Friends After Marriage

Friends After Marriage
Tak ada yang menyangka



Tak ada yang menyangka


Happy Reading!!!


"...eee.." Mikael membuka matanya. Dia merasa silau, karna cahaya matahari menyelinap masuk dari sela horden yang sebagian terbuka.


Diangkatnya sebelah tangannya, untuk menutupi sinar sedang tangan lainnya untuk ditempelkannya jari telunjuknya ke sudut mata untuk mengambil butiran kristal.


Ditengoknya kepalanya kesamping kiri. Disana dia tak mendapati sosok Wanita yang tadi tidur bersamanya.


Di dudukanlah tubuh tingginya dipinggir ranjang dengan kaki menggantung. Setelah itu dia segera beranjak dari posisinya menuju kearah pintu.


Diluar kamar, dia menengok kesamping kanan dan kirinya. Tak ada satupun orang dilihatnya. Suasana rumah terasa sangat sepi.


Dilangkahkan kakinya kearah dapur. Disana dia mengambil satu gelas air dingin dan langsung meneguknya sampai tandas.


Samar-samar dia mendengar suara dari arah belakang rumah. Dilangkahkan kakinya kesana.


Diambang pintu. Dia melihat sosok Kakeknya dan Al yang nampak sedang asik memetik buah mangga.


Kakeknya terlihat sedang mengarahkan Al untuk menggalah mangga yang sudah matang.


"Kakek yang ini kan?" tanya Al yang menunjuk mangga dengan galah tinggi yang dipegangnya.


"Betul, langsung jepit lalu tarik!" seru Kakeknya.


Al segera menjepit tangkai buahnya lantas segera menarik mangga yang tanggakainya sudah terjemit di galah.


'Tekk..' suara tarikan Al yang keras seketika membuat mangga terpisah dari pohonnya.


Al lalu menurunkan galahnya, kemudian mengambil 2 buah mangga yang didapatnya.


"Sepertinya cukup, Kakek.." ucapnya sambil menunjuk kearah 6 mangga yang ada didadalam baskom.


Mikael yang melihat Al dan Kakeknya mengarah keteras. Lantas segera masuk kedalam rumah.


Dari dalam dia mendengar samar-samar percakapan Kakeknya dan Al.


"Kakek, Al cuci dulu ya buahnya. Setelah itu baru kita makan.." ucap Al.


Mendengar Al yang akan masuk kedalam rumah, Mikael segera menuju kearah meja makan. Dia duduk disana.


Dilihatnya Al datang membawa 2 buah mangga. Dia menuju kearah tempat cuci piring.


Setelah mencucinya, dia mengambil piring dan juga pisau. Seketika tatapanpan Al tertuju kearah Mikael yang ada di meja makan.


Dia langsung mengembangkan senyum kearah Pria itu lalu menghampirinya. "Kak El, sejak tadi duduk disini.." ucap Al.


"..tidak, baru saja.." balasnya. Di lalu mengalihkan pandangan kearah lain.


"Al sama Kakek, abis ambil mangga tadi. Ayo kita makan bareng!" ajaknya. Al menunjukkan dua mangga yang ada di atas piring dengan senang.


Mikael menganggukan kepalanya lalu mengikuti Al menuju ke halaman belakang.


Dihalaman belakang mereka memakan mangga bersama. Mereka bercakap-cakap beraneka macam bahasan.


Mikael melihat Kakeknya yang nampak sangat akrab dengan Al. Padahal ini pertamakalinya Mikael memperkenalkan Al pada Kakeknya.


Topik pembicaraan merekapun cocok satu sama lain. Salah satu contohnya adalah membahas tentang takdir.


"Jodoh, maut, rizki memang gak ada yang tau ya.." ucap Pak Ibnu.


"Iya, tidak ada satupun manusia yang mengetahui mengenai hal itu. Hanya pemilik alam semesta yang mengetahuinya karna semuanya sudah tercatat di lauhul mahfuz.." setuju Al.


"...contohnya saja maut.." ucap Al.


"Gak ada yang tau detik, menit, maupun jam berikutnya, apa kita masih bernafas ataukah roh kita sudah berpisah dengan jasad ini.." tambahnya.


Pak Ibnu menganggukan kepala setuju perkataan Al. Tapi, wajahnya terlihat lesunya membahas pembicaraan tentang maut yang membuat selalu ingat tentang malaikat pencabut nyawa, yang akan mencabut nyawa siapa saja ketika sudah waktunya. Tidak ada kompromi diundur atau dipercepat.


"...begitu juga berbicara tentang rizki dan jodoh.." lanjut Al. Pak Ibnu menganggukan kepala kembali. Sedang Mikael hanya asik menganyem mangga yang manis itu.


"..eee...bicara tentang jodoh.." ucap Pak Ibnu.


"Memang benar gak ada yang tau tentang itu. Ada orang yang bertahun-tahun pacaran, ujung-ujungnya nikah sama orang lain. Ada orang yang gak saling pacaran, bahkan gak saling kenal tapi nikah.." lanjutnya. Dia lalu mengambil meminum airnya yang tadi disediakan.


Mikael seketika tersedak mendengar perkataan Kakeknya. Al segera menyodorkan gelas yang telah diisinya.


"Minum, Kak.." Mikael menerima gelas itu dan langsung menghabiskannya.


"Kamu makan pelan-pelan! Jangan takut Kakek abisin mangganya.." ucap Pria tua itu, karna melihat Mikael yang sejak tadi tak hentinya memakan mangga yang telah dipotong Al. Sedang Al hanya tersenyum mendengar perkataan Kakeknya.


Mikael hanya diam, takutnya jika dia berkata. Bisa-bisa air yang ada dimulutnya masuk kesaluran yang salah lagi.


"Bicara tentang pacaran, apa kamu pernah pacaran?" tanya Pak Ibnu pada Al. Mikael lantas melirik kearah Al karna ingin mengetahui jawabannya.


Al tampak diam. Dia terlihat berfikir memikirkan berkataan Pak Ibnu. "Dulu sebelum hijrah, Al pernah dekat dengan teman Pria. Tapi kami gak pacaran hanya sekedar...teman.." jawabnya.


"Teman!" seru Pak Ibnu.


"Iya teman, Kek. Soalnya dia bersikap sebagi seorang Kakak.." balas Al sambil tersenyum. Seketika terbesit kembali bayangan masa lalu.


"...oh iya, gimana dengan Kak El dan Kakek?" ucap Al bertanya balik melihat bergatian pada Mikael dan Kakeknya.


Tampak wajah Pak Ibnu yang tersenyum-senyum. "Waktu muda, Kakek pacaran sama neneknya El.." jawabnya.


"Saat itu Kakek dan Nenek belum mengetahui prihal laki-laki dan prempuan harus menjaga jarak dengan yang bukan makhrom.." jelasnya.


"..dan juga pacarannya Kakek hanya pacaran biasa. Tidak seekstrim anak jaman sekarang secara terang terangan sambik peluk-pelukan atau cium-cuman. Pas jaman Kakek dulu, buat pegang tangan aja Kakek takut.." lanjutnya.


Al mendengar cerita Pak Ibnu. Dia lalu mengalihkannya pandangannya kearah Mikael. "Kalau Kak El?"


"...aku tidak ada waktu untuk pacaran yang kerjanya hanya membuang-buang waktu. Lebih baik masa muda untuk belajar dan bekerja.." jawabnya.


Al senang prihal Mikael yang tidak pacaran, tapi dia merasa sedih mendengar masa muda hanya untuk belajar dan kerja. Padahal masa muda tak hanya untuk itu. Banyak kegiatan positif lain yang bisa dilakukan dimasa muda.


"...kalau teman cewek gimana? Kak El, pasti punya teman cewek semasa sekolah?" tanya Al kembali. Dia menggunakan kesempatan ini untuk mengetahui lebih dalam Mikael.


Mikael menggelengkan kepala. "...seingatku, aku tidak memiliki teman cewe.." jawabnya. "...karna bagiku Wanita hanya manis ketika Pria memiliki suatu hal, ketika hal tersebut tak ada diakan membuangnya.." jawanya.


Al tampak bertanya-tanya. Dia tak paham maksud perkataan Mikael. "Maksudnya, Kak?"


Kakeknya hanya mendengar percakapan 2 orang didepannya. Sampai saat ini Pak Ibnu masih tak menyangka, jika Mikael masih berfikiran seperti itu tentang Wanita. Padahal tak semua Wanita seperti dibayangannya.


"...maksunya ini!" seru Mikael. Dia memberi contoh gerakan, dimana jari jempol dan telunjuk saling menggosokkan bersamaan. Seketika Al paham.


"...kenapa Kak El berfikiran semua Wanita seperti itu.." ucapnya.


"Apa menurut Kakak, Al juga sama?" tanya Al kemudian.


Mikael mengangkat kedua bahunya bersamaan. "Enggak ada yang tau, Mungkin nanti setelah aku tak punya apa-apa mungkin kamu tidak ingin...berteman denganku lagi.." jawabnya santai.


Al segera menggelengkan kepalanya dengan kuat tanda tak setuju. "Aku tidak akan seperti itu. Aku pasti akan terus bersama dengan Kak El disaat kondisi apapun.." ucapnya dengan segera.


Mikael hanya tersenyum. Itulah juga yang dikatakan Wanita yang disayanginya, tetapi sayangnya Wanita itu pergi meninggalkannya, Kakeknya dan juga Ayahnya yang lemah.


Sayup-sayup Adzan yang menandakan masuknya waktu dzuhur datang.


"Sudah adzan!" seru Pak Ibnu seketika.


"Ayo Mikael kita ke Musholla!" ajaknya pada Mikael yang menganggukan kepala.


"Al juga, setelah itu kita makan siang bareng.." lanjutnya melihat kearah Al yang menganggukan kepala juga.


Pak Ibnu segera beranjak dari tempat duduknya, lalu memasuki rumah.


Saat Mikael akan beranjak, Al kembali menghentikan langkahnya.


"Kak!" panggilnya. Mikael lantas kembali melihat kearah Al.


"Bagimanapun keadanmu, aku isyaAllah akan selalu bersamamu.." ucapnya.


"Jadi, tolong berikan Al kesempatan, untuk masuk kedalam hati Kak El. Kemudian mengubah persepsi Kakak bahwa Wanita tak semuanya sesuai yang Kak El bayangkan.." lanjutnya dengan wajah serius. Matanya menatap Mikael dalam.


Mikael terdiam, selama beberapa bulan dia mengenal Al. Dia memang berbeda dengan Wanita-Wanita yang mendekatinya selama ini. Tapi hal tersebut tak cukup untuk membutikan, dia berbeda.


"Buktikanlah kalau kamu berbeda!" serunya dengan senyum tipis. Tak lupa tadi Mikael menekan kata terakhirnya. Setelah itu dia masuk kedalam rumah.


Al menyenderkan tubuhnya kesandaran yang didudukinya. "Al harus membuktikan bagaimana lagi.." gumamnya pelan.


Karna sudah banyak cara dilakukannya, tapi masih saja suaminya menutup diri dengannya.


###


Usai menjalankan ibadah, mereka kembali berkumpul di meja makan. Nampak suasana hening menyeliputi ruang makan.


Al nampak makan dengan hening, begitu juga dengan Mikael yang menikmati makanannya dengan diam juga.


Pak Ibnu yang merasakan atmosver ruangan begitu kaku, merasa tercekat.


Selesai makan, Al langsung merapikan meja makan dan mengangkat piring yang kotor terlebih dahulu kedapur untuk mencucinya.


"Nona Al, Bibi saja yang mencucinya.." ucap Bi Rima yang melihat Al di wastafel pencucian piring.


"Tidak apa-apa, Al saja.." balasnya.


"...oh iya, Bi. Makanan tadi masakan Bi Rima semua.." tanya Al tiba-tiba.


"..iya, Nyonya.." balasnya senyum.


"Bi, masakannya masyaAllah enak.." ucap Al. Bi Rima nampak tersipu malu.


"Al boleh nyatet resep ini dari Bi Rima, biar bisa Al coba di rumah.." ucapnya.


"Tentu saja, Bibi akan mencatatkan resepnya.." balasnya dengan semangat.


Selesai mencuci piring Al berniat kembali ke kamar untuk mengambil HPnya yang sejak pagi belum dilihatnya.


Didepan kamar, saat Al membuka pintu. Dia melihat sosok suaminya disana. Mata mereka seketika bertemu. Al segera mengalihkan pandangannya, lalu kembali menutup pintu. Dia mengurungkan niatnya masuk kedalam kamar.


Dia memilih berjalan kearah halaman belakang, dia lalu mendudukkan tubuhnya diatas bangku.


Al menghela nafas panjang. "Kenapa kamu begini.." gumamnya.


Dia kesal pada dirinya sendiri yang belum bisa mengontrol ekspresinya. Tadi Al tak jadi masuk kamar karna takut dia tak bisa bermuka dan bersikap seperti biasanya. Makanya dia memilih menjauh terlebih dahulu.


Siang ini matahari nampak sangat cerah. Ditatapnya kearah pohon yang indah dilihat. Angin sepoi-sepoi berhembus dari pepohonan menerpa wajah Al. .


Dia memejamkan matanya, untuk mireleksasikan pikirannya sejenak.


"Al, kamu tidur?"


Al seketika membuka matanya, dia melihat sosok Pak Ibnu yang sudah duduk disampingnya.


"Tidak Pak, Al hanya ingin menghirup udara segar dan juga anginnya enak buat memejamkan mata.." jawabnya.


"Hemm..memang benar. Kakek saja sangat suka duduk disini sambil memandang-mandang pohon.." Al menganggukan kepala setuju.


Awalnya Pak Ibnu ingin bertanya prihal suasana tadi saat makan siang. Tapi dia mengurungkan niatnya karna melihat Al nampak sudah seperti biasa.


Mereka lalu duduk-duduk disana dengan diam. Merasakan rileksasi yang mengenakkan.


###


Seorang Pria setengah baya nampak tergesa-gesa turun dari mobil. Dia berlari kedalam rumah kayu itu dengan terburu-buru.


Disegera masuk kedalam rumah lalu menuju kesalah satu kamar yang ada di ruang tengah. Diketuknya beberapa kali kamar tersubut, tapi tak ada suara yang menjawab.


Dilihatnya istrinya yang lewat. Diapun menghentikan Wanita itu. "Bu...liat Tuan Ibnu?" tanyanya dengan nafas yang masih sedikit memburu.


"Di halaman belakang bersama Nona Al. Memangnya kenapa Pak.." belum saja Bi Rima menyelesaikan perkataannya. Pria itu langsung berlari menuju halaman belakang.


Ternyata benar sosok yang dicari sedang disana. Dia duduk sambil memejamkan matanya.


"...Tuan.." panggilnya.


Merasa ada yang memanggil Pak Ibnu membuka matanya. Begitu juga Al yang ikut membuka mata. Mereka melihat sosok Pak Umar yang sedikit terengah.


Pak Ibnu segera menegakkan tubuhnya. Al yang ada disamping Pak Ibnu ikut meneggakn tubuhnya.


"Kenapa Pak Umar?" tanya Pak Ibnu yang melihat Pak Umar.


"..begini Tuan, Tadi Tuan meminta saya dan Tuan Mikael untuk mengantar makanan ke rumah Pak Khodir. Pas sampai sana.." ucapnya yang terputus. Pak Ibnu memiringkan kepalanya begitu juga dengan Al.


"Kenapa disana?" tanya Pak Ibnu.


"Sampai disana kami di kejutkan suara Pak Khodir memanggil Bu Qori. Saya dan Tuan Mikael lantas segera masuk. Disana kami dapati Pak Khodir yang memeluk Bu Qori yang terbaring diata tempat tidur sambil menangis.." lanjutnya.


Al dan Pak Ibnu kaget mendengar perkataan Pak Umar.


"Apakah jangan-jangan.." gumam Al pelan. Dia berharap apa yang terlintas itu tak benar.


"Bu Qori..telah meninggal dunia.." ucapnya kembali.


Pak Ibnu tambak lemas. Al terdiam kaget, ternyata apa duagaannya benar. Padahal dia berharap tidak.


Pak Ibnu lantas segera berdiri. "Antarkan saya kesana.." pintanya. Pak Umar menganggukan kepala.


"Kakek, Al boleh ikut!" pinta Al.


"Tentu saja, bersiaplah!" serunya.


Pak Ibnu segera masuk kedalam rumah. Begitu juga dengan Al.


###


Sampai dikediaman duka, nampak suasana yang ramai. Warga setempat terlihat sudah berkumpul di rumah duka.


Mobil yang membawa Al dan Pak Ibnu sampai, lantas mereka segera turun. Terlihat Pak Ibnu yang sedikit berlari mendekat kearah rumah.


Didalam rumah, Pak Ibnu melihat sosok kaku yang tertidur diatas kasur singgle. Sosok tersebut tidur di area dimana tadi pagi mereka disambut.


Pak Ibnu segera berlari ke sosok Pria tua yang ada disamping yang terbaring. Pria tua itu nampak diam sambil matanya menatap kearah wajah yang berbaring.


"Khodir.." panggilnya.


Merasa ada yang memanggil namanya dia lantas menengok. Dia melihat sosok Pria yang seumaran dengannya.


Terlihat butiran air mata terjatuh. Pak Ibnu yang sudah duduk disampingnya lantas memeluknya.


Pak Ibnu menepuk pelan punggung Pak Khodir yang sedang terisak kecil itu.


Al yang baru masuk langsung menuju kedekat sosok yang kaku. Dia duduk disamping sosok itu. Setelah itu dia menatap wajah yang tadi pagi ditemuinya.


Pak Ibnu yang melihay sosok Al membaca Yasin. Lantas berkata pada Pak Khodir.


"Khodir, mari kita bacakan Yasin untuk Qori!" ajaknya.


"Cara menyampaikan cinta yang baik pada sosok yang telah tak ada ada adalah memberikan doa kepadanya.." tambahnya.


Pak Khodir menganggukan kepala. Dia segera menghapus air matanya dari pipi tirusnya.


Mereka lalu mengaji untuk sosok yang diam tak bergerak itu.


###


Mikael berjalan kearah rumah. Dia mencari sosok Kakeknya. Tadi dia bertemu Pak Umar yang mengatakan kalau Kakeknya ada didalam rumah.


Dari ambang pintu, dia melihat banyak warga yang datang berta'ziat untuk mendoakan Almarhumah. Mereka berharap amal dan berbuatannya yang baik terima oleh Allah.


Matanya berhenti pada sosok bercadar yang sangat dikenalnya. Sosok tersebut nampak mengaji disamping jenazah itu.


Dialihkannya matanya kearah depan Wanita bercadar. Dilihatnya Kakeknya yang sedang mengaji juga. Dihampri Pria tua itu.


"Kakek," bisik Mikael. Pria itu lantas menoleh kearah Mikael. Dia memberi isyarat 'apa'.


Mikael memberi kode pada Kakeknya untuk keluar rumah. Pak Ibnu menganggukinya. Dia izin terlebih dahulu pada sahabatnya baru mengikuti Mikael ke luar rumah.


"Ada apa El?"


"Begini, tadi Mikael sudah menghubungi anak Kakek Khodir sesuai perintah Kakek. Saat ini beliau akan mengambil penerbangan yang berangkat siang ini menuju ke Jakarta setelah itu baru ke mari.."


"Apa menurutmu sampenya sebelum sore hari?" tanya Pak Ibnu.


"Sepertinya tidak Kek, kemungkinan Pak Qosim akan sampai malam hari, melihat penerbangannya pukul setengah dua. Ditambah perjalanan dari Jakarta kemari memakan 4 sampai 5 jam, itupun jika tidak macet.." balas Mikael.


Pak Ibnu tampak menghela nafas. "Mau bagaimana lagi.." gumamnya.


"..oh iya, Apa kamu sudah memanggil orang untuk memandikan jenazahnya?" tanya Pak Ibnu kemudian.


"Sudah Kek, Ibunya saat ini sedang membeli kain kafan dan juga bunga.." balasnya.


"Baiklah," pahamnya.


"Oh iya Mikael, tolong hubungi Bu Rima untuk memasak lalu membawanya kemari!" perintahnya.


"Iya Kek.." patuhnya yang segera menghubungi Bi Rima.


Pak Ibnu kemudian kembali kedalam rumah.


###


Al yang baru selesai mengaji melihat Pak Ibnu yang datang dari luar. Dia berjalan mendekat kearahnya. Pria tua itu lalu duduk disamping Al.


"Al, Kakek bisa minta tolong untuk ke rumah. Tadi Kakek meminta Bu Rima untuk memasak. Bisa tolong kamu bantu Bu Rima melakukannya. Setelah itu membawa kemari masakan tersebut.." pintanya.


"Baik Kakek.." balas Al.


"Mikael saat ini dia sedang diluar. Mintalah dia untuk mengantarmu pulang.." ucapnya kembali. Al menganggukan kepala.


Al segera pamit pada Pak Ibnu, setelah itu dia beranjak dari posisi duduknya menghampiri Pak Khodir untuk melakukan hal serupa.


Didepan rumah, Al mencari sosok suaminya. Dilihatnya Mikael yang sedang duduk. Al lantas segera menghampirinya.


Saat mendekat dilihatnya Mikael yang diajak para Bapak Warga menuju kehalaman samping rumah. Disana dilihatnya mereka memegang bambu panjang dan kain yang dilebarkan.


Melihat hal itu Al mengurungkan niatnya untuk meminta antar Mikael. Dia pun memilin berjalan. Mengingat jaraknya tak begitu jauh.


###


Mikael yang tadi sedang duduk diajak warga untuk membangun penutup untuk memandikan jenazah.


Tak lama akhirnya orang yang ditunggu untuk memandikam Jenazah datang. Lantas segera Jenazahpun diangkat dan dibawa keluar untuk dimandikan.


Dilihatnya Kakeknya keluar dengan dengan Kakek Khodir. Dia lantas menghampiri dua Pria tua itu.


"Kakek, kalian maun kemana?" tanya Mikael. Dia membantu Kakeknya untuk memegangi Kakek Khodir.


"Jenazah Nenek Qori sebentar lagi akan dimandikan. Katanya Kakek Khodir ingin ikut memandikannya.." ucap Pak Ibnu.


"Baiklah, Mikael akan mengantarkan Kakek Khodir kesana.." ucapnya.


"Sekarang Kakek duduklah.." ucapnya kembali. Pak Ibnu mematuhi perkataan cucunya lalu duduk di bangku yang kosong.


Mikael mengantarkan Pak Khodir ke halaman samping, setelah itu dia kembali ke Pak Ibnu. Dia duduk disamping Pak Ibnu.


Mikael kembali duduk. Melihatnya duduk, Pak Ibnu segera bertanya awal kejadian Bu Qori meninggal. Tapi Mikael perkataan yang Mikael tetap sama dengan Pak Umar.


Mikael menceritakan, saat itu Pak Khodir tak henti memeluk istri tercintanya yang terbaring kaki diatas ranjang. Saat ditanya, Pak Khodir tak berkata apa-apa. Hanya diam sambil memandangi istrinya.


Pak Ibnu menganggukan kepala. Di paham betul perasaan Pak Khodir yang begitu mencintai istrinya. Ditambah mereka teman masa kecil.


Pak Ibnu kembali ingat prihal Al. "Mikael, tadi setelah mengantar Al kamu kembali kemari.." tanya Pak Ibnu.


Mikael mengkerutkan dahi. "Maksud Kakek?"


"Tadi Kakek minta Al untuk pulang membantu Bu Rima. Terus Kakek bilang padanya untuk memintamu mengantarnya.." jelas Pria tua itu.


"Jadi, apa kamu tadi mengantarnya ke rumah, setelah itu kembali kemari.."


Pria muda ini menggelengkan kepala. "Al tidak ada menghampiri Mikael untuk mengantarnya. Sejak tadi Mikael disini, membatun Bapak-bapak membangun penutup untuk mandi.." balasnya.


Pak Ibnu nampak terkejut. "Jadi dia pulang dengan siapa! Apa dia tau jalan Kaki ke rumah? Memangnya dia tau jalan pulang?" ucap Pria tua itu yang merasa khawatir.


"Kakek tenang saja, Al bukan anak kecil. Dia tak akan kesasar. Lagipula jarak dari sini ke rumah dekat.." ucapnya menenangkan Kakeknya.


"Mikael akan menelponnya untuk menanyakan keberadaannya saat ini.." ucapnya.


Lantas Mikael langsung menelpon nomor Al. Sayangnya tak ada jawaban. Setiap dia nelpon pasti jawabannya "Nomor yang anda hubungi berada diluar jangkauan. Silahkan menghubungi beberapa saat lagi..."


"Bagaimana?" tanya Kakeknya.


"Tidak ada jawaban.." jawab Mikael yang masih kelihatan tenang.


"Coba kamu pulang, kamu lihat apa Al ada di rumah atau tidak!" seru Pak Ibnu.


Mikael menghela nafas. "Baiklah, Mikael akan kesana melihat keberadaan Al.." jawabnya. Dia lalu pergi menuju mobilnya. Tak lupa terlebih dahulu dia ke Pak Umar untuk meminta kuncinya.


Sampainya di halaman rumah. Mikael berjalan perlahan masuk ke teras. Dibukalah pintu yang tak dikunci itu.


Dia berjalan ke kamar, dibukanya pintu kamarnya mencari sosok Wanita itu. Tapi sosoknya tak ada disana.


Dia lalu berjalan ke arah dapur mencari sosok Bi Rima, tapi sama saja tak ada. Yang ada hanya dapur yang masih sedikit berantakan dengan aneka macam bumbu.


Mikael lalu berjalan ke teras bekalang. Siapa tau mereka ada disana. Tapi sama saja tak ada siapa-siapa.


"Kemana mereka, kenapa tak ada satupun orang di rumah?" tanyanya.


Mikael yang awalnya berwajah biasa saja, mulai tak tenang. Apalagi setelah percakapan dihalaman belakang, Al nampak berwajah sedih. Tadi juga saat dia sedang tiduran dikamar. Al yang saat itu membuka pintu langsung menutupnya kembali ketika matanya bertemu sapa dengannya. Padahal biasannya Al akan menghampirinya dengan senyum mengembang.


Mikael kembali mencari keseisi rumah dan sekeliling, karna tak menemukannya dia lalu keluar menuju mobilnya.


Saat ini perasaannya merasa tak tenang.


###


Kurang lebih 20 menit Al berjalan kaki. Akhirnya dia sampai di rumah Pak Ibnu. Dia tak kesasar sama sekali, karna Al tipikal orang yang ingat dengan jalan yang dilewatinya.


Sampai di rumah, Dia langsung memasukinya. Al kemudian berjalan kedapur, disana dia melihat Bi Rima yang sedang memotong sayuran. Al lekas menghampiri Wanita itu.


"Bi, mari Al bantu.." ucapnya. Dia lekas mencuci tangannya lalu mengambil pisau lainnya.


"Terimakasih, Nona Al.." ucap Bi Rima.


"Nona Al, gomong-ngomong Nona kesini diantar siapa?" tanya Bi Rima karna tak melihat Al masuk dengan siapapun.


"Al kesini jalan kaki, Bi.." jawabnya.


"Tadi sebenarnya Al disuruh Kakek meminta Kak El untuk mengantar pulang. Tapi melihat Kak El yang nampak sibuk. Al memilih berjalan. Lagipula dekat kok.." ucapnya.


Bi Rima menghentikan gerakannya yang memotong sayur. "Kamu tidak kesasarkan.." ucapnya khawatir.


"Tidak kok, Bi.." balas Al senyum.


Bi Rima menghembuskan nafas tenang. "Alhamdulillah kamu sampai tanpa kesasar.." ucapnya.


"Nona Al, sebaiknya istirahat dulu. Setelah itu baru membantu Bi Rima.." usulnya karna melihat kerudung Al yang basah didaerah wajah.


"Tidak apa-apa, Bi. Al tidak cape, lagipula Al sudah terbiasa berjalan kaki.." balasnya.


"Bi, ini sayurannya untuk membuat apa?" tanya Al tiba-tiba mengganti topik.


"Untuk membuat capcai.." jawabnya. Al membulatkan bibirnya mendengarnya.


"Bi Rima ingin ingin memasak apa saja?" tanya Al kembali.


"Bibi hanya memasak seadanya saja yang ada di kulkas. Seperti ayam, cumi dan sayur ini.." jawabnya.


"...oh iya Bi, tadi saat berjalan. Al melihat beberapa ibu-ibu warga sekitar membawa makanan dan minuman gelas ke rumah Kakek Khodir.." ucap Al.


"..ohh..hal tersebut biasa Nona. Disini setiap ada yang meninggal Warga pasti akan memberikan sesuatu entah makanan atau apapun ke tempat duka, yang diberikan warga merupakan hal yang mampu mereka berikan.." jawabnya.


"Hal tersebut dilakukan agar tak memberatkan keluarga yang berduka. Karna setelah menguburkan mayat, biasanya ada makanan untuk orang-orang atau sanak saudaudara yang datang.." lanjutnya.


"Beda ya, Bi sama Jakarta. Kalau di Jakarta malah rumah duka yang menyiapkan semuanya entah dari makanan atau apapun.." balasnya. Bi Hilda mengangukan kepala.


Mereka lalu memasak dengan diselingi obrolan-obrolan ringan.


C


O


O


K


Harum wangi masakan mencuat, setelah bergudik didapur akhirnya sayur capcai dan cumi pedasnya selesai dimasak.


Bi Rima nampak mencari suatu bumbu untuk masakan ketiganya.


"Tidak ada, Bi?"


"Sepertinya habis, Nona.." balasnya.


"Apa pasar buka, Bi?" tanya Al kembali.


"Untuk hari pertama lebaran mungkin pasar pada tutup. Walaupun buka membutuhkan waktu 15 menit kesana menggunakan angkot, jika jalan kaki 30 menit.." ucap Bi Rima.


"...seingat Bibi ada warga kampung yang berjualan bumbu. Coba bibi akan kesana.." ucapnya kemudian.


"Al temeni ya.." pinta Al.


"Iya Nona.."


Mereka lalu pergi, kesalah satu warga yang berjualan bumbu. Belum juga sampai tempat tujuan, Al merasakan perutnya yang melilit. Dia lalu izin pada Bi Rima untuk pulang duluan.


Sampainya di rumah Al mendorong pintu depannya, pintu itu tak terbuka. "Seingatku saat pergi tadi, Bi Rima tak mengunci pintu.." batin Al.


Al lalu memuter kebelakang rumah, dia berharap pintu belakang tidak dikunci. Jika sama, makan dia akan menumpang ke rumah tetangga.


Dibelakang Al menceklekkan gagang pintu lalu mendorongnya pelan, syukurnya tidak dikunci. Dia segera berlari ke kamar mandi menuntaskan hajadnya.


"Alhamdulillah leganya.." gumam Al saat diluar toilet. Dia mengelus-ngelus perutnya.


Diapun melangkah ke kamar untuk mengganti pakaiannya yang sudah bau oleh keringat.


Di kamar dia membuka gamis dan juga baju kaosnya. Menggantinya dengan baju yang dia ambil dari koper.


Samar-samar Al mendengar suara langkah kaki yang lewat, tapi dia mengabaikannya karna di rumah itu hanya dia sendiri.


Saat di akan mengenakan baju kaosnya. Tiba-tiba pintu terbuka, sosok yang membuka pintu menghampiri Al lalu memeluknya.


Al terdiam, seketika pelukan tersebut dilepas. Sosok tersebut menatap Al. Disaat itu juga dia langsung membalikkan badan memunggungi Al.


"Maaf.." ucapnya.


Al memiringkan kepala bingung dengan ucapan suaminya. Seketika dia mengingat saat ini dia belum mengenakan kaosnya.


"..tidak, apa-apa.." balas Al. Dia melangkah maju mendekat kearah Mikael.


"Aku kan istri Kak El.." ucapnya pelan.


Mikael menelan ludahnya. Dia segera keluar dari kamarnya meninggalkan Al untuk memakai bajunya.


Diluar kamar, Mikael memegang jantungnya. Dia merasakan detakan yang cepat disana. Apalagi saat dia mengingat milik Al yang dilihatnya.


Mikael merasa bingung, padahal banyak Wanita di club menunjukan tubuhnya tetapi dia tak bergetar sedikitpun melainkan merasa ilfill melihatnya.


Mendengar suara pintu dibuka, Mikael segera menegakkan tubuhnya kembali.


"Mengapa kamu tidak mengangkat telpon?" tanyanya ketika Al baru saja melangkah keluar kamar.


"...HP Al sejak pagi mati Kak.." jawabnya.


Mikael menatap Al. Al nampak menundukan kepala melihat tatapan suaminya, karna Al sudah menyadari penyebabnya Mikael kelihatan marah.


"Kak El, Al minta maaf!" serunya pelan.


"...sudahlah," ucap Mikael.


"Tapi ingat kamu jangan mengulanginya kembali!" seru Mikael menegaskan. Al mengangguka kepala.


Mereka diam. Mikael meliat kearah wajah Al kemudian turun kebawah. Seketika dia kembali mengingat milik Al yang tadi dilihatnya.


Dia segera meninggalkan Al menuju dapur untuk meneguk minuman. Dia mengambil minuman dingin untuk menyegarkan otaknya yang memanas.


"Kenapa otak lo, tiba-tiba kebayang itu lagi!" serunya dalam hati.


###


Akhirnya 3 masakan selesai. Al, Mikael dan Bi Rima memasukkan masakan tersebut kedalam mobil untuk diantarkan ke rumah duka oleh Mikael.


Jangan lupa tinggalkan tanda...


Thank you....