
Sebelum baca jangan lupa tekan tanda Like...
Mall
Happy Reading!!!
Setelah kejadian Al menyiapkan bubur untuk Mikael, jarak antara mereka semakin terkikis. Ditambah dengan sikap terbuka Al, membuat Mikael sedikit demi sedikit membuka dirinya.
Di kamar, Al tampak bersiap-siap dengan pakaian yang biasanya dia kenakan saat di rumah. Setelah semua siap, dia keluar kamarnya dengan menenteng tas selempangnya di bahu.
Di ruang makan, nampak Mikael sedang duduk menyantap buah sebagai pembuka makan siang ini.
"Selamat pagi kak," sapa Al menebar senyum kearah suaminya.
"Pagi.." jawab Mikael.
Al nampak senyum mendengar jawaban Mikael. Walaupun jawabannya tanpa ekspresi serta singkat setidaknya dibalas.
Al lalu duduk, kemudian menaruh tas selempangnya disamping bangku yang didudukinya. Dia mulai menyantap buah diatas piring didepannya.
Saat akan menyuapkan kembali buah ke mulutnya. Al mengangkat kepalanya. Tak sengaja tatapannya bertemu dengan mata Mikael yang sedang melihat kearahnya. Seketika Mikael segera mengalihkan pandangannya.
Al yang mengira hanya karna tak sengaja bertemu mata lantas tak menghiraukannya dia melanjutkan kembali menyantap makanannya.
Usai menyantap buah, Al berhenti sejenak sebelum menyantap makan siangnya.
Saat Al kembali ingin melihat Mikael lagi-lagi matanya bertemu sapa dengan mata Mikael. Tapi kali ini Mikael tak mengalihkan pandangannya.
"Mau pergi?" tanya Mikael.
Al seketika terkejut mendengar ucapan Mikael yang diluar dugaannya. Dia tak menyangka jika suaminya ini akan bertanya. Padahal selama ini kemanapun Al pergi, suaminya ini tak pernah bertanya.
Al tersenyum sambil menganggukan kepala. "Iya Kak.." jawabnya. "Kak El, mau nemenin Al!" seru Al sekedar basa-basi karna tau jawaban suaminya.
Tampak Mikael yang sedang berfikir, tak lama dia beranjak dari tempatnya lalu pergi kearah tangga.
Al bingung melihat suaminya pergi tiba-tiba, dia terdiam. "Apa aku salah ngomong?" batin Al.
"Apa seharusnya tadi aku tak berkata apapun, tapi melihat ekspresi Kak El, sepertinya Kakak tidak marah.." gumam Al.
Sepuluh menit Al terdiam di tempatnya sambil berfikir. Setelah itu dia beranjak menghampiri kamar Mikael.
Didepan kamarnya, Al mengetukkan 1 pintu kamarnya. Tentu tak ada jawaban karna, dia tau persis suaminya pasti tidak akan menjawab ketukannya.
"Kak.." Al yang akan berkata terputus. Dia mengurungkan niatnya. Lantas dia kembali ke ruang makan.
Al duduk kembali menunggu, "siapa tau nanti Kakak turun kembali. Mungkin tadi Kak El, kebelet.." kata Al berfikir positif.
Setelah menunggu sepuluh menit suaminya tak kunjung turun. Diapun memutuskan menyantap makan siang sendiri.
Saat akan menyendokkan nasi ke piringnya. Didengarnya suara langkah sepatu menuruni tangga. Dia lantas melihat kearah sumber suara.
Seketika dia terpaku melihat sosok suaminya yang tak pernah dilihatnya selama ini. Al tak mengedipkan mata melihat ketampanan suaminya yang memang selalu tampan dimatanya.
Apalagi sekarang dengan pakaian yang seperti layaknya anak muda jaman sekarang. Dia mengenakan sepatu putih, celana jins selutut dan juga kaos putih lengan pendek, serta rambutnya yang selama ini sering di lihat Al di kuncir kali ini di gerai menutupi tengkuknya.
Mikael jalan menghampiri Al, kemudian kembali duduk di tempatnya. Sedangkan Al tak hentinya menatap suaminya. Mikael yang sudah biasa mendapati Al menatapnya hanya bersikap biasa saja.
"MasyaAllah.." gumam Al pelan saat Mikael duduk ditempatnya kembali.
Mikael hendak melanjutkan makan siangnya. Saat hendak akan menyendokkan nasi. Mikael melihat kearah nasi yang tak ada sendoknya. Dilihatnya benda yang di genggam Al.
"Sendoknya!" seru Mikael.
"..ahh.." Al seketika sadar. Dia menatap kearah sendok coklat kayu yang di pegangnya. "Maaf Kak.." kekehnya.
Al segera mengambil piring didepan Mikael lalu menyendokkan nasi dan juga lauk ke piring itu. Kemudian memberikan kembali ke depan Mikael. Setelah itu dia mengisi piringnya yang masih kosong. Mereka lalu menyantapnya.
Setelah makan, mereka pergi dengan mobil yang telah dipanaskan Pak Usman yang sebelumnya telah diperintahkan Mikael.
Didalam mobil
"Mau kemana?" tanya Mikael saat keluar dari pagar rumah.
"Kak El, mau mengantar Al.." ucap Al. Mikael mengerutkan dahi. Dia bingung dengan perkataan Al, jika naik mobilnya tentu dia pasti akan mengantarkan.
"Hehehe..Al mau ke Mall yang di..." ucap Al mengatakan arah tujuannya. Mikael menganggukan kepala paham.
Sebenarnya tujuan Al bukanlah ke Mall, tetapi ke pasar kaki lima yang ada didekatnya. Tujuan Al ke pasar itu, karna ada yang ingin dicarinya.
###
Keluar dari parkiran. Pandangan tertuju pada Al dan Mikael yang pakaiannya sungguh tak singkron.
Al yang berpakaian syar'i dengan cadar sedang Mikael berpakaian layaknya anak muda. Jika melihat mereka, pasti berfikir jika yang jalan bersama pemuda tersebut pasti bukanlah istrinya melainkan mamanya.
Al berjalan melewati beberapa toko, tapi dia tak berhenti disalah satu toko. Diliriknya Mikael yang berjalan disampingnya dengan wajah datar.
Saat melewati pakaian pria. Seketika Al terpana dengan pakaian yang menurutnya cocok dengan Mikael. Yaitu baju gamis pria.
"Kak El, pasti semakin tampan mengenakannya.." batin Al. Dia tersenyum-senyum membayangkannya.
"Mau beli apa?" tanya Mikael tiba-tiba. Al yang sedang berada dalam bayangannya lantas menengok kearah Mikael yang menatap lurus kedepan.
"...kesana.." tunjuk Al asal. Mikael melihat kearah jempol Al yang menunjuk toko pakaian dalam.
"...Oh kesana," ucapnya lalu menuju kearah toko tersebut. Al terpaku kaget, dia niatnya menunjuk kearah toko pakaian disampingnya.
"Kenapa aku salah tunjuk.." batin Al yang merasa malu.
Diliriknya Mikael yang sedang duduk didekat meja kasir. Pandangan karyawan perempuan dan para Wanita yang sedang berbelanja tertuju pada Mikael yang duduk sambil bermain HP.
"Liat deh Pria yang duduk disana, tampan sekali ya.." ucap salah seorang Wanita yang ada di dekat Al.
"Iya tampan sekali, pasti dia sedang menunggu istrinya.." timpal salah seorang dari teman Wanita itu.
Al yang tak sengaja mendengar pembicaraan para Wanita disampingnya lantas menjauhi mereka. Dia menjahui bukan karna cemburu, tetapi karna tak sopan mencuri dengar pembicaraan Wanita itu.
Al berjalan kearah baju tidur. Dilihatnya baju tidur dari daster, piyama sampai mini dress yang Al miliki satu-satunya. Dia lalu mendekat kearah baju tidur yang menurutnya sangat-sangat membuatnya nganga.
"Ti..tipis sekali, sama saja seperti tidak mengenakan pakaian.." batin Al memegang baju tidur didepannya.
"Kau menginginkannya.." ucap seseorang dibelakangnya. Al segera menggelengkan kepalanya lalu menengok kearah sumber suara.
"..Ini terlalu tipis Kak, bisa-bisa malam masuk angin.." balasnya yang langsung meninggalkan tempat itu.
Jawaban Al, membuat Mikael terdiam. "..hahaha masuk angin," gumam Mikael sambil tertawa. Dia tak menduga jawaban istrinya ini.
Al kembali menjahui Mikael karna merasa malu, ditambah tatapan para Wanita dan karyawan disana yang melihat kearahnya.
Al kembali menuju kearah pakaian dalam. Disana dia melihat pakaian dalam dengan warna senada.
Al bingung harus membeli apa. Sebenarnya dia ingin meninggalkan toko tersebut, tapi tak enak dengan penjaga toko yang sejak tadi memperhatikannya. Apalagi dia sudah memegang-megang.
Al tampak berfikir apa yang harus dibelinya. Seketika terlintas sesuatu pikiran. Al tersenyum lalu segera melihat ukuran bra yang akan dibelinya. Setelah mendapat bra dengan pasangannya yang berwarna merah. Lantas dia kembali menuju kearah pakaian tidur tipis tadi. Dia memilih baju tidur transparan berwarna biru.
Al lalu memanggil salah seorang karyawan didekatnya. "Ba, tolong bawain ke meja kasir ya. Saya malu.." pinta Al.
"Siap Ba.." jawab Wanita itu. Dia lalu memegang barang pilihan Al lalu membawanya ke meja kasir.
Al kemudian menuju meja kasir. Mikael yang melihat Al yang menuju ke meja kasir lantas mengikutinya.
"Semuanya jadi 300 ribu, Ba.." ucap Wanita yang ada di kasir tersebut.
"Iya Ba," Al mengeluarkan dompetnya. Dilihatnya isi dompetnya yang hanya ada uang 200 ribu. Lantas dia mengeluarkan kartu ATM miliknya.
"Ini, Ba.." Al memberikan kartu ATMnya pada Wanita didepannya.
Setelah menggesekkan nya Wanita itu memberikan kembali kartu Al lalu menyuruhnya menekan pin.
"Ini Ba struknya.."
"Terimakasih. Ba.." ucap Al. Dia lalu menerima belanjaannya.
"Sudah!" seru Mikael tiba-tiba.
"...iya Kak.." balas Al grogi karna takut Mikael salah paham melihat belanjaannya.
"Kalau begitu temani aku ke toko buku.." ucapnya. Al kemudian mengikuti Mikael menuju kearah toko buku yang ada di lantai 3 mall tersebut. Inilah tujuan awal Al keluar, untuk mengunjungi penjualan buku murah.
Sampai di toko buku. Mikael menyuruh Al melihat-lihat buku lain karna dia ingin pergi kearah buku yang berbau bisnis.
Al berjalan menyusuri rak buku. Dia berjalan sambil melihat judul-judul novel. Kadang sesekali dia membaca sinopsis cerita yang ada dibelakang novel tersebut.
Al kembali berjalan, lalu sampai kearah buku islam. Disana Al melihat beberapa buku yang telah dibacanya.
Sampai dia berhenti pada buku yang menarik perhatiannya. Judulnya tertulis 'Cara mendidik anak usia 0 - 7 tahun berbasis Islam'
Al merasa tertarik dengan buku ini. Dia lalu mengambilnya. Dia berjalan kearah Mikael yang tampak masih melihat-lihat buku. Dia membaca salah satu buku bisnis yang telah terbuka plastiknya.
Melihat Mikael yang masih membaca. Al memilih menuju kearah buku resep makanan yang berada didekat buku bisnis. Dia melihat beberapa resep.
Setalah beberapa saat, dilihatnya Mikael yang sudah tak ada ditempatnya. Al mengedarkan pandangannya mencari sosok Mikael.
Dia lantas berdiri dari dari tempat untuk meletakkan kembali buku resep yang tadi dibacanya.
Dia mengedarkan kembali pandangannya. Saat berbalik Al kaget melihat Mikael yang ternyata berada dibelakangnya.
"..Kak El.." ucap Al.
"Sudah selesai memilih bukunya?"
"Sudah Kak.." jawab Al senyum.
Mereka lalu pergi menuju kasir. Mikael mengulurkan tangannya kearah Al meminta buku yang dipegangnya.
"Aku bayar sendiri aja, Kak.." kata Al.
Mikael mengerutkan dahi. "Sekalian saja. Aku juga mau bayar buku.." ucap Mikael. Al menyodorkan buku yang di pegangnya.
Mikael memperhatikan buku yang dibeli Al. Dia lalu mengingat belanjaan Al beberapa saat lalu.
"Sudah Mas.." tanya petugas kasir Wanita tua yang kembali menyodorkan buku mereka.
Mikael menganggukan kepala. Dia mengambil buku Al dan bukunya. Setelah itu dia membayar buku tersebut.
"Ini!" Mikael memberikan buku yang Al inginkan.
"Terimakasih, Kak.." ucapnya sambil menerima. Dia segera memasukannya kedalam tas selempangnya.
Al berharap Mikael tak salah paham dengan belanjaan yang dibelinya. Apalagi saat membeli pakaian dalam baju tidur. Saat itu Mikael sudah berada didekatnya, tentu dia melihat benda yang dibelinya.
Tinggalkan Coment dan Share jika suka cerita ini...
Thank you...