
Happy Reading!!!
Didalam ruangan kantornya, Mikael duduk disinggahinya sambil menatap kearah luar jendela.
Dia terdiam, pikirannya kembali ke beberapa saat lalu, sebelum Istrinya berpamitan pulang.
Dia mendengar semua penjelasan Istrinya, mengenai hubungannya dengan Beni. Walau sebenarnya sudah mengetahui dari Beni, hingga istrinya dengan Pria itu hanya sekedar teman. Tetapi, dirinya ingin mendengarkan langsung dari bibir Al.
Tentu saja, cerita mereka sama persis. Tapi, ada satu keganjalan di hati Mikael. Mengapa dua orang sahabat itu, bisa loss Contact dan mengapa diawal pertemuannya dengan Beni, dia tak mengatakan dirinya adalah sahabatnya.
Saat ingin menanyakannya, Mikael mengurungkannya. Dia merasa, seperti Wanita itu menutupi alasannya begitu juga dengan Beni. Disaat Pria itu bercerita.
Lantas dibuangnya rasa itu. Mungkin saja mereka punya alasan lain untuk tak menceritakannya.
(Coba kamu tanya reader, Mikael. Mereka sudah tau alasannya.)
# # #
Hari Sabtu datang, pagi ini. Al nampak sudah sangat rapi,dengan gamis hitam yang bagian atasnya ditutupi oleh seragam putih polos.
Dia mengenakan kerudung putih dan tak lupa menyematkan almamater di tubuhnya.
Pagi ini, dia berniat ke kampus untuk menjalankan sidang skripsinya.
Perasaanya bertambah campur aduk, antara gugup dan takut.
Didepan cermin, Al menatap dirinya yang sudah rapi. Dia lantas, menyemangati dirinya.
Setelah itu, keluar dari kamar membawa tentengan yang didalamnya terdapat empat buntalan berupa kertas tebal dengan ukuran yang sama.
Di dapur, Bi Hilda yang mengetahui, bahwa Nyonyanya akan pergi pagi-pagi ini. Dia lantas sudah menyiapkan makanan.
* * *
Selesai memakan potongan buah yang disiapkan, Al lantas pergi dengan menenteng tambahan kotak bekal.
Sebelum meninggalkan meja makan, Bi Hilda berucap, "Semangat Nyonya!" serunya.
Al menganggukkan kepala sambil mengembangkan senyum. "Makasih, Bi.." balasnya yang lalu meninggalkan meja makan.
Dari arah tangga, Al melihat suaminya yang sedang turun. Dia mengenakan kaos berwarna biru dan celana selutut. Rambutnya nampak terurai menutupi tengkuknya.
Sampainya dibawah dia menatap kearah Al sambil memberi kode mengikutinya.
"Ayo ku antar!"
"..." Al mengikuti langkah Mikael yang berada didepannya lalu mensejajarkan langkah.
"..benarkah! Bukannya semalam, Kak El berkata, Pak Usman yang akan mengantar Al.." ucapnya tak percaya jika suaminya akan mengantarnya.
Mikael menghentikan langkahnya lalu menatap Al.
"Benar, aku akan mengantarmu. Apa kamu senang?" balasnya.
"Tentu senang!" serunya dengan senyum mengembang.
Mikael dan Al lantas berjalan kembali, kearah teras. Disana Pak Usman sudah siap memanaskan mobil.
Melihat tuannya nampak rapi, tanpa ditanya dirinya tau bahwa Pria itu akan mengantar Nyonyanya.
Mikael lantas segera masuk mobil sedang Al berpamitan terlebih dahulu pada Pak Usman dan Pak Mamat.
"Al pergi dulu ya.." pamitnya pada Pria setengah baya tersebut.
"Iya, Nyonya Al. Semangat!" ucap Pak Mamat menyemangati.
"Semangat Nyonya dan hati-hati di jalan.." ucap Pak Usman dengan wajah berwibawanya.
Usai pamit, Al segera masuk kedalam mobil. Lalu mobil melaju meninggalkan halaman rumah itu.
* * *
Mahasiswa nampak memasuki gedung-gedung dengan prodi yang berbeda-beda.
Suasana kampus saptu pagi ini, terasa berbeda dengan hari biasanya. Banyak Mahasiswa yang berpakaian sama layaknya Al.
Mau bagaimana lagi, karna hari ini merupakan hari terakhir sidang skripsi.
Mikael yang sudah sampai, pada tujuan gedung Al, lantas menghentikan mobilnya.
Dia lalu mengalihkan mata kearah Al yang terdiam, memperhatikan kearah gedung didepan.
"Kamu takut?" tanyanya mendapati tatapan mata tak tenang Al.
Mendengar suaminya bertanya, Al mengalihkan matanya kearah Pria disebelahnya.
"..iya, Al merasa takut. Al takut gak bisa menjawab pertanyaan penyidang.." jawabnya dengan pala tertunduk.
Pria itu menyunggingkan senyum, mendapati perasaan Istrinya. Biasanya, Wanita didepannya ini, selalu menyembunyikan perasaanya. Tetapi, sejak mengandung, perasaanya lebih gambar terbaca.
Mikael lalu mencodongkan tubuhnya kearah Al, kemudian menggenggam lembut tangan kecil itu.
"Itu wajar kok, aku juga dulu seperti itu. Tapi kamu gak perlu takut, karna aku sudah lihat usahamu beberapa hari ini.." ucapnya menenangkan.
Mendapatkan semangat dari suaminya, membuat rasa takut Al sedikit terangkat. Dia lalu menganggukkan kepala.
Mendapati Istrinya bertambah semangat, Mikael kembali tersenyum. Dia lalu melepas genggaman tangan kanannya, lalu menyentuh kepala belakang Al yang kemudian mendorongnya kearah dada bidangnya.
Mendapati pelukan dadakan dari suaminya, seketika perasaan gugup menyerang Al. Perasaan takutnya seketika menguap.
Al tersenyum, dia lalu membalas pelukan suaminya. Tangannya melingkar ditubuh kekar itu.
"Makasih Kak.." ucapnya lembut.
"Sama-sama.." balas Mikael yang mengeratkan pelukannya.
Usai acara memeluk, Al menyalim tangan suaminya. Dia lalu keluar dari mobil.
Dengan langkah mantap dia berjalan masuk kedalam gedung.
Sampainya didalam gedung Al mencari ruangannya untuk sidang, dia mendapati dua ruangan yang saling berhadapan. Disana dia mencari namanya yang terdapat di sala satu rungan.
"..urutan ke tujuh ya.." ucapnya pelan.
"..masih ada kesempatan, membaca kembali.." lanjutnya yang lalu duduk disalah satu kursi didepan ruangan.
Sebelum sidang dimulai, murid dari prodinya terlebih dahulu dikumpulkan untuk memberikan beberapa wejangan. Usai itu, jam setengah delapan tepat sidang di mulai.
Didepan ruangan, Al kembali membaca skripsinya. Perasaan takutnya yang tadi hilang kembali muncul, mendengar satu persatu mahasiswa dipanggil.
Sampai tiba namanya dipanggil, dengan memberanikan diri Al masuk kedalam ruangan.
Saat memasuki ruangan tiga dosen yang pernah mengajarinya nampak menanti performa Al.
Karna, Al merupakan Mahasiswa yang pintar. Walau dia sering tak masuk kelas, karna sering latihan di klub. Nilainya tak pernah turun, dia juga selalu mengumpulkan tugas.
Didalam perasaannya semakin gugup, tangannya terasa dingin. Sebisa mungkin Al menutupi perasaan itu, walau masih terlihat oleh tiga orang didepannya.
Salah seorang dosen, terlebih dahulu mempersilahkan Al duduk.
Lalu Dosen Tua yang duduk ditengah berkata, "Almasah, saya berharap kamu tetap tidak mengecewakan saya.." ucapnya.
Perkataan Pria tua itu, semakin membuat perasaan Al gugup.
"Jangan terlalu gugup, bersikaplah biasa. Seperti saat kamu persentasi dulu.." lanjut Pria Tuan itu.
Mendapati perkataan itu, perasaan gugupnya sedikit menguap.
Dia lalu membaca bismillah, lalu melihat kearah dosen tersebut.
"..IsnyaAllah, saya tidak mengecewakan, Bapak.." balas Al.
Dosen yang duduk dipojok sebelah kanan lalu mempersilahkan Al untuk menjelaskan materinya.
Terlebih dahulu Al menarik napas lalu membuang, setelah itu dia membaca doa agar berjalan lancar.
Al beranjak dari kursinya lalu berdiri didepan 3 Dosen itu.
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, nama saya Almasah..." ucapnya dengan lancar.
SIDANG
Al akhirnya keluar dari dalam ruangan, kurang lebih Al berada didalam selama tiga puluh menit.
Waktu terpanjang dari mahasiswa lain yang masuk.
Wanita itu, keluar lama bukan karna gagap saat menjelaskan materi ataupun karna tak bisa menjawab pertanyaan penyidang. Tetapi karna para penyidang yang memberikannya bertubi-tubi pertanyaan pada Al. Seperti, alasannya memilih judul tersebut, mengapa mengambil pendekatan tersebut, Bagaimana caranya agar siswa yang berada dibawah KKM nilainya semakin meningkat dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.
Syukurnya, Al dapat menjawab semuanya tanpa gugup sama sekali. Jawaban yang diucapnya, seperti keluar dengan lancar dari bibirnya.
Hal tersebut, membuat dosen yang menantikan performanya bertepuk tangan.
Usia keluar dari ruangan, kalian pasti mengerti bagaimana perasaan Al. Perasaanya jauh lebih tenang, tak segugup tadi. Dia lalu duduk divbangkunya kemudian mengambil air dari dalam tas kemudian meneguknya.
"Alhadulillah," batinnya dia lalu menyunggingkan senyum puas.
Rasa lapar seketika, melandanya. Syukurnya tadi Bi Hilda menyiapkan makanan lantas dia segera melahapnya.
Usai semua Mahasiswa jurusan Al sidang, mereka terlebih dahulu menunggu karna para Dosen penyidang akan rapat menentukan hasil sidang, seperti layak lulus atau tidak.
Sambil menunggu Para Dosen Al memilih ke Perpus yang jaraknya dekat dari ruangannya.
Disana, ada beberapa Mahasiswa lain yang nampak sibuk dengan laptopnya masing-masing.
Al lantas memilih tempat tenang dipojok ruangan untuk membaca buku, tak lupa dia membuat alaram untuk menandakan waktu berkumpul kembali.
***
Dari arah pintu Perpus dua orang Pria masuk. Mereka lalu mencari tempat yang nampak sepi.
Mereka lantas memilih bangku yang terdapat hanya ada satu orang sedang duduk.
Dua orang Pria itu, duduk bersebelahan. Mereka lalu mengeluarkan laptop. Salah seorang diantara mereka lalu beranjak dari duduknya kemudian mencari kejajaran skripsi milik Kakak kelas.
Usai mengambilnya, dia duduk kembali disamping temannya.
"Daud, gua pinjam charger HP lo.." ucap Pria disebelah orang bernama Agus.
"Ambil aja di tas gua.." balasnya yang sedang menekan tombol di keyboard.
Al yang merasa kenal dengan suara dan nama orang yang disebut, mengalihkan matanya kearah dua orang Pria didepannya.
Sekalian lihat saja, Al menyadari dua orang tersebut.
Kedua Pria tersebut, yang menyadari pandangan mata orang didepannya lantas menengok.
Mereka melihat Wanita bercadar menganggukkan kepala kearah mereka.
Lantas mereka membalasnya, dengan menganggukkan kepala juga sambil tersenyum.
Usai membalas anggukan, Agus kembali menatap laptopnya. Tidak dengan Maritza yang masih melihat kearah Wanita didepannya.
Dia merasa mengenal dengan tatapan mata itu.
Tanpa sadar bibirnya berucap, "...Kak Al?"
Al terdiam mendengar namanya disebut, dia lantas tersenyum yang lalu menganggukkan kepala.
"..sudah lama ya.." ucapnya yang langsung mendapat tatapan membelalak dari Maritza sedang Agus mulai menengok kearah suara Wanita didepannya.
Kedua Pria itu terdiam, mereka masih tidak percaya jika sosok didepannya adalah Al. Mereka baru-baru ini mendengar rumor, bahwasannya Al meninggalkan klub karna menikah lalu merubah penampilannya. Tapi mereka tak menyangka jika itu betul.
Daud yang sejak awal, tak tertarik dengan sosok didepan lantas menatapnya tanpa berkedip. Lantaran dirinya, sangat dekat dengan sosok Al.
"Kamu beneran Al, Ufairah Almasah Basimah.." ucap Daud, menyakinkan dirinya agar tak salah orang.
Al menganggukkan kepala, "Gimana kabar kalian?"
"Ud, Ritza.." lanjutnya melihat bergantian kearah dua Pria itu.
Mendengar nama mereka disebut, mereka lantas tak meragukan lagi. Bahwa Wanita didepannya adalah Wanita yang mereka kenal.
"Kak Al, ini benar Kak Al.." ucap Maritza senang.
"Kak Al, gimana kabarnya? Selama ini Kak tinggal dimana?" tanya Daud tak kalah senang.
Suara mereka seketika tak dapat ditahan, mereka mengucapkannya dengan keras.
"Ssstttt.." ucap penghuni perpus lain, karna mendengar suara dua orang itu.
Al tersenyum melihat mereka yang malu, "...gimana kalau kita lanjut diluar?" ucap Al. Kedua orang itu lantas mengiyakan.
* * *
Kedua orang Pria itu lalu memberikan rentetan pertanyaan kepada Al. Dia yang tiba-tiba menghilang, nomornya tak bisa dihubungi dan dirinya yang tak pernah muncul di kampus.
Al lantas menceritakan rentetan kejadian dimulai dari berhijrah, dia lalu menikah dan lainnya. (tentu yang privasi tidak, betul tek)
"..jadi Kak Al sudah menikah!" Seru Daud yang masih tak percaya.
Al menganggukkan kepala mengiyakan. Dia lalu menunjukan cincin menikahnya.
Kedua orang Pria itu lalu melihat kearah cincin Al.
"..ja..jangan-jangan..rumor Kakak berpakaian seperti ini, karna menikah. Itu benar!" seru Maritza melihat kearah Daud.
Al menaikan alisnya mendengar ucapan Maritza.
"Ada rumor seperti itu? Kalian mendengarnya dari siapa?"
Daud lalu melihat kearah Al dan kemudian berkata, "..iya Kak, kira-kira beberapa bulan lalu. Kami mendengarnya dari para anggota klub.." jawabnya.
"Aku lalu bertanya, dari mana mereka mendengar rumor itu. Mereka mengatakan bahwa itu dari Lely.." lanjutnya.
"Kak Al, masih ingat dengan Lely yang satu klub dengan Kak Al.." timpal Maritza.
Al menganggukkan kepala mengiyakan. Memang dirinya beberapa bulan lalu bertemu dengan Lely, tapi dia tak menyangka bahwa Wanita itu mengatakan hal tersebut.
"Kalian tak perlu mempercayai rumor tersebut.." ucap Al.
"Karna itu bukan alasan aku. Seperti yang kuceritakan tadi, aku berpakaian ini karna ajaran agama kita menyuruh Wanita menutup aurat.." lanjutnya.
"Lagi pula, Aku bertemu dengan suami beberapa bulan setelah berhijrah.." jelasnya.
Mereka lalu menganggukkan kepala paham. Mereka sedikit mengetahui alasan Wanita didepan keluar klub. Walau Wanita itu tak menceritakan alasannya, tetapi mereka sedikit memahaminya.
"..terus, bagaimana Kak Al bertemu suami?" tanya Maritza yang penasaran.
Mendapat pertanyaan itu, Al sedikit bingung menceritakannya. Lantaran panjang.
"...mungkin..karna kami jodoh.." ucap Al terkekeh.
Kedua Pria itu mengerutkan dahi, tentu mereka tau kalau Al dan suaminya dipertemukan karna jodoh.
Tapi inti pertanyaannya bukan itu...
"...oh iya, ngomong-ngomong, sekarang kalian semester akhir kan?" tanya Al mengalihkan pembicaraan.
"Bagaimana skrip kalian?"
Mendengar pertanyaan tentang skripsi, seketika Maritza lemas tidak dengan Daud yang bersikap biasa saja.
"Ahhh iya, aku masih banyak revisi.." jawab Maritza mengingat coretan Dosen pembimbingnya.
"Kalau kamu, Daud?" tanya Al mengalihkan mata kearah Daud.
"Sama seperti Maritza, tetapi lebih mending coretannya tak sebanyak dia.." ucapnya.
Daud dan Maritza lalu melihat kearah baju Al yang baru mereka sadari.
"..ngomong-ngomong pakaian Kak Al? Apa Kakak habis sidang!" kata Maritza.
Al menganggukkan kepala mengiyakan.
"Wahhh selamat ya, dikit lagi sarjana nih..." ucap Daud.
"Makasih.." balas Al.
"Oh iya Kak, maaf ya kami gak bawa hadiah untuk sidang Kak Al.." kata Daud kembali. Sedang Maritza merasa tak enak karna tak memberi apa-apa.
"Hahaha.." cengir Al pelan.
"Sudahlah, aku bertemu kalian saja sudah senang.." ucapnya.
Al mendapati, segerombol mahasiswa yang berjalan kearah ruangan tempat tadi pagi berkumpul.
"...maaf ya, sepertinya sudah mulai kumpul kembali.." tunjuk Al kearah Mahasiswa yang berjalan.
"...iya Kak," balas Daud dan Maritza bersama.
"..senang bisa bertemu Kakak kembali.." ucap Daud.
"Aku juga.." timpal Maritza.
"..Kak Al, boleh minta nomornya.." pinta Daud menyodorkan HPnya.
"..tentu saja," balas Al yang lalu menyebutkan nomornya.
Sampainya di Aula Prodinya, Al mencari tempat duduk yang kosong.
Tak lama setelah itu, para Dosen masuk. Salah seorang lalu berbicara sebentar, kemudian mengumumkan masing-masing nilai yang didapat oleh Para Mahasiswa.
* * *
Para Dosen keluar, diikuti para Mahasiswa.
Sedang Al masih duduk ditempatnya, dia tersenyum mendapatkan hasil yang memuaskan untuknya.
Sebelum keluar ruangan, Al mengirim pesan terlebih dahulu pada Pak Usman, setalah itu baru beranjak, dia lalu keluar dari Aula itu.
Diluar, dia melihat Mahasiswa lain yang sedang foto-foto dengan Mahasiswa lainnya atau sahabatnya yang datang memberikan selamat.
Melihat itu Al hanya tersenyum. Pasalnya, angkatan dia kebanyakan sudah lulus dari tahun kemarin.
Walau ada beberapa yang seangkatan dengannya, tetapi Al tak begitu kenal.
Keluarnya dari gedung, Al mencari sosok Pak Usman. Dia menengok ke kanan dan kiri.
Tak disadarinya, ada seseorang mendekat lalu menepuk punggungnya.
Al lantas menengok, dia kaget melihat sosok Via, Ahmad dan seorang Pria muda yang nampaknya seumuran dengan Ahmad.
"Selamat ya, Al!" ucap Via bahagia. Dia lalu memeluk Al.
Al tersenyum lalu membalas pelukan Via. "Terimakasih, Via.." balas Al tak kalah bahagia.
Mereka lalu melepaskan pelukannya, Ahmad dan Pria disebelahnya lalu mendekat kearah Al.
Al memperhatikan Ahmad yang tersenyum, Pria muda itu lalu memberikan buket makanan pada Al.
"Selamat Kak Al!" serunya tersenyum senang.
Al balas tersenyum, "Makasih Ahmad!" Al lantas menerima buket makanan itu.
Ahmad lalu menyenggol teman disebelahnya. Yang tak lama Pria itu memberikan buket berbentuk makanan juga.
"..selamat Kak.." ucapnya.
Al lalu melihat kearah Pria muda itu. Dia tersenyum yang terlihat dari matanya yang menyipit.
"Makasih ya.." katanya menerima buket itu.
"..kamu..teman Ahmad ya? Namanya siapa?"
"Gu...saya Rafiq, teman satu jurusannya.." jawabnya
"Ohhh satu jurusan..Terimakasih ucapannya dan hadiahnya.." ucap Al.
"..Al!" panggil Via yang mengeluarkan benda seperti selempang yang bertuliskan nama Al dan gelarnya.
Wanita itu lalu memasangkan hadiahnya ke tubuh Al.
Al nampak tersenyum senang mendapat hadiah itu.
"Hehehe...makasih shohibati.." ucapnya yang lalu mencubit gemas pipi Via.
Di tempat yang tak jauh dengan posisi Al berdiri, Pak Usman nampak menunggu.
Tak lama dia lalu berjalan menghampiri orang-orang tersebut.
Tatapan mahasiswa mengarah ke benda yang Pak Usman pegang.
"Nyonya Al!" panggil Pak Usman.
Mendengar suara itu mengalihkan empat orang yang saling berdiri berhadapan mengarah kearah sumber suara.
Saat berbalik, Al dikagetnya dengan sebuket bunga berukuran sedang yang dipegang Pak Usman.
Pak Usman lalu menyodorkan buket bunga itu. Al lantas segera menerimanya, dengan tatapan tak menyangka akan menerima bunga.
Al lantas mendekap bunga itu, membuat dekapannya penuh.
Seketika, semerbak wangi bunga menyerbu ke penciuman Al.
Al lalu melihat kearah Pak Usman yang sedang merogoh sesuatu dikantongnya.
"..makasih Pak.." ucap Al yang merasa malu mendapat bunga.
"Sama-sama Nyonya Al," balas Pak Usman.
Pak Usman lalu mengeluarkan HPnya kemudian memfoto Al yang lalu foto tersebut dikirim pada seseorang yang memberikan bunga itu.
Al yang difoto, tiba-tiba nampak bingung. Pak Usman yang menyadarinya lantas berkata, " Buket ini pemberian Tuan Mikael, beliau meminta foto Nyonya yang sedang memeluk bunga itu.." jelas Pak Usman.
Mendengar bahwa suaminya yang ternyata memberikan bunga, membuat Al semakin malu, dia tak menyangka suaminya seromantis ini.
Melihat Al yang kelelap karna bunga itu, lantas kembali mengambil alih buket bunga itu.
"..makasih Pak.." ucap Al yang diangguki Pak Usman.
"..ayo, kita foto!" ajak Via yang mengeluarkan HPnya.
Al dan Ahmad lalu menganggukinya semangat.
Terlebih dahulu Al dan Via foto berdua. Mereka foto dengan beberapa pose. Lalu bergantian dengan Ahmad.
Mereka bertiga kemudian mereka berempat.
Usai foto berempat, Al mendapat sosok Pria yang nampak terengah-engah berada dibelakang Pak Usman.
"..Ud..Ritza..." ucapnya.
Pak Usman dan yang lain lalu menengok kearah orang yang ditatap Al.
"..untung saja.." ucap Maritza yang lalu terhenti karna mengambil nafas.
" ..kupikir..Kak Al sudah pulang.." lanjutnya yang terengah-engah begitu juga Daud yang berada disamping.
Merasa nafasnya mulai stabil, kedua Pria itu mendekat kearah Al. Kemudian memberikan hadiah yang belum dibungkus sama sekali, membuat orang yang berada didekat Al melihat hadiah tersebut.
Melihat hadiah itu, Al nampak kaget dia lalu mengembangkan senyum.
"..kalian benar-benar membelikanku ini.." ucap Al yang tak menyangka.
Wajah senang Al tak dapat ditutupinya. Via dan Ahmad yang tau itu merupakan benda kesukaan Al hanya menganguk-anggukan kepala. Lain hal dengan Rafiq dan Pak Usman yang kaget melihat hadiah tersebut yang berupa sarung tinju dan speed ball standing boxing.
Mereka berdua tersenyum senang. Maritza lalu menyenggol kearah Agus. "Untung lo masih ingat, benda kesukaan Kak Al.." ucapnya.
Agus menganggukkan kepala, dirinya bangga atas ingatannya yang kuat.
Mereka lalu kembali berfoto. Yang diambil oleh Pak Usman.
Al terdiam sejenak lalu berkata, "..tunggu sebentar ya.." ucap Al yang mendapat tatapan bingung dari orang-orang disebelahnya.
Al lalu berjalan kearah orang yang sedang duduk memainkan HPnya, usai berkata sesuatu, dia dan Wanita itu berjalan kembali kearah beberapa orang yang Al tinggal.
"Ayo, Pak Usman juga ikut foto bersama!" ajak Al.
Pak Usman lalu memberikan HP yang dipegangnya kepala Al. Wanita itu lalu menerima HPnya dari tangan Pak Usman kemudian memberikannya pada Wanita tadi.
"Satu, dua, ti..ga.." ucap Wanita itu membuat aba-aba.
'Ckrek!'
Terimakasih sudah membaca, jangan lupa untuk meninggalkan tanda...
Salam hangat SMIM
Baca terus ya ini beberapa episode terakhir sebelum tamat.
Jangan lupa komentarnya berkaitan cerita...
PS: Maafken SMIM yaaa, membuat konflik baru.
Padahal sudah mau ending hahaha...