Friends After Marriage

Friends After Marriage
Ke Ahlian Al



Keahlian Al


Happy Reading!!!


Adzan subuh membangunkan Pak Mamat yang tertidur. Dia lalu masuk kedalam rumah melalui pintu belakang.


Saat pintu terbuka. Dia kaget melihat sosok Bi Hilda yang tertidur di meja kecil yang ada di dapur.


"Bi, Bi Hilda bangun! Sudah subuh.." panggil Pak Mamat.


Bi Hilda terbangun dengan wajah kaget. Dia langsung menatap kearah Pak Mamat. "Nyonya sudah pulang, Pak?" Pak Mamat menggeleng kepalanya pelan. Tampak Bi Hilda semakin risau.


Dia bingung harus berkata apa pada Tuannya dan juga suaminya. Jika mereka bertanya tentang keberadaan Al.


"Lebih baik sekarang Bi Hilda sholat terlebih dahulu. Memohon doa, semoga Nyonya Al tidak apa-apa.." tutur Pak Usman menenangkan. Bi Hilda menganggukkan kepala. Lalu dia mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat.


###


Seperti hari biasanya. Al bangun pagi-pagi. Dia segera mandi lalu melaksanakan sholat tahajud.


Via yang sedang tidur nyenyak terbangun mendengar suara seseorang yang sedang mengaji. Dia lantas membuka matanya mendapati sosok Al. Dia segera bangun dari kasur lalu menuju kamar mandi mengambil air wudhu.


###


Di kediaman Via, terlihat ke sibukan di dalam maupun diluar rumah tersebut. Dalam hal masak-memasak dan bebersih.


Al sejak pagi sudah berada di dapur, membantu ibu-ibu tetangga memasak bihun, ayam bakar, telor sambalado dan tumis sayur.


Masakan tersebut dibuat bukan untuk acara pernikahan Via esok hari. Tetapi untuk pengajian yang akan di lakukan nanti malam. Karena besok hari saat pernikahan, mereka menggunakan layanan catering.


Dari kamar yang ada di ruang tamu, Via keluar. Via sudah tampak harum dan cantik dengan balutan gamis berwarna hijau tua dengan kerudung berwarna senada. Dia menghampiri Al yang sedang mengupas bawang merah untuk di goreng. "Al kamu masih sibuk?" tanya calon pengantin itu.


Al menengok kearah Via sejenak. Lalu melihat kearah dirinya yang berbau bumbu dapur dengan pakaian gamis yang kotor terkena bumbu.


"Iya Vi," jawabnya. "Kayaknya aku gak bisa nemenin kamu buat ke salon deh.." ucap Al.


"Tapi..." ucap Via yang terpotong oleh Al yang sedang memanggil seseorang.


"Ahmad!" panggil Al pada Ahmad yang sedang melewati dapur.


Ahmad yang baru keluar kamar mandi menoleh kearah Al. "Iya Kak?"


"Kamu lagi sibuk gak?" tanya Al tersenyum manis.


"Enggak Kak," gelengnya semangat. "Paling tadi cuman bantu Bapak buat bebersih halaman, tapi sekarang udah selesai .." balasnya.


"Kalau begitu, tolong bantuin Kakak buat temenin Kak Via ke salon!" pinta Al. Seketika Ahmad bergidik ngeri.


"Enggak deh Kak. Di salon nungguin Kak Via luluran, meni pedi dan ***** bengek lainnya. Ogah! Mending bantuin Kak Al ngupas bawang. Sambil ngobrol-ngobrol, gitu.." ucapnya.


Al tersenyum mendengar perkataan Ahmad, dia lalu meletakkan pisau yang ada di genggamannya. "Kalau gak mau nemenin Vis, mending kamu gantiin Kakak kupas bawah. Terus Kakak yang pergi ke salon anterin Via. Jadi kamu mau pilih yang mana?" ucap Al dengan mata melotot kearah Ahmad.


Ahmad bingung ingin memilih yang mana. "Jika menemani Kakak, aku pasti akan lalatan plus jamuran disana. Tapi jika memilih menggantikan Kak Al, ya masa sendirian ngupasin bawang, kayak jomblo akut aja. Walaupun benar si hehehe.." pikirnya.


"Yaudah deh, Ahmad temenin Kak Via.." pasrahnya. Al tersenyum sedang Via hanya pasrah ditemenin adiknya, yang pasti nanti akan mengeluh.


"Yaudah sekarang kalian perginya!" seru Al.


Ahmad lantas pergi untuk mengganti pakaian. Via masih didekat Al yang mengupas bawang.


"Padahal aku pengen ditemenin kamu lo Al! Biar kita luluran bareng!" seru Via. "Maaf ya, kamu disini jadi repot bantuin aku..." katanya kembali merasa tak enak.


"Kamu ini ngomong apa, Via! Kitakan sahabat yang udah kayak saudara. Jadi gak perlu ngerasa gak enak.." ucapnya. "Terus kalo soal luluran...kan bisa kita lakukan bersama di salon Jakarta.." ucapnya. Via menganggukinya.


Ahmad yang sudah selesai mengganti baju, lebih tepatnya hanya mengganti celana pendeknya menjadi celana panjang, lalu keluar kamarnya.


"Kak Via, aku udah siap. Ayok.." ucapnya. Via segera izin pamit pada Al lalu pergi ke salon.


###


Masakan sudah tampak jadi disetiap baskom. Ibu-ibu tetangga dan juga Al, saat ini mulai mengisi setiap kerdus dengan lauk pauk yang tadi di masak berserta dengan nasinya.


Tampa terasa adzan magrib berkumandang. Bertepatan dengan selesainya mereka memasukan makanan ke setiap box.


Mamanya Via terlihat membawakan seteko minuman jahe dengan campuran asam jawa, teh, jeruk nipis dan madu.


Dituangkanlah minuman tersebut kedalam gelas berukuran sedang lalu membawanya kepada Al yang sedang menyenderkan tubuhnya di tembok.


"Minumlah!" serunya menyodorkan segelas minuman. Dia lalu duduk disamping Al.


"Ee..," Al yang pikirannya sejenak melayang lantas kembali sadar lalu menerima minuman itu.


"Terimakasih, Bu.." ucapnya sambil tersenyum manis. Dia lalu meminum, minuman hangat itu dengan lahap dan langsung habis dalam sekejab.


"Mau tambah!" seru Wanita setengah baya itu.


"Tidak, Bu. Sudah cukup.." balas Al. "Oh iya Bu, Via sama Ahmad belum pulang?" tanya Al, karna sejak tadi dia belum melihat Via dan Ahmad.


"Belum Al. Tadi Via nelpon katanya dia baru saja selesai. Usai sholat mereka akan pulang.." jawab ibunya. Al menganggukan kepalanya pelan.


"Al, makasih ya. Udah mau repot-repot bantuin disini.." tutur Mamanya Via.


"Al enggak repot kok Bu. Al malah senang bisa bantu-bantu.." ungkapnya senang. Wanita itu ikut tersenyum.


"Oh iya Bu, Al sholat dulu ya.." izinnya. Mamanya Via menganggukan kepala. Saat akan berdiri Al menghentikan gerakannya karna perkataan Wanita itu.


"Sebelum sholat, mandilah terlebih dahulu.." ucap Wanita itu.


"...emangnya Al, bau ya Bu?" tanya Al. Dia lantas mencium pakaian dan kerudungnya. Wanita itu tersenyum mendengar ucapan Al.


"Tidak bau, hanya saja saat bertemu sang pencipta. Bukankah lebih baik dalam keadaan segar, bersih dan harum.." ucapnya. Al menganggukan kepala membenarkan.


Hampir saja Al melupakannya, karna rasa lelah di tubuhnya.


Al sejak dulu berfikir, kebanyakan dari orang. Saat akan pergi jalan-jalan atau ketemu doi pasti selalu harum, cantik, pake baju terbaik. Sedangkan bertemu sang pencipta, pake baju seadanya dan kucel. Seharusnya saat bertemu pencipta melakukan hal terbaik. Saat bertemu doi seadanya saja, tapi ingat doinya yang halal. Tapi sih kalo bisa dua-duanya dilakukan dengan terbaik.


###


Langit sudah berubah gelap. Burung-burung dan ayam-ayam sudah berpulangan ke rumahnya.


Di rumah besar itu. Tampak Wanita setengah baya yang selalu mengecek HPnya. Dia berharap jika Wanita yang di tunggunya menelponnya balik ataupun memberikan pesan tetang keberadaannya.Tapi sayang tidak ada satupun.


Bi Hilda lalu membuka kitab sucinya kemudian membacanya dengan baik dan benar. Hatinya jauh kebih tenang, dibandingkan tadi.


Tapi aktivitasnya terhenti ketika mendengar salam dari pintu belakang yang tidak di kunci.


Bi Hilda kaget melihat sosok suaminya yang sudah pulang. Seketika Bi Hilda kembali cemas. Dia lalu menghampiri suaminya untuk mengambil alih koper yang di pegangnya.


Tampak jelas terlihat, wajah Pak Usman yang lelah. Bibirnya yang sedikit pucat. Serta langkah kakinya yang lunglai.


Kejadian seperti ini biasanya tidak dialami Pak Usman, karna dia tidak selemah itu. Mungkin ini terjadi karna sudah lama dia tak menemani perjalanan bisnis Mikael. Ditambah perjalanan bisnis kali ini lama dan sangat padat.


Setelah jadi tehnya, Pak Usman langsung menghabiskannya dalam sekejab.


"Sekarang lebih baik, Bapak istirahat!" perintah istrinya yang khawatir. Pak Usman kembali menganggukan kepala lalu menuju kamarnya. Sedangkan kopernya dibawa oleh Bi Hilda.


"Sepertinya sekarang bukan waktu yang pas untuk membahas Nyonya Al.." batin Bi Hilda. Dia lalu mengikuti Pak Usman menuju kamar.


###


Ba'da isya, pengajian dimulai. Para tetangga dan saudara Via yang datang sejak sore mulai memenuhi ruang tamu sampai halaman.


Pengajian dilakukan sangat khitmat. Lantunan ayat-ayat yang diucapkan begitu menyejukkan hati.


Begitu juga dengan Via dan Al yang ikut mengaji, tanpa disadari air mata Via terjatuh membasahi yasin yang ada di genggamannya. Hatinya serasa senang dan juga sedih.


Al yang menyadari Via menangis lantas mengusap punggungnya pelan. Dia paham persis perasaan Via saat ini.


Itulah kebanyakan Wanita. Mengekpresikan dengan air mata, Karna perasaan Wanita yang memiliki sisi lembut.


Usai pengajian, nasi kotak (besek) dibagikan untuk perorang. Besek yang tersisa biasanya di bagikan ketetangga yang memiliki banyak anak atau anggota keluarga di rumahnya.


Al beserta kerabat Via mulai membersihkan tikar yang tadi digunakan untuk mengaji setelah itu melipatnya.


Setelah tikar di lipat atau digulung, tikar tersebut diletakkan di sudut ruangan. Lalu mereka menyapu lantai ruangan dan dipel oleh kerabat Via yang lain.


Dari luar rumah, akhirnya orang di tunggu datang. Yaitu orang yang mendekorasikan pacar (hena) ditangan Via.


Meraka melakukannya di ruang tamu, anak-anak dari kerabatnya memperhatikan tangan dan kaki Via yang diberikan pacar pernikahan.


Al juga disana memperhatikan Via yang dipasangi pacar. Dia senang melihat kelincahan tangan Wanita didepan Via yang sangat mudah membuat motif maupun pola yang cantik dan rapi.


"Al!" panggil suara Pria. Al segera menengok kebelakangnya. Sumber suara tersebut berasal dari Bapaknya Via.


"Iya Pak?" tanya Al.


"Ayok temenin Bapak main catur.." ucap Pria setengah baya itu.


Dari arah pintu, Ahmad datang lalu berkata. "Kak Al, ayo main PS!" ajaknya. Lantas Bapaknya melihat kearah Ahmad.


"Ahmad! Tadi Bapak duluan yang ngajak Al main catur! Jadi kamu ngalah ya.." ucap Pria tua itu. Ahmad lantas menggerakkan jari telunjuknya.


"Bapak, yang ada juga Bapak yang ngalah sama anaknya.." ucap Ahmad.


Mereka lalu saling tatap memprebutkan Al. Sedangkan Al hanya tersenyum melihat tingkat anak dan Bapak ini.


Lain hal dengan Via yang mengegelengkan kepala melihat mereka. "Benar-benar deh, selalu seperti itu ketika Al ada disini.." gumamnya.


"Sudah lah Al. Kamu tidak harus menerima ajakan Bapak dan adekku.." saran Via, karna dia tau betul Al sejak pagi sudah sibuk dan dia baru istirahat sekarang.


"Tidak apa-apa Vi, aku juga kangen main catur dan main PS. Lagi pula 7 bulan ini aku tidak pernah memegangnya sama sekali.." ucap Al.


Via hanya menghembuskan nafas. Apa yang dikatakan Al benar. Selama ini dia menahan nafsunya untuk bermain. Dia selalu membaca dan membaca untuk memperdalam pengetahuannya tentang Islam.


"Baiklah, Al akan bermain PS terlebih dahulu.." ucapnya. Lantas mendengar itu Ahmad bersorak senang. "Setelah itu Al akan bermain catur, tapi kalau Bapak ataupun Ahmad kalah kita sudahan! Oke.." ucapnya.


"Oke setuju!" ucap mereka bersamaan. "Tapi, kali ini pasti Bapak yang bakal menang!" seru Pria tua itu yakin.


"Benar, kali ini Kak Al pasti kalah!" begitu juga yang dikatakan Ahmad.


Sedangkan Al hanya membuat jarinya berbentuk 'oke' sambil tersenyum.


####


Pacar yang di pasang ditangan maupun di kakinya Via tampak sudah kering. Dia lantas berlari ke kamar mandi, karna sejak tadi dia sudah kebelet.


Usai dari kamar mandi, dia mencari sosok Al. Dilihatnya ke kamar Ahmad yang tampak kosong. Tapi suara dari teras rumah begitu riuh.


Saat di lihatnya. Disana terlihat Al sedang bermain catur dengan Bapak tetangga.


Via menggeleng kepalanya. Pada akhirnya pasti Al akan selalu bermain dengan para Bapak tetangga. Karna mereka melihat kelihaian Al dalam bermain catur.


"Wahhh, Kak Al menang lagi.." kata Ahmad menggeleng kepalanya begitu juga Bapaknya Via dan Bapak-bapak tetangga.


"Sepertinya kali ini masih belum ada yang mengalahkan Al!" seru Via. Lantas para cowok itu menundukkan kepalanya. Sedangkan Al hanya tersenyum.


"Karna Al sudah menang dan sepertinya Bapak-bapak sudah di kalahkan. Saya akan mengajak masuk sahabat saya ini, oke.." ucap Via.


Saat Al akan beranjak. Salah seorang dari Bapak-Bapak yang berkumis berkata, "Pasti, saat di Jakarta Al selalu bermain catur.."


Dan beberapa Bapak lain membernarkan perkataan Bapak berkumis itu.


"Memang benar Kak Al, selalu latihan?" tanya Ahmad secara langsung. Bapak-bapak tersebut lantas melihat kearah Al.


Sayangnya jawaban yang diberikan Al adalah gelengan kepala, yang artinya tidak.


"Terus bagaimana kamu bisa terus menang?" tanya kembali Bapak yang kepalanya botak.


Al dan Via lantas tersenyum. Al lalu berdiri kemudian sedikit berlari kedalam rumah setelah mendapat kedipan mata dari Via. Bapak-Bapak terlihat bingung melihat Al yang terburu masuk kedalam rumah.


"Bapak benar ni, mau tau Al kenapa bisa pintar main catur!" seru Via. Bapak-bapak tersebut menganggukkan kepala dengan semangat.


"Rahasianya adalah.." ucapnya sambil menunggu Al datang membawa benda dari kamar Via. "Ini..." lanjut Via menunjukan buku yang Al pegang.


Lantas Bapak-bapak itu memajukan duduknya untuk membaca judul buku tersebut yang bertuliskan. "Mengenal dengan baik Allah yang menciptakan kita"


Tampak wajah Bapak-bapak tersebut terlihat tak bersemangat. "Kamu ini masih bercanda aja. Bapak kira serius.." ucap Bapak berkaos oblong. Karana mereka berfikir buku yang di tunjukan Al adalah buku teknik bermain catur.


"Al gak bercanda. Ini malah Al 2 rius, Pak. Kalau kita mau sesuatu, kita minta sama pencipta kita. Tapi ingat! Sebelum meminta terlebih dahulu kita harus mengenal pencipta kita. InsyaAllah kalau kita udah kena baik, apa yang kita inginkan dikabulkan.." tutur Al.


"Contohnya, tadi Al tadi minta supaya tidak terlena saat bermain catur ataupun PS. Alhamdulillah di kabulkan. Kurang dari 10 menit Al bisa mengalahkan setiap Bapak-bapak.." tutur Al.


Bapak-bapak lain menganggukan kepala, Membenarkan perkataan Al bisa mengalahkan mereka bermain catur hanya dalam kurun waktu kurang dari 10 menit.


(Jangan lupa VOTE, tekan tanda ini πŸ‘, coment πŸ‘dan Reting 🌟🌟🌟🌟🌟 ya...)


############################################################


Maaf ya jika banyak typo...


Jangan lupa coment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.


Dan tinggalkan tanda hati.


Jangan lupa vote yang teman-teman.


Saya juga nulis cerita yang judulnya UHIBBUKI jangan lupa mampir ya.....


Terimakasih