Friends After Marriage

Friends After Marriage
Isi Godi Bag



Isi godi bag


Happy Reading!!!


Akhirnya hari yang di tunggu datang. Al bersiap untuk pergi ke acara wisuda Via. Dia berangkat siangan karna dia tau persis para wisudawan akan keluar ba'da dzuhur.


Sebelum ke acara tersebut Al terlebih dahulu mampir ke suatu tempat karna ada yang ingin dibelinya.


Sampai di kampus, Al teringat akan masa kuliahnya dulu. Dia sedikit berjalan-jalan ke jurusannya.


Lorong panjang menemani perjalanan Al. Di ujung lorong dilihatnya pintu terbuka. Dia melangkah kearah pintu tersebut. Didalam dilihatnya 2 anak yang sedang berlatih.


Salah seorang menyadari kehadiran Al. Dia lantas berdiri menghampiri Al yang berdiri diambang pintu.


"Ibu mencari seseorang?' tanya Pria itu ramah.


Al menggelengkan kepalanya.


"Tidak, saya hanya melihat-lihat saja.." ucap Al.


"Saya permisi ya.." pamit Al.


"Ud, Ritza.." ucap Al pelan. Dia lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.


"Maritza, siapa Ibu tadi.." tanya seorang Pria yang tadi sedang berada didalam bersama dengan Pria itu.


"Gua gak tau. Tapi gua ngerasa gak asing sama mata dan suaranya.." ucapnya.


"Dosen kita kali ya.." kata Ud menebak-nebak.


"Ya kali, lo tau sendiri dosen perempuan jurusan kita bajunya gak ada yang kayak gitu.." ucap Ritza.


"Tapi..Wanita tadi tau nama kita.." tambahnya.


"Seriusan lo!" serunya. "Jangan-jangan stelker lagi!" tambahnya yang bergidik ngiri.


"Hahaha siapa yang mau stalkerin lo, pede benar.." ucapnya yang kembali masuk ke ruangan.


"..tapi Gua ngerasa kenal dia..walaupun pelan gua dengar dia manggil gua Ritza, terus manggil lo Ud.. Sedangkan yang suka manggil gitu cuman..." ucapnya terputus. Dia lantas langsung berlari keluar pintu mencari sosok Wanita tadi. Sayangnya tak ada.


Daud mengejar Ritza dari belakang karna melihatnya yang langsung berlari. "Kenapa si lo?" tanyanya yang menghentikan Ritza berlari.


"Kak Al, Daud. Apa lo lupa, sama Kak Al yang biasanya suka nyingkat-nyingkat nama kita.." ucap Ritza.


"Tentu gua ingat, Maritza. Tapi lo tau sendiri Kak Al bajunya enggak kayak gitu.."


Ritza menghela nafas, dia kembali berjalan ke ruangannya. Dia sangat merindukan sosok Wanita yang sangat terkenal di jurusannya. Sosok Wanita yang tiba-tiba tidak ada kabarnya bagaikan hilang ditelan bumi.


###


Al duduk dibawah pohon yang ada didekat Aula tempat acara wisuda. Matahari nampak sangat terik, membuat Al terlihat mengucurkan keringat dari dahinya.


"Bu, minumannya.." tawar salah seorang Wanita yang nampak masih muda.


"Boleh, saya beli satu air mineralnya.." ucap Al. Setelah membayar Al langsung meminum dengan sedotan yang diberikan Wanita tadi.


Gadis yang menawarkan minuman tadi merupakan salah satu anggota UKM kampus disini. Biasanya setiap wisuda banyak mahasiswa kampus ini berjualan untuk menambah dana UKM mereka. Begitu juga dengan Al saat dia kuliah.


Al kembali melihat kearah gedung. Dari sana Al melihat beberapa sarjana yang sudah mulai keluar. Dia lantas segera menghampiri Aula sambil menenteng godi bag yang dibawanya sejak tadi.


Al menunggu sambil memperhatikan satu persatu orang yang keluar. Saat dia melihat sosok Via dia langsung menghampirinya.


"Assalamu'alaikum Via.." sapa Al.


"Wa'alaikumsalam.." balasnya. Saat mengetahui sosok yang menyapanya, Via langsung memeluk sosok tersebut.


"Selamat ya!" ucapnya.


"Makasih ya, Al.." balasnya yang sangat senang.


"Kamu sendirian saja.." tanya Al yang tak melihat sosok suami dan keluarga Al yang datang dari Solo.


"Tidak Kok Al. Bapak sama Mama tadi ada kok.." ucapnya sambil mengedarkan pandangan kearah sekeliling.


"Kak Via! Kak Al!" panggil suara Pria dengan kencang. Via dan Al lantas menengok kearah suara yang berasal dari adeknya Via.


Dia berlari menghampiri Mereka. "Kak Via kemana? Tadi Bapak sama Mama meleng bentar Kak Via udah kebawa arus mahasiswa lain aja.." ucapnya. Via hanya terkekeh.


Dia lalu beralih melihat Al. "Kak Al kapan sampainya? Kok daris tadi aku gak liat Kakak disini.."


"Kakak udah sampe dari tadi. Kakak tadi jalan-jalan sebentar.." ucapnya.


"Jalan-jalan..yah..tau gitu Kakak bilang aku biar kutemeni jalan-jalan. Aku bosan daris tadi nunggu di luar.." ucapnya. Al hanya tersenyum melihat ekspresi Ahmad.


"Ayo kita foto dulu! Kak Ilham sama Bapak dan Mama katanya sudah ada didekat studio foto jurusanku.." ucap Via yang tadi membaca pesan dari suaminya.


Mereka lalu bersama-sama menuju studio foto. Disana, Al diajak foto bareng keluarga Via.


###


Angin sepoi-sepoi berhembus, menerbangkan dedaunan yang berjatuhan.


2 Wanita cantik nampak sedang duduk, sambil menyantap cemilan yang ada ditangan mereka.


"Via, sepertinya tahun ini jauh lebih ramai dari biasanya ya. Memangnya berapa orang yang wisuda?"


"Yang Wisuda hanya 700 orang Al. Tapi kali ini ramai karna kedatangan alumni yang memberi sambutan.." jawabnya.


"Jadinya mahasiswa sini pada datang.." tambahnya.


"Memangnya siapa alumni yang datang. Jadi sampe serame ini?"


"....aku tidak ingat namanya. Soalnya hampir semua fakultas kedatangan alumni.." ucapnya.


"Yang kuingat dari fakultas lain adalah fakultas bisnis, karna dia pembicara pertama.." tambah Via. Al menganggukan kepala dengan bibirnya membulat.


"Oh iya ini!" Al memberikan godi bag yang dipegangnya.


"Hadiah dariku.." tambah Al. Via tersenyum, dia menerima hadiah tersebut lalu memeluk Al kembali.


"Oh iya, kamu bukanya nanti malam ya. Bareng Dokter Ilham, karna didalam juga ada hadiah pernikahan kalian.." ucapnya. Via mengokekan perkataan Al.


###


Dikediaman Via dan Dokter Ilham


"Al, nanti saat kamu wisuda jangan lupa kabari Ibu ya.." ucapnya saat mengobrol.


"Iya Al, Bapak juga pasti hadir diacara wisudamu.." timpal kembali Bapaknya Via.


"Iya Kak Al, aku juga datang.." tambah Ahmad.


Via terdiam. Dia memperhatikan Al yang hanya matanya yang terlihat.


"...tentu saja, nanti kalau Al wisuda Al pasti kabarin Bapak, Ibu dan juga Ahmad.." balasnya dengan nada senang.


"Terus Bapak juga harus kabarin Bapak-bapak sekampung, teman main catur Al. Supaya datang ke acara wisuda Al.." tambahnya.


Bapak Via ternganga. Begitu juga Ibu dan Ahmad. Setau mereka teman bermain catur Al. Hampir semua Bapak-bapak sekampung. Bisa-bisa kereta dari Solo ke Jakarta penuh cuman karna para Bapak-bapak kampungnya.


"Hahaha..bisa aja kamu Al.." ucap Bapak Via.


Al tersenyum melihat wajah Bapaknya Via. Sedang Via masih saja memperhatikan Al yang tak tertebak ekspresinya.


Al memang dekat dengan keluarga Via tapi dia tak menceritakan perihal resignnya pada orang tua dan adeknya Via. Al tak ingin membagi bebannya dengan Bapak dan Mama yang sudah sangat baik dengannya. Baginya cukup Via yang tau tentang resignnya.


"Kak Al, duduk di balkon yu.." ajak Ahmad. Al mengiyakan lalu mengikutinya kearah balkon.


Hembusan angin menerpa wajah Ahmad sedang cadar Al bergoyang kesana kemari.


"Kak,"


"Hem.." balas Al yang memejamkan matanya.


"Aku sudah memilih tempat aku kuliah.." ucapnya. Al lantas membuka matanya lalu melihat kearah Ahmad yang sudah dianggap seperti adeknya ini.


"Aku milij kampus Kak Via.." lanjutnya.


Al kaget. Setaunya kampusnya itu merupakan kampus anak orang kaya dan juga pintar. Intinya asal pintar kamu bisa masuk, terus asal kaya kamu bisa masuk juga. Contohnya seperti Via yang kuliah disana karna pintar, dia lalu mendapat beasiswa membuatnya terbebas dari segala bayaran.


"Kamu serius Ahmad! Bukannya Kakak meragukan kemampuanmu.." ucap Al.


"Aku serius Kak. Ahmad saja sudah mengikuti tesnya dan lolos dalam tes mendapatkan beasiswanya.." ucapnya senang dan membanggakan.


Al kaget mendengar ucapan Ahmad. "..wahh selamat ya.." ucap Al ragu.


Ahmad cemberut mendengar perkataan Al yang seperti tak percaya. " Kak Al, pasti gak percaya!"


Al menggelengkan kepalanya. "Enggak kok, Kakak percaya sama Ahmad kok.." balasnya.


"Ini Kak, Kak Al gak percaya kalau aku lulus tes penerimaan beasis di tempat Kakak kuliah.." ucapnya mengadu pada Via.


Al hanya terkekeh melihat Ahmad yang mengadu seperti anak kecil.


"Kak Al percaya kok.." ucap Via mengelus kepala Ahmad.


"Kak Al hanya bercanda saja.." tambahnya.


"Tidak Kak.." balasnya.


"Kak Al percaya kok..Ahmadkan anak pintar.." ucap Al menenangkan Ahmad. Ahmad senyum mendengar perkataan Al.


"Kak, aku kedalam bentar ya!" izin Ahmad yang di angguki Al dan Via.


"Aku tidak menyangka Ahmad akan kuliah di Jakarta ditempatmu kuliah. Soalnya dia mengatakan akan kuliah di Solo.." ucap Al setelah Ahmad pergi.


"Oh soal itu karna Mas Ilham.." ucap Via. Al menatap Via dengan tanda tanya.


"Mas mengusulkan Ahmad kuliah di Jakarta. Katanya kampus kita terkenal juga akan bagusnya fakultas ekonominya.." jelasnya.


"Awalnya Ahmad tak setuju karna tau kampus kita mahal dan dia tak yakin akan lolos beasiswa. Tapi setelah tes 2 hari yang lalu ternyata dia lolos mendapat beasiswa, walaupun hanya setengah.." ucapnya.


"Jadi Ahmad hanya akan membayar setengah uang kuliahnya.." ucap Al. Via menganggukan kepala.


"Setengahnya lagi aku dan Mas Ilham yang akan membayarnya.." ucap Via.


"Terus Bapak sama Ibu gimana? Di tinggal berdua saja.."


"Iya mereka jadi tinggal berdua di Solo. Tapi nanti kadang-kadang Bapak sama Mama kesini.." balasnya.


Al menganggukan kepala. Dia mengalihkan kepalanya kearah depan memandang awan.


"Al!"


"Hem.." jawab Al yang masih melihat kedepan.


Via kembali diam. Dia berniat bertanya perihal tadi. Tapi melihat Al yang tak apa-apa. Via mengurungkan niatnya.


###


"Al, pamit dulu ya.." ucapnya setelah bersalaman.


"Kamu hati-hati di jalan ya!" ucap Mama. Al menganggukan kepala.


"Datang lagi ya Al. Temenin Bapak main catur.." ucap Bapak Via.


Al tersenyum. "Iya.." balasnya. Setelah mengucapkan salam Al meninggalkan kediaman itu.


Baru beberapa langkah meninggalkan pintu Al kembali di panggil Via.


"Al!" Al menengok kembali kearah Via yang mengejarnya.


Via memberikan kantung kecil pada Al. "Apa ini?"


"Ini undangan pernikahanku. Nanti kamu berikan ya pada orang yang ada di klinik.."


"Kenapa kamj tidak memberikannya sendiri? Bukannya besok kamu ada shift.."


"Aku besok enggak datang lagi Al. Kemarin aku sudah mengundurkan diri dari klinik.." jawabnya. Al lantas kaget.


"Serius!"


"Iya, karna minggu deoan aku kerja di rumah sakit tempat Mas Ilham kerja.." ucapnya. Al nampak tersenyum senang mendengarnya.


"Oh ya Al, kamu jumat sore datang ya ke rumahku.." ucapnya.


"Iya, InsyaAllah.." balas Al setelah itu dia pergi.


Di rumah


Sekitar jam setengah lima Al sampai rumah. Dia berjalan masuk kedalam rumah setelah memberisalam pada Pak Mamat.


Di ruang TV Al kaget melihat sosok Mikael yang sedang duduk sambil menonton TV. Lantas dia menghampirinya.


"Assalamu'alaikum Kak El.."


Mikael menoleh kearah Al. "Wa'alaikumsalam.." jawabnya. Al tersenyum mendapat jawaban salam yang sangat langka dari Mikael.


"Kak El, sudah sampai dari tadi.." tanya Al.


"Iya.." jawabnya.


Al kembali berfikir agar bica bercakap-cakap dengan suaminya.


"Kakak sudah makan?"


"Sudah.."


"...apa ada yang ingin Kakak makan?"


"Tidak.."


Al bingung harus bertanya apa lagi. Karna tak ada perkataan apapun lagi Al diam duduk disamping Mikael.


Malamnya


Al yang baru saja mengganti pakaian tidurnya. Mendengar dering telpon. Dia lantas mengambilnya.


"Assalamu'alaikum.."


"Wa'alaikumsalam.." jawab penelpon pelan.


"Al, gimana nih.." ucap suara disebrang.


"Gimana apanya?" tanya Al yang tak paham.


"Kamu tadi nyuruh aku buka kado pemberianmu bareng Mas Ilham. Sekarang Mas minta aku pakai kado pemberianmu.." ucapnya. Al seketika paham maksud perkataan Via.


"Kamukam tinggal pake aja," bakas Al santai.


"Tapi aku malu Al memakainya.." bakasnya.


"Kenapa malu? Kamu kan memakainya didepan Dokter Ilham, bukan didepan Dokter lain.."


"Iya, aku memakai didepan Mas Ilham, tapi tau sendiri aku gak pernah pake yang kayak begituan.." balasnya.


"Kamu pasti pengen balas kado pemberianku saat kamu nikahkan.." tambahnya. Via hanya mendrngar suara kekehan Al disebrang telpon.


"Jadi gimana Al?" tanyanya kembali dengan memelas.


"Hehehe maaf ya.." ucap Al.


"Gak perlu gimana-mana. Kamu tinggal memakainya. Lagi pula suamimu yang memintanya. Jika kamu menurutinya kamu akan mendapat pahala. Kalau kamu tidak mau katakan dengan baik-baik padanya.." ucap Al.


"Tapi saranku, mending kamu turuti. Lagi pula itu sesuatu yang akan menyenangkan hati suamimu. Selama masih baik kenapa gak diikuti.." tambah Al.


Via mencermati kata Al yang sangat benar. "Baiklah...aku akan mengenakannya.." balasnya.


"Oh iya Al, maksud buku pemberianmu apa?" tanya Via kembali mengingat hadiah buku yang juga ada didalam godi bag pemberian Al.


"...itu...persiapan untuk keponakan baruku.." jawab Al yang langsung mematikan telpon setelah memberi salam dengan cepat.


Al lalu membaringkan tubuhnya keatas kasur. Diraihnya buku yang kemarin dibelikan Mikael. Al tersenyum melihat sampul tersebut.


'Tok tok tok' Suara ketukan pintu mengalihkan pandangan Al.


"Bi Hilda, masuk saja.." ucap Al. Dia lalu segera mendudukan posisinya.


Pintu terbuka tak menampakkan sosok Bi Hilda melainkan Mikael. Al yang saat itu hendak menyanggul rambutnya seketika tangannya yang sudah menggulung rambut kembali terlepas, membuat rambut panjangnya kembali tergerai. Sedangkan Mikael kaget melihat penampilan Al yang tak disangkannya.


"A..adapa apa Kak?" Al menghampiri Mikael.


"Aku hanya ingin memberikan ini.." Mikael menyodorkan gelang kayu kearah Al.


Al lantas menerimanya. "Terimakasih, Kak.." ucapnya menundukan kepala.


Mikael lalu pergi meninggalkan kamar Al. Al langsung menutup pintu lalu menuju ke cermin melihat penampilannya.


Al menutup mukanya melihat bajunya yang sungguh membuatnya malu. Karna saat ini dia mengenakan daster kumel miliknya.


Dilain sisi Mikael tersenyum mengingat penampilan Al yang nampak lucu walaupun mengenakan daster selutut itu. Apalagi saat wajahnya yang kaget melihat Mikael.


Tinggalkan Like, Coment dan Share...


Thank you...