
Happy Reading!!!
Kucing dan Tikus
Kemarin, selama seharian penuh Mikael selalu berada di kamarnya. Dia keluar jika haus ataupun lapar. Sisanya dia akan di kamar merenungi akan perasaanya yang masih tak menentu.
Bukan mengenai ketakutan Al, karna dia tahu Al tak merasa takut oleh sosoknya malam itu. Tetapi, Mikael takut pada dirinya sendiri yang akan melakukan hal yang sama jika bertemu langsung dengan Al.
Ditambah satu perasaan lain yang dirasakannya sejak hari keberangkatan ke NTT. Yaitu perasaan berdebar jika berada didekat Wanita itu.
Apalagi melihat dirinya sehabis mandi dan berpakaian terbuka membuat jantungnya seperti kuda yang sedang pacuan.
Perasaan itu, masih membuat dirinya bingung.
Dia pernah sekilas terbesit pemikiran, jangan-jangan dirinya jatuh cinta pada Wanita itu. Tetapi Pria itu segera menyangkalnya.
Dia beranggapan perasannya itu karna selama beberapa hari itu, dirinya selalu bersama dengan Al. (cek cek cek dalih yang lemah)
Padahal hati terkecilnya sempat merasa tak suka ketika melihat Al bersama Beni bercakap-cakap. Begitu juga saat menanyakan perasaan Yuan kepada Al. (Hahhh Mikael...goiro peka)
Pagi ini, usai sarapan keempat Pria tampan itu, nampak sedang berkumpul didepan TV.
Suasana canggung masih terasa diantara mereka karna salah satu Pria masih mendiamkan salah satu Pria lainnya.
Ghifari memandangi kedua sahabatnya ini. Dia melihat Mikael yang berwajah santai seperti dirinya yang biasanya. Begitu juga Yuan, tetapi bedanya. Pria berambut coklat masih mendiami Pria gondrong itu, seperti tak menganggap Pria itu ada.
"Haahh...gua bosan!" seru Beni sambil terduduk malas.
"Jauh-jauh kesini, cuman diam di penginapan.."
"..benar kata lo.." balas Yuan seketika.
"Mending di ruma aja, dari pada disini..." lanjutnya mendelik kearah Mikael yang sedang menyeruput kopinya.
Beni dan Ghifari saling pandang. Beni mengatakan hal itu agar Mikael tak di rumah aja. Sedang Yuan bertujuan menyindir Mikael, karna kesal melihat Mikael yang belum menceritakan Prihal memulangkan Al.
Walaupun kedua sahbatnya yang saling pandang tadi juga kesal dengan Mikael yang tak menceritakannya, tapi mereka tak bisa memaksa Pria itu.
Ghifari yang merasakan susana makin canggung, lantas tertawa garing.
"Hahaha...kalau gitu siang ini kita keluar aja.." usulnya.
"Benar, gua setuju.." kata Beni yang juga tertawa garing.
Mikael masih nampak diam tak menggubris perkataan para sahabatnya. Terutama perkataan Yuan yang tadi tertuju padanya.
Sejak dua hari yang lalu, Mikael sudah menampakkan wajahnya dan mulai berkumpul bersama para sahabatnya. Tetapi Pria berambut coklat itu sudah mendiamkannya.
Awalnya Mikael tak masalah akan sikapnya itu, karna kejadian mendiamkan ini juga pernah terjadi. Paling lama dia mendiaminya sekitar tiga harian setelah itu dia akan kembali seperti biasanya.
Bedanya, sekarang sudah hari keempat tetapi Pria itu masih kekeh mendiaminya. Seperti menganggap Mikael tak ada.
Melihat tindakan sahabatnya itu yang kekeh, membuat Mikael berfikir. Jika dirinya tetap diam, maka Pria itu tetap akan mendiamkannya. Itu membuat Mikael tak nyama.
Fikirnya, setidaknya untuk kali ini dia harus mengalah.
Mikael meletakkan cangkir kopi yang dipegangnya. Dia lalu mengalihkan kepalanya kearah Yuan yang sedang menatapnya.
Saat mata mereka bertemu, Yuan segera membuang wajahnya kearah TV yang menyiarkan acara kuis.
Mikael menghembuskan nafasnya. Sungguh sikap kekanakan Yuan lebih mengesalkan bagi Mikael dari pada sikapnya yang selalu banyak bicara.
"Baiklah, gua bakal cerita.." pasrahnya. Ucapan Mikael tersebut mendapat perhatian dari tiga Pria itu.
Dua pria itu nampak tersenyum senang, tidak dengan Yuan yang masih berwajah tak peduli.
Mikael lalu menjelaskan Prihal Al yang tiba-tiba disuruhnya pulang.
###
"Cuman karna itu!" seru Ghifari. Mikael menganggukinya.
Beni, Yuan dan Ghifari nampak menggelengkan kepala mendengar penjelasan Mikael yang mengatakan, dirinya memulangkan Al karna merasa terganggu dengan kehadirannya. Jika Wanita itu berada didekatnya, jantungnya sering berdebar membuat perasaannya tak nyaman.
Tetapi, mereka yang mendengarnya juga merasa senang, akhirnya sahabatnya itu bercerita walaupun dengan secara terpaksa.
Saat mendengar kejujuran Mikael tadi, sedikitpun Pria berambut coklat (Yuan) tak memiliki rasa cemburu. Melainkan merasa gemas dengan kepolosan Mikael tentang cinta.
"..itu artinya lo suka sama dia!" seru Yuan terus terang yang mendapat tatapan dari tiga Pria itu.
Mikael terdiam sejenak. "Gua suka sama dia.." gumamnya tak percaya.
Ketiga sahabatnya itu, seketika menatap kesal kearah Mikael yang masih tak percaya akan perasaannya sendiri.
"Kalau bukan suka, apa lagi!" ucap Yuan gemas.
Mikael nampak berfikir sejenak. "...mungkin itu hanya debaran sesaat.." sangkal Mikael.
Yuan menepuk jidatnya, sedang Beni dan Ghifari menatap iba kearah Mikael yang fillingnya down.
Seketika Ghifari tersenyu. Dia terbesit suatu ide. Diraih HPnya dari atas meja lali membukanya, setelah mencari sesuatu incarannya dia lalu menghadapkan layar HPnya kearah Mikael.
"Gimana perasaan lo, melihat foto ini?" tanya Ghifari.
Mikael mengalihkan matanya dari TV. Dia hanya sebentar melihat foto itu lalu mengalihkan pandangannya.
"Biasa aja!" balasnya santai.
Sedangkan Kedua Pria yang ada disamping Ghifari bersiul melihat kearah layar HP Pria berambut bule lokal. Disana terdapat foto Wanita cantik dengan bentuk tubuh bagaikan gitar sepanyol yang hanya mengenakan lingerie menutupi tubuhnya.
Beni yang berada disamping Mikael mengambil alih benda pipih itu. Dia bersama Yuan melihat foto demi foto dibenda canggih itu.
"Bagaimana jika Al yang memakai pakaian itu?" tanya Ghifari kemudian.
Mikael yang mendengarnya sontak membulatkan mata. Dia melirik kearah dua sahabatnya yang tak menggubris perkataan Ghifari, seketika dia tenang.
Dia kembali teringat akan perkataan Ghifari, jika Al yang mengenakan pakaian itu. Tapi yang terbayang bukanlah Al memakai lingeria yang transparan tetapi pemandangan Al tanpa sehelai benang.
Ghifari yang melihat perubahan di raut wajah Mikael tersenyum. Sedangkan dua Pria yang ada disampingnya masih asik memandangi foto Wanita di HPnya.
Dia lalu melirik kearah dua sahabatnya yang masih memegang HPnya lantas segara mengambilnya.
"Ehhh kok udah lo ambil.." ucap Beni.
"Gua masih asik ngeliatnya.." timpal Yuan karna kesenangannya yang sedang menzinai matanya diganggu.
"Liat di HP kalian sendiri!" balas Ghifari. Mereka bersungut kesal.
Ghifari kembali mengalihkan kepalanya kearah Mikael begitu juga dua Pria disampingnya.
"Sekarang lo pahamkan!" seru Ghifari. Kedua sahabat disampingnya nampak bingung mendengar ucapan Pria berambut bule lokal.
"Paham apa?" tanya Beni. Begitu juga Yuan yang meminta diberitahu.
Ghifari lalu memberitahukan perkataannya tadi pada Yuan dan Beni. Mikael yang mendengarnya segera menatap kearah mereka berdua.
"Gua harap kalian enggak ngebayanginnya!" serunya tajam.
Mereka bertiga kaget mendengar penuturan Mikael. Tapi seketika tertawa, karna ini pertama kalinya mereka melihat Mikael yang cemburu.
"Hahaha..gimana gua mau bayangin? Gua aja gak tau muka istri lo!" ucap Beni.
"..tenang aja gua gak bakal bayanginnya.." timpal Ghifari.
Pria gondrong itu lalu menatap kearah Yuan yang masih tertawa. "...slow Mikael, walaupun gua tertarik sama istri lo. Gua juga punya batasan kok.." ucapnya.
Mikael lantas menutup wajahnya karna malu. Mungkin ini pertama kalinya dia merasa malu didepan sahabatnya.
"Sekarang lo pahamkan, perasaan lo terhadap Al!"
Mikael menganggukan kepala paham. Akhirnya hal yang ingin disangkalnya tak dapat disangkal berkat trik sederhana Ghifari.
Yuan tersenyum senang, melihat kearah Mikael. Akhirnya hal yang ditungu terjadi, sahabatnya yang membenci Wanita jadi menyukainya "hanya istrinya".
Ghifari melihat kearah Yuan yang tersenyum-senyum. "Jadi lo udah gak marah lagi nih.." katanya menyenggol Yuan.
Yuan tertawa, dia lalu berdiri kemudian duduk disamping Mikael. "Enggak lah.." senyumnya. Mikael tak menggubrisnya karna masih malu akan perkataannya.
"Bagaimana kalau nanti malam, kita minum lagi.." ajak Yuan. Beni dan Ghifari menganggukan kepala tanda setuju.
Ketiga Pria itu lalu melihat kearah Mikael yang mulai mengangkat kepalanya. "Gua ikut aja.." ucapnya.
"Oke, sepakat.." ucap Beni.
Mikael kembali mengambil secangkir kopinya lalu menenguknya sedikit. "Setidaknya, sedikit tak apa.." batinnya.
###
Saat hari kepulangan Al. Nampak Pak Usman sudah di Bandara Jakarta. Dia disana untuk menjemput Nyonyanya atas perintah Tuannya.
Kepulangan Pria setengah baya itu, tak hanya untuk menjemput Wanita bercadar itu, tapi juga untuk mengurus perusahaan yang akan beroperasi seminggu setelah lebaran. Alasannya karna pemiliknya akan pulang telat.
###
Di ruangan berwarna biru muda, seorang Wanita nampak duduk disalah satu kursi dengan tubuh bersandar dimeja. Terlihat raut kesedihan dimatanya Wanita berkerudung coklat itu.
"Haahhh.."
Wanita bermasker itu menghela nafasnya. Dia melihat kearah HPnya yang terdapat chat dirinya kepada suaminya.
"Kak, kenapa pesan Al sampai sekarang belum dibaca?" gumamnya melihat dua centrang berwarna abu.
Al merasa sangat rindu, karna sudah lebih dari tiga minggu, dia tak bersua dengan suaminya. Padahal setiap minggu dia selalu mengunjungi Pria itu, tetapi dirinya selalu pergi entah kemana.
Dia mengingat kembali kejadian minggu lalu saat mengunjungi suaminya.
Flashback On
'Ting' pintu lift terbuka menampakan sosok Wanita yang berjalan keluar. Dia melangkah kearah meja yang ada didekat pintu.
"Nyonya Al!" sapa Wanita cantik yang rambutnya di gerai. Wanita yang disapa itu tersenyum.
"Assalamu'alaikum.." salamnya. Wanita yang rambutnya digerai itu tersenyum malu karna lupa mengucapkan salam.
"Wa'alaikumsalam.." balasnya. Wanita itu lalu segera berdiri kemudian mereka lalu saling berjabat tangan.
"Nona Alula, Pak Mikael ada didalam?" tanyanya.
"Ada Nyonya.." jawabnya. Al lalu mengucapkan terimakasih kemudian menuju pintu berdaun dua itu.
Seperti biasa setelah ketukan ketiga Al membuka pintu.
"Kak El.." panggilnya pelan lalu memasukkan tubuhnya kedalam ruangan, tapi dia tak menemukan sosok yang duduk disingganya.
Al kembali keluar pintu. "Nona Alula!" panggil Al.
Alula yang baru saja melangkah kearah lift menghentikannya lalu berbalik kearah pintu yang daunnya terbuka sebelah.
"Pak Mikaelnya tidak ada?" tanya Al menunjuk kearah dalam ruangan.
Alula mengerutkan dahinya. Dia lalu berjalan menghampiri pintu itu. "Masasih Nyonya.." ucapnya sampai didepan pintu.
Al lalu membuka lebar pintu, membiarkan Alula melihat kedalam ruangan. "Kok tidak ada ya?" katanya balik bertanya
"Padahal tadi sebelum Nyonya Al datang ada beberapa karyawan yang datang menemui Pak Mikael.." lanjutnya.
Mereka lalu melangkah ke kamar mandi. Ketika pintu diketuk tak ada jawaban. Mereka lalu membukanya, ternyara didalam sama saja tak ada orang.
"Maaf ya Nyonya.." balas Alula yang tak enak.
"Tidak apa-apa kok," balasnya segera.
"Saya akan meletakkan ini saja.." tunjuknya kearah tas yang berisi rantang.
Wanita bercadar itu lalu melangkah kearah meja sofa, dia kemudian meletakkan tas tersebut.
Kemudian Kedua Wanita itu lalu keluar dari ruangan tersebut. Tak lupa Alula menutup pintu kembali.
Sebelum keluar ruangan Mikael tadi, Alula memperhatikan meja Bosnya yang berserakan kertas. Dia merasa bingung melihatnya. Sungguh bukan kebiasaan Bosnya jika meninggalkan rungan ketika mejanya masih berantakan.
Flashback Off
Saat malamnya, dia mengingat Pak Usman mengucapkan terima kasih. Katanya ucapan terimakasih itu dari Mikael atas makanan yang dibawakan Al.
Al yang mendengarnya malam itu tersenyum senang. Tapi tidak sekarang setelah tiga minggu tak bertemu.
Esoknya Al tak ketempat kerja suaminya, karna beberapa hari itu suaminya tak ada ditempat.
Sampailah sehari yang lalu saat mengantarkan makan siang. Lagi-lagi saat sampai dilantai ruangannya.
Alula langsung menghampirinya dan mengatakan Mikael baru saja keluar.
Saat malamnya, Pak Usman kembali lagi mengucapkan terimakasih yang merupakan pesan suaminya.
"Padahal Kakak bisa telpon atau kirim pesan untuk mengucapkannya. Kalau tidak baca pesan Al.." gumamnya sambil melihat HPnya.
"Aku kangen!"
Al kembali menggerakkan jarinya untuk menuliskan pesan. Dia berharap agar suaminya membaca dan membalas pesannya.
'Cklek' pintu dapur dibuka. Menampakkan sosok Wanita setengah baya berkerudung biru tua.
Al yang sedang menyandarkan tubuhnya keatas meja segera menegakkannya.
"Al sudah selesai makan siangnya?" tanyanya menghampiri Al.
"..iya Kak.." balas Al yang terdengar ceria.
Yang mendengar nada suaranya ini, pasti tak ada yang mengira sebenarnya dia sedang sedih.
###
Setelah menambah liburannya selama seminggu, Mikael kembali ke Jakarta bersama ketiga Pria sahabatnya itu.
Dibandara, mereka berpisah ke rumah masing-masing. Kecuali Mikael dan Beni yang rumahnya sebagian searah.
Karna mobil milik Mikael yang beberapa waktu lalu masih terparkir di Bandara. Mereka lalu mengambil mobil itu terlebih dahulu dari parkiran keberangkatan.
Disetengah perjalanan, Beni turun. Dari sana Beni menaiki taxi sedang Mikael kembali melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah.
Selama di mobil hatinya tak tenang. Entah mengapa setelah mengetahui perasaannya sendiri, dadanya semakin berdebar jika memikirkan istrinya.
Hari semakin sore, akhirnya Mikael sampai di perumahan tempat rumahnya dibangun. Dia lalu melajukan mobilnya kedalam perumahan.
Saat mendekati rumahnya. Dari kejauhan dia melihat sosok yang berpakaian sama dengan istrinya. Semakin dekat mobilnya dengan sosok itu semakin mirip pula dengan istrinya, membuat dadanya semakin berdegup kencang..
Didalam hati dia berharap, sosok itu bukanlah istrinya. Dia merasa masih belum sanggup bertemu wajah dengannya.
Mikael mempercepat lajuan mobilnya. Membuatnya melewati kediamannya sendiri. Dari kaca spion dia dapat melihat Wanita itu berhenti tepat didepan rumahnya. Dia melihat sebentar kearah depan lalu berbelok kearah rumahnya.
Dadanya kembali berdegup normal. Dia membalikkan mobilnya menuju keluar perumahan.
###
Mikael kembali bekerja seperti biasa. Bedanya saat ini pekerjaan semakin menumpuk. Akibat tambahan liburannya.
Pria berambut dicepol merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku akibat terlalu lama duduk. Dia melihat kearah jam di dinding ruangannyan. Jam tersebut menandakan sebentar lagi masuknya jam makan siang.
Pria itu segera beranjak dari posisi duduknya lalu mengenakan kembali jas kantornya yang tadi dilepasnya.
Cklek
Alula yang sedang fokus mengetik segera berdiri melihat Bosnya keluar dari ruangan.
"Jika ada yang mencari saya, katakan saya keluar.." ucapnya lalu pergi kearah lift.
Alula menganggukan kepalanya paham. Tapi dia juga merasa bingung, tak biasa Bosnya pergi sebelum masuk jam makan siang.
Sampainya dilantai bawah. Mikael keluar dari dalam lift, seketika tatapannya tertuju pada Wanita yang masuk dari pintu yang terbuka sendiri.
Dia segera berbelok lalu berjalan cepat kearah kantin. Dari sana dia memperhatikan Al yang jalan kearah lift. Setelah memasukinya dia mendudukkan tubuhnya, dikursi yang ada didepan Musholla.
Seperti yang diduganya, hari ini Wanita itu datang ke perusahaannya. Dihari dimana Mikael seharian di ruangannya.
Para karyawan nampak mulai memasuki daerah kantin maupun Musholla. Mereka yang kaget melihat Bosnya disana hanya mengucapkan permisi sambil menundukan kepala.
Orang-orang tersebut seperti melihat pemandangan langka, karna bosnya bisa dibilang sangat jarang menginjaknya.
Melihat para karyawan sudah meramaikan tempat itu. Mikael segera beranjak dari duduknya. Dia berjalan kearah kursi yang ada di lobi.
Tak berapa lama duduk, dia kembali melihat Al turun dari lift. Dia segera membelakangi Wanita itu yang berjalan lurus tanpa tengok kanan kiri.
Mikael menengok sekilas, kearah Al yang keluar dari pintu yang terbuka sendiri. Setelah tak melihat sosoknya lagi, dia menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
Dia merasa malu melihat perbuatannya ini. Jika diperumpamakan, sikapnya ini seperti seekor tikus yang bersembunyi dari kejaran kucing.
Padahal orang-orang mengenal image yang berani dan tak pernah takut.
Mikael semakin malu, mengingat tindakannya seminggu yang lalu yang seperti orang pemgecut.
"..aagghh apa yang kulakukan.." batinnya.
Falashback On
'Tik tik tik' suara jam memenuhi ruangan minimalis tersebut. Seorang Pria tampan nampak serius membaca kertas ditangannya.
'Tok tok tok' suara pintu di ketuk.
Pria muda itu mengalihkan pandangannya kearah pintu. Sekikas dia melihat kearah jam dinding.
"..ohh sudah jam makan siang.." gumamnya.
'Klek' suara pintu terbuka.
"Kak El.." ucap suara diluar.
Mendengar suara itu seketika Mikael turun dari kursinya lalu terduduk diatas lantai. Dia masih memegang kertas ditangannya dan mejanya masih berserakan beberapa kertas.
"Nona Alula!" panggil Wanita yang membuka pintu kepada Sekretaris Mikael.
"Pak Mikaelnya tidak ada?" tanyanya pelan.
"Masasih Nyonya.." bakas sekretarusnya tak percaya.
"Kok tidak ada ya?" tanyanya seketika setelah melihat ruangan tak ada siapapun.
"Padahal tadi sebelum Nyonya Al datang ada beberapa karyawan yang datang menemui Pak Mikael.." lanjutnya.
Mikael yang berada dibalik meja kantornya merasa jantungnya berdegup sangat kencang. Dia takut bila saat ini ketahuan. Jika 'iya' dia tak tau harus bersikap bagaimana.
"Maaf ya Nyonya.." ucapnya tak enak.
"Tidak apa-apa kok," balas Wanita itu ramah.
"Saya akan meletakkan ini saja.." tunjuknya kearah tas yang berisi rantang.
Setelah kedua Wanita itu pergi, Mikael pelan pelan mengangkat kepalanya mengintip. Setelah memastikannya dia segera berdiri lalu kembali duduk disingganya.
Dia bernafas lega tak tertangkap. Mikael lalu mendapati tas yang ada di meja sofanya. Melihat tas itu, Pria itu langsung tau isinya.
"..kamu sangat pengecut El!" ucapnya pada dirinya sendiri.
Dua hari kemudian
'Tok tok tok' Sekretarisnya membuka sebelah daun pintu. Dia lalu masuk kedalam ruangan.
"Pak Mikael, saya pamit pulang ya!" serunya.
"Iya, terimakasih untuk hari ini.." balas Mikael.
Alula tersenyum sambil menganggukan kepala. Setelah itu dia menutup kembali pintu ruangan Bosnya.
Didalam ruangannya, Mikael menyenderkan tubuhnya dikursi. Perasaannya saat ini begitu melelahkan dibanding saat mengerjakan pekerjaanya yang segubun.
Sejak semalam, dia berfikir tak mungkin selamanya dia seperti ini. Pasti ada saatnya dimana dia akan bertemu wajah dengan Al. Apalagi ini sudah terhitung tiga minggu lebih sejak kejadian.
"Haahhhh.."
Diputar kursinya menghadap kejendela. Dia memandang lagit yang masih cerah sambil berfikir akankah hari ini dia pulang ke rumahnya atau ke apartemennya.
Jika dia pualang, dia harus menyiapkan hatinya dan membuat dadanya tak berdegup kencang ketika berhadapan langsung.
T
H
I
N
K
'Tik tik tik tik tik tik'
Mikael tersadar dari lamunanya. Dia baru menyadari langit mulai gelap. Lantas dia segera beranjak dari posisi duduknya.
Setelah merapikan tasnya, dia terdiam sejenak. "Mikael, kali ini lo gak boleh kabur lagi.." gumamnya pada dirinya sendiri.
Dia lalu melangkah kepintu dengan yakin.
Cklek
Pria itu terdiam sejenak didepan pintu. Dia seketika menutup kembali pintu yang baru saja dibukanya.
Dia memegang dadanya yang mulai berdegup kencang. Walaupun dia sudah mempersiapkan hatinya, tetapi dia tak menyangka akan secekarang juga.
###
Al tersenyum senang, akhirnya setelah kemacetan yang lumayan lama. Akhirnya dia sampai di tempat tersebut.
Dia melihat, para karyawan mulai berpulangan. Ada yang naik angkot, mobil dan motor.
Tepat di halaman depan Al berpapasan dengan Alula yang ingin pulang.
"Assalamu'alaikum, Nyonya Al.." sapa Alula.
"Wa'alaikumsalam," jawab Al.
"Nyonya, pasti mencari Pak Mikael?"
"Iya, apa Pak Mikaelnya sudah pulang?"
"Belum, beliau masih berada di ruangannya.." jawabnya segera. Mendengarnya Al merasa senang.
Setelah mengucapkan terimakasih Al segera pamit. Dia lalu masuk kedalam perusahaan.
Sampainya dilantai atas, dia tak langsung mengetuk pintu. Dia memilih duduk dikursi yang ada didepan meja Alula bekerja.
Cukup lama Al menunggu disana. Tapi tak ada tanda suaminya keluar. Untungnya hari ini dia membawa buku yang baru dibelinya. Buku itu berjudul "Menjadi Istri Idaman Suami"
Jadia dia bisa menghabiskan waktunya dengan percuma.
Saat asik membaca, terdengar suara pintu terbuka. Al segera menengok kearah sumber suara. Disana Al seketika tersenyum melihat sosok yang dirindukannya.
Tapi sayangnya tak lama, sosok itu menutup pintu kembali. Membuat Al bingung dibuatnya.
Dia lantas menaruh buku yang dipegangnya keatas tasnya lalu menghampiri pintu yang tertutup itu.
Tok tok tok
"Kak El!" panggilnya pelan.
"Kak!" panggilnya kembali, tetapi tetap sama tak ada jawaban.
Wajahnya yang ceria seketika sedih. Dia tertunduk melihat kearah lantai. "..kakak, masih marah dengan Al.." ucapnya kembali.
"...Al minta maaf, kalau Kakak masih marah soal kejadian malam itu.." lanjutnya.
"...Al enggak mau, Kak El membenci Al.." mohonnya.
Tangannya lalu memegang badan pintu yang saat dipegang terbuka. Al lalu mendorong perlahan pintu itu.
Dilihatnya sosok suaminya yang sedang membelakanginya. Al memberanikan diri melangkah masuk kedalam ruangan gelap itu.
Dia berjalan pelan mendekati sosok yang diam seperti patung dengan tangan kirinya memegang tas sedang tangan lainnya berada didepannya.
"Berhenti!" perintahnya. Al yang berjalan seketika berhenti tepat dibelakang Mikael.
Hening...
Mereka terdiam, suasana kembali hening. Al yang merasa bingung lantas kembali berjalan perlahan untuk melihat suaminya.
Walaupun ruangan tampak gelap, Al dapat melihat jelas raut wajah Mikael. Ketika memperhatikannya seketika dia tersenyum senang.
Makasih udah baca
Maaf ya SMIM nya jarang UP, karna kalo menulis suka mandek ceritanya.
Jangan lupa tinggalkan tanda supaya semakin semangat SMIM nulisnya.
Thanks...