
Happy Reading!!!
Tak terasa sudah hampir 2 bulan sejak kejadian hari itu.
Mikael tak pernah menginjakkan kaki di rumah tersebut dan selalu menghindarinya.
Itu terlihat saat Al mengunjungi kantornya, tetapi dirinya meminta Alula untuk tak mengizinkan istrinya masuk.
Tidak hanya sekali dua kali Al berkunjung kesana, tetapi hampir setiap hari. Pernah juga sesekali dirinya menunggu suaminya di perusahaan sampai malam, tetapi sama saja. Dirinya tetap tak kunjung bertemu dengannya.
Karna hal tersebut, membuat Al kepikiran. Lambat laun, badannya mengurus, karna tak mau makan. Tetapi hal tersebut tak terlihat karna bajunya yang lebar.
Dari arah dalam seorang Wanita setengah baya datang membawa nampan yang berisi mangkok berukuran kecil dan segelas teh hangat.
Dia terdiam memperhatikan Nyonyanya yang termenung ditempat yang sama saat dirinya berada di rumah.
Bi Hilda nampak bingung dengan keadaan Nyonyanya yang keadaanya seperti itu. Posisinya Wanita itu tetap bersikap biasa, jika berkomunikasi dengannya maupun orang rumah, tetapi jika sendirian raut wajahnya berubah derastis, terlihat sangat sedih.
Dilangkahkan kakinya mendekat kearah Wanita cantik yang duduk sambil melingkarkan tangannya di kedua kakinya.
Sore ini, Al duduk ditaman belakang, tempat rahasianya menatap suami tercinta. Dia duduk sambil matanya menatap kearah jendela kamar tersebut dengan tatapan termenung.
"Nyonya Al, ini sudah sore. Sejak pagi, Nyonya belum mengisi perut.. " ucap Wanita setengah baya itu lembut.
"..." Al tersadar dari lamunannya, dia lalu menengokkan palanya kearah Bi Hilda dengan raut wajah yang ceria.
"..maaf, Bi. Al belum lapar, kalau Al sudah lapar, nanti Al akan makan.." balasnya.
Bi Hilda menampakkan wajah sedih kearah Al. Hal tersebut membuat Al tak enak hati.
"..baiklah Al akan memakannya.." nyerahnya.
Mendengarnya, Bi Hilda segera memberikan mangkuk kecil yang berisi bubur kearah Al. Wanita itu lalu menerimanya.
Ditatapnya bubur didalam mangkuk tersebut, seketika dia merasa mual pada perutnya.
Al segera menahan rasa mualnya, dengan segera meraih segelas air teh hangat lalu menegaknya sedikit.
"..Nyonya tidak apa-apa?" tanya Bi Hilda yang melihat tindakan Al tadi.
"..tidak apa-apa, Bi.. " senyumnya.
"..terimakasih, makanannya Bi.. " balasnya yang lalu menyendokkan sedikit bubur ke sendoknya lalu melahapnya.
Al menelannya dengan menahan nafasnya, karna dia kembali merasa mual. Perutnya seperti dikocok-kocok beberapa waktu ini.
"Nyonya, Bibi kembali kedalam dulu ya.." izinnya yang diangguki Al.
Wanita setengah baya itu lalu kembali kedalam rumah. Dia menghampiri suaminya yang nampak bersiap pergi.
"Bapak sudah mau pergi lagi?"
"..iya Bu, soalnya perusahaan Tuan Mikael yang berada di daerah XXX sedang tak ada yang mengawasinya.." balas Pak Usman.
Pria setengah baya itu lalu memperhatikan raut wajah istrinya yang nampak bingung.
"Kenapa wajahmu, bingung seperti itu?"
Bi Hilda nampak diam, sudah sejak lama dirinya ingin bercerita prihal Nyonyanya, tetapi suaminya jarang di rumah, ketika sampai rumah Pria itu langsung beristirahat dan besoknya Pria itu sudah pergi kembali.
Dengan berani, Wanita setengah baya itu lalu bercerita prihal Nyonyanya yang sering termenung dan juga Mikael yang tak pernah pulang.
"Maksud Ibu, Tuan Mikael tak pernah pulang sudah hampir dua bulan dan itu membuat Nyonya Al sering termenung!" ucap kembali Pak Usman yang diangguki Bi Hilda.
"..mungkin Tuan Mikael sedang sibuk, soalnya Tuan sedang membuka cabang baru di kota XXX yang saat ini Bapak awasi.." fikirnya.
"..tapi, sudah hampir 2 bulan Pak. Apa Bapak gak curiga!" serunya meyakinkan suaminya.
Pak Usman terdiam sejenak, baru saja beberapa hari yang lalu dirinya bertemu dengan Tuannya. Tetapi Pria itu bersikap biasa saja.
"..mungkin hanya perasaan Ibu.." ucap Pak Usman kembali.
"Bapak, mana mungkin itu hanya perasaan Ibu.." jelasnya.
"..kalau Bapak masih tak percaya, ayo kita lihat Nyonya Al.." ajak Bi Hilda.
Dia menarik suaminya, dari jarak yang tak jauh dari Al. Bi Hilda meminta suaminya memperhatikan Al yang makan dengan pelan.
Pak Usman memperhatikannya. Tapi dia lalu kembali melihat kearah istrinya, "..tak ada yang aneh, Bu. Nyonya Al hanya sedang makan dengan biasa.." saut Pria setengah baya itu.
"..Bapak perhatikan baik-baik.." sahut Bi Hilda.
Pak Usman lantas kembali memperhatikan Nyonyanya yang tangannya mengaduk bubur dengan tatapan keatas.
Karna penasaran arah tujuan tatapan Al. Pria itu mendekat, memastika arah tatapan Nyonyanya.
Saat jaraknya semakin dekat, Pak Usman menyadari tatapan Al tertuju pada jendela kamar perpustakaan Mikael yang tertutup.
Dari jaraknya itu juga dia dengan jelas melihat wajah mendung Al.
Seingatnya, sesedih apapun Wanita itu. Dia selalu menutupinya dengan senyuman. Tetapi kali ini tidak, Wanita itu dengan jelas mengekpresikan perasaannya.
"..Nyonya Al.." panggil Pak Usman.
"..ahh.." Al menolehkan kepala kearah suara.
Al memperhatikan baju Pak Usman yang memang selalu rapi.
"Bapak, sudah mau pergi kembali?"
"..iya Nyonya.." balas Pak Usman.
Saat akan kembali berucap, untuk bertanya. Bibirnya seketika terkatup, dia memilih diam.
Pria setengah baya itu tersenyum kemudian kembali berucap, "..Bapak pergi ya Nyonya.." pamitnya.
"Hati-hati ya, Pak.." ucapnya dengan senyuman.
Pak Usman lalu pergi meninggalkan Nyonya yang kembali sendiri.
Bi Hilda yang menunggu suaminya, saat kembali segera bertanya.
"..betukan kata Ibu!" seru. Pria setengah baya itu menganggukan kepala.
"..Bapak benar gak tau alasan Nyonya Al seperti itu?" tanya kemudian.
"..apa ini ada sangkut paut dengan ketidak pulangan Tuan Mikael?"
Pak Usman menggelengkan kepalanya.
"Bapak, tidak tau Bu.." balasnya.
"..kalau berhubungan dengan Tuan Mikael, Bapak..sepertinya tidak.." lanjutnya. Pak Usman mengingat-ingat sifat Tuannya yang nampak biasa saja.
"..apa mungkin Nyonya Al sedang ada masalah sesuatu yang tak bisa diceritakan? Tapi apa ya?" sedih Bi Hilda yang melihat Nyonya.
###
Di tempat lain, seorang Pria dengan kecepatan tinggi menembus jalan.
Dia melewati semua kendaraan yang ada didepannya, tanpa mempedulikan bahwa pengendara lain merasa kaget dengan tindakan Pria tersebut. Sedang pengandaraan lainnya menggang jika pemilik mobil itu sedang kebelet.
Sampailah mobil ceper hitam itu disebuah apartemen yang letaknya di kota XXX. Pria itu berada disana untuk mengurus cabang perusahaannya yang baru berjalan hampir 3 bulan.
Usai memasuki apartemennya, dia berjalan kearah beranda. Disana dia menghirup benda elektriknya, dengan fikirannya meleyang kebeberapa waktu lalu.
Setelah kejadian hari itu, Mikael hilang kontak selama seminggu. Dia berdiam diri disebuah Vila yang ada di dataran tinggi.
Tapi, usai kembali ke aktivitasnya. Sikap dinginnya yang sudah sedikit mencair, kini semakin membeku.
Apalagi, saat berpapasan dengan Wanita. Sikapnya bertambah dingin membuat lawan bicaranya diam tak bergerak ketika ditatap dengan tatapannya yang susah dideskripsikan saking seramnya.
Mikael kembali menghembuskan asap dari bibirnya. Pikirannya kembali melayang saat Wanita halalnya hampir setiap hari ke kantornya.
Mikael tau persis Al sering datang ke kantornya, disaat dirinya tak ada disana. Tetapi, dengan kejamnya dia meminta Alula untuk tak mengizinkannya masuk serta diam untuk tidak memberitahu ada atau tidak dirinya di kantor.
Hal tersebutlah yang membuat Al, kadang suka pulang malam.
Alula yang sebagai sekretaris Mikael, merasa kasihan sebagai sesama Wanita pada Al yang selalu datang dan menunggu seseorang yang kadang tak ada ditempat. Tetapi dirinya, tak bisa membantah bosnya. Apalagi saat Pria itu memerintahkannya, tatapannya sangat membuat nyali Alula yang sudah menciut bertambah ciut.
Mikael lagi-lagi kembali menghembuskan kepulan asap putih. Dia lalu menerawang menatap langit yang cerah.
"..sudah kuduga, semua Wanita sama saja.." gumamnya.
Usai mengucapkan kalimat itu, Mikael berjalan kearah dalam apartemennya meninggalkan balkon. Di meletakkan benda elekteriknya, kemudian berjalan kearah dapur.
Diambilnya sebotol air meneral dari dalam kulkas lalu meminumnya.
'Ting tong' suara bel apartemennya berbunyi. Diarahkan kakinya kearah pintu depan.
'Tap tap tap tap tap"
Suara langkah kaki Mikael yang semakin dekat pintu.
Sampai didepan pintu, Mikael segera membukanya.
Seketika matanya membulat, melihat sosok tamu yang tak diundang.
"..hai Mikael, lama tak jumpa.." sapa Pria berambut pirang.
"..bagaimana kalian bisa tau tempat ini?"
"Kami bertanya pada Pak Usman.." jawab seorang Pria berambut hitam yang tiba-tiba muncul dari belakang pintu yang terbuka.
Melihat sosok Pria yang baru muncul, membuat Mikael merasa panas dan tangannya terasa gatel ingin bertemu sapa dengan kulit Pria itu.
Terimakasih sudah membaca, jangan lupa untuk meninggalkan tanda...
Salam hangat SMIM
Baca terus ya ini beberapa episode terakhir sebelum tamat.
Jangan lupa komentarnya berkaitan cerita...
PS: Maafken SMIM yaaa, membuat konflik baru.
Padahal sudah mau ending hahaha...