
Permainan
Happy Reading!!!
Sesuai perkiraan Mikael, Anak dari Pak Khodir sampai saat malam hari. Dia ditemani istrinya untuk pulang.
Sampainya di rumah Pak Khodir. Pria setengah baya itu langsung memeluk papanya.
Dia meminta maaf karna lebaran tahun ini tidak pulang padahal biasanya setiap tahun dia akan pulang.
Anaknya juga tak menyangka teleponan yang mereka kerjakan tadi pagi merupakan terakhir kalinya dia mendengar suara Ibunya tercinta.
Pak Khodir hanya mengelus lembut punggung buah hatinya yang terisak. Di tak bisa berkata karna perasaannya juga sedih.
Selesai acara tahlilan warga setempat pulang, membuat suasana rumah Pak Khodir kembali sepi.
###
Esok harinya, setelah sholat dzuhur Pak Ibnu datang mengunjungi sahabatnya itu. Pak Ibnu dan Al kesana diantar oleh Mikael.
"Kakek, El pergi dulu ya membeli makanan. Nanti El kemari lagi.." ucapnya.
"Iya.." balasnya. Saat Mikael akan menjalankan mobinya, Pak Ibnu kembali memanggilnya.
"El, Kakek nitip Kacang kulit ya.." ucapnya.
"Siap.." sahutnya. Dia lalu melirik kearah Al. Siapa tau Wanita itu ingin menitip sesuatu. Tapi Wanita itu hanya tersenyum kearah Mikael.
Mikael segera pamit, kemudian melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah Pak Khodir.
Al dan Pak Ibnu lalu berjalan mendekat kearah pintu yang terbuka.
"Assalamu'alaikum.." salam Pak Ibnu dan Al.
"Walaikumsalam.." jawab anak Pak Khodir yang datang dari dalam rumah.
"Ayo masuk Pak Ibnu.." ucapnya mempersilahkan masuk.
Mereka lalu menuju ke halaman belakang dimana Pak Khodir nampak duduk termenung.
"Sejak tadi Bapakmu hanya duduk disini?" tanya Pak Ibnu.
"Iya, Pak. Sejak pagi Bapak hanya duduk disini. Yang dikerjakan beliau jika tidak mengaji hanya duduk termenung.." ucap Pak Qosim anaknya Pak Khodir.
Pak Ibnu menghembuskan nafas. Melihat keadaan Pak Khodir membuat Pak Ibnu teringat kembali kondisinya saat istrinya yaitu neneknya Mikael meninggal.
Dihampirinyalah pria tua yang diam memandang kearah depan.
"Assalamualaikum, Khodir.." ucap Pak Ibnu.
Pak Khodir lantas menengok sekilas kearah Pak Ibnu. "Walaikumsalam.." jawabnya pelan.
"Apa kamu sudah makan siang?" tanya Pak Ibnu membuka percakapan.
Pak Khodir hanya menganggukan kepala lemah. Pak Ibnu yang melihat tanggapan Pak Khodir yang hanya mengangguk, merasa prihatin.
Al hanya diam melihat para Kakek itu. Dia juga tak tau apa yang harus diperbuat.
Menurutnya jika kehilangan seseorang yang dicintai wajar, karna Al sendiri juga pernah merasakan kesedihan itu.
Saat itu Al masih kelas 2 SMA. Dia yang waktu itu akan berangkat sekolah, ingin pamit pada neneknya yang sedang duduk diruang tamu.
Al memanggilnya beberapa kali tapi tak ada sahutan. Dia fikir Neneknya sedang tidur. Saat memegang tubuhnya seketika Al merasa bulu kuduknya berdiri.
Dia segera berlari keluar meminta bantuan tentangga memeriksa kondisi neneknya. Setelah tentangga sekitar rumahnya memeriksa keadaannya Neneknya, salah satu orang mengatakan bahwa Wanita tua itu sudah tak ada.
Setelah Neneknya dikubur, Al pun sama dengan Pak Khodir hanya diam termenung. Bedanya Pak Khodir mengaji untuk istrinya, sedang Al tidak.
Kerjaan Al hanya mengurung dirinya tanpa melakukan aktivitas. Karna posisinya saat itu Al belum paham, jika kita mencintai orang yang telah tiada hal terbaik adalah mendoakannya atau bersedekah atas namanya.
Kembali ke cerita awal.
Pak Ibnu sejak tadi sudah mengajak Pak Khodir berbicara tapi jawabannya hanya dua jika tidak mengangguk pasti menggelengkan kepalanya.
Seketika Pak Ibnu terbesit ide. Dia beranjak dari tempatnya masuk kedalam rumah, tak lama dia kembali kehalaman belakang membawa kotak bersegi panjang.
Melihat benda yang dipegang Pak Ibnu, Al langsung mengetaihuinya.
"Al, ayo temani Kakek main catur!" Serunya kencang.
Pria tua itu lalu mendekat kearah Al lalu berbisik. "Siapa tau nanti dia tertarik.." ucapnua. Al menganggukan kepalanya setuju, jika memang bisa membuat Pak Khodir tak termenung kembali.
Mereka lalu menyusun pion masing-masing. Pak Ibnu pionnya berwarna hitam sedang Al berwarna putih.
Dimulailah permainan catur itu untuk memancing Pak Khodir.
Pak Ibnu mulai menjalankan pionnya diikuti Al. Seperti itu seterusnya. Tapi kelama-kelamaan Pak Ibnu menyadari jika pion miliknya lebih sedikit dibanding pion milik Al.
Yang awalnya Pak Ibnu bermain-main saat menjalankan pionnya, dia mulai serius. Pria muda itu mulai menimbang-nimbang mana yang sebaiknya dijalankannya.
Dari dalam rumah, Pak Qosim datang ke halaman belakang. Dia membawakan minum untuk tamu dan juga Bapaknya.
Dia melihat Pak Ibnu dan Al sedang bermain catur, karna Pak Qosim termasuk orang yang suka bermain catur lantas dia tertarik lalu menontonnya.
Beberapa menit kemudian akhirnya permainan catur selesai. Pemainan dimenangkan oleh Al.
Pak Ibnu terdiam, dia tak menyangka jika dikalahkan seorang Wanita, apalagi ini Al.
Sedang Pak Qosim mulutnya sedikit menganga. Dia tak percaya melihat Al menang dari Pak Ibnu yang jago bermain catur.
"Wahhh kamu hebat ya Al!" seru Pak Qosim.
"..biasa saja kok, Pak.." balas Al sambil tersenyum.
"Al, ayo bermain lagi! Tadi Kakek belum serius bermainnya.." ajak Pak Ibnu kembali.
Al lantas bingung. Tujuannyakan buat narik perhatian Pak Khodir, kok malah Pak Ibnu yang ketagihan bermain.
"Sepertinya Pak Khodir tidak tertarik, Kek.." balas Al yang menunjuk kearah Pak Khodir yang masih termenung.
"Setelah ini dia pasti tertarik.." ucap Pak Ibnu yakin. Al lantas menyerah dia menganggukan kepala setuju bermain kembali.
Kemudian mereka bermain kembali. Tampak wajah Pak Ibnu yang mulai serius bermainnya. Lain hal dengan Al yang santai.
Pak ibnu mulai memakan pion kecil milik Al membuat tentara pionnya Al berkurang drastis.
Tapi hal tersebut tak membuat Al gentar. Dia malah melawan balik dengan memakan penjaganya yang ada disamping pion raja.
Pria tua yang bermain dengan Al mulai kewalahan karna Al mengincar raja miliknya. Dia berfikir cukup lama untuk memindahkan rajanya tapi semuanya sama saja akan di makan oleh pion milik Al.
Sejak tadi juga saat bermain Pak Ibnu selalu melirik Al. Wajah Al selalu nampak santai menjalankan pionnya.
Akhirnya permanan kedua selesai juga. Permainan itu dimenangkan kembali oleh Al.
Pak Qosim menggelengkan kepalanya melihat Al yang menang kembali.
Sedang Pak Ibnu masih tak percaya. Dia kalah kembali oleh Al. Padahal tadi dia percaya diri kalau akan menang.
Al yang melihat sikap Pak Ibnu yang bengong lalu berkata.
"Kakek, ini hanya permainan. Jadi tak perlu memikirkannya.." ucap Al
Mendengar ucapan Al, Pak Ibnu membenarkannya dan tak memikirkannya kembali.
"Al, sekarang ayo main denhan Bapak!" ajak Lak Qosim yang terlihat tak sabar.
Al yang ingin menolaknya merasa tak enak. Latas dia memilih menganggukan kepala pasrah.
Permain selanjutnya kembali dimulai. Al yang tak begitu semangat bermain. Mulai memainkannya serius. Dalam beberapa menit dia menang kembali.
Pak Qosim terdiam layaknya Pak Ibnu yang saat ini tak menyangka Al cepat mengalahkannya.
"Al kamu suka main catur ya?" tanya Pak Qosim.
"..dulu Pak, tapi sekarang sudah jarang.." ucapnya.
"Pantesan!" seru Pak Ibnu dan Pak Qosim berbarengan.
"Oh iya, Gimana dengan Kakek Khodir?" tanya Al Menunjuk kearah Pak Khodir yang masih diam.
Mereka menggelengkan kepala bersamaan. Tadi saat Al bermain dengan Pak Qosim.
Pak Ibnu sudah mengajak Pak Khodir berbicara supaya menonton permaian. Tapi beliau hanya melirik sebentar.
###
Mikael yang sudah membeli beberapa makanan dan juga pesanan Kakeknya lantas kembali ke rumah Pak Khodir.
Setelah memarkirkan mobil. Dia berjalan mendekat kearah rumah. Dia terlebih dahulu mengetuk pintu yang tertutup itu.
"Ayo Mikael masuk! Yang lain sedang dihalam belakang.." ucapnya.
Mikael menganggukan kepala. Dia lantas masuk lalu berjalan kearah halaman belakang.
Disana dilihatnya para Bapak dan juga Al melingkari meja. Ditengah mereka ada sebuah meja yang diatasnya terdapat papan catur.
Tanpa ditanya Mikael tau kalau ini pasti kerjaan Kakeknya dan Pak Qosim. Sedangkan Al disana menurutnya hanya sebagai penonton.
Pak Ibnu yang melihat sosok Mikael lantas menyuruhnya mendekat dengan gerakan tangan.
"Mana pesanan Kakek.." ucap Pria tua itu.
Mikael segera mengeluarkan kacang kulit dari dalam kantung kresek yang dipegangnya. Lalu memberikan pada Kakeknya.
Sisanya ditaruh ditas meja lainnya yang berukuran lebih kecil.
Mikael kembali masuk kedlaam rumah mengambil bangku kosong lalu membawanya ke halam belakang. Dia lalu duduk tepat disamping Al yang terdapat renggangan.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Mikael.
Para Bapak diam. Mereka malu untuk berkata yang kebenarannya.
Seketika Pak Ibnu memiliki ide. "El, sekarang giliranmu!" seru Pak Ibnu sambil memberikan lirikan kearah catur.
Mikael segera menggelengkan kepalanya. "Aku tidak, ujung-ujungnya aku akan kalah dari Kakek dan Pak Qosim.." ucapnya.
"Tenang saja lawanmu bukan kami tapi..." ucapnya lalu dia menunjuk Al.
Mikael nganga me dendengarnya.
"Bermain dengan Al.." ucapnya tak percaya. Al hanya tersenyum.
"Tidak Kek, jika bermain dengannya tentu aku yang akan menang!" serunya percaya diri.
Pak Ibnu nampak mendelik kearah Mikael yang sangat percaya diri.
"Coba dulu main. Siapa tau kamu kalah dari Al.." ucap Pak Qosim.
"Jangan-jangan kamu takut ya kalah dari prempuan.." goda Pak Ibnu.
"Enggak, aku gak takut.." bantahnya.
"Baiklah aku akan bermain dengannya.." ucapnya lalu mengarahkan catur kearahnya dan Al.
Permainanpun dimulai. Al memulai permainan terlebih dahulu baru diikuti Mikael.
Pak Ibnu dan Pak Qosim hanya tersenyum karna mereka mengetahui siapa yang akan menjadi pemenangnya.
Satu persatu pion milik Al dan Mikael mulai berjatuhan. Tetapi Mikael lebih banyak memakan pion Al.
Pak Ibnu dan Pak Qosim nampak bingung dengan permainan Al kali ini yang terlihat asal-asalan.
Disaat terakhir permainan. Mikael mengembangkan senyum karna dia berhasil mencegat raja. Al yang ingin segera mengankhiri permainan lantas ingin mengerakan raja agar lebih muda ditangkap.
Saat Al akan memindahkan raja. Seketika ada tangan lainnya yang memindahkan pion raja.
Al, Mikael, Pak Ibnu dan Pak Qosim melihat kearah orang yang memindahkan pion Al, yaitu Pak Khodir.
Pak Khodir menaruh pion raja Al ketempat yang tak dapat dijangkau oleh pion Mikael.
"Sejak tadi kamu memperhatikannya?" tanya Pak Ibnu, karna sejak tadi dia tak melihat Pak Khodir memperhatikan permainan.
Pak Khodir menggelengkan kepala. Dia lantas kembali duduk ketempatnya semula.
Melihat Pak Khodir tak melamun kembali. Al senang lantas dia segera ingin mengakhiri permianan ini tentu Al memibiarkan Mikael menang.
Pak Ibnu dan Pak Qosim lantas tak percaya. Sedang Mikael bersikap biasa saja, karna dia tahu bakal menang.
"Al pasti kamu mainnya tak serius!" seru Pak Ibnu. Al hanya tersenyum kearah Pak Ibnu.
Al mengalah untuk menyenangi hati suaminya. Saat bermain Al langsung tahu kemampuan bermain suaminya dibawah Pak Ibnu dan Pak Qosim.
Pak Ibnu kembali mengakan Oak Khodir bicara. "Khodir, ayo mmbermain denganku. Kali ini aku pasti akan mengalahkanmu!" ajak Pak Ibnu.
Pak Khodir mengalihkan matanya kembali kearah pohon dibelakang rumahnya. "Kamu saja tadi saat bermain kalah dengan Al. Bagaimana bisa mengalahkanku?" ucapnya pelan.
Pak Ibnu yang mendengar Pak Khodir menjawab perkataannya lantas senang begitu juga dengan Al dan Pak Qosim.
"Bagaimana kamu tau. Bukannya kamu tadi kerjaannya hanya bengong.." ucapnya Pak Ibnu.
"Bengong bukan berarti tak memperhatikan.." balasnya.
"Terus kenapa sejak tadi kami ajak bicara kerjaanmu hanya menggeleng dan mengangguk.." ucapnya kembali
"Aku tadi hanya sedang malas berbicara.." balasnya kembali.
Pak Khodir lalu menoleh kearah Al yang sedang tersenyum.
"Besok Al kemari lagi ya. Untuk hari ini Bapak sedang tak semangat bermain catur. Jadi besok Al temani Bapak ya, dengan syarat... bermainnya harus serius dan tidak asal-asalan seperti tadi.." ucapnya. Al menganggukan kepala.
###
Esok harinya, sesuai janji. Al datang ke rumah Pak Khodir saat sore hari. Seperti kemaren saat ini dia temani oleh Pak Ibnu dan juga Mikael yang dipaksa untuk mengantar.
Hari ini Pak Khodir tak sediam kemaren. Dia juga tak termenung kembali.
Melihat hal itu Al dan lainnya yang berada diruang tamu merasa senang.
Disan Al dan Pak Khodir terlihat duduk saling berhadapan yang ditengah-tengahnya permainan catur.
Mikael yang tak begitu tertarik lebih memilih bermain dengan HPnya sedang Pak Ibnu dan Pak Qosim sebagai penonton.
"Al, kamu jangan lupa harus serius!" seru Pak Khodir. Al menganggukan kepala mengiyakan.
Dimulailah permianan itu yang dijalankan pertama oleh Al.
Terlihat jelas keseriusan Al dan Pak Ibnu bermain. Mereka memperhatikan setiap pion yang dijalankannya.
Dari arah dapur istri Pak Qosim datang membawakan minuman dan juga cemilan kue yang kemaren dibeli Mikael.
"Wahhh sekarang Al bermain dengan Bapak ya.." ucapnya lalu dia ikut menjadi penonton permainan itu.
Kali ini permainannya cukup lama, karna Al dan Pak Khodir masing-masing membutuhkan waktu untuk berfikir.
P
L
A
Y
Sampailah di saat-saat terakhir. Masing-masing mereka meyisakan beberapa pion.
Para penonton tampak menebak-nebak siapa pemenangnya.
Mikael yang bosan melihat-lihat IG lantas ikut menonton permainan itu.
Dia kaget melihat Al sampai saat ini masih memiliki pion. Apalagi jumlahnya sama rata dengan milik Pak Khodir.
Akhirnya permiananpun selesai. Menyisakan Satu pion diatas papan. Yaitu pion raja milik Pak Khodir.
Al tersenyum melihat Pak Khodir yang nampak mulai bersemangat.
Pak Khodir lalu melihat kearah Al. Saat bermain catur tadi, Pak Khodir bisa merasakan kelihaian Al. Karna saat bermain kadang Al bermain dengan benar dan kadang bermain asal.
Contohnya saat terakhir, pak Khodir bisa melihat Al dapat memenangkan permainan tapi dia membiarkan Pak Khodir memenangkannya.
"Hahaha.." pak Khodir tertawa dengan senang.
"Baru kali ini aku sangat senang bermain dengan catur.." ucap Pak Khodir.
Yang lainnya melihat eklresi Pak Ibnu tertawa senang.
"Al, mari bermain kembali! Tapi untuk permainan selanjutnya kamu tak boleh mengalah.." ucap Pak Khodir. Al mengokekannya.
Ditutuplah hari itu dengan munculnya kembali kecerian Pak Khodir.
Walaupun sebenarnya Pak khodir masih merasa sedih, tapi dia berfikir tak baik larut-larut dalam kesedihan.
Jadia dia bertekad kembali menjadi dirinya yang ceria. Ketika dia kangen atau rindu istrinya. Dia akan mengirimkan doa terbaik untuk Almarhumah.
Jangan lupa tinggalkan tanda. Untuk menyemangati SMIM.
Thank you for Reading...