Friends After Marriage

Friends After Marriage
Kembali



Happy Reading!!!


Suasana nampak sudah sangat larut, para karyawan di Klinik Asyifa akan bersiap-siap pulang.


"Al, aku pulang duluan ya.." ucap teman sekosannya dulu, Shofi.


"Iya, Kak. Hati-hati dijalan.." balas Wanita yang sedang melepas maskernya.


Wanita itu kembali bersiap-siap, dia mengeluarkan HP dari saku lalu melihat tanda pesan masuk yang tak ada.


"Sepertinya Pak Usman tak menjemput?" batinnya bertanya.


Dia kemudian mendudukkan tubuhnya di kursi ruangan tersebut lalu menghembuskan nafas panjang.


"Haaahhhhhhhh.."


Dialihkan matanya kembali ke layar ponselnya lalu masuk kedalam bingkai galeri.


Wanita itu tersenyum melihat foto dirinya, suaminya dan Pak Ibnu. Tak lama senyum itu memudar, memperlihatkan raut wajah yang sedih.


Wanita itu nampak galau karna sudah satu minggu, suaminya tak pulang ke rumah. Mungkin jika hanya hal tersebut sudah biasa, tapi sejak hari dimana mereka pulang, suaminya nampak diam. Begitu juga saat perjalanan pulang.


Sampainya di rumah, Pria tersebut hanya menurunkannya lalu pergi tanpa berkata sepatah katapun.


Saat mengetahui Pak Usman akan berkunjung ke apartemen Mikael.


Wanita itu lantas segera memasak masakan kesukaan suaminya, lalu menitipkannya pada Pria setengah baya itu untuk diberikan pada Pria itu.


Sepulangnya Pria setengah baya itu, tak ada kata ataupun pesan apapun dari suaminya.


Membuat dirinya semakin bingung dan takut telah membuat suatu kesalahan yang membuat Pria gondrong itu tak senang.


"Aku rindu!" serunya.


Diarahkan matanya kearah jam yang menunjukan pukul sepuluh lewat duapuluh menit.


Karna merasa sudah lama duduk, Wanita itu lantas kembali berdiri. Dia memakai cadarnya lalu menyelempangkan tasnya.


'Tap tap tap' suara langkah kaki Al bergema, memenuhi lantai dasar yang nampak hening tersebut.


Sampai didepan pintu, dia melihat sebuah mobil ceper hitam.


Dirinya tak menyangka akan dijemput, karna tak ada pesan dari si penjemput.


"Pak Usman pasti sudah lama sampai.." gumam Al dalam hati. Dia lantas mempercepat langkah kakinya mendekat kearah mobil itu.


'Tok tok tok'


Ketuk Al pada kaca mobil reben tersebut.


'Geerriiiittty..' suara kaca yang turun.


"Maaf ya Pak, Al lama keluarnya. Al fikir, Pak Usman tak menjemput.." ucapnya yang kemudian terdiam karna baru menyadari jika Pria didalam mobil bukanlah Pak Usman melainkan habibinya.


###


'Tuk tuk tuk' suara ketukan meja memenuhi ruangan tersebut.


Pria tampan itu mengetukkan jari telunjuknya sambil memandang kearah rantang dan kunci mobil didepannya.


Hatinya saat ini nampak bimbang, memilih antara kembali ke rumahnya atau tetap berada di apartemennya.


Tapi, egonya menyuruhnya untuk tetap disini sedangkan hatinya condong untuk kembali, karna rasa rindu pada Wanita halalnya.


"Kenapa lo mesti bimbang El, bukannya lo rindu pada Wanita itu.." gumamnya.


"..walau lo sebenarnya kesal, karna selama ini dibohongi, tapi Wanita itu tak sepenuhnya salah. Dia hanya mengikuti perintah Kakek lo.." lanjutnya.


Mikael lalu menautkankan gigi bawah dan atasnya yang kemudian lantas beranjak dari tempat duduknya lalu meraih kunci mobil dan rantang kosong tersebut.


Dia lalu berjalan kearah pintu apartemen kemudian membukanya. Dilangkahkan kakinya dengan mantap, mendekat kearah lift.


Didepan lift yang tertutup, dia menatap dengan tak sabar kearah angka yang tertera.


Tak lama, akhirnya lift terbuka, menampakkan wajah Wanita muda cantik dengan khimar panjang dan Pria muda tampan yang berada disamping Wanita itu. Mereka adalah tetangga apartemennya yang tak lain adalah sahabat dari istrinya.


Mikael lantas menunggu dua orang tersebut keluar. Dia menganggukan kepalanya sekilas kepada dua orang itu, setelah itu baru masuk kedalam lift.


Via membalas sekilas anggukan kepala Pria yang masuk kedalam lalu kembali berjalan kearah rumahnya, dia kemudian berhenti karna menyadari adeknya yang masih terdiam.


"Kamu kenapa?"


"..ahh.." sadarnya yang lalu berjalan mendekat.


"Tidak apa-apa, Kak.." senyumnya.


"Kamu kenal dengan Pria tadi?" tanyanya.


"Pria yang masuk lift tadi?" kata Ahmad yang diangguki Via.


"..tidak begitu kenal, yang kutau dia tetangga apartemen kita. Tinggalnya disana.." tunjuknya kearah pintu apartemen didepan yang menghadap lift.


"..ahh tetangga ya.." gumam Via.


"Rupanya dia tetangga sebelah, kufikir Pria yang tak sengaja berpapasan denganku atau..." batinnya karna dia mengingat beberapa waktu lalu Pria hitam berambut pendek pernah keluar dari apartemen itu dan beberapa bulan lalu juga Pria berambut pirang dan coklat bersama dua Wanita berbaju minim yang dilihatnya saat pagi hari.


###


'Bbrrmmmm'


Mobil hitam ceper nampak membelah jalan perumahan yang nampang lenggang itu.


Tak lama mobil itu berhenti tepat dikediaman dengan pagar berwarna hitam.


Orang yang ada didalam pagar lantas bergegas membuka pagar begitu mendengar suara klakson dari luar.


Pagar lalu terbuka lebar, mempersilahkan pemilik pengendara masuk.


Usai menutup kembali pagar, Bapak setengah baya itu. Segera menghampiri sipengemudi yang sedang keluar dari bagian pengemudi.


"Selamat malam, Tuan.." senyumnya lebut kearah Pria yang sudah keluar seutuhnya.


"..selamat malam.." balasnya lalu lalu mengganggukan kepala sedikit kemudian melangkahkan kakinya kearah pintu masuk.


Saat membuka pintu, dirinya tak melihat sosok Wanita yang dirindukannya, dia lantas melanjutkan langkahnya masuk kedalam runga TV.


Tetapi hasil nihil, disana sama tak ada Wanita itu. Membuatnya memilih duduk di sofa tempat menonton TV.


Disisi lain, Pak Usman nampak keluar dari kamarnya, dia berjalan kearah depan.


Dihalaman dia melihat 2 mobil hitam yang salah satunya merupakan mobil Tuannya.


Menyadari Tuannya pulang dia lantas berjalan kembali kedalam rumah, didapur dia melihat istrinya yang sedang membuat minuman.


"Bu, itu minuman untuk Tuan Mikael?" tunjuknya kearah teh hangat yang siap diantar.


"..iya Pak," balasnya lembut.


"Mari, Bapak yang mengantarkan ke Tuan Mikael.." pintanya yang diangguki istrinya.


"..Pak, Tuan Mikael ada diruang TV ya.." beritahunya. Pria itu membalas dengan anggukan.


Pria setengah baya itu lalu membawa segelas teh hangat kearah tempat yang diucap si pembuat teh.


Disana dilihatnya Tuannya duduk sambil menatap kearah HPnya.


"Tuan, silahkan tehnya.." ucapnya sambil meletakkan gelas keatas meja.


Mikael mengalihkan kepalanya kearah Pak Usman lalu menganggukan kepalanya.


"Saya senang, Tuan pulang!" serunya bahagia karna terlihat dari raut wajahnya yang berseri-seri.


Pria itu lalu melirik kearah dinding yang sudah menunjukan pukul 9 malam.


"Tuan, saya izin keluar ingin menjemput Nyonya Al.." pamitnya pada Mikael.


"Menjemput Al?" tanya Mikael bingung. Dia lalu melirik sekilas kearah Pak Usman.


"Iya Tuan, Nyonya hari ini bekerja dan mendapat shift malam.." beritahunya.


"Bukankah, seharusnya hari ini Al libur!?" tanya Mikael kembali.


"..memang Tuan, biasanya hari ini Nyonya libur.." balasnya.


"..tapi karna minggu lalu Nyonya mengambil cuti, saat pergi ke rumah Pak Ibnu. Kakek Tuan Mikael, jadi hari ini Nyonya menganggantikan cutinya.." jelasnya yang dipahami Mikael.


Pria berambut gondrong itu lalu menghabiskan teh yang ada dicangkir kemudian berkata,


"..biar saya saja yang menjemput Pak.." katanya.


Mikael lantas beranjak dari posisi duduknya kemudian melangkah kearah pintu keluar.


Pak Usman nampak masih terbengong mendengar ucapan Tuannya yang tiba-tiba ingin menjemput Al.


###


Selama perjalanan tak ada percakapan dari dua sejoli itu.


Membuat Al terdiam diluar pintu, memilih antara mengetuk atau tidak, tetapi suaminya menyuruh untuk ke kamarnya yang berarti Al harus menurutinya.


Dengan memberanikan diri Al mengulurkan tangan lalu mengetuknya.


Tok tok tok


"..Kak, Al masuk ya.." seru pelan Al dari luar pintu.


Dia lalu menekan gagang pintu kemudian membukanya.


Wanita berkerudung itu segera membalikkan tubuhnya kembali kearah pintu.


Dadanya berdegup kencang, mendapati pemandangan yang takdisangkanya.


Sedang Pria yang berjalan itu, mengalihkan matanya kearah Al. Dia menatap bingung kearah Wanita yang terdiam sambil memunggunginya itu. Lantas dia mengurungkan niatnya ke almari lalu berjalan mendekat kearah pintu.


Dia berhenti tepat dibelakang Wanita yang sedang memunggunginya.


"Apa yang sedang kau lakukan?"


"..deg.." Al terkaget mendapat sapaan suaminya yang terdengar dekat.


"..tidak apa-apa Kak.." balasnya gugup.


Mikael mengangkat sebelah alisnya lalu berkata, "..berbaliklah!" perintahnya.


Mendapat perintah suaminya, Al menggigit bibir bawahnya lalu membalikkan tubuhnya perlahan.


Saat berbalik sepenuhnya, seperti dugaannya. Didapatinya saat ini roti sobek milik suaminya yang terhidang didepan matanya.


Al menelan slavina sambil bergumam, "..sabar Al.."


Mendapat istrinya kaku, Mikael menyunggingkan senyum tipis. Terbesit keinginan untuk menjahili Istrinya.


Dirahkan tangan kanannya ke dagu Al lalu menyentuhnya. Diangkatnya pelan wajah istrinya yang tertunduk, agar matanya menatap kearah wajahnya.


Pria itu memberikan senyuman mempesonanya kearah istrinya yang menatap dengan mata terbuka lebar.


"Kamu mengiginkannya!"


Mendengar perkataan suaminya itu, Al lantas mengalihkan matanya.


Bibirnya lalu terbuka dan berkata, "Walaupun aku menginginkannya, tapi aku tak bisa melakukannya sekarang.." balasnya.


"..." Mikael terdiam, dia paham betul maksud Istrinya.


Tetapi, dadanya terlanjurberdebar mendapati wajah manis istrinya.


Hasratnya seketika mencuat, tetapi dia tak bisa melakukannya pada istrinya.


Mikael menelan slavinanya dengan susah, nampaknya dia harus menahan keinginannya.


Pria itu lantas melepaskan tangannya dari dagu Wanita itu lalu berbalik.


"Ayo tidur!" ajaknya yang lalu berjalan kembali kearah almari.


"..iya.." balas Al yang sedikit bernafas lega, karna sejak tadi dadanya berdegub kencang.


Mikael yang berada didepan almari, terdiam. Dia merasa sesuatu miliknya yang berada dibawah menegang.


"Bagaimana ini bisa terjadi, padahal aku yang menggodanya.." batinnya.


Pria itu lantas mengambil pakaian gombrongnya sepaha untuk menutupi miliknya.


Usai memakai pakaiannya, Pria itu segera berjalan kearah kasur lalu membaringkan tubuhnya. Diikuti Al yang sudah melepas jilbab dan kerudung, yang menyisakan piyama yang berbawahan celana selutut.


Mereka lalu tidur dengan Mikael memunggungi Al, sedang Al menghadap suaminya.


###


Seorang Wanita yang sedang terbaring diatas kasur, menggeliatkan tubuhnya.


Dibuka sedikit matanya menatap sekeliling ruangan yang masih nampak gelap.


Dipejamkan kembali matanya, sesaat kemudian kedua kelopak mata itu kembali terbuka.


Ditolehkan kepalanya kearah sampingnya. Melihat Pria yang biasanya masih terlelap dikala dirinya bangun.


Al terdiam sejenak, dia mengerjapkan matanya agar kembali fokus.


Saat diperhatikan, ternyata Pria disampingnya tak ada. Yang terdengar hanya suara seseorang yang berada di kamar mandi.


Wanita itu kembali menelentangkan tubuhnya, dia mengarahkan matanya kearah jam. Lantas dirinya terperanjat.


Dia segera bangun lalu berdiri. Dia tak menyangka akan bangun di jam segini. Pantas suaminya sudah bangun, tak seperti biasanya.


Diarahkan kakinya kearah saklar yang ada di dekat pintu. Dinyalakannyalah lampu kamar itu, setelah itu dia menghampiri kasur untuk merapikannya.


Saat mendekat dia kembali terkaget melihat warna merah yang ada di atas kasur. Dia lalu melihat kearah belakang celananya yang terdapat noda merah juga.


"..ahhh bagaimana ini?" ucapnya melihat kearah noda yang berada diseprai.


###


Didalam kamar mandi, Mikael membasahi tubuhnya dibawah shower.


Dia terdiam sambil memejamkan matanya mengingat kejadian tadi pagi.


Saat terbangun tadi pagi, Mikael kaget dengan posisi tidurnya yang sambil memeluk Al kedalam dadanya.


"...hhhh bagaimana bisa aku tanpa sadar memeluknya dalam keadaan tidur.." gumamnya.


***


Usai membilas tubuhnya dibawah shower, Mikael lalu mengeringkan tubuhnya kemudian mengalungkan handuk dipinggangnya.


'Klek' Pria itu membuka lebar pintu kamar mandi lalu berjalan keluarnya.


Dirinya mengerutkan dahi melihat Al yang berada di bibir ranjang dengan lutut dilantai dan kedua tangannya diatas kasur.


Kedua tangannya tersebut nampak sedang menggosok-gosokan sesuatu.


"..apa yang sedang kau lalukan?" ucapnya yang membuat si Wanita terkejut.


Mikael melangkah, menghampiri Al yang segera berdiri menghadapnya. Al berusaha menutupi bagian noda yang diatas sprei dengan tubuhnya.


"...aaa.." Al nampak bingung. Dia menggigit bibir bawahnya. Dia takut jika suaminya melihat noda itu, dirinya akan marah.


Mikael menyadari, Wanita didepannya seperti sedang menutupi sesuatu dibelakangnya. Dia menatap lekat Al yang terdiam. Melihat wajah Wanita didepannya kebingungan membuat Mikael penasaran.


Pria itu lantas melangkah, memajukan tubuh bagian atasnya yang tanpa busana mendekat kearah wajah Al. Tatapannya lalu tertuju pada sprei dikasurnya yang ditutupi Al. Disana terdapat noda merah.


Al yang kaget karna roti sobek milik suaminya hanya beberapa inci dari wajahnya lantas memundurkan langkahnya membuatnya terpentok oleh bibir ranjang yang mengakibatkan dirinya terjatuh, tapi...tanpa dirinya sadari, tangannya reflek menarik benda yang melingkar dipinggang suaminya.


"...aaahhh.." pekiknya.


"..untung saja belakangku kasur.." batinnya merasa bersyukur.


Wanita itu lalu mendudukan tubuhnya.


Saat duduk sepenuhnya, seketika matanya membulat penuh. Al diam terpaku menatap benda yang tergantung didepannya.


Sedang Mikael diam, tak bergerak ataupun berusaha menutupi miliknya.


Dari posisinya saat ini, dia memperhatikan, Wanita didepannya yang terpaku melihat miliknya.


"Apa kau sudah puas menatapnya?" tanya Mikael yang menatap tajam kearah Al yang masih terpaku, lebih tepatnya matanya menatap kearah bibir mungil Al.


Al menelan slavinanya dengan susah. Dia segera mengalihkan matanya, kemudian dipejamkan matanya. Dirinya merasa malu akan yang dilihatnya barusan, karna ini pertama kalinya dia melihat dengan jelas milik suaminya, ditambah dengan posisi dekat.


Saat membuka mata, tak sengaja matanya melihat kearah tangannya yang ternyata memegang handuk milik suaminya. Lantas dia segera menutup benda itu.


"..maaf Kak.." gumamya pelan.


Mendengar ucapan maaf Istrinya, Mikael kembali sadar dari hayalannya. Dia lalu menerima handuk tersebut kemudian melingkarkannya kembali ke tubuh bagian bawahnya.


Seperti tak terjadi apa-apa, Pria itu dengan santainya berjalan menjahui pandangan Al, tak lama dia menoleh kembali kearah Wanita itu yang masih terduduk.


"..kamu tidak mandi, bukankah kau akan berangkat kerja?" ucapnya yang lalu kembali berjalan.


Seketika Al teringat, jika dirinya harus bersiap-siap, lantas Wanita itu segera memakai jilbabnya dan juga kerudungnya.


Usai memakai pakaian luarnya dia melirik kearah seprei yang bernoda itu.


"..Kak, sekali lagi maaf..soal sepreinya..dan kejadian tadi.." ucapnya kembali dengan perasaan malu.


"..sudahlah, tidak apa-apa.." balasnya.


"..tinggalkan saja sepreinya, nanti aku akan meminta Bi Hilda untuk menggantikan seprei kamar ini.." lanjutnya.


Al terdiam, dia berfikir mana mungkin dirinya menyuruh Bi Hilda membersihkan noda darah haidnya. Setidaknya, jika ingin memberikan seprai ini. Dirinya terlebih dahulu harus menghilangkan noda merah tersebut.


"..Al bawa sekalian saja sepreinya, untuk diberikan pada Bi Hilda.." ucapnya.


Dirinya lalu melepaskan seprei besar itu, tak lupa dirinya juga melepaskan sarung bantal.


Usai itu dia mendekap seprei dan juga bad cover di pelukannya.


Dialihkan matanya kearah, suaminya, yang duduk sambil menatapnya.


"..Al pamit keluar ya, Kak.." ucapnya segera yang lalu berbalik berjalan kearah pintu.


Seperginya Al, Mikael memegang kepalanya dengan kedua tangannya.


Dia tak habis fikir dengan otaknya tadi.


Fikirannya kembali ke kejadian tadi, saat Al berada tepat didepan juniornya. Dia membayangkan, memasukkan miliknya itu kedalam bibir mungil Al yang saat itu terbuka.


"..aakhhh..apa yang lo banyangkan, Mikael!" batinnya.


Dirinya lalu segera beranjak dari posisi duduknya kemudian berjalan kearah almari.


Jangan lupa tinggalkan tanda


Salam hangat SMIM