
Halo my Reader, sorry ya SMIM tak up.
Soalnya SMIM, lagi menghadapi dunia nyata yang membuatnya lupa menulis hayalannya.
Jangan bosan ya menunggu cerita ini. dan beri masukan tentang ceri. Siapa tau SMIM bisa dapat masuk untuk cerita selanjutnya.
Happy Reading!!!
Sebuah mobil hitam ceper telah terparkir dihalaman. Dari dalam mobil itu keluar sorang Pria dari sisi pengemudi.
Pria itu kembali menoleh kedalam mobil melihat Wanita yang ada disisi sebelahnya masih diam ditempatnya.
"Kamu tidak turun!" seru Pria itu pada Wanita yang sedang menggenggam erat tali tasnya.
Wanita itu menoleh kearah Pria yang berkata itu. "...turun, Kak.." balasnya.
Lantas Wanita itu membuka pintu mobil bagiannya. Dengan pelan dia memijakkan kaki ke bawah.
Wanita itu, melangkah sedikit kesamping, agar pintu mobil yang dibukanya bisa tertutup kembali.
Melihat Wanita itu, telah keluar Pria itu segera melangkah kepintu rumah, tapi dia kembali menengok kearah Wanita itu yang masih berdiri disamping mobil.
"Apa yang kamu lakukan disana! Ayo masuk!" seru Pria itu kembali.
"...iya.." balas Wanita itu pelan. Tapi dia sama sekali tak menggerakkan kakinya. Dia masih berdiri disamping pintu mobil.
Melihat Pria itu kembali berjalan lalu memasuki rumah, Wanita itu segera melangkahkan kakinya pelan.
"Nyonya Al kenapa? Kaki Nyonya sakit?" tanya Pak Mamat melihat Istri Tuannya berjalan pelan.
"Tidak apa-apa kok, Pak.." balasnya. Pak Mamat tersenyum mendengarnya lalu berjalan kembali ke posnya.
Melihat Pak Mamat sudah kembali ke posnya dan tak ada orang disekelilingnya. Al merenggangkan kakinya lalu berjalan dengan santai ke arah pintu yang terbuka sebelah.
Ketika melangkah kedalam, Wanita itu kaget dengan sosok dibalik pintu yang sebelahnya tertutup. Disana terdapat sosok Pria tadi, yaitu Mikael. Wanita itu lantas kembali merapatkan kakinya.
"Kenapa lama sekali masuknya?" ucap Pria itu. Al hanya diam.
Tak mendapati jawaban dari bersangkutan Pria itu lantas berjalan kembali kedalam tapi kali ini dia berjalan beriringan dengan Wanita itu.
Wanita itu menggenggam tali tasnya kuat. Dia bingung dengan Pria disampingnya yang biasanya selalu meninggalkannya saat berjalan. Ditambah rasa perih dibagian bawahnya.
Seketika Al membulatkan matanya, dia kaget akan tindakan yang dilakukan Pria disebelahnya.
"..Kak, Kenapa Kakak menggendong Al?" ucapnya. Tapi Pria itu tak menjawab apa-apa. Dia masih tetap melangkah kedalam rumah.
Al melihat kearah wajah suaminya yang amat dekat dengannya. Dia senang akan kedua kalinya, Pria itu menggendongnya tapi Al tak tau alasan suaminya yang tiba-tiba bersikap seperti ini.
Saat akan menaiki tangga Al berkata. "Al bisa jalan sendiri, Kakak pasti capek sejak tadi menyetir.." ucapnya.
"Al juga beratkan.." lanjutnya.
Mikael tak membalas perkataan Al. Dia masih tetap menggendong Wanita itu sambil menaiki tangga.
Dalam hatinya, Pria itu tak merasa tubuh yang digendongnya berat. Malahan baginya terasa ringan.
Lain hal dengan Al yang dalam hatinya merasa berdebar-debar. Dia penasaran akan alasan suaminya menggendong dirinya.
"Al turun disini saja, Kak.." ucapnya saat didepan pintu kamarnya.
Mikael tak mendengarkannya malahan dia memberi kode Al untuk membuka pintu kamarnya.
Setelah dibuka pintu kamar itu, Mikael mengarahkan kakinya kearah ranjang lalu mendudukkan tubuh mungil itu disana.
Al menelan slavinanya. Dia memberanikan mengangkat wajahnya, melihat kearah Mikael. "..makasih Kak.."
Pria itu membalas tatapan Al dari atas.
"Apa itumu masih sakit?" ucapnya to the point sambil melirik kearah intim Al. Tanpa sadar Al kembali menelan slavinanya dengan mata melebar.
"Katakan dengan jujur!" perintahnya seketika.
Al menundukkan kepalanya malu. "...iya, sakit.." jawabnya. "Tapi, hanya saat jalan.." lanjutnya mengangkat kepala.
"..benarkah!" serunya memastikan. Al menganggukan kepala jujur.
"..apa perlu ke rumah sakit?" tanyanya kemudian.
"Ti..tidak perlu Kak.." jawabnya langsung.
"..ini hanya hal biasa...karna ini pertama kalinya.." lanjutnya.
"Ditambah Kak El melakukannya berulang kali.." batinnya yang merasa malu mengingat kejadian tadi malam.
"..khe...oh begitu, yasudah kalau begitu.." balasnya yang sidikit gugup, karna pengalaman semalam juga pertamakali baginya sendiri.
"Misalnya itumu masih sakit, katakanlah.." perintahnya yang diangguki Al.
Kemudian hening, terasa almosfer ke gugupan menyelimuti dua insan tersebut.
"...yasudah, aku ke kamar dulu, kamu istirahatlah.." serunya yang lalu keluar dari kamar Al.
Al memperhatikan suaminya yang keluar dari kamarnya. Setelah itu dia merebahkan tubuhnya.
Bibir menyunggingkan senyum, dia merasa sangat senang dengan sikap perhatian suaminya.
"...aku tak menyangka Kak El menyadarinya.." gumam Al.
Padahal Mikael bukan menyadarinya tetapi dia tau dari Mamanya Ghifari.
###
Siang harinya
Diatas ranjang berukuran besar, Mikael yang sedang merebahkan tubuhnya. Mengingat prihal kejadian semalam, membuat Bibir seketika menyunggingkan senyum.
"Rupanya seperti itu ya, rasanya ber**nta.." gumam Mikael.
'Tok tok tok'
Suara ketukan pintu menghentikan lamunan Mikael. Dia lantas beranjak dari kasur empuknya menuju ke pintu kamarnya.
Dibalik pintu, Dia melihat sosok Bi Hilda.
"Tuan, makan siangnya sudah siap.." ucap Wanita setengah baya itu.
"Iya.." balas Mikael singkat.
Bi Hilda menganggukan kepalanya lalu pamit. Saat baru akan berbalim, Pria berambut gondrong itu berkata.
" Bi, apa kamu sudah memberitahukannya pada Al.."
"..belum Tuan, saya baru akan mengatakannya sekarang.." balas Wanita itu.
Mikael dalam hatinya tersenyum. "...biar saya saja yang mengatakannya pada Al.." ucap Mikael datar.
Bi Hilda menganggukan kepala lalu berkata. "Baik, Tuan.."
Bi Hilda lalu pergi melewati kamar Al. Sedang Mikael keluar kamarnya lalu berhenti didepan pintu kamar Al.
'Tok tok tok'
Pria gondrong itu mengetuk pintu kamar Al, tetapi tak ada jawaban dari dalam. Kemudian dia mengetuk pintu itu lagi, lagi-lagi sama tak ada jawaban.
Karna takut Wanita didalam kenapa-napa. Mikael membuka pintu kamar Wanita itu.
Setelah pintu terbuka, Pria itu masuk kedalam kamar lalu menutup pintu kembali. Matanya mencari sosok pemilik kamar.
Pandangannya berhenti pada sosok yang diatas kasur. Mikael melangkah mendekat kedepannya. Disana dia mendapati Wanita yang dicarinya nampak tertidur dengan pulasnya.
Mikael memperhatikan Al yang sedang tertidur. Kemudian tatapannya berhenti sejenak pada buku yang dipegang oleh tangan kanan Al.
Pria itu lalu berjalan ke sisi lain ranjang. Dia mendudukkan tubuhnya disana. Tangannya meraih buku yang dipegang Al.
Dia memperhatikan buku digenggamannya yang berjudul "Menjadi Istri Idaman suami"
Mata Pria itu lalu melirik kearah Al. "Dia membaca buku ini.." cengirnya.
Entah mengapa dia merasa senang melihat Al yang berjuang mendapatkan perhatiannya.
"...ohhh.." ucanya setelah mengingat sesuatu.
Dia lantas beranjak dari sisi Al menuju ke pintu kamar itu lalu keluar.
###
Al membuka matanya, padangan pertama yang dilihatnya adalah sosok suaminya yang sedang membaca disampingnya.
"...ini pasti mimpi.." batin Al.
Wanita itu menyunggingkan senyum. Matanya terus menatap sosok Pria disampingnya yang serius membaca.
Pria yang ditatapnya lalu menengok. "Kamu sudah bangun!" seru suara tersebut.
Sosok Wanita itu masih saja tersenyum.
"...bagun!" batinnya.
Seketika Wanita itu membulatkan matanya. Dia fikir saat ini dia masih bermimpi, ternyata dia sudah berada di dunia nyata.
"..ahh Kak El.." kikuk Al.
Mikael lalu menutup buku yang dibacanya. "Bagaimana tidurmu?"
"...sangat nyenyak, Kak.." jawab Al gugup.
Mikael memperhatikan Al yang menundukan kepala dengan tangannya yang merapikan rambut panjangnya yang berantakan. Pemandangan itu sungguh lucu bagi Pria gondrong tersebut.
"Bi Hilda sudah menyiapkan makan siang. Apa kamu bisa jalan kebawah?"
"..bisa Kak," jawa Al.
"Memangnya itumu sudah tak sakit lagi?"
"Sudah tidak terlalu.." jujur Al.
Mikael lalu menganggukan kepala. Dia lantas beranjak dari posisi duduknya.
Tangannya yang memegang buku milik Al di taruhnya di meja samping ranjang.
Al menggit bibir bawahnya, saat mengetahui buku yang ditaruh Mikael.
Mikael lalu menengok kearah Al yang diatas ranjang. "..ayo!" ajaknya kembali.
"...iya.." ucapnya yang masih duduk diatas ranjang. Al menyadari, saat ini dia mengenakan daster. Dia malu suaminya melihat dirinya yang memakai pakaian seperti ini.
"...kenapa? Itumu sakit!" seru Mikael kembali.
"Tidak Kak, hanya saja.." ucap Al yang terpotong. Dia lantas menyingkirkan selimut yang menyelimuti bagian bawahnya.
Paha putih mulusnya terpampang jelas saat selimut disingkirkan, melihat itu Mikael segera membuang wajahnya kearah lain.
"Aku akan menunggumu diluar!" serunya lalu keluar dari kamar.
Al yang melihat suaminya keluar bingung, tapi itu membuat perasaan gugupnya hilang.
###
Hari-hari berlalu, Mikael yang awalanya selalu tertutup mulai berekspresi.
Biasanya dia datang ke rumahnya saat akhir pekan. Sejak malam pertamanya, dia tak hanya datang saat akhir pekan tetapi juga hari lainnya.
###
Ahhh...hhh..hhh
Buk...buk...buk...
"Ahhhhhh.." Seorang Wanita berambut kuncir kuda menghembuskan nafasnya panjang.
Dia menghentikan benda berbentuk tabung yang tergantung bergerak-gerak didepannya.
Setelah itu Wanita itu duduk dilantai lalu merebahkan tubuhnya dengan kaki dan tangannya diselonjorkan.
Matanya menatap langit-langit ruangan yang berwarna biru langit.
Wanita itu kemudian memejamkan matanya. Bibirnya lalu menyunggingkan senyum senang.
'kriet..' suara pintu terbuka. Seorang Wanita nampak masuk dengan segelas air ditangannya.
'Tap tap tap' Wanita itu melangkah, mendekat kearah Wanita yang tengah berbaring.
"Minumlah!" seru Wanita yang memegang segelas air.
Wanita yang merebahkan tubuhnya itu membuka matanya. Dia segera mendudukkan tubuhnya, kemudian mengarahkan tubuhnya kearah Wanita yang sudah didekatnya itu.
Wanita yang nafasnya mulai stabil itu menyengir. Dia menerima segelas air yang disodorkan Wanita itu.
Dalam sekejap Wanita berambut kuncir kuda menghabiskannya.
Wanita yang membawakan minum itu tersenyum. Dia lalu duduk disebelah Wanita yang diberikannya minum.
"Apa rasa rindumu sudah terobati!" ucap Wanita itu menatap Wanita berkuncir kuda.
Wanita yang ditanya itu lalu mengembangkan senyum sambil menganggukan kepalanya.
"Tapi, aku sungguh tak menyangka. Walaupun hampir setahun tak menggunakan benda itu. Tetapi kekutanmu saat memukulnya tetap.." ucap Wanita itu mengacungkan jempol.
"Hehehe..bisa saja kamu, Vi.." balasnya.
"..hemm..mungkin karna aku latihan dengan bantal.." lanjutnya kemudian dengan cengiran.
"..pantes saja.." timpal Wanita yang rambutnya digerai.
"..kamu tau Al, sampai-sampai tadi Mas Ilham kaget, mendengar suara.." Via menirukan gerakan olahraga meninju.
"..yang terdengar keras.." tambahnya.
Wanita berkuncir kuda hanya menyengir. Saking kangennya, dirinya tak bisa menahan hentakannya.
"..oh iya, ngomong-ngomong tumben akhir pekan ini kamu main keluar. Biasanya tidak.." ucap Wanita berambut digerai.
"..ahh..iya, soalnya suamiku tak ada di rumah.." balasnya. Wanita yang bertanya itu membulatkan mulutnya.
"..hemmm..baiklah.." ucapnya yang lalu beranjak dari duduknya kemudian berdiri.
"Aku keluar duluan ya, jika kamu sudah selesai, kamu keluar saja. Tak perlu menggunakan pakaian gamismu. Soalnya Mas Ilham dan Ahmad sedang keluar membeli sesuatu ke Market.." ucapnya.
"Oke," balas Al membuat jari telunjuk dan jempolnya membentuk 'O'.
###
Ditempat lain, seorang Pria dengan celana selutut tampa pakaian atasannya sedang berdiri di beranda.
Dia sedang memandang bangunan disekitar apartemen tempatnya berdiri.
Diambilnya benda panjang berbentuk tabung berukuran kecil lalu menyelipkannya diantara kedua bibirnya. Sedang tangan sebelahnya memegang benda berukuran persegi panjang yang dapat menghasilkan api.
'Krek..krek..krek..' pria itu menyalakan benda ditangannya, sayangnya benda tersebut tak mengeluarkan sepercik api sama sekali.
Di goyangkan benda ditangannya lalu melihatnya. "Sudah habis!" gumamnya.
Diarahkan matanya kedalam rumah. Dia lalu melangkah kearah dapur untuk mencari pemantik atau korek api. Sayangnya benda tersebut tak ada.
Diliriknya sekilas kearah kompor didepannya. Tapi sayangnya kompor itu tak mengeluarkan api karna itu kompor listrik.
Pria itu lalu terbesit dengan pemilik rumah. "...mungkin dia memiliki pemantik.." batin Pria itu.
Dia lalu melangkah kesisi ruangan lain yang terdapat kamar.
Pria itu berjalan mendekat kearah kamar yang berada di pojokan.
'Tok tok tok' pria itu mengetuk kamar tersebut.
"Masuk!" perintah suara didalam.
Pria berambut pendek itu lalu membuka pintu dan mendapati pemilik kamar sedang memakai pakaiannya.
"Ada apa?" tanya Pria yang baru saja memakai kaos lengan pendeknya.
"...gua mau nanya, lo punya pemantik gak. Soalnya gua mau nyalain ini," ucapnya menggerakkan benda ditangannya.
"..sepertinya ada.." balasnya yang lalu berjalan kearah laci mejanya yang ada disamping tempat tidur.
Dia lalu membuka laci mejanya dan langsung mendapati pemantik miliknya yang tak pernah dipakai disana.
Mikael mendapatkan benda lain disana yang berbentuk kubus. Dia tak mengingat, memiliki benda seperti ini. Diambilnyalah benda kubus itu lalu membawa pemantiknya kearah pria yang masih menunggu diambang pintu.
"Ini.." sodornya kearah Pria yang meminjam benda berukuran kecil itu.
"Thanks.." balasnya. Dia lalu beralih kepada benda yang dipegang oleh pemilik pemantik tersebut.
"Benda apa itu?" tanya si peminjam pemantik.
"Gua gak tau," balasnya lalu membuka benda kubus itu.
Dari dalam terlihat benda berbentuk lingkaran yang terbuat dari kayu.
"..wahhh gelang.." ucap Pria di ambang pintu.
Mikael memperhatikan benda didalam kubus itu yang nampak tak asing di matanya.
"Mikael, dimana lo beli gelang kayu ini?" tanyanya kagum karna disind gelang yang bagus.
"..gua gak ingat pernah beli gelang ini.." balasnya.
"Kalau lo suka, buat lo aja. Gua gak tau kenapa benda ini ada di laci.." balasnya yang lalu memberikan kotak kubus beserta gelang didalamnya kepada Pria didepannya.
"Benar nih buat gua!" serunya senang. Pria didepannya menganggukan kepala.
"Makasih.." pria yang mendapat gelang itu mengambil gelang tersebut lalu memakainya.
"Beni, gua mau pulang, lo masih mau disini?" tanya Mikael yang nampak sudah siap.
"Iya, gua masih disini. Gua belum mandi soalnya.." ucap Pria itu.
"Yaudah, gua pergi duluan.." ucapnya.
"..terus, kalau lo mau hisap benda itu. Jangan lupa diluar!" perintahnya kemudian.
"Ok.." balas Beni.
Mikael lalu keluar kamarnya. Tepat didepan apartemennya, Mikael melihat seorang Wanita yang sedang mencondongkan tubuhnya keluar pintu sambil melihat kearah kedua Pria yang sedang berjalan kearah lift.
"Wanita itu!" batin Mikael.
"..ahhh..dia pasti sahabat yang dimaksud Al.." batin Mikael mengingat prihal cerita Al beberapa waktu silam.
Saat si Wanita berbalik tak sengaja mata Mikael bertemu sapa dengan si Wanita yang wajahnya nampak kemayu.
Wanita itu terlihat menganggukan kepala begitu juga Mikael yang membalasnya sekilas.
Mikael kembali berjalan melewati pintu apartemen tetangganya lalu menuju lift.
Dibelakangnya Via yang tadi mengantar suami dan adeknya keluar pintu tak sengaja berpapasan dengan Mikael yang perawakannya lebih tinggi dari suaminya.
Ini pertama kalinya Via melihat Pria itu. Selama ini yang dilihatnya hanya Pria berambut coklat dan Wanita berpakaian seksi keluar dari pintu apartemen itu.
###
Mikael yang sudah berada didepan lift. Menunggu bersama dua Pria yang merupakan tetangganya.
Kedua Pria itu yang merupakan Ahmad dan Ilham menganggukan kepala sambil tersenyum ramah kearah Mikael yang dibalasnya dengan senyum tipis.
Pintu lift kemudian terbuka, mempersilahkan ketiga orang yang menunggu itu masuk.
Mikael memilih berdiri dibelakang kedua Pria itu. Matanya menatap kearah Pria muda yang berdiri didepannya. Dia sangat mengingat Pria muda itu, karna Pria itu yang membuat dirinya cemburu malam itu.
Ahmad merasa tak nyaman, dirinya merasa ditatap oleh orang dibelakangnya. Padahal dia berharap tak bertemu dengan Pria yang menatapnya tajam malam itu.
Ahmad lalu melirik kearah Kakak Iparnya yang nampak diam. Dia kemudian terbesit pertanyaan
"Mas Ilham kenapa? Mas masih kaget ya!" tebak Ahmad.
"..ahh iya...Mas hanya tak menyangka saja.." balas Pria yang ada disamping Ahmad sambil menyengir. Ahmad yang melihat ekspresi Ilham yang terlihat lucu baginya lantas tertawa.
"Hahaha, bukankah keren seorang Wanita bisa sekuat itu!" seru Pria muda itu.
"...iya sih, tapi Kakak lebih suka tipe seperti Kakakmu.." jujurnya.
'Ting' pintu lift terbuka. Kedua Pria yang ada disamping Mikael turun, tidak dengan Mikael yang menuju kelantai basement untuk mengambil mobilnya.
"Kalau tipeku mah seperti Kak Al!" seru Pria muda itu saat pintu lift akan tertutup.
Mikael yang samar-samar mendengar nama Al lantas melihat kearah dua Pria yang baru turun itu.
"Apa aku salah dengar.." batin Mikael.
Diluar lift, Ahmad merasa lebih baik. "Mas Ilham, kenal dengan Pria tadi?" tanya Ahmad kemudian.
"Mas, tidak terlalu mengenalnya, yang Mas tau dia tetangga kita. Memangnya kenapa?"
"...tidak, hanya saja Pria itu terlihat sangat dingin dan tak ramah.." ucapnya.
"..hahaha..perasaanmu saja.." ucap Ilham menenangkan.
Ahmad lantas menghembuskan nafas panjang. Padahal itu bukan perasaannya. Jelas-jelas saat pertama kali bertemu Pria nampak sangat sinis melihatnya.
###
"Sip!" gumam Al sambil melihat dirinya yang sudah nampak rapi dicermin.
Dia lantas melangkahkan kaki keluar kamar mandi lalu berjalan kearah ruang TV sambil tangan kirinya menjingjing tas tangan yang berisi pakainnya yang basah dan tangan kanannya memegang godi bag ukuran 15x15.
Al menghampiri Via yang nampak sedang memasak didapur.
"Vi, aku nitip kado ini ya buat Ahmad!" seru Al.
Via yang sedang mencuci sayuran lantas menengok kearah Al.
"Kado?"
"Iya, kado kelulusannya. Waktu itu aku pernah janji. Baru kesampain sekarang kasih kadonya.." cengir Al.
"Yaudah kamu aja yang langsung kasih ke Ahmad.." ucap Via.
"Maunya begitu, tapi aku mau pulang.." balas Al.
"Kamu mau pulang? Cepat bangat!" seru Via.
"Hehehe iya," cengir Al.
Via melirik kearah masakannya yang baru dimulainya. "Maaf ya aku belum nyiapin makanan ke kamu.." ucap Via.
"Tidak apa-apa, Vi. Aku juga yang salah tiba-tiba datang.." balas Al.
Mereka lalu berjalan kedepan pintu. "Maaf ya, aku cuman bisa antar sampai sini.."
"No problem.." balasnya.
"Aku pulang ya, Assalamu'alaikum.." salamnya.
"Wa'alaikumsalam.." balas Via.
Al lalu membuka pintu apartemen kemudian menutupnya kembali.
Didepan halte apartemen Arkanu. Al menunggu bis yang mengarah ke tempat tinggalnya.
Saat menunggu, sebuah motor sport berwarna hijau berhenti tepat didepannya.
Al memperhatikan sosok didepannya yang wajahnya tertutup helem.
Saat si pemilik motor membuka helemnya. Al kaget ternyata sosok tersebut adalah Beni.
"Al!" serunya memastikan Wanita bercadar didepannya.
"Iya, Kak.." balas Al.
"Hahaha sudah kuduga itu kamu.." ucapnya yang merasa senang tak salah sangka.
Al hanya diam, dia dalam hatinya masih belum siap jika bertemu kembali dengan Pria didepannya.
"Kamu dari mana?"
"...Al dari rumah teman, Kak.." jawabnya.
"...rumah temanmu didekat sini.." ucapnya kembali.
"Iya, di apartemen Arkanu.." balas Al.
"...pas sekali Apartemen Mikael juga disini.." batin Beni.
"Kamu mau pulangkan. Mari aku antar!" tawarnya. Al lantas segera menggelengkan kepalanya.
"Terimakasih Kak, tapi Al naik bis saja.." tolaknya secara halus.
Beni yang sedikit paham maksud Al lantas menganggukan kepala.
"Baiklah, kamu hati-hati pulangnya ya!" serunya lalu melajukan motornya meninggalkan Al.
Al sedikit bernafas lega. Walaupun dia belum siap bertemu kembali, tapi ada lerasaan senang saat bertemu. Apalagi mengingat sikap baiknya yang tak berubah.
Terimakasih sudah membaca, jangan luoa tinggalkan tanda.
salam hangat SMIM