Friends After Marriage

Friends After Marriage
Pernyataan!!!



(Jangan lupa beri vote dan ucapan ya.)


Happy Reading!!!


Mikael melangkahkan kakinya menuju meja makan yang letaknya berada di lantai satu. Di meja makan sudah nampak Al sedang duduk menunggunya. Terlihat wajah Mikael yang tidak nafsu menyantap makanan yang menggiurkan.


Dia biasanya makan hanya dengan orang tertentu seperti kakeknya, teman-teman yang dekat dengannya (teman pria) dan rekan bisnis. Lainnya dia hanya makan sendiri. Khususnya perempuan dia paling malas berdekatan dengan makhluk itu.


Jika harus berurusan bisnis, sedang yang datang seorang wanita. Dia pasti akan menyuruh Alula sekretarisnya. Jika tidak dia yang akan mengurusnya tetapi dengan ekspresi muka datar dan dinginnya.


Mikael dengan terpaksa duduk di bangku meja makan. Apalagi dengan ekspresi istrinya yang selalu terlihat senyum, membuatnya risih.


Al menyodorkan piring yamg sudah terisi nasi didepan Mikael. Dengan terpaksa dia menerima nasi pemberian istrinya dan layanan yang tidak dibutuhkannya.


Saat makan tidak ada percakapan sama sekali. Mikael diam dan Al pun diam. Menikmati hidangan di hadapannya.


Biasanya saat makan dengan rekan bisnis wanitanya nya. Wanita itu akan berkata terus menerus saat makan maupun tidak, membuat Mikael yang mendengarnya jengah, karna percakapan yang dibahas tentang hal pribadi bukanlah perihal urusan bisnis. Walaupun dia sudah memasang wajah khasnya, tetap saja dia nyerocos bagaikan kreta api.


Selesai makan Al merapikan piring yang digunakannya maupun suaminya. Dia lalu membawanya kearah dapur untuk di cuci. Setelah itu dia kembali kemeja makan merapikan sisa-sisa makanan.


Sehabis makan malam biasanya Mikael akan langsung ke kamar. Mengerjakan tugas-tugas kantornya ataupun membuka file-file kontrak dengan perusahaan tetangga.


Tetapi lain hal hari ini. Setelah ke kamar tadi dia kembali turun lalu duduk di ruang TV sambil membuka HPnya.


Dari kejauhan Al yang melihat suaminya sedang duduk sendiri di ruang TV langsung menghampirinya usai membersihkan meja.


Al duduk di sofa samping suaminya. Dia menatap wajah suaminya dengan seksama. Betapa tampan dan rupawan lelaki didepannya yang sekarang berstatus zaujinya (suami).


Setelah Al duduk beberapa saat. Mikael segera mematikan HPnya kemudian meletakkan disampingnya. Dia lalu menatap kearah Al dengang ekspresi datar.


Al tidak begitu menanggapi perihal ekspresi suaminya, karna rasa bahagianya lebih besar bisa bertemu habibinya (kekasih).


Mikael mengalihkan wajahnya kearah Al yang ada di sofa sampingnya. "Saya ingin mengatakan perihal kepulangan saya!" Al tersenyum menanggapi perkataan suaminya. "Jadi mulai besok dan seterusnya saya akan jarang pulang! Saya akan lebih sering tinggal di apartemen, karna jarak dari kantor ke apartemen jauh lebih dekat di banding kesini.." jelasnya.


Mikael memperhatikan raut wajah Al yang terlihat biasa saja dan tetap tersenyum. Tidak ada terlihat sekali raut wajah kaget ataupun sedih.


"Iya Mas gak papa. Asal Mas seminggu sekali kesini, supaya aku gak kesepian. Kalau tidak aku yang akan mengunjungi apartemen Mas.." katanya. "Apa ada lagi mas?" Ala menatap manik mata Mikael.


"...aku gak suka jika barang-barangku di sentuh. Apalagi dengan orang yang baru dikenal.." tambah Mikael. Mikael seperti menyindir Al yang tadi membuka lemari pakaiannya.


Mikael memberikan kartu berwarna hitam ke abu-abuan. "Ini kartu ATM, isinya ada 30 juta. Kamu bisa menggunakannya. Jika uangnya habis aku akan langsung mentransfernya.." dia lalu meletakkannya diatas meja. Terlihat jelas muka kaget Al saat nominal uang disebut, Mikael yang sejak tadi memperhatikan ekspresi Al terlihat menyunggingkan senyum tipis merendahkan.


"Apa ada yang ingin kamu pertanyakan?" tanya Mikael. Al terlihat berfikir mengalihkan matanya kesudut kanan. Lalu dia kembali melihat kerah Mikael dengan tatapan binar dan harapan.


"...apa aku boleh bekerja Mas?" tanyanya menatap manik coklat tua itu.


Mikael terlihat mengerutkan dahi lalu melirik kartu yang masih diam diatas meja.


"Apa uang yang aku berikan kurang?" tanya memandang tajam Al. Al langsung mengegelengkan kepala dan mengerakkan tangannya.


"Tidak Mas. Justru uang yang Mas berikan sangat banyak.." jujur Al. Mikael mengangkat sebelah alisnya meminta jawaban atas permintaannya. "Hanya saja akan sangat membosankan jika aku hanya di rumah. Lagi pula aku terbiasa bekerja jadi..." lanjutnya terlihat memohon menatap wajah Mikael.


"Ya seterah kamu saja!" katanya. Mikael lalu mengambil HPnya kemudian berdiri. Saat berjalan meninggalkan Al dia berbalik kembali menengok kearah Al.


"Mulai malam ini kamu bisa, tidur di kamar tamu. Soalnya aku belum terbiasa tidur dengan orang baru.." Al terlihat diam beberapa saat lalu membalas tatapan Mikael dengan senyum hangat.


"Iya Mas. Tidak masalah.."


"Terus kamu bisa memanggilku Mikael. Aku tidak suka orang memanggilku Mas-Mas, karna itu terdengar seperti tukang yang berjualan di pinggir jalan.." Al terlihat sedikit tersenyum lucu ketika mendengar perkataan Mikael.


"Bagaimana kalau aku panggil Mas, Kak El!" serunya meminta pendapat Mikael.


"Ya itu boleh. Setidaknya lebih baik," lalu Mikael pergi menaiki tangga menuju kamarnya.


############################################################


Maaf ya jika banyak typo...


Jangan lupa coment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.


Dan tinggalkan tanda hati.


Jangan lupa vote yang teman-teman.


Saya juga nulis cerita yang judulnya UHIBBUKI jangan lupa mampir ya.....


Terimakasih