
Tamu
Happy Reading!!!
'Tik tik tik'
Suara ketikan memenuhi lantai teratas gedung. Tangan seorang Wanita berpakaian batik bagaikan menari diatas keyboard, dengan mata menatap fokus layar berbentuk kotak didepannya.
Saking fokusnya menatap layar didepan. Sampai-sampai dia tak menyadari jika didepannya ada seseorang yang duduk sejak 10 menit yang lalu.
Wanita itu menghentikan tarian tangannya lalu memejamkan matanya yang sejak tadi tidak mengedip.
Saat mengangkat kepalanya kemudian membuka mata. Dia langsung terperanjat kaget, karna tiba-tiba ada seseorang didepannya yang sedang menatapnya.
"Astagfirullahal'adzim.." ucapnya sambil mundur kebelakang. Orang yang sedang duduk tersenyum melihat tingkah Alula.
"Nona Alula ini kayak liat setan saja!" seru Wanita bercadar itu. Dia lalu menyenderkan tubuhnya kembali yang tadinya mencondong kedepan.
"Maaf Nyonya Al, saya kaget! Tiba-tiba Nyonya ada didepan saya.." tuturnya. Alula lalu kembali membenarkan posisi duduknya.
"Kata siapa saya tiba-tiba muncul. Saya sudah disini sejak 10 menit yang lalu.." ucapnya. "Nona Alula saja yang terlalu serius. Sampai-sampai tak menyadari kehadiran saya.." lanjutnya dengan candaan.
"Hehehe, begitulah Nyonya saat saya bekerja.." cengirnya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Seharusnya, Nyonya memanggiku agar aku sadar.." ucapnya kembali.
"Saya tidak enak mengganggu Nona Alula. Ditambah saya lucu melihat Nona yang tidak mengedipkan mata selama 10 menit. Apa mata Nona tidak sakit.." balas Al. Alula menyengir mendengar ungkapan Al.
"Oh iya, Pak Mikael ada didalam. Nyonya langsung masuk saja! Lagi pula sudah masuk jam makan siang.." tutur Alula sambil melihat jam dipergelangannya.
Segera dia beranjak dari posisinya lalu mendekat kearah Alula. Dia menjulurkan tangannya menjabat tangan Alula. "Terimakasih ya!" ucapnya lalu menuju kearah pintu bos perusahaan tersebut.
Seperti biasa setelah mengetuk 3 kali yang tak ada jawaban. Al segera membuka pintu.
Saat ini Al tak secanggung saat awal-awal mengunjungi Mikael, karna hal seperti ini sudah menjadi kebiasaan dia setiap minggunya selam 3 bulan ini.
Didapati suaminya masih disingga sananya. Dia hanya melirik Al sekilas lalu kembali menatap layar didepannya.
Al segera menuju kearah kursi dan menyusun makanan dari rantang yang dibawanya keatas meja. Usai menyusunnya dia kembali memanggil suaminya untuk makan.
"Makanan sudah siap, kak!" seru Al. Mikael lekas berdiri dan menuju kearah Al.
Entah mengapa, karna setiap minggunya Al selalu mengunjunginya. Hal tersebut menjadi penantian sendiri bagi Mikael. Apalagi makanan yang dibawa Al, selalu makanan kesukaannya.
Mikael lantas menyantap makanan itu dengan lahap, karna tadi pagi dia belum sarapan membuatnya sangat lapar.
'Tok tok tok' suara ketukan pintu menghentikan sejenak aktivitas Mikael yang sedang mengunyah. Tidak biasanya ada yang mengetuk ruangannya di jam segini. Kecuali, sekretarisnya yang mengingatkan jam makan siang. Tapi, jika ada Al. Sekretarisnya pasti tidak akan datang.
'Cklek' pintu terbuka menampakkan sosok Alula yang canggung, karna mengganggu bosnya yang sedang makan.
Mikael lantas meletakkan piringnya lalu menatap kearah Alula dengan tajam.
Alula menelan ludah saat tatapan tajam bosnya bertemu dengannya. Dia segera menundukan kepalanya. "Maaf Pak Mikael, saya..." tuturnya lalu terputus karna seseorang dibelakang Alula masuk.
"Terimakasih ya Nona Alula. Maaf mengganggu jam makan siangmu!" seru orang tersebut. Alula lantas izin pamit meninggalkan ruangan bosnya.
Mikael seketika kaget mendapati sosok yang tak disangka-sangkanya datang. Dia lantas berdiri, begitu juga dengan Al yang mengikuti suaminya.
"Pak Kusno.." ucap Mikael. Saat mau menghampiri, pak Kusno segera mencegatnya.
"Sudah, jangan kemari. Saya yang akan kesana!" perintah pria itu, dia lalu menghampiri Mikael.
Saat Pak Kusno sudah dekat, Mikael langsung menyalami Pak Kusno. Pak Kusno kemudian menengok kearah Wanita bercadar yang ada disisi sebelah.
Wanita itu menganggukan kepala lalu menempelkan kedua telapak tangannya. Pak Kusno tersenyum dan melakukan hal serupa.
Setelah menyalami pria tua itu, mereka duduk kembali. Begitu juga dengan pria tua itu yang juga ikutan duduk.
Pak Kusno duduk lalu melihat makanan yang tersusun di meja. Bau dari masakan dan penampilannya sungguh menggoda pria itu.
"Mari Pak Kusno, makan!" ajak Al.
"Iya Pak, mari makan!" timpal Mikael.
"Hahaha, jika ada yang menawarkan tentu tidak boleh di tolak. Benarkan Nona Al!" ucapnya menatap kearah Al.
"Benar sekali!" kata Al membenarkan. Al lantas beranjak dari tempatnya lalu mengambil piring milik Mikael yang ada di ruangannya.
Dia lalu menaruh nasi dan juga lauk pauk keatas piring. Setelah itu dia memberikanya pada Pak Kusno.
"Silahkan Pak!"
"Terimakasih, Nona Al.." ucapnya sambil menerima piring tersebut.
Al lalu bangkit kembali untuk membuatkan minum untuk Pak Kusno.
"Mau kemana Nona Al?" tanya Pak Kusno melihat Al berdiri kembali.
"Saya akan membuat teh untuk Bapak.." tutur Al.
"Nanti saja, sekarang kita makan dulu!" ajak Pak Kusno.
"Saya sudah makan, Pak. Sekarang masih kenyang!" jelasnya. "Pak Kusno makan bareng Kak El saja ya..nanti aku akan menemani setelah membuat teh.. " tutur Al.
"Baiklah.." jawab Pak Kusno.
Mikael sesat terdiam. Di mengingat kemabali, jika selama ini saat Al datang membawa makanan. Al hanya menemaninya, dia tidak ikut makan bersamanya. Padahal dia selalu membawa makanan yang porsinya lebih dari satu orang.
"Ayo makan!" ajak Pak Kusno pada Mikael.
Mikael seketika sadar dari lamunannya. "Baik.." jawabnya. Dia lalu mengambil piringnya kembali dari atas meja.
###
"Alhamdulillah keyangnya!!!" seru Pak Kusno dengan senyum bahagia.
"Hahaha kamu sungguh beruntung Mikael. Memiliki istri yang sholeha, cantik, dan pintar memasak.." ucap Pak Kusno.
"..Terimakasih, Pak.." balas Mikael.
Saat mereka bercakap-cakap ringan. Al yang baru selesai mencuci pralatan makan lantas kembali ke ruangan Mikael.
Saat kembali ke tempat duduknya Al menyelempangkan tasnya, lalu berkata. "Saya izin pamit ya!" serunya.
Pak Kusno dan Mikael lantas menengok kearah Al. "Kenapa buru-buru sekali Nona Al. Mari kita bercakap-cakap terlebih dahulu.." ajak Pak Kusno.
Al ternyum lalu berkata. "Sebenarnya saya ingin sekali. Tetapi saya mempunyai janji setelah ini.." tolak Al secara halus.
"Baiklah, jika Nona Al sudah memiliki janji.." balas Pak Kusno yang tak bisa memaksan. Karna janji ibarat hutang yang harus di lunasi. Seperti Al yang saat ini berjanji akan datang bekerja.
Dia berdiri lalu bersalaman terlebih dahulu dengan Pak Kusno setelah itu kearah Mikael.
Al menjulurkan tangannya. Meminta izin menciumnya. Mikael melirik kearah Pak Kusno yang melihat kearahnya. Mau tak mau di menerima juluran tangan Al. Al segera mencium punggung tangan suaminya.
Saat Al menelpelkan hidungnya di punggung tangan Mikael. Dia tak merasakan risih, seperti awal Al menyalaminya. Melainkan dia merasakan perasaan lain dari sentuhan dan juga tatapan Al.
Setelah menciumnya Al segera pamit usai mengucapkan salam.
Diluar pintu Al memandangi tangannya yang tadi menyentuh tangan suaminya.
"Akhirnya!!!" seru Al.
Hatinya sangat senang saat ini, dia pun berjalan dengan riang menuju lift.
###
"Bagaimana liburanmu 2 minggu yang lalu?" tanya Pak Kusno membuka percakapan setelah Al keluar.
"Menyenangkan Pak. Terimakasih atas hadiahnya.." balas Mikael. "Saya hanya tak menyangka jika Pak Kusno memberikan hadiah itu.." tutur Mikael kembali.
"Bapak cuman ingin memberikanmu liburan bersama istrimu, karna Bapak tau kelakuanmu yang selalu bekerja.." ucap Pak Kusno.
"...Kalau boleh saya tau, Bapak tidak mungkin kesini hanya untuk menanyakan tentang liburan saya kan.." ucap Mikael dengan sopan.
Pak Kusno tertawa mendengar perkataan Mikael. "Kamu ini selalu to the point. Tak seperti orang-orang biasanya yang suka berbasa-basi.." tutur Pak Kusno.
"Baiklah, seperti perkataanmu. Bapak ada maksud lain menghampirimu.." katanya yang sudah mulai serius.
"Kamu ingat! Rancangan yang kamu berikan pada Bapak beberapa bulan yang lalu, untuk bekerja sama dengan perusahaan A yang ada di negara Paris!"
Mikael menganggukan kepalanya. Dia sangat mengingatnya. Selama ini dia selalu menunggu dan berharap jika rancangannya di terima.
Pak Kusno lalu mengeluarkan amplop coklat dari tasnya, kemudian meletakkannya diatas meja.
Mikael menatap amlop itu dengan was-was. Dia sangat takut jika di tolak, karna sudah lama dia ingin bekerja sama dengan perusahaan itu.
Diambilnyalah amplop itu lalu membukanya kemudian mengeluarkan lembaran kertas dari dalam. Saat membacanya Mikael seketika membelalakan mata.
Dia lalu melihat kearah Pak Kusno yang sudah tersenyum saat ini.
"Selamat ya!"
"Terimakasih, Pak.." ucapnya dengan tersenyum.
"Untuk selanjutnya, kamu akan langsung di kontak dengan pihak perusahaan tersebut.."
Mikael menganggukan kepala paham. Dia kembali memandang kertas itu dengan senang.
"Baiklah, sebaiknya Bapak pamit.." ucap Pak Kusno dan segera bangkit.
Mikael lantas ikut bangkit dan menghampiri Pak Kusno.
"Mari akan saya antar!" seru Mikael. Dia membantu memegangi Pak Kusno.
"Kamu tidak perlu mengantar Bapak. Bapak bisa sendiri kebawah.."
Karna menolak untuk diantar sampai mobilnya. Mikael kemudian mengantar Pak kusno hanya sampai depan lift.
Saat lift sampai di lantai atas. Pak Kusno berkata, "Oh iya Mikael. Jika kamu ke Paris, sampaikan salam Bapak ya ke menara Eifel ya.."
Pak Kusno lalu memasuki lift sambil tertawa melihat ekspresi Mikael yang cengo mendengar guyonan Pak Kusno.
(Jangan lupa VOTE, tekan tanda ini π, coment πdan Reting πππππ ya...)
############################################################
Maaf ya jika banyak typo...
Jangan lupa coment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.
Dan tinggalkan tanda hati.
Jangan lupa vote yang teman-teman.
Saya juga nulis cerita yang judulnya UHIBBUKI jangan lupa mampir ya.....
Terimakasih