." ungkapnya. "Tapi, mengapa Nyonya tak memberi catatan yang seperti Bibi lakukan, jika Nyonya pergi ke rumah teman Nyonya Al.." ungkap Bi Hilda.
"...Al sudah memberikan pesan, Bi!" serunya.
"...tapi Bibi sama sekali tak menerima pesan Nyonya Al. Memangnya Nyonya menulis pesannya dimana?" tanya Bi Hilda bingung.
"Al menulisnya dibelakang pesan Bi Hilda untuk Al. Di kertas note berwarna putih yang ada di meja makan dibawah piring.." jelas Al.
Bi Hilda seketika ingat kertas yang di lihatnya sekilas. Tapi saat itu dia berfikir jika itu kertas miliknya. Makanya dia mengabaikan kertas itu.
"...Nyonya, Bibi tidak baca pesan Nyonya karna Bibi pikir itu pesan Bibi. Maafkan Bibi ya.." tuturnya.
"Iya Bi, tidak apa-apa. Al juga salah, seharusnya Al mengirim pesan juga pada Bibi.." balas Al.
Setelah bercakap-cakap lumayan lama. Akhirnya mereka memutuskan sambungan karna hari sudah sangat malam.
###
Di ruang makan yang cukup luas. Ada seorang pemuda tampan yang sedang makan seorang diri. Dia tampak tidak terlalu menikmati makanannya.
Sesekali kadang matanya berkeliaran mencari sosok yang ingin di lihatnya. Tetapi sayangnya yang dilihatnya adalah Wanita yang bekerja di rumah yang sejak tadi mondar mandir membersihkan rumah.
Ingin rasanya Pria itu bertanya mengenai sosok yang dicarinya. Tapi sayangnya dia mengingkari perasaannya dan lebih memilih bertanya-tanya didalam hati.
Ya Pria muda itu adalah Mikael sedangkan sosok yang dicarinya adalah Al.
Mikael merasakan perasaan sepi di rumahnya sendiri. Padahal selama bertahun-tahun dia selalu makan seorang diri dan tak merasakan apapun.
Awalnya kehadiran Al sangat mengusik pagi Mikael yang suka ketenangan. Tetapi seiring berjalannya waktu dengan sikap terbuka Al dan periangnya yang selalu muncul ketika berada didekat Mikael membuat pria itu kecarian sosok Wanita itu.
Pagi ini Mikael sudah siap berangkat ke kantor. Saat melangkahkan kaki kearah tangga dia melirik sekilas kearah pintu kamar Al.
Dihalaman, tampak Pak Usman sudah rapi. Dia sedang menunggu Tuannya untuk berangkat kerja.
"Selamat pagi, Tuan.." sapa Pak Usman.
"Selamat pagi.." Mikael memperhatikan wajah Pak Usman yang sudah segar tak sepucat malam itu.
"Hari ini saya akan pergi ke kantor seorang diri! Bapak beristirahatlah hari ini!" seru Mikael.
"...terimakasih Tuan. Tapi saya sekarang sudah jauh lebih sehat, jadi saya bisa mengantar Tuan.." ucap Pak Usman. Karna kemarin dia tidur seharian penuh. Itu sudah lebih dari cukup untuknya beristirahat.
Mikael menatap Pak Usman. Pak Usman yang paham arti tatapan Mikael berkata. "Baiklah Tuan," ucapnya.
Mikael menganggukkan kepala. Dia lalu masuk kedalam mobil yang dibukakan oleh Pak Usman.
Sebelum menutup pintu mobil Pak Usman kembali berkata. "Tuan, hati-hati di jalan! Dan terimakasih!" ucapnya. Mikael hanya tersenyum tipis membalas perkataan Pak Usman.
Mikael lalu melajukan mobil keluar dari halaman. Pak Usman kembali senyum melihat sosok Tuannya yang sebenarnya perhatian walaupun sikapnya dingin.
###
Al baru saja turun dari bis. Dia melihat jalanan yang dipadati oleh kendaraan yang lalu lalang.
Dia segera memegang kopernya lalu mendorongnya menuju kearah perumahan tempatnya tinggal.
Sampainya di depan.pagar Al membuka dan mendapati sosok Pak Usman yang sedang menyapu halaman.
"Assalamu'alaikum.." salam Al yang memasuki halaman.
"Wa'alaikumsalam.." Pak Usman kaget melihat sosok Al yang ada di halaman sambil memegang koper.
"...Nyonya Al mau kemana?" tanya Pak Usman. Dia menghampiri sosok Al.
Al tersenyum mendengar perkataan Pak Usman. "Al, mau masuk kedalam rumah.." jawabnya. Pak Usman mengerutkan dahi mendengar ucapan Al.
Bi Hilda yang dari dalam membawa segelas teh manis untuk Pak Usman senang melihat sosok Nyonyanya yang sudah sampai.
"Nyonya Al sudah sampai.." sapa Bi Hilda.
Al segera menuju ke sumber suara. Dia tersenyum membalas senyuman Bi Hilda. "Iya Bi.."
Pak Usman yang bingung akan kondisi itu melihat kearah Bi Hilda. Bi Hilda hanya tersenyum melihat tatapan suaminya.
###
"Jadi, sejak kemaren Nyonya Al berada di Solo!" seru Pak Usman setelah mendapat cerita lengkap dari Bi Hilda dan Al.
"Iya Pak.." sahutnya. "Sekarang bagaimana kondisi Pak Usman? Sudah sehatkan Pak?" tanya Al.
"Alhamdulillah sudah baikan, Nyonya.." balasnya.
"Oh iya Pak, apa Kak El tanya tentang keberadaan Al?"
"Tidak Nyonya," jawabnya. Al seketika berwajah sedih.
"Memangnya Nyonya Al tidak izin dengan Tuan?" tanya Pak Usman kembali.
"Tidak Pak," balasnya lemas. Karna di awal perjanjian Mikael memberikan Al kebebasan kemana saja. Itu membuat Al lupa untuk sekedar memberi pesan pada suaminya. Karna kebanyakan pesan yang dikirimnya tidak dibaca oleh Mikael.
"Yasudah deh Pak Al keatas ya mau istirahat, karna nanti siang Al akan berangkat kerja.." izinnya diapun pergi ke atas.
(Jangan lupa VOTE, tekan tanda ini π, coment πdan Reting πππππ ya...)
############################################################
Maaf ya jika banyak typo...
Jangan lupa coment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.
Dan tinggalkan tanda hati.
Jangan lupa vote yang teman-teman.
Saya juga nulis cerita yang judulnya UHIBBUKI jangan lupa mampir ya.....
Terimakasih