Friends After Marriage

Friends After Marriage
Thank You!



Thank you!


Happy Reading!!!


Mendekati waktu adzan subuh, akhirnya suara itu berhenti. Al yang menahan kantuknya. Berjalan terhuyung kearah ranjang.


Baru saja memejamkan mata. HPnya yang menandakan masuknya waktu subuh berbunyi. Al lantas terdiam lemas menahan kantuknya.


Dia melihat kearah Via yang masih sangat pulas. Al menggoyangkan tubuh Via untuk membangunkannya sholat subuh.


Setelah 5 menit berjuang. Akhirnya Via bangun dengan mata kantuknya. Dia tampak burger.


Usai sholat subuh. Dengan mata pitpit Al meraba-raba kasur Via. Saat mendapatinya dia segera meletakkan kepalanya diatas bantal. Matanya seketika terpejam.


"Tumben Al tidur. Biasanya habis subuh dia tak pernah tidur.." gumam Via.


###


'ckreeek' suara gorden yang dibuka.


Terpaan cahaya matahari masuk. Menyinari para ikan teri yang masih tertidur pulas.


Para ikan teri itu lantas terbangun dengan cahaya yang sangat silau itu.


"Siapa sih yang buka gordennya!" seru Pria berambut coklat yang matanya tertutup karna silaunya cahaya yang masuk.


"Gua yang buka!" jawab Pria yang sejak tadi berdiri di ujung gorden.


Saat mata para Pria ikan teri itu sudah beradaptasi dengan cahaya seketika mereka bangun dan langsung merapikan pakaian mereka yang berantakan.


"Hehehe Tuan Mikael sudah bangun.." ucap Pria berambut coklat.


Mikael menatap tajam kearah Para Pria ikan teri. Dia lalu melirik kearah Para Wanita ikan teri yang masih mengadaptasikan matanya.


Paham akan lirikan Mikael pria berambut bule lokal lantas menyuruh para Wanita itu berdiri.


"Jangan lupa! Setelah ini kembali!" ucap Mikael menekan perkataannya.


Pria berambut bule lokal lalu mengajak para Wanita itu keluar dari apartemen Pria itu.


Setelah itu dia kembali. Didalam dia mendapati 2 pria yang tadi dia tinggalkan sedang memunguti sampah yang berserakan.


"Ngapain lo diam aja. Cepat bantuin kita!" seru Pria berambut coklat. Segera Pria berambut bule lokal membersihkan sofa yang kotor.


###


Al membuka matanya. Dia mendapati sinar yang mencuat dari sela-sela gorden. Didudukan tubuhnya untuk melakukan peregangan.


Setelah 5 menit, dia beranjak dari posisinya untuk membuka gorden. Cahaya yang masuk menghangatkan tubuhnya.


Dari jendela Al berjalan kearah tempat tidur untuk merapikannya. Setelah itu dia berjalan kearah kamar mandi.


Keluar kamar mandi Al sudah rapi mengenakan pakaian gamisnya. Di kamar dia mendapati sosok Via yang sedang duduk.


"Aku pikir kamu masih tidur. Ternyata sudah bangun.." ucap Via sambil tersenyum.


"Iya, maaf ya aku baru bangun.." kata Al tak enak.


"Udah gak papa. Tapi ngomong-ngomong tumben kamu tidur usai sholat subuh.."


Al menghampiri Via lalu duduk disampingnya. "Tadi malam aku gak bisa tidur!" seru Al. Via memiringkan kepalanya yang artinya kenapa.


"Semalaman aku mendengar suara musik yang sangat berisik.." cerita Al.


"Suara musik?" kata Via mengulang perkataan Al.


"Iya, suaranya sangat berisik. Padahal aku sudah menutup telingaku dengan bantal tapi masih saja suara itu membuatku terjaga.." lanjutnya.


Via tampak berfikir semalaman dia sama sekali tak mendengar suara musik yang diucapkan Al.


"Kamu pasti tidak mendengarkan semalaman.." ucap Al. Via menganggukan kepala.


"Tentu kamu tidak akan mendengarnya. Sekali tidur, kamu seperti sebatang kayu.." tutur Al. Via hanya menyengir karna dia menyadari kebiasaan tidurnya.


"Sudah-sudah, ayo makan aku sudah masak!" ajak Via.


"Oh ya nanti keluar jangan lupa pakai kerudung soalnya Mas Ilham sudah pulang.." ucapnya kembali lalu keluar dari kamar.


Di meja makan. Al hanya mendapati Via yang sedang duduk sendiri


"Katamu Kak Ilham sudah pulang. Tapi aku tidak melihatnya sama sekali .." ucap Al lalu menarik kursi meja makan untuk mendudukinya.


"Kak Ilham sudah pulang, hanya saja saat ini Mas sedang tidur dikamar sebelah.." balas Via.


"Serius kamu Vi, aku jadi gak enak sama suamimu, karna bangun kesiangan sama tidur di kamarnya.."


"Sudahlah tidak apa-apa. Lagipula sama saja kasur yang di kamar sebelah dan kasur yang tadi malam kita tiduri.." ucap Via.


Usai makan Al izin pamit pulang, karna Ilham yang masi tidur jadi dia pamit hanya pada Via, tentu tak lu0a dia menitip salam pada suaminya Via.


Via mengantar Al sampai depan pintu, karna Al melarang Via untuk mengantarnya keluar. Setelah pamit Via menutup pintu.


Di dapur, Via mendapati Ilham yan sedang minum.


"Mas, sudah bangun sejak tadi?"


"Tidak, Mas baru saja bangun. Ngomong-ngomong dimana Al?"


"Al baru saja pamit. Dia juga menitip salam pada Mas.."


Ilham kemudian menjawab salam Al lalu kembali meneguk airnya.


"Mas, tadi Al mengatakan semalaman dia tak bisa tidur karna mendengar suara musik yang sangat kencang. Memangnya disekitar sini ada yang sedang mengadakan konser?"


"...konser? Sepertinya tidak ada konser sekitar sini. Walaupun ada, pasti tidak akan terlalu kedengaran.." jawab Ilham.


"Terus suara yang didengar Al darimana?"


"...Mungkin dari tetangga sebelah. Soalnya tadi pas Mas keluar dari lift. Ada 3 perempuan dan seorang lelaki masuk lift dari lantai tempat kita. Dari yang Mas tau, lantai tempat kita tinggal. Dari 5 kamar yang terisi hanya 3. Sedangkan lainnya kosong.." tutur Ilham.


Via menganggukan kepala paham. "Oh ya, Mas mau makan sekarang atau mandi dulu.." tanya Via mengingat suaminya belum makan sejak pulang.


"...aku...mau sama kamu dulu.." ucapnya menggoda Via.


###


Keluar dari apartemen Via. Al sesekali melihat kebelakang. Dia melihat kearah pintu Mikael. Siapatau dia bisa melihat suaminya.


Tapi sayangnya tak ada yang keluar dari pintu itu. Dengan perasaan sepi Al masuk kedalam lift.


Sampenya di halte dekat perumahannya tinggal. Al berjalan kaki ditrotoar. Seketika saat jalan sebuah mobil hitam berhenti tepat disampingnya.


Al memperhatikan mobil yang ada disampingnya yang terlihat familiar. Saat kaca mobilnya turun, Al seketika langsung mendekati mobil tersebut.


"Kak El.." ucap Al senang. Dia benar-benar tak menyangka akan berpapasan dengan suaminya. Tak ada balasan dari suaminya dia tetap diam dengan pandangan lurus kedepan.


"...Al boleh ikut, Kak?" tanya Al karna tak paham akan kediaman suaminya.


Tak berapa lama setelah Al duduk. Mikael langsung menjalankan kembali mobilnya.


Sampainya di rumah, Pak Usman yang sedang mencuci mobil Mikael yang lain kaget dengan kebersamaan Al dan Mikael.


"Tuan.." sapa Pak Usman yang membukakan pintu tempat Mikael duduk.


"Terimakasih, Pak.." ucap Mikael lalu berjalan memasuki rumah.


Al yang hendak mengikuti Mikael, dihentikan oleh Pak Usman.


"Apa Tuan melihat Nyonya di apartemennya?" tanya Pak Usman.


"Tidak kok Pak, Kak El masih belum tau. Tadi Al ketemu di jalan perumahan.." jawab Al. "Sekarang Al kedalam dulu ya.." pamit Al lembut. Pak Usman menganggukan kepala paham.


Al kemudian mengejar Mikael yang sudah menaiki tangga. Dengan terburu-buru Al menaiki tangga mengejar Mikael.


"Kak El.." panggil Al saat Mikael hendak masuk kedalam kamarnya.


Mikael diam tepat didepan pintunya lalu menengok kearah Al yang menghampirinya.


"Kak El, makasih ya udah kasih tumpangan ke Al.." ucapnya menatap mata Mikael. Mikael hanya berdehem lalu kembali membelakanginya karna ingin membuka pintu.


"Kak!" panggil Al kembali saat Mikael hendak menutup pintu.


"Nanti siang, ada yang ingin Kakak makan.." tanya Al.


lagi-lagi tak ada jawaban dari Mikael dia diam , lalu menutup pintu.


Al terpaku didepan pintu. Bingung dengan kebiasaan suaminya yang selalu diam.


###


Sejak bangun tadi pagi, Mikael merasa mual karna terlalu banyak minum semalaman. Ditambah dari pagi perutnya belum terisi apapun sampai jam setengah 12 sekarang ini.


Sebenarnya hari ini dia tak ingin pulang ke rumah. Tapi karna apartemennya yang kotor and berantakan dia lebih memilih pulang.


Didalam kamar Mikael langsung merebahkan dirinya diatas kasur. Dia memegang perutnya yang terasa sakit.


Diapun mulai memejamkan matanya untuk kembali beristirahat dan berharap obat yang tadi dia beli segera berfungsi.


###


Usai sholat dzuhur, Al memilih pergi ke dapur untuk melihat bahan makanan yang ingin dimasaknya.


Disana dia melihat Pak Usman yang sedang duduk dia kursi, karna bingung memasak apa dia lalu memilih menghampiri duduk disampingnya.


"Nyonya Al mencari sesuatu?" tanya Pak Usman.


"Tidak Pak. Al hanya bingung mau masak apa buat Kak El.." ucapnya.


Pak Usman seketika teringat saat membersihkan mobil yang baru dipakai Mikael. Dia menemukan sesuatu disana, karna itu dia lalu memberitahukan masakan yang akan membuat Mikael senang.


"Benar Pak?" tanya Al yang ragu dengan ide Pak Usman.


"Benar Nyonya.." ucap Pak Usman meyakinkan.


"Oke, aku akan masak usulan Pak Usman. Semoga Kak El suka.." ucapnya lalu beranjak dari posisi duduknya.


"Terimakasih ya Pak.." Pak Usman membalas perkataan Al dengan tanda jari yang berarti 'oke'.


###


Mikael terbangun dari tidurnya. Perutnya masih terasa perih. Dia berfikir obat yang tadi dibelinya tak begitu berfungsi. Dia seketika ingat belum makan apapun sejak pagi.


Lantas dia segera beranjak. Saat akan membuka pintu, dia merasa lembab pada tubuhnya karna bajunya yang basah oleh keringatnya. Padahal AC kamar Mikael nyala dengan suhu terendah.


Mikael mengurungkan niatnya keluar dan terlebih dahulu mengganti bajunya. Setelah mengganti baju, dia berjalan kerah pintu lalu membukanya.


Saat pintu terbuka Mikael kaget dengan sosok Al disana.


"Kak.." ucap Al sambil tersenyum.


"Sejak tadi Kakak tidak turun, jadi Al mengantarkan makan siang Kakak.." ucap Al sambil mengangkat sedikit nampan yang dipegangnya.


Mikael melihat kearah nampan yang Al pegang diatasnya berisi mangkuk yang didalamnya ada makanan yang ingin dia makan dan gelas yang berisi minuman berwarna coklat kehitam-hitaman.


"...bawalah masuk!" perintah Mikael.


Al lantas segera masuk kedalam kamar suaminya. Ini kedua kalinya dia menginjak kamar suaminya.


Sampai didepan meja yang ada didepan kursi singgle. Al kemudian meletakkan Mangkuk dan juga minuman tersebut diatas meja.


Dia lalu kembali menghampiri Mikael yang masih berdiri didepan pintu kamarnya yang terbuka.


"Al kembali kebawah ya, kalau Kak El sudah selesai Kakak bisa panggil Al atau meletakkannya didepan pintu.." ucap Al.


Mikael kembali berdehem lalu menutup pintu kamarnya. Al lantas tersenyum dengan wajah riang, dia lalu kembali kedapur.


Sebenarnya Mikael tak begitu selera melihat makanan di mangkok. Tapi jika perutnya tak diisi, maka akan semakin sakit.


Sebelum makan, Mikael memilih terlebih dahulu meminum minuman yang tak tau apa itu.


Ketika meminumnya dia merasakan sensasi pedas, tetapi setelah sampai ke perut Mikael merasakan perutnya hangat. Dia lalu meneguk kembali minuman tersebut beberapa tegukan.


Setelah itu dia beralih pada makanan yang didalam mangkok. Setidaknya ini makanan yang ingin dimakannya saat ini. Pikirnya saat itu.


Mikael menyendokkannya lalu memasukan satu suapan ke mulutnya. Mikael yang berfikir pasti dia akan mual, ternyata salah. Dia malah tak merasa mual sedikitpun. Malahan perutnya menerima makanan itu.


Tanpa sadar Mikael yang niatnya hanya akan memakan beberapa sendok. Dia malah menghabiskan satu mangkok beserta minuman itu.


Perutnya yang begah, tak begah kembali setelah setengah jam menyantap makanan itu.


###


Ini ketiga kalinya Al mondar mandi didepan kamarnya. Dia menunggu Mikael memanggil namanya hanya sekedar untuk membawa piring kotornya.


Tapi sayangnya sudah satu jam sejak dia mengantar makanan tersebut orang yang diharapkan tak memanggilnya.


Al yang hendak masuk ke kamarnya mendengar pintu sebelah yang dibuka. Dia segera menghampiri pintu itu.


"Kakak sudah selesai.." kata Al dengan secara tiba-tiba.


Mikael seketika kaget dengan kemunculan Al.


"Iya.." balasnya.


"Mari Kak, Al yang akan membawanya.." Al mengambil alih mangkok dan gelas tersebut dari tangan Mikael.


Saat akan pergi meninggalkan Mikael. Al terdiam sejenak mendengar perkataan yang sangat sangat sangat jarang diucapkan Mikael. Walaupun Mikael mengatakannya pelan, tapi Al masih sangat sangat sangat bisa mendengarnya.


"Terimakasih.." ucap Mikael dan langsung menutup pintu kamarnya. Hati Al saat itu juga, yang hanya dengar sekedar kata-kata yang tak ada romatisnya seketi hatinya berbunga-bunga.


Thank you for reading my story dont forget 🗨 coment, ✔️ like, ⤴️ share.


Salam hangat dari SMIM.