
Hadiah
Happy Reading!!!
Perasaan tenang menyelimuti hati Pria tua itu. Dia duduk termenung sambil membayangkan kebiasannya yang sering mengakhirkan sholatnya di kala ada kesibukan duniawi yang tak ada habisnya.
Pria itu lalu beranjak dari tempatnya duduk kemudian berdiri melangkah ke pintu keluar.
Saat kakinya melangkah keluar dari tempat suci. Tatapannya tertuju pada Wanita yang masih duduk di bangku. Wanita itu masih setia duduk sambil menatap langit-langit.
Di langkahkan kakinya mendekati Wanita itu kembali. "Bapak pikir, Nona Al sudah kembali kedalam.." ucap Pak Kusno.
Wanita itu menoleh kearah Pria itu sambil menyunggingkan senyum. "Iya Pak.." balasnya. Pria itu lalu kembali duduk kembali ke tempatnya duduk tadi.
"Nona Al menyukai langit malam?" tanya Pak Kusno dengan tatapan melihat kearah langit. Al kembali menyunggingkan senyum, dia mengarahkan kembali kepalanya menatap langit.
"Iya.." ucapnya pelan.
"Mungkin sejak aku menikah.." gumamnya dalam hati.
Awalnya Al biasa saja dengan langit malam. Tapi semua itu berubah sesudah dia menikah, karna Mikael yang mempunyai kebiasaan selalu pulang malam, membuat Al menunggu diberanda kamarnya yang menghadap kearah gerbang rumah. Dia biasanya menunggu sambil membaca buku jika bosan dia akan memandang langit malam sambil berdzikir.
"Nona Al, ketika mengucapkan nama anda saya kembali teringat pada Wanita yang menolong saya. Namanya panggilannya persis seperti Nona.." tutur Pak Kusno. Al hanya tersenyum tipis dengan tatapan ke tempat yang sama.
"Tidak hanya nama, tapi pakaian, suara dan tatapan Nona Al mirip dengan Wanita itu. Yang berbeda hanya, Wanita itu mengenakan cadar.." tutur Pak Kusno kembali. Pak Kusno mengalihkan pandangannya melihat kearah Al yang tersenyum menatap langit.
"...jangan-jangan.." batin Pak Kusno saat Al mengalihkan matanya kearah Pak Kusno.
"Ternyata Ayah disini!" seru Pria muda yang sudah berdiri disamping Pak Kusno.
Pak Kusno dan Al segera mengalihkan matanya kearah Pria muda itu.
"Furqon sudah mencari Ayah kemana-mana. Ternyata Ayah sedang berduaan dengan Nona Al.." ucapnya sambil menggelengkan kepala.
Pak Kusno yang sifatnya luwes tersenyum. "Hahaha kamu bisa saja! Ayah hanya sedikit merasa bosan didalam makanya Ayah keluar untuk menghirup udara segar. Tak sengaja ternyata Nona Al juga disini.."
Furqon tersenyum mendengar perkataan Ayahnya. "Baiklah..sekarang mari kembali kedalam! Tamu undangan mencari Ayah untuk memberi selamat.." ajaknya. Dia lalu membantu Ayahnya berdiri.
Furqon lalu melihat kearah Al. "Ayo Nona Al!" ajaknya. Al masih diam tempatnya duduk.
"Kita saja yang masuk. Sepertinya Nona Al masih ingin menghirup udara segar.." ucap Pak Kusno. Al menganggukan kepala pelan menginyakan perkataan Pak Kusno.
"Baiklah, tetapi cepatlah masuk. Angin malam tidak terlalu bangus untuk tubuh.." balas Furqon.
"Iya Tuan.." balas Al.
Kemudian Furqon dan Pak Kusno masuk kedalam meninggalkan Al yang masih asik memandang langit sambil berdzikir didalam hati.
###
"Ahhh.." Mikael mendudukkan tubuhnya yang sejak tadi berdiri. Dia kembali meminum minuman yang dipegangnya lalu meletakkan diatas meja yang ada disampingnya.
Diliriknya jam tangan yang ada di pergelangan tangan. "Sudah saatnya pulang.." gumam Mikael.
Dia mengedarkan pandangannya mencari sosok yang dia cari. Tapi sayangnya sosok itu tak ada. Yang dia dapatkan malah sosok Pak Kusno yang sedang bercakap-cakap dengan seseorang.
Tak berapa lama orang yang bercakap dengan Pak Kusno pergi. Mikael segera beranjak dari tempatnya dan mendekat kearah Pak Kusno yang tak jauh posisinya dari tempat Mikael duduk.
Pak Kusno menyadari kehadiran Mikael, dia pun tersenyum menyambutnya. "Bagaimana pestanya!?"
"Bagus.." jawabnya singkat dengan sopan.
Saat akan berucap. Hal tersebut di urungkan Mikael karna mendengar ucapan Pak Kusno. "...itu Nona Al!" seru Pak Kusno. Mikael langsung menoleh kearah yang di tunjuk Pak Kusno. Terlihat Al berjalan sambil dengan matanya mengedar keseliling.
"Nona Al!" Pak Kusno melambaikan tangan kearah Al yang matanya melihat sekitar sampai akhirnya dia mendapati sosok orang yang sedang melambai sambil memanggil namanya. Dia lalu mendekat kearah orang tersebut karna menyadari adanya sosok yang dicarinya.
"Pak.." ucap Al saat didekat Pak Kusno. Dia menganggukan kepala pelan.
Mikael melirik kearah Al yang disampingnya. Kemudian dia kembali melihat kearah Pak Kusno.
"Pak saya dan istri saya izin pamit! Terimakasih atas undangan pestanya yang meriah.." pamitnya sambil tersenyum tipis.
"Haha..Saya juga terimakasih. Atas kedatangan Mikael dan juga Nona Al.." balasnya melihat kearah mereka bergantian.
Pak Kusno lalu merogoh kantongnya dan mengeluarkan sebuah amplop putih besar. "Ini untuk kalian! Hadiah pernikahan kalian, karna Bapak tak dapat hadir saat kalian menikah.."
Mikael terkaget, seingatnya saat menikah dia mendapatkan karangan bunga dan juga hadiah yang dikirim Pak Kusno ke rumahnya.
"Tapi, Pak Kusno sudah memberikan kami hadiah?"
"Hahaha anggap saja ini hadiah kecil lainnya.."
Mikael lalu menerima hadiah yang disodorkan itu. Al hanya memperhatikan dua Pria itu berbicara.
"Baiklah, terimakasih atas hadiahnya Pak Kusno..kalau begitu saya dan Al izin pamit.." Mikael lalu menjabat tangan Pak Kusno. Sebelum jabatannya terlepas Pak Kusno berkata. "Semoga hadiah ini, membuat kalian senang.." Mikael terdiam sejenak memikirkan perkataan Pak Kusno yang tak dia pahami.
Usai bersalaman dengan Mikael. Al berpamitan, dia juga mengucapkan terimakasih atas hadiah yang diberikan Pak Kusno.
Usai berpamitan dan mereka berbalik. Pak Kusno berucap. "Seharusnya saya yang berterimakasih.."
"Berterima kasih pada siapa?" tanya Furqon yang baru saja datang, dia tak sengaja mendengar ucapan ayahnya.
"Hahahaha kamu kepo sekali nak.." Pak Kusno menepuk pelan punggung anaknya. Furqon yang tak paham hanya memandang Ayahnya dengan muka datar.
###
Sampainya di rumah Mikael langsung mengarahkan kakinya ke kamar. Dia melepaskan jas yang melekat di tubuhnya lalu melemparkan dirinya keatas kasur.
Mikael menyunggingkan senyum. Dia mengingat kembali akan kesuksesannya menarik ketertarikan perusahaan lain. Seandainya berhasil, pasti perusahaan-perusaan itu akan mengajukan kerja sama dengan perusahaannya. Yang artinya itu membawa keuntungan besar bagi Mikael dan perusahaannya.
"Hahhhhh...akhirnya.." gumamnya.
Ingatan masa lalu kembali terlintas, tentang kenangan pahit dari seorang yang dicintainya yang pergi meninggalkannya, membuat Kakeknya berjuang sendiri untuk menyekolahkannya. Itu merupakan awal dimana munculnya motivasi keinginannya untuk sukses.
(Jangan lupa VOTE, tekan tanda ini π, coment πdan Reting πππππ ya...)
############################################################
Maaf ya jika banyak typo...
Jangan lupa coment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.
Dan tinggalkan tanda hati.
Jangan lupa vote yang teman-teman.
Saya juga nulis cerita yang judulnya UHIBBUKI jangan lupa mampir ya.....
Terimakasih