Friends After Marriage

Friends After Marriage
Akhirnya



Happy Reading!!!


Akhirnya


Seorang Pria muda melangkahkan kakinya kearah ruang keluarga. Tangan Pria itu memegang sebuah bingkisan berukuran 4x3 ditangannya.


Di ruang keluarga, pria itu tak mendapati sosok yang dicari, yang didapatinya malah dua Pria yang rambutnya berwarna.


"Mikael lo dari mana?" tanya Pria berambut bule lokal yang terlihat mengantuk karna lumayan lama menunggu Mikael kembali ke ruangan itu.


"Gua abis ambil baju.." jawabnya sambil menunjukan bingkisan yang dipegangnya.


"Lo bawa baju! Jadi lo gak jadi pinjam?" serunya.


"Gua tetap pinjam baju lo, karna yang gua pegang ini baju Al.." balasnya.


"..Al dimana?"


"Al, dia tadi diantar pelayan gua ke kamarnya.." jawabnya.


"Kamarnya dimana?"


"Kamar yang biasa lo suka tempatin pas nginap.." balasnya yang mulai menguap.


"Yaudah, gua kesana dulu ya. Abis itu gua ke kamar lo buat ambil baju.." balasnya yang berlalu pergi.


"Iyaa.." balas Ghifari yang lalu bangkit dari tempatnya duduk.


Ghifari lalu melihat kearah Yuan yang sedang memperhatikan Mikael yang pergi ke lantai dua.


"Yuan, ngapain lo masih duduk. Ayo ke kamar!" ajaknya.


"Ghifari, lo liat gak. Sepertinya ada kemajuan untuk hubungan mereka.." cengirnya.


"Bagus dong, artinya ngambek lo yang waktu itu ampuh.." ucapnya yang terdengar meledek.


"Udah Yuk ke kamar, mata gua udah pipit nih.." Ghifari lalu berjalan kearah kamarnya dilantai yang sama.


Yuan mengikuti langkah sahabatnya itu. Didalam hati, dia melihat jelas kemajuan Mikael terhadap Al. Walaupun Pria itu masih belum mau mengakui perasaannya


Di kamar


Wanita berkerudung panjang itu berjalan kearah kursi di kamar itu. Dia meletakkan tasnya diatas meja dekat kursi itu lalu duduk dikursinya.


Dia memperhatikan warna seisi kamar yang berwarna putih tulang.


Cklek


Wanita itu mengalihkan pandangan kearah pintu yang terbuka. Disana Mikael masuk lalu berjalan kearah Al.


Pandangan Al tertuju pada bingkisan yang disodorkan oleh Mikael ketika Pria itu ada didepannya.


"Ini baju untukmu!"


Al terlihat bingung melihatnya lalu dia memjulurkan tangannya. "...makasih, Kak.." balas Al yang menerima pemberian tersebut.


Dari arah luar, Ibunya Ghifari datang ke kamar Al. Dilihatnya pintu kamar itu, dia lalu memasukinya. "Al, Tante masuk ya.." ucap Wanita itu yang sudah ada didalam.


Wanita itu baru sadar ternyata didalam kamar tak ada hanya Al tetapi juga Mikael.


"..ini Tante bawakan pakaian dalam dan baju untukmu.." lanjutnya.


"Tante, tidak mengganggukan.." ucap yang ingin berbalik badan keluar.


"Tidak kok, Tante. Mikael baru saja ingin keluar untuk mengambil pakaian di kamar Ghifari.." cegahnya.


Pria itu lalu berjalan melawati Wanita setengah baya itu. Pandangannya tertuju pada piyama yang dipegang Wanita itu.


Wanita setengah baya itu berjalan mendekat kearah Al lalu menaruh piyama dan pakaian dalam yang dibawanya diatas meja.


"Al, ini piyama tidurmu dan pakain dalam baru. Semoga pakaian dalamnya pas ya.." ucapnya.


"..terimakasih, Tante.." balasnya senyum.


Wanita tanpa hijab itu melihat bingkisan yang dipegang Al.


"Itu bingkisan apa?"


"..ini!" kata Al mengangkat sedikit bingkisan itu. Wanita yang bertanya itu menganggukan kepala.


"Kata Kak El, ini baju untyk Al.." balasnya.


Wanita itu lalu tersenyum dan semakin mendekati Al. "Coba buka, Tante penasaran selera baju Mikael.." ucapnya.


Al lantas membuka bingkisan pemberian suaminya.


Ketika hadiah dikeluarkan dari kantung tersebut, Al dan Wanita setengah baya itu kaget melihat kain tipis berwarna ping.


Al lalu menjemberengkan benda dalam bingkisan tersebut yang ternyata lingeria.


Wanita setengah baya itu nampak menggelengkan kepala. "Tante gak nyangka, selera semua Pria sama saja. Sukanya Prempuan pake baju seperti itu.." ungkapnya.


"Kamu ingi memakainya?" tanyanya melihat kearah Al.


"...Al sebenarnya tak ingin, karna Al tak suka pakaian seperti ini.." jujurnya.


"Tapi, jika Kak El memberikannya artinya dia menginginkan Al mengenakannya.." ucapnya lembut kearah Wanita didepannya.


"Walaupun tak suka, jika itu membuat Kak El senang. Al akan mengenakannya. Lagipula menyenangkan hati suami, juga merupakan pahala bagi Al yang merupakan seorang istri.." jelasnya.


Wanita setengah baya itu, diam sejenak mendengarnya. "Baiklah jika itu pilihanmu!" serunya.


"Tante tetap akan meninggalkan piyama ini. Jika nanti kamu ingin menggantinya setelah...." ucapnya dengan memberi kode. Al nampak malu mendengarnya.


###


Perasaan malu menyeruak, melihat diri sendiri memakai pakaian yang sampai terlihat dalamannya. Penampilan yang sungguh membuat orang yang memakainya sendiri terasa geli.


Bagaimana tidak? Saat ini padahal Al mengenakan pakaian tapi dia merasa tak mengenakan pakaian karna bahannya yang seperti jaring laba-laba ini.


"Apa Kakak membelinya karna perkataanku?" batinnya bertanya.


Tapi, dia masih tak menyangka suaminya benar-benar akan membelikan pakaian seperti yang menggelikan ini.


"...haahhh.." helanya.


"Kamu harus bisa Al!" semangatnya.


"Bukankah ini keinginanmu sejak lama untuk bisa semakin dekat dengan suamimu, tapi ini sungguh.." katanya yang merasa sedikit menyesal berkata perkataan yang seperti mengkode itu.


Setelah mengumpulkan kepercaya diri, dia melangkah mendekat kearah pintu. Dipegangnya gagang pintu itu lalu membukanya.


Deg deg deg


Jantungnya berdetak dengan cepat, saat kakinya melangkah keluar pintu kamar mandi.


Ditongakkan kepalanya ketika tubuhnya seutuhnya keluar dari pintu. Jantungnya mulai kembali normal saat tau sosok suaminya tak ada di kamar.


Wanita itu merasa bersyukur suaminya tak ada dikamar saat ini, tapi dia juga merasa sedih melihat suaminya yang tak ada disana.


###


Kamar Ghifari


Dikamar berukuran lumayan besar dengan warna biru mendominasi. Terdapat tiga Pria yang sibuk dengan kesibukan masing-masing.


Yang pertama, Pria berambut buke lokal yang sibuk dengan alam mimpinya yang sudah menyambutnya sejak tadi.


Kedua, Pria berambut coklat yang sibuk dengan benda pipih digenggamannya.


Dan yang terakhir Pria berambut gondrong yang sibuk dengan pikirannya. Dia terlihat menyesal, karna memberikan benda yang dibelinya tadi.


"Kenapa tadi gua kasih sih?" batinnya.


Pria itu mengepalkan tangannya kuat. "Memakai pakaian biasa saja, jantungku berdetak. Bagaimana dengan memakai memakai pakaian itu.." kata hatinya.


Pria yang sibuk dengan benda pipihnya, mengalihkan pandangannya kearah Pria berambu gondrong yang sedang duduk didekat jendela.


"Mikael, lo ngapain diam disitu?" tanyanya dengan mata yang sudah kembali melihat HPnya.


"..." tak ada jawaban dari yang bersangkutan.


"..oy, Mikael!" panggilnya dengan suara lebih keras. Masih sama saja, Pria yang dipanggil tetap tak menyahutinya.


Karna merasa kesal Pria berambut coklat mengambil bantal yang ada didekatnya lalu melemparnya kearah Pria itu.


Buk


Mikael seketika tersadar dari lamunanya. Dia mengalihkan pandangannya kearah bantal yang terjatuh didekatnya.


"Akhirnya sadar juga!" seru Pria ditempat tidur.


"...emang kenapa gua?" tanyanya.


"Lo, daris tadi gua panggil. Kagak nyahut-nyahut. Emangnya lo lagi mikirin apa sih?"


"...bukan apa-apa.." jawabnya. Pria yang rambutnya terurai sampai sebahu itu. Dia lalu melirik kearah jam yang bertengker di tembok kamar itu.


Jam tersebut sudah menunjukan pukul satu malam. Sudah satu setengah jam Pria itu mengulur waktu dikamar Ghifari.


"Gua balik ke kamar ya.." pamitnya yang lalu pergi dengan sudah memakai pakaian Ghifari, karna disana dia juga menumpang mandi dan mengganti pakaian.


###


Di dalam kamar, dibalik selimut tebal, Al menunggu kedatangan suaminya. Dia selalu melirik kearah pintu yang tertutup.


"Malam ini, pasti Kak El tidak tidur disini!" batinnya.


Al nampak sedih, dia fikir suaminya memberinya pakaian ini karna ingin tidur dengannya. Ternyata...


Diliriknya tubuhnya dibalik selimut yang mengenakan lingeria lalu mengalihkan pangannya kearah piyama diatas meja.


"Sebaiknya aku mengganti pakaian," gumamnya lalu beranjak dari tempat tidur.


Wanita cantik itu melangkahkan kaki kearah meja yang ada terdapat piyama.


Dia meraih piyama berwarna hijau itu, lalu mendekapnya kepelukannya kemudian melangkah kearah kamar mandi.


Cklek


Suara pintu terbuka, Al terdiam ketika melihat sosok yang masuk kedalam kamarnya begitu juga Pria yang masuk.


"Tunggu!" perintah Pria itu yang menyuruh Al berhenti saat akan menghampirinya.


Wajah Al berseri, dia melihat Pria itu yang menutup pintu lalu berjalan kearah kamar mandi.


Wanita itu kembali mengarahkan kakinya ketempat tidur lalu duduk disana. Dia menatap kearah pintu kamar mandi yang tertutup.


Dikamar mandi


Mikael memegang dadanya yang berdegup kencang. Dia fikir Wanita yang dikamar ini sudah tidur, ternyata dia masih terjaga.


Ditambah dia melihat jelas pakaian dalam dan tubuh istrinya yang terbalut lingeria.


"Seksi!" gumamnya memegang wajahnya yang memerah.


Mikael melihat wajahnya yang memerah. Lantas dia segera mencuci mukanya dengan air lalu menatap dirinya kembali dicermin.


Dia kembali teringat akan perkataan Al saat di mall.


Dia lalu menegakkan kembali tubuhnya kemudian berbalik kearah pintu membukanya.


Al yang menunggu suaminya diluar kembali berdiri saat menyadari sosok yang ditunggu sudah membuka pintu.


Al beranjak dari duduknya mendekat ke arah suaminya begitu juga Pria itu yang berjalan pelan kearah Al.


Al nampak tersenyum manis kearah suaminya. Tidak dengan Mikael yang berwajah dingin tetapi dadanya berdegup kencang.


"Aku sudah melihatmu dengan pakaian ini, sekarang gantilah pakaianmu dengan piyama yang diberikan Tante!" perintahnya.


Al terdiam sejenak menatap mata suaminya. "..Kakak tidak suka melihat Al memakai pakaian ini.."


Mikael diam tak menjawab, dia melewati Wanita itu lalu berjalan kearah ranjang.


Al segera berbalik mengikuti Mikael keranjang. Dia lalu berdiri tepat didepan Mikael yang duduk dipinggir ranjang.


Mikael segera memundurkan tubuhnya karna kaget melihat Al yang sangat dekat dengannya apa lagi bagian atasnya yang terlihat jelas.


"...apa yang kamu lakukan?" Pria itu segera mengalihkan pandangannya


"Al hanya nanya, apa Kak El tak suka Al mengenakan ini?" tanya Al kembali dengan wajah yang sudah terlihat sendu.


"...ganti dulu bajumu!" perintah kembali, yang kali ini dengan suara pelan.


"Jawab pertanyaan Al dulu, Kak.." pintanya.


Mikael mencengkram seprai dengan kencang. "Iya, gua gak suka!" sentaknya.


Al memundurkan tubuhnya kemudian menundukan kepalanya.


"Kalau Kakak tidak suka, mengapa membelikan Al pakaian ini?" tanyanya pelan.


Al mengangkat kepalanya menatap suaminya yang tak melihatnya.


"..memangnya bagaimana menurut Kakak, Wanita yang memakai pakaian ini?" ucap Al.


"...apa maksudmu?"


"Maksudku, kalau Wanita yang memakai pakaian seperti ini menurut Kakak apa?"


"...Wanita murahan.." jawabnya.


Mendengar perkataan itu hatinya sedikit terenyuh. Tapi dia juga kesal, mengapa Pria didepannya yang memberikan pakaian ini, jika dia menganggap Wanita yang memakai lingeria sebagai murahan.


"Kalau begitu anggap saja aku Wanita murahan!" serunya.


"Wanita murahan yang halal untukmu.." lanjutnya yang perasaannya campur aduk.


Al menjulurkan tangannya menyentuh wajah Pria didepannya yang langsung diarahkan melihatnya.


Didekatkan wajahnya lalu mencium kening Pria didepannya dengan lembut.


Dilepaskan bibirnya dari kening Pria itu lalu menatap matanya dengan sedih.


"Bagaimana kalau Kak El tidur dengan Wanita murahan ini?" tanyanya.


Mikael terdiam, dadanya semakin cepat bergerak. Nafasnya terus memburu.


Bibirnya saat ini bungkam tapi tidak dengan tangannya yang langsung menanggkup wajah didepannya dan langsung menyambar bibir Wanita itu.


Cukup lama Pria itu menempelkan bibirnya, sampai dia melepaskannya.


"Bukankah ini keinginanmu! Aku akan menurutinya!" seru Pria itu setelah melepas pangutannya.


Mikael yang hasratnya tak tertaha lagi, lantas menidurkan tubuh mungil itu ke ranjang. Dia meniban tubuh Wanita itu dengan tubuhnya yang besar.


Mikael mulai kembali menghujani wajah Al dengan kecupan lalu beralih keleher putih mulus Al dan memberikan tanda kemerahan disana.


Tangan Pria itu mulai nakal dengan menyelipkan tangannya kepakaian Al. Tapi hal tersebut segera dicegat Al.


"...mengapa? Apa kamu mengurungkan niatmu?" tanya Mikael dengan tajam, karna keinginannya mulai meledak.


Al menatap mata suaminya dalam. "...tidak, aku hanya ingin Kakak mendoakanku sebelum melakukannya.." pinta Al.


Mikael mengerutkan dahinya. Dia lalu segera menjauhkan tubuhnya dari Al.


"Apa doa yang harus kuucapkan?"


"..sebelum itu, sebaiknya kita wudhu terlebih dahulu.." balasnya.


Mikael menganggukinya lalu mengikuti Wanita itu ke kamar mandi untuk berwudhu.


###


Diatas tempat tidur mereka saling berhadapan. Mikael memegang kepala Al lalu membacakan doa suami kepada istri.sebelum berhubungan.


Setelah itu, Mikael kembali memulai aksinya. Pertama-tama dia menghujani Al dengan ciuman diwajah setelah itu baru Pria itu turun keleher dan menanggalkan semua penghalan ditubuh Al.


Di mulailah malam panjang pagi Al dan Mikael untuk pertamakalinya.


Thank you for reading. Tetap semangati SMIM dengan meninggalkan tanda dan kirimkan cerita ini.