
Halo Reader.
Author balik lagi nihhh.
Sorry ceritanya lama tak Up.
Kalian tau lah ya.
Kalau kondisi badan kurang fit, jadi susah buat menulis cerita.
Intinya Author ingin mengatakan
NOVEL MATINYA YANG BERTELE-TELE KEBALI HIDUP.
Kunjungan
Happy Reading!!!
Mikael merebahkan tubuhnya yang lelah seharian beraktivitas. Dia memejamkan matanya sejenak.
'Krucuk krucuk' dia membuka kembali matanya yang terpejam. Diliriknya jam berbentuk persegi yang menggantung di dinding kamarnya. Tampak jarum pendek mendekat ke angka delapan.
Dia lekas beranjak dari ranjangnya menuju kearah pintu kamarnya. Saat akan membuka pintu. Sayup-sayup Mikael mendengar suara HPnya yang berbunyi. Diurungkannya membuka pintu. Dia menuju kearah bunyi tersebut.
Saat menemukan HPnya didalam jas kerjanya yang ada diatas ranjang. Dia melihat nama yang tertera di layar HPnya yang bertuliskan Al.
Mikael mengerutkan dahi. Dia bertanya-tanya, untuk apa wanita itu menelponnya. Padahal selama ini Wanita itu tidak pernah sekalipun menelponnya. Dengan malas Mikael mengangkat panggilan itu. Dia juga melepas speaker telepon, karna malas menempelkannya di kupingnya. Mikael terdiam tak bersuara sedikitpun.
Mikael menunggu suara disebrang sana yang masih hening terdengar. Sedetik kemudian terdengar suara Wanita yang menelponnya.
"Mati ya?" Ucap suara itu yang terdengar pelan.
Ditatapnya layar HPnya. Dia menunggu kembali orang disebrang yang menelponnya untuk mengatakan tujuannya, tapi sayangnya penelpon hanya mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum?" ucap Al pelan. Mikael masih tetap diam tak menjawab salam wanita itu.
"Assalamu'alaikum.." ucap Al kembali. Tetapi tetap sama tak ada jawaban dari Mikael.
"Assalamu'alaikum, ada orang tidak!" ucap Al kembali dengan menaikkan volume suaranya. Dalam hati rasanya Mikael ingin mematikan HP itu. Tetapi tak dia lakukan dia hanya berdehem menandakan adanya orang.
Setelah mengucapkan salam ketiga. Tak terdengar suara kembali. Mikael menyentuh HPnya yang langsung terang. Dia mengira Wanita itu telah mematikan telponnya. Sayangnya tidak, sambungan masih berlanjut.
"...Setelah minum gelas diletakan, Jangan lupa syukur dan sembahyang. Assalamu'alaikum aku ucapkan, Apa kabarmu temanku tersayang?" Al mengucapkan pantun dengan bait yang terdengar jelas di telinga Mikael.
Mikael mengerutkan dahinya yang mendengar perkataan Wanita itu.
Baginya ini kali pertama ada seseorang yang berpantun untuknya agar dia mengucapkan salam biasanya orang akan menyerah jika Mikael terus diam.
"Kalau kayak gini terus, kapan habisnya!" batin Mikael.
Entah mengapa Mikael kaku sekali menjawab salam seseorang. Karena selama ini kebiasaan orang menyapanya hanya dengan halo. Jarang orang yang mengucapkan salam padanya. Kecuali kakeknya jika menelpon.
Dia lalu menghembuskan nafas kasar. "Wa'alaikumsalam, langsung aja mau ngomong apa?" jawab Mikael tidak bersahabat.
"Gini friend.." kata Al yang terdengar sok dekat. Mikael yang mendengar perkataan Wanita itu melongo.
"Saya ingin mengunjungimu.." ucapnya. "Bagaimana boleh tidak friend?" tanyanya meminta jawaban.
Mikael masih melongo. Mendengar kata 'friend' yang di ucapkan Al. Seketika dia mengingat kembali kejadian kemarin malam tentang janjinya yang akan menjadikan Al menjadi temannya.
"...Maaf saya sedang sibuk. Lain kali saja mengunjunginya, ketika saya ada waktu senggang.." balas Mikael yang nadanya masih terdengar dingin. Dia lalu memutuskan telponnya.
Mikael melempar HPnya keatas kasur. Dia Lalu menuju kearah pintu kamarnya. Dia melangkahkan kakinya menuju dapur. Disana sudah terdapat Pak Usman menyajikan makan malam untuknya.
###
Jam sudah menunjukan pukul 10 pagi. Matahari sudah tampak menyinari dengan terangnya semua makhluk hidup yang ada di bumi.
Didalam rumah. Al sedang sibuk menutup makanan yang tadi telah dia masukkan kedalam rantang.
Usai itu dia meraih tas Selempang nya yang ada diatas meja makan lalu menyelempangkannya diatas pundak kirinya. Sedang tangan kanannya memegang rantang. Dia kemudian jalan menuju pintu keluar.
Disana Al mendapati Bi Hilda sedang membawa kantung sampah yang akan di taruh di tempat pembuangan yang ada didepan tembok rumah.
"Bibi, Al jalan ya!" pamitnya. Al menjulurkan tangan kearah Bibi agar bisa menciumnya. Bi Hilda yang kedua tangannya memegang kantung sampah tak menerima tangan Al.
"Tangan Bibi kotor Nyonya!" Bi Hilda menunjuk pada barang yang dibawanya. Al menyengir lalu menganggukan kepalanya paham.
"Yaudah kalau gitu. Al jalan ya Bi, assalamu'alaikum.." pamitnya kembali. Dia lalu melihat kearah Pak Mamat yang ada di post jaga. "Al pergi Pak! Assalamualaikum.." pamitnya. Al melambaikan tangan pada Pak Mamat yang keluar dari posnya.
"Wa'alaikumsalam, Hati-hati ya, Nyonya.." ucap Pak Mamat dan juga Bi Hilda.
Di luar pagar. Al menuju kearah jalan besar yang disana terdapat halte, tempat biasanya menunggu bis. Al menghabiskan waktu berjalan selama 15 menit menuju halte dari rumahnya.
Sampai di halte, tampak halte terlihat sepi. Al duduk di bangku yang sudah disiapkan. Bangku yang tak biasanya kosong, padahal biasanya setiap Al berangkat kerja bangku itu selalu penuh akan penumpang lain yang juga menunggu angkutan.
Setelah menunggu kurang lebih 10 menit. Akhirnya bis tujuannya datang. Dia segera menaiki bis yang tampak lenggang. Banyak bangku yang kosong. Al memilih duduk di bangku untuk dua penumpang. Dia duduk didekat jendela sambil memandang pemandangan di luar jendela dengan wajah sumringah.
Perjalanan kali ini ke tempat tujuan terasa jauh lebih lama. Padahal jalan raya tidak macet melainkan sepi.
Al melihat jam yang ada di HPnya menunjuk angka 12 lewat 6 .
Al turun di halte yang berjarak 100 meter dari tempat tujuannya. Dia lalu berjalan kearah tempat itu.
Tampak tempat tujuannya terlihat sepi. Didepan pintu lobi Al menundukkan kepala pada seorang Satpam yang sangat dikenalnya, karna Satpam tersebut yang waktu itu melarangnya masuk.
"Assalamualaikum Nyonya," sapa Satpam itu yang bernama Rido. Dia tampak gugup melihat Al.
"Wa'alaikumsalam," jawab Al ramah. Dia lalu izin masuk pada Rido yang menganggukan kepala.
Al menuju kearah lift. Saat pintu lift terbuka, tak ada satupun orang didalam. Al langsung memasuki lift tersebut. Dia lalu memperhatikan deretan angka, kemudian dia menekan tombol tertinggi dideretan angka tersebut.
'Ting'
Pintu lift terbuka, pemandangan pertama yang dilihat Al adalah meja Alula yaitu sekretaris Mikael. Dia tampak sedang fokus menatap layar komputer didepannya.
Al menghampiri Alula yang ada di mejanya. "Assalamu'alaikum.." sapa Al ramah.
"..Wa'alaikumsalam," jawab Alula yang tak kalah ramah. Dia mengangkat kepalanya melihat siapa yang ada didepannya. Seketika Alula terkejut melihat Wanita bercadar yang tak lain adalah istri bosnya. "Nyonya!"
Al tersenyum melihat kearah Alula. "Gimana kabarmu, Nona Alula?" tanya Al menatap kearah alula.
"Alhamdulillah Baik Nyonya.." jawab Alula. Dia juga membalas senyum Al.
Al memajukan sedikit kepalanya kearah Alula. "Tuan Mikael ada didalam kan?" bisik Al.
"Ada Nyonya!" jawab alula yang bingung melihat tingkat Al yang berbisik menanyai perihal suaminya sendiri.
"Apa sekarang sudah waktunya makan siang?" tanya Al kembali.
Alula melihat kearah jam di tangannya yang menunjukan pukul setengah satu siang. "Sudah waktunya Nyonya!"
"Oke, terima kasih ya Nona Alula. Saya masuk dulu!" izin Al. Alula menganggukan kepala. Dia lalu merapikan sedikit berkasnya yang berantakan lalu menuju kearah tempat makan siang yang ada di lantai satu.
Dijulurkan Nya tangan kanannya lalu mengetuk pelan pintu kerja Mikael.
"Tok tok" tak ada jawaban dari dalam.
Al mengetuk kembali pintu Mikael pelan. "Tok tok" sama saja tak ada jawaban dari dalam.
Al mengerutkan dahi sejenak. "Apa Mas lagi di kamar mandi?" batin Al.
Al melirik kearah meja Alula yang saat ini sosok sekretaris Mikael sudah tak ada. Dia berniat bertanya kembali perihal Mikael.
Ak kembali mengingat kejadian saat pertama kali ke ruangan Mikael. "Kalau tidak salah, saat Pak Usman mengetuk pintu sama tak ada jawab dari Mas! Tapi setelah mengetuk ketiga kali Pak Usman langsung membukakan pintu!" gumam Al.
Dia lalu mengetuk kembali pintu ruangan Mikael. Al kembali menarik nafas lalu membuangnya perlahan. Setelah itu tangannya memegang kenop pintu lalu membukanya.
Pemandangan pertama yang dilihat Al, sosok Mikael yang sedang berjalan mendekat kearah pintu. Tampak Mikael yang kaget melihat sosok Wanita bercadar yang masuk ke ruangannya.
###
Mikael yang tadi sedang mengerjakan sesuatu di laptop-nya, harus menghentikan aktivitasnya. Lantaran suara ketukan pintu. Diluar ruangannya yang tak kunjung masuk. Akhirnya setelah ketukan ketiga, sama saja orang tersebut tak masuk-masuk membuat Mikael sedikit kesal. Dia lalu menghampiri pintu tersebut. Saat akan mendekat tampak pintu terbuka dan terlihat sosok Wanita yang sangat dikenalnya. Walaupun wajahnya tak terlihat.
###
"Assalamualaikum Kak Mikael!" sapa Al menatap mata suaminya. Mikael menatap tajam mata Al. Dia lalu membalikkan badan dan kembali duduk ketempat nya.
Al menutup pintu tersebut terlebih dahulu, setelah itu dia menghampiri Mikael.
Di mejanya Mikael kembali fokus bekerja. Al berdiri didepan Mikael sambil menatapnya dalam.
"Kak, Al bawa makan siang untuk kakak!" ucap Al. Dia menunggu tanggapan dari suaminya yang hanya diam. Mikael tak menanggapi perkataan Al.
Mata Al terus menatap sosok didepan yang mengabaikannya. Al kembali menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.
"Friends Mikael, mengapa kamu mengabaikan ku?" tanya Al dengan nada suara yang tak manis. Dia berbicara layaknya kepada teman. Mikael seketika menghentikan aktivitasnya yang sedang mengetik di keyboardnya.
"Padahal aku datang membawakan makan siang untukmu. Apakah seperti ini sikapmu sebagai teman?" ucap Al kembali. Dia menarik bangku yang ada didepan meja Mikael. Mikael mengangkat kepalanya yang tadi menatap layar laptop menatap wanita didepannya.
"Teman...Hah.., gua lupa. Kalau sekarang gua harus anggap dia teman gua.." ucap Mikael dalam hati dengan ekspresi yang datar.
"...Bukannya sebagai teman harus tau waktu, kapan harus mengunjunginya?" kata Mikael yang terdengar menyindir.
Al sedikit tersenyum. Matanya masih tetap menatap mata Mikael. "Tentu aku tau kapan harus berkunjung, karena itu aku datang sekarang ini ingin mengajak makan siang bersama.." balas Al. "Bukankah sudah masuk jam makan siang, friends!"
Mikael melirik sekilas kearah jam ditangannya. Dia sama sekali tak menyadari jika jam makan siang sudah masuk sejak tadi. Biasanya Alula akan mengingatkannya.
Al mengangkat rantang yang dibawanya. "Bagaimana? Mari kita makan!" ajak Al. Mikael tak menjawab, dia malah melihat jadwalnya hari ini. Sayangnya siang ini dia sama sekali tak bertemu rekan bisnis maupun clientnya, membuatnya harus makan bersama wanita didepannya.
Al masih setia menatap Mikael menunggu perkataannya.
"Baiklah.." balas Mikael datar. Al tersenyum gembira mendengarnya. Mereka lalu menuju kearah sofa abu-abu yang ada di ruangannya Mikael.
Rantang yang sejak tadi dipegang Al, diletakkannya diatas meja didepan sofa lalu membukanya setelah itu baru menyusun rantang tersebut.
"Silahkan Friend Mikael!" Al memberikan sendok ke tangan Mikael.
Mikael menerima sendok tersebut. Dengan terpaksa dia. memakan makanan yang dibawa Al.
Al terus memperhatikan Mikael yang menyantap makanannya. Sedikitpun dia tak merasa bosan melihat wajahnya.
Selesai makan. Mikael meletakkan sendoknya dengan cara terbalik di rantang. Dengan gercep Al memberikan air minum yang tadi dia telah sediakan.
Setelah 2 menit duduk tanpa berkata satu sama lain. Mikael beranjak dari sofanya kembali menuju meja kerjanya. Sedang Al merapikan rantang yang masih ada sisa lauk dan nasi.
Setelah rapi. Al meraih HPnya dari dalam tas. Dia melihat jam menunjukan pukul setengah 2 kurang 5 menit.
Al menghampiri kembali Mikael yang telah fokus bekerja. Dia lalu duduk didepan mikael.
"...Friends, aku pulang dulu ya!" pamit Al. Mikael tak berkata ataupun menanggapi apapun.
Al lalu menjulurkan lengan kearah Mikael yang masih mengabaikannya." Friends, aku mau pamit. Setidaknya sebelum pamit aku ingin berjabat tangan denganmu. Bukankah itu biasa dilakukan seorang teman.." kata Al. Mikael terdiam kembali, dia menjulurkan tangannya lalu menjabat tangan Al sebentar lalu melepaskannya.
Al tersenyum melihat tangannya yang dijabat. Dia lalu beranjak dari kursinya. "Baiklah Kak. Aku izin pulang ya, assalamualaikum.." pamit al yang nada suaranya sudah kembali lembut dan manis.
Al lalu menuju kearah pintu keluar. Disana Alula sudah tampak duduk di meja kerjanya.
"Nyonya sudah ingin pulang?" tanya Alula melihat Al keluar ruangan Mikael.
"Iya.." jawab Al yang terlihat terburu-buru setelah menutup pintu ruangan Mikael. "Aku pergi dulu ya Nona Alula, assalamualaikum.." pamit Al yang langsung menuju kearah pintu lift yang setelah dia pencet tombol bawahnya, pintu kift tak berapa lama kebuka.
"Wa'alaikumsalam.." jawab Alula yang memperhatikan Al. "...Yahh padahal gua mau ngobrol sama Nyonya Al.." batin Alula. Dia menepuk jidatnya karena baru mengingatnya. Dia kemudian kembali fokus mengerjakan pekerjaannya.
###
Al berjalan cepat menuju kearah halte. Dia menunggu bis yang kearah tempat tujuannya selanjutnya. Setelah menunggu 15 menit akhirnya bisnya datang. Al lalu menaiki bis tersebut.
Setelah perjalanan kurang lebih 2 jam Al akhirnya sampai di tempat tujuannya yaitu tempat kerjanya. Dia lalu masuk kedalam menuju kearah ruangan untuk menaruh tasnya setelah itu dia ketempat nya.
"Kak! Maaf ya aku telat!" ucap Al merasa tak enak.
"Tidak apa-apa! Santai aja" sahut sahabatnya itu yang bernama Mirzani. Dia lalu izin pulang, karena shiftnya sudah usai sejak tadi.
Seperginya Mirzani, Via yang sadar akan kehadiran Al langsung menghampirinya.
"Dari mana aja Al? Tumben-tumbennya kamu telat!" Al menengok kearah Via yang ada disampingnya dengan senyum senang.
"Hehehe maaf ya. Tadi aku dari tempat kerja suamiku.." Via yang mendengar ucapan Al membulatkan bibirnya.
"Pantes!"
"Via! Aku makan ya!" ucap Al yang menunjukan rantang ditangannya.
"Kamu belum makan?" tanya Via yang merasa bingung dengan Al. Padahal dia baru saja dari tempat suaminya, yang seharusnya sudah makan siang.
"Belum Vi.." balas Al. Via lalu mengangguk-angguk kepala membiarkan Al mengisi perutnya terlebih dahulu.
(Jangan lupa VOTE, tekan tanda ini π, coment πdan Reting πππππ ya...)
############################################################
Maaf ya jika banyak typo...
Jangan lupa coment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.
Dan tinggalkan tanda hati.
Jangan lupa vote yang teman-teman.
Saya juga nulis cerita yang judulnya UHIBBUKI jangan lupa mampir ya.....
Terimakasih