Friends After Marriage

Friends After Marriage
Kunjungan



Happy Reading!!!


Suasana di Klinik Asyifa mulai nampak sepi. Para pasien yang berdatangan sejak ba'da magrib mulai berpulangan.


Al yang sudah selesai mengerjakan tugasnya lantas mematikan komputer yang sejak tadi menyala. Dia merenggangkan tubuhnya sejenak agar lebih rileks.


Merasa terlalu lama duduk, dia lantas berdiri dari tempatnya. Dia melihat kearah beberapa pasien yang sedang menunggu obat.


Dari Ruangan menaruh resep, keluarlah seorang Wanita berhijab hitam. Namanya Shofi, dia merupakan teman kerjanya Al dan juga mantan teman kosannya juga.


Wanita itu berjalan kearah Al yang sedang menatapnya.


"Al, kamu belum pulang?" tanyanya saat sudah sampai didepan meja resepsionis.


Al nampak tersenyum membalas senyumannya. "Belum Kak, ini Al baru aja selesai input data pasien hari ini.." balasnya.


"Kakak udah mau pulang?" tanya Al kembali.


"Oh belum, setelah ini aku masih mau ngecek ketersedian obat bersama yang lainnya.." beritahunya.


"..eee.. kalau begitu aku pulang duluan ya.." pamitnya.


"Iya, kamu hati-hati ya.." ucapnya.


"..ee..ngomong-ngomong kamu dijemput atau naik bis?"


Al melirik kearah jam di dinding lalu melihat kearah halaman yang hanya terparkir beberapa motor. "..sepertinya tidak. Soalnya sudah jam sepuluh, mobilnya tak ada didepan.." jawab Al menujuk kearah halaman.


Shofi terdiam sejenak lalu berkata, "...gimana kalo kamu menginap di kosanku malam ini.." tawarnya.


Al berfikir, dia sebenarnya ingin menginap. Mengingat dirinya besok mendapat shift pagi. Tapi, dia tak membawa pakaian sama sekali.


Ditambah, dia juga tak bisa meminjam pakaian Shopi yang badannya lebih besar dan tinggi darinya.


"..terimakasih Kak, tapi lain kali saja. Soalnya Al tak membawa salinan pakaian dalam.." tolaknya halus dengan suara pelan.


Wanita berkerudung hitam itu tersenyum."..hehehe benar juga.." balasnya membenarkan perkataan Al.


"Yaudah kamu hati-hati ya nanti pulangnya.." katanya mengingatkan. Al menganggukan kepala dengan jari jempol dan telunjuk membentuk bulatan.


"Baiklah, aku keatas dulu ya.." pamitnya menuju kearah ruang penyimpanan obat yang ada di lantai dua.


Usai itu Al beranjak dari tempatnya menuju tempat menaruh tasnya. Setelah mengambil tas selempangnya dia berjalan kearah pintu keluar.


Saat keluar dari pintu kaca yang gagangnya bertuliskan dorong, Wanita itu melihat sebuah mobil ceper hitam yang terparkir dihalaman. Karna merasa tak asing dengan kendaraan tersebut, lantas Al menghampiri mobil itu.


Dia memperhatikan kaca mobil yang sangat gelap. Sampai-sampai orang didalam tak terlihat sama sekali.


Karna merasa yakin dengan instingnya, dia lalu menjulurkan tangan untuk mengetuk pelan kaca jendela yang nampak gelap itu.


'Tok tok tok' ketuk Al pelan di pintu kaca mobil bagian pengemudi.


Tak lama kaca terbuka, menampakan sosok yang tak diduga Al.


"Kak El!" kagetnya melihat sosok suaminya yang berada didalam mobil. Awalnya tadi dia berfikir itu Pak Usman kalau tidak Pak Mamat.


"Masuklah!" perintahnya langsung tanpa basa-basi. Al hanya menganggukan kepala lalu berjalan kearah pintu mobil yang ada disebrang.


Kejadian langka yang saat ini Al rasakan sungguh membuatnya bahagia.


Sejak masuk mobil, bibirnya tak berhenti menyunggingkan senyum. Dia sangat merasa senang, karna dijemput oleh seseorang yang tak pernah terbayangkan olehnya.


Dilirikkannya matanya kearah samping melihat Pria yang sedang fokus mengemudikan mobilnya.


Mikael yang merasakan lirikan Al sejak tadi lantas berkata, "Apa ada sesuatu diwajahku sehingga kamu melihatku terus?" ucapnya dengan tatapannlurus kedepan.


"Tidak ada apa-apa kok diwajah Kak El," jawabnya segera.


"Hanya saja, Al tak menyangka jika Kak El yang menjemput Al.." lanjutnya dengan wajah yang terlihat sangat senang.


"..o..ohhh dikira kenapa," balas Mikael yang sedikit bingung dengan hanya dijemput saja dengan dirinya bisa sebahagia ini.


"..." Mikael seketika kembali teringat sesuatu yang dipertanyakannya saat perjalanan ke tempat kerja Al.


"Sejak kapan kamu bekerja di klinik tadi?" tanya Mikael kemudian. Al yang baru saja mengalihkan pandangannya kedepan kembali melihat kearah samping kanannya.


"Sejak tahun kemarin Kak," jawabnya segera sembari tersenyum.


"Apa kamu menyukai pekerjaan itu?" tanyanya kembali.


Al terdiam, dia mengalihkan iris matanya ke arah tas yang di pangkuannya. "..sepertinya.." jawabnya yang terdengar ragu oleh Mikael. Pria itu lantas melirik sekilas kearah Al yang terdiam sambil menundukan kepala.


"..sepertinya?" ucap Mikael mengulang jawaban Al.


"Kalau kamu menjawab seperti itu, bukankah artinya tidak menyukai pekerjaan itu.." lanjutnya. Al hanya terdiam tak berkata.


Mikael kembali melirik kearah Al yang masih diam dengan kepalanya yang tertunduk. Dia sedikit bingung dengan Wanita disebelahnya yang rela jauh-jauh bekerja disini. Dikiranya Wanita itu menyukai pekerjaannya, tapi perkiraannya salah saat mendengar jawabannya.


Suasana kembali hening disisa perjalanan yang terasa panjang.


Sampainya di rumah mereka langsung masuk kedalam menuju kamar.


Didepan kamar, Al mengucapkan terimakasih pada suaminya.


"Kak, makasih ya sudah menjempul Al.." ucapnya.


"..iya.." balasnya.


"..setelah mengganti pakaian datanglah kembali ke kamar," ucap Mikael yang lalu berjalan ke kamarnya.


Al menganggukan kepala. Seketika dia terdiam, wanita itu lupa jika malam ini dia akan kembali tidur dikamar Mikael, karna AC kamarnya belum dibetulkan. Perkataan tersebut didengarnya dari Pak Usman tadi siang saat mengantarnya.


Al lantas segera masuk ke kamarnya lalu menaruh tasnya diatas meja kemudian berjalan kearah kamar mandi.


###


Perasaan lelah akibat seharian beraktivitas seakan terangkat ketika sudah membersihkan diri.


Pria yang baru keluar kamar mandi tersebut lalu berjalan kearah lemari pakaiannya untuk mengambil celana pendeknya dan juga baju tanpa lengannya.


Usai memakainya, dia kemudian merebahkan dirinya yang diatas ranjang berukuran besarnya.


Diarahkan matanya kearah jam yang sudah menunjukan pukul 12 malam.


"Kenapa Wanita itu belum kemari?" gumamnya.


Pria itu lalu menatap kearah langit-langit mengingat prihal kejadian di mobil. Perasaannya saat ini sangat penasaran prihal Al yang bekerja ditempat jauh itu.


"..." dia berfikir sampai saat ini dia tidak mengetahui prihal Al. Termasuk hubungannya dengan orang yang bernama Beni.


'Tok tok tok' suara ketukan pintu menghentikan lamunan Mikael. Pria itu lantas menengok kearah pintu yang sudah menunjukan sosok Al.


Wanita itu melangkahkan kakinya kedalam kamar Mikael. Setelah menutup kembali pintu dia mendekat kearah Mikael yang sejak tadi menatapnya.


Mikael menatap Wanita yang baru saja masuk ke kamarnya. Rasa penasaran menyelimutinya saat ini. Ingin rasanya bertanya, tapi mengingat waktu dan rasa lelah diapun mengurungkannya.


Mata Mikael, saat ini masih menatap kearah Al. Dia memperhatikan Wanita itu yang sedang melepas kerudungnya kemudian melanjutkan melepas gamisnya.


Rasa penasarannya kali ini berganti dengan rasa penasaran akan pakaian apa yang akan dikenakannya malam ini. Jika dia memakai pakaian seperti kemarin malam mungkin malam ini dirinya dan Wanita itu akan kembali bergadang.


Saat Al memperlihatkan pakaian tidurnya. Mikael terdiam, dia nampak tak asing dengan pakaian tersebut.


Al yang sejak tadi merasakan tatapan suaminya lantas berkata. "Ada apa Kak?" tanyanya.


Mendapat seruan dari istrinya. Dia mengedipkan matanya yang sejak tadi belum berkedip. "...tidak.." balasnya segera lalu mengalihkan matanya kearah lain.


Mengetahui pakaian yang dikenakan Al dia sedikit merasa kecewa. Padahal dia beraharap Wanita itu memakai lengeria pemberiannya. Sayangnya Wanita itu memakai piyama karakter berwarna hijau pohon.


Inilah pilihan baju Al malam ini. Dia memilih pakaian karakter kodok miliknya yang sebenarnya tak ingin dipakainya kembali. Karna suatu alasan dia memakainya.


Bisa saja dia memakain lingeria atau mini dress miliknya tapi dia takut suaminya akan terangsang, melihat kejadian semalam. Bukan maksud dirinya tak ingin melayani Pria halalnya tapi melihat suaminya yang nampak lelah dengan aktivitas seharian ditambah rasa perih yang masih terasa dibagian kewanitaannya memilihnya menghindari.


Al lalu merebahkan tubuhnya disamping suaminya. Wanita itu lalu melihat kearah suaminya yang sedang menatapnya.


"Ada apa Kak?"


"..tidak, hanya..saja. Apa kamua betah dengan pakaianmu malam ini?" ucap dengan berlagak biasa saja.


"...Al betah kok, Kak.." ucapnya lalu tertawa kecil.


"..ohhh..kufikir akan terasa panas jika mengenakannya.." balas Mikael.


Al hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala pelan. Mendengar ucapan itu, rasanya itu seperti kode dari suaminya.


"..ohh iya, Apa ada sesuatu yang ingin kamu beli?" tanyanya kemudian.


"..maksudnya, Kak?"


"Tidak, biasanya seseorang yang bekerja karna menginginkan sesuatu.." jelasnya.


"...Al tidak menginginkan sesuatu kok.." balasnya.


"Hanya saja, Al hanya ingin memanfaatkan Waktu Al.." lanjutnya.


"..ohh kufikir kamu kerja karna ingin membeli sesuatu. Jika memang seperti itu aku akan menambah uang bulananmu jika itu kurang.." katanya yang lalu membenarkan posisi tidurnya.


"..uang yang Kak El berikan masih banyak. Jadi Kak El tak perlu menambahnya.." ucapnya segera.


"Tidurlah!" perintah Pria itu yang sudah memunggunginya.


"Iya.." balasnya yang menatap punggung lebar suaminya.


###


Sejak malam itu, Al setiap malamnya selalu tidur di kamar Mikael.


Itu merupakan hal yang selama ini diharapkannya yang akhirnya terkabulkan juga.


Dia tak tahu sampai kapan dirinya akan tidur bersama suaminya. Yang dia tahu hanya, Mikael akan membeli AC baru lalu AC kamar ini akan ditaruh dikamarnya.


Tapi sampai saat ini, Al tak melihar tabda-tanda kedatangan AC baru yang menandakan waktu malamnya bersama Pria tercintanya masih lama.


Tapi ada satu hal yang membuatnya tak nyaman. Biasanya setiap malam, saat tidur dirinya mengenakan daster. Tidak dengan malam-malamnya saat ini. Dia hanya bisa mengenakan kaos dan juga celana panjang, dikarnakan dia malu jika mengenakan daster dihadapan Pria halalnya.


Yaaa bisa saja dia mengenakan mini dress atau lingeria miliknya, tapi dia merasa risih mengenakan pakaian yang sangat terbuka itu.


"..." Al nampak bingung memakai pakaian apa malam ini. Dia duduk melihat secara bergantian kearah pakaian di lemarinya dan tangannya yang memegang piyama celana yang baru dibelinya.


Seketika terbesit akan ekspresi Mikael yang nampak sedikit kecewa.


"Tapi ekspresi itu.." gumamnya.


'Dreeet dreeet dreeet' suara getaran yang berasal dari HP milik Al yang berada diatas meja samping ranjang.


Diarahkan matanya kearah benda persegi panjang itu lalu melihat nama yang tertulis disana.


"Kak El.." gumamnya membaca tulisan tersebut. Lantas dia gesernya gambar telpon berwarna hijau tersebut untuk mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum Kak.." salam Al.


"..wa'alaikumsalam.." jawab sipenelpon.


"..Kakak masih di kantor?"


"iya," jawabnya.


"...Kakak tidak pulang!" serunya sedih mengulang perkataan Mikael.


"Iya..jadi kamu tidur saja di kamarku, tanpa menungguku.." ucapnya kemudian.


"Aku matikan ya.." lanjutnya.


"..iya Kak.." balas Al yang sambungan telah terputus.


"Wassalamu'alaikum.." gumamnya menatap HPnya.


Direbahkan tubuhnya ke kasur memandang langit-langit kamar.


"..aahhhhh.."


"..karna Kak El tak pulang sebaiknya aku tidur disini saja.." ucapnya yang lalu beranjak dari posisinya kemudian mendekat kearah lemari pakaian terbuka untuk memgambil pakaian ternyamannya saat di kamar, yang tak lain adalah daternya.


###


'Tap tap tap'


Suara langkah kaki memenuhi koridor apartemen. Terlihat seorang Pria muda nampak melangkahkan kakinya dengan cepat.


Tak lama langkah tersebut berhenti disalah satu pintu. Setelah menekan pin, pintu terbuka. Pria itu lantas segera masuk.


Didalam, matanya langsung mengedar mencari sosok seseorang yang menelponnya tadi.


Seketika matanya berhenti pada sosok yang sedang duduk di ruang TV. Sosok tersebut terlihat sedang memakai kaos kaki berwarna coklat seperti baju yang dikenakannya.


Dihampirinyalah sosok tersebut lalu berhenti didepannya.


"Kak!" panggilnya.


Wanita yang sedang menyelimuti kakinya lantas mengangkat kepalanya, menampakkan wajah cantiknya tanpa make up. Dia mendapati adik yang ditelponnya sejam yang lalu sudah berada didepannya.


"Wahhh kamu cepat juga sampenya.." sapa Wanita itu dengan wajah lembut kearah adiknya.


"..tapi.." seketika raut wajah lembutnya berubah tegas.


"Mana salammu!"


Pria muda itu lalu tersenyum kuda, "..maaf..kelupaan.." balasnya.


"Assalamu'alaikum Kak Via.."


"Wa'alaikumsalam.." jawab Wanita itu yang lalu menepuk kursi disebelahnya.


Mendapat kode dari Kakaknya. Pria muda itu lantas ikut duduk disampingnya.


"Kak Via benar nih, mau pergi ke tempat kerja Kak Al.." ucapnya to the point.


"Iya, Kakak mau kesana.." balasnya


"Soalnya Kakak kangen sama teman-teman disana. Sekalian Kakak mau memberikan nasi yang Kakak masak tadi.." ucapnya menunjuk kearah box nasi yang berada di meja.


"Kita jalan sekarang, Kak.." ucapnya sambil menunjukkan jam tangannya yang sudah menunjukan pukul setengah dua kurang.


Wanita itu menganggukan kepalanya. Dia lalu beranjak dari posisi duduknya, kemudian diikuti Pria muda itu.


###


Siang menjelang sore ini, matahari nampak sangat terik bersinar. Membuat orang-orang yang berada didalam klinik mengibas-ngibaskan tangannya, termasuk Al yang menjadikan lembaran kertas yang tak terpakai didepannya menjadi kipas dadakan.


Walaupun saat ini dirinya berada di ruangan dengan AC yang menyala. Namun benda tersebut nampak tak berpengaruh, karna jumlah pasien yang banyak.


"Panasnya!" seru seorang Wanita berkerudung pasmina yang duduk disamping Al.


Wanita itu lalu menengok kearah Al yang tangan kirinya mengibaskan kertas sedang tangan kanannya menulis.


"Enaknya kalau panas gini minumnya yang dingin-dingin. Iya gak, Kak Al!" kodenya.


Wanita itu menghentikan gerakan tangannga lalu menengok kearah Wanita disebelahnya.


"Pergilah!" seru Al mengizinkan.


Wanita yang menggunakan pasmina tersebut menyengir kuda.


"Kak Al mau nitip apa.." ucapnya saat hendak berdiri.


"Aku tidak deh. Lagi pula aku punya minum.." tunjuknya kearah botol air mineralya yang tinggal setengah.


"Bener nih, Kak.." ucapnya memastikan.


"Enak loh..minum yang dingin-dingin, segarrr.." katanya menggoda Al.


Al tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat wajah Wanita yang lebih muda setahun darinya.


Begitu juga Wanita muda itu yang juga cengengesan yang kemudian pergi meninggalkan Al.


Tik


Tik


Tik


Al masih sibuk mencatat para pasien yang mendaftar untuk berobat. Diarahkan matanya sekejap kearah Pasien yang sedikit berkurang.


Dari belakang tak lama datang kembali Wanita muda yang tadi izin membeli minum, tapi Wanita itu membawa seseorang bersamanya.


"Ini Es untukmu.." ucap suara Wanita yang terdengar berbeda dengan suara Wanita yang bersamanya tadi, tetapi tak asing ditelinganya.


"Shafa.." kata Al yang terputus saat sadar yang memberikannya minum bukanlah Wanita tadi melainkan sahabatnya.


"Via.." ucapnya kemudian yang langsung mengembangkan senyum senang yang terlihat dari matanya yang menyipit.


"Assalamu'alaikum.." salam Via dengan suara khasnya yang lembut. Dia juga mengembangkan senyum senyum senangnya.


"Walaikumsalam.." jawabnya yang lalu berdiri untuk cipika cipika bersama sahabatnya itu.


Suara mereka yang sedang bercakap-cakap, terdengar lumayan keras. Mendapat perhatian dari pasien yang sedang menunggu.


Wanita muda yang bernama Shafa itu, menyadari akan tatapan para Pasien.


"Kak Al," panggil Wanita muda itu yang saat ini sedang menatap kearah pasien yang sedang menatap kearah mereka.


Kedua Wanita itu lantas tersenyum malu yang lalu segera duduk. Begitu juga Via yang duduk dikursi plastik yang tak ada sandarannya.


"Aku senang kamu kesini. Kamu pasti kangen ya sama orang-orang disini.." ucap Al.


"Iya, aku kangen sama orang-orang disini. Mumpung hari ini aku libur, makanya aku main.." balasnya.


"Kamu kesini diantar sama Dokter Ilham?"


Via menggelengkan kepalanya. "Aku kesini sama Ahmad.." jawabnya.


"..sama Ahmad! Terus dimana anaknya?" tanya yang mencari sosok Ahmad yang tak dilihatnya.


"Dia lagi nunggu di ruang istirahat.." balasnya. Al menghentikan tengokannya yang kemudian membulatkan bibirnya.


Dari arah pintu depan masuk sepasang suami istri. Mereka berjalan kearah tempat Al duduk.


"Ba, saya mau berobat atas nama...."


Mengetahui adanya pasien baru Al lantas mengakhiri obrolannya.


"Vi, tunggu ya. Lima belas menit lagi shifku habis.." ucap Al yang diangguki Via.


Al lalu kembali melanjutkan kerjaannya. Sedang Via pamit untuk ke ruang istirahat.


###


Di ruang istirahat, para karyawan yang mendapat shif sore mendapat nasi kotak yang dibawa Via, begitu juga karyawan yang mendapat shift pagi.


"Vi, makasih ya makanannya. Kita tugas dulu ya.." pamit Shofi yang saat itu mendapat shif sore.


"Sama-sama Kak, semangat!" balasnya menyemangati Shofi.


Dari arah pintu Al yang sudah berganti shif datang ke ruang istirahat menghampiri sahabatnya tersebut.


Didalam, Dia melihat dua ikat nasi kotak diatas meja.


"MasyaAllah Vi, kamu bawa nasi ini.." ucap Al menghampiri kedua orang yang sedang duduk.


"Hehe iya," balasnya dengan wajah tersipu malu.


"Kamu masak sendiri atau beli?"


"..aku masak.." jawabnya.


Al membulatkan mata mendengarnya. "MasyaAllah sebanyak ini kamu masak sendiri.." kata Al menepuk tangan.


Al lalu mengalihkan mata kearah Ahmad yang sedang mendengarkan percakapan mereka.


"Assalamu'alaikum Ahmad," sapa Al pada Ahmad yang sudah tersenyum sejak tadi.


"Walaikumsalam, Kak Al.." jawabnya.


Al lalu berjalan mendekat kearah bangku kosong yang ada disamping Via.


Wanita berkerudung panjang berwatna coklat itu lalu menyodorkan nasi kotak kearah Al.


"Thanks.." ucap Al yang lalu membuka kotak tersebut yang berisi nasi, ayam goreng krispi, tempe orek dan lalapan.


"Aku makan ya.." ucap Al yang lalu menyendok nasi dan juga lauknya.


Setelah melahapnya dia memberikan jempol kepada Via.


"Alhamdulillah enak.." ucap Via tersenyum senang. Via lalu menyodorkan kotak nasi lainnya kearah Ahmad dan mengambil untuk dirinya sendiri agar makan bersama.


Usai makan mereka mengobrol santai. Al yang merasa sudah ngobrol lama melirik kearah jam di ruang istirahat yang menunjukan pukul setengah empat lewat.


"Vi, aku pulang ya. Aku lupa niatnya hari ini pergi ke tempat kerja Kak El.." beritahunya.


"Kamu mau ke tempat kerja suamimu. Padahal hari ini aku mau mengajakmu main kerumah.." bakas Via.


"Hehe lain kali ya.." balas Al.


Saat akan beranjak, Pria muda yang duduk didepan Al menyodorkan benda berbentuk bulat.


"Kak ini gelang, Kakak.." ucapnya. Al terdiam melihat gelang yang disodorkan itu lalu menjulurkan tangannya mengambil gelang tersebut.


"Gimana? Kamu suka hadiah, Kakak?" tanyanya sambil memasang gelang tersebut ke tangan kanannya.


"Aku suka hadiah buku dari Kakak.." jawabnya.


"Walaupun sebenarnya lebih suka gelang itu.." jujurnya. Al hanya tersenyum kemudian mengucapkan salam untuk pamit.


Thank you for Reading.


jangan lupakan tinggalkan tanda


Sorry for My Reader because, I came late up the storry.


Salam hangat SMIM🤗🤗🤗