Friends After Marriage

Friends After Marriage
Isi Amplop



Isi Amplop


Happy Reading!!!


Usai membantu Bi Hilda membersihkan rumah dan juga memasak. Al melangkahkan kakinya menuju ke halaman belakang rumah yang merupakan tempat rahasianya memandangi Mikael.


Al duduk sambil tersenyum-senyum sendiri melihat suaminya. Padahal yang di lihatnya bukanlah wajah suaminya melainkan belakang kepalanya. Tapi, itu saja sudah sangat membuat hati Al senang. Apalagi jika dia bisa memandangi sosok suaminya seutuhnya. Bisa-bisa Al tak kuat dan malah akan menyerang suaminya (mana berani si Al).


Mungkin, karna Al merupakan Wanita yang baru pertama kali jatuh cinta pada Pria. Membuat cintanya besar pada suaminya. Tetapi tentu saja, cintanya lebih besar kepada pemilik hati suaminya. Pasti kalian taulah siapa hehehe..


Iris mata Al bergerak mengikuti sosok suaminya yang pergi menjauhi jendela. "Mas mau kemana?" batin Al bertanya. "Mungkin Mas kebelet.." cengirnya. Al lalu pergi menuju kamarnya untuk mengambil buku yang akan dibacanya.


###


Mikael menghabiskan waktu membaca buku dengan tenang di ruangannya. Tetapi kesenangannya terganggu saat mendengar dering telpon dari HPnya.


Tertulis di layarnya, panggilan dari Pak Kusno. Mikael bertanya-tanya ada hal apa Pak Kusno menghubunginya pagi ini.


"Assalamualaikum Mikael.." salam disebrang.


"...wa'alaikumsalam Pak Kusno?"


"Maaf ya, Bapak ganggu pagi-pagi. Bapak hanya ingin bertanya apa kamu sudah membuka hadiah dari Bapak?"


Mikael terdiam sejenak. Dia benar-benar lupa perihal hadiah yang diberikan Pak Kusno. "..Belum Pak.." ucapnya pelan.


Dari sebrang telpon terdengar helaan nafas. "..Sudah Bapak duga! Segera bukalah hadiah Bapak! Setelah itu bersenang-senanglah bersama istrimu. Jangan kau habiskan hari pekanmu hanya membaca buku atau mengurus pekerjaan!" perintah suara itu yang terdengar serius.


Mikael menelan salivanya dengan susah. "Baik Pak Kusno!" ucapnya lalu mematikan sambungan telpon.


"Haahhhh..." Mikael menghembuskan nafasnya kasar. Dia malas sekali jika disuruh keluar. Jika bukan karna Pak Kusno yang merupakan rekan bisnis pertamanya sejak awal Mikael membuka usaha awalnya sampai sekarang. Mungkin dia akan enggan untuk menurutinya.


Dia beranjak dari kursinya dengan malas menuju ke kamarnya. Didalam kamar dia mencari amplop putih besar yang diberikan Pak Kusno. Tapi sayangnya tak ada.


Setelah mengingat beberapa saat, Mikael akhirnya mengingat jika dia meletakkannya di mobil. Dia pun keluar kamarnya. Saat keluar dia berpapasan dengan Al yang juga baru keluar dari dalam kamarnya.


"Kak El.." sapa Al dengan manis. Mikael tak menggubrisnya, dia begitu saja melewati Al.


Al yang merasa di ambaikan, tak berkecil hati dia malah mengekor Mikael yang akan menuruni tangga.


Dari jarak sedekat ini, ada ingin rasanya Al menerkam Mikael. Apalagi melihat suaminya yang mengenakan celana pendek dengan kaos tanpa lengan yang memperlihatkan otot-ototnya ditambah rambutnya yang terurai sampai ke bahu. Itu sungguh menggoda Al.


"Hayati gak kuat bang!!!" batin Al.


Sampailah mereka didepan pintu rumah. Al masih membututi Mikael yang sedang masuk kedalam mobil. Sedangkan Al menunggu diluar mobil sambil memperhatikannya yang terlihat sedang mencari sesuatu.


Mikael membuka satu persatu laci yang ada di mobilnya sampai akhirnya dia menemukan amplop putih itu berada di penutup langit-langit mobil bagian pengemudi.


Usai mengambilnya Mikael lalu keluar. Dilihatnya Al masih menunggu dirinya didekat mobil.


Dirinya mengacuhkan wanita itu dan memilih melajukan langkahnya menuju lantai 2 meninggalkan Al yang hanya dapat memandangi punggungnya.


Al memanyunkan bibirnya melihat tindakan dingin Mikael. "Lihat saja Mas, pasti aku akan membuatmu melihat kearah ku!" serunya yakin. Dia lalu melangkahkan kakinya ke halaman belakang yang seperti dugaannya Mikael sudah ada disana.


###


Di ruang kerjanya, Mikael kembali duduk di kursinya. Dia lalu membuka amplop pemberian Pak Kusno. Saat membukanya dan mendapati isinya, dia diam dan amplop itu terlepas dari tangannya.


Saat ini Mikael paham maksud perkataan Pak Kusno yang mengatakan bersenang-senanglah bersama istrimu.


Mikael masih diam dibangkunya. Pikirannya masih kalut. Di dalam hatinya dia benar-benar tak ingin pergi ke tempat itu karna beberapa hal. Tapi jika dia tak pergi...


Akhirnya dengan kesal Mikael kembali beranjak dari kursinya. Dia keluar ruangannya, lalu berhenti tepat didepan pintu kamar Al.


Di hembuskan nafasnya, agar perasaannya tenang. Dia lalu mengetuk pintu. 'Tok, tok, tok..' tapi sayangnya tak ada jawaban. Membuat Mikael kembali mengetuk pintu, dengan hasil yang sama.


Bi Hilda yang sedang membersihkan ruangan yang ada di lantai 2. Mendengar suara ketukan, dia kemudian menuju kearah suara tersebut yang berasal dari Mikael yang sedang berdiri didepan kamar Al.


"Tuan mencari Nyonya Al?" tanya Bi Hilda.


Mikael seketika kaget dengan suara Bi Hilda. "Hem.." sahutnya.


"Saat ini Nyonya sedang di taman belakang.." ucap Bi Hilda kembali. Mikael kembali berdehem meninggalkan Bi Hilda. Sedang Bi Hilda melanjutkan kembali aktivitasnya.


Di taman belakang, akhirnya Mikael mendapati sosok Wanita itu. Tak sengaja Mikael memperhatikan wajah serius Al saat membaca buku. Mungkin bisa di bilang ini pertama kalinya Mikael melihat wajah serius Al, karna biasanya wajahnya selalu penuh ekspresi.


Mikael masih terus memperhatikan Wanita itu sampai wanita itu mulai menggerakkan kepalanya. Mikael berfikir jika Al sudah menyadari dirinya disamping, sayangnya tidak. Melainkan wanita itu melihat kearah lain.


"Mas kemana kok gak ada?" batin Al. Al masih terus memperhatikan jendela mencari sosok suaminya yang tak terlihat. "Masa ke kamar mandi lagi?" gumamnya pelan. Mikael yang berada disampingnya tentu mendengar perkataan Al barusan.


"Kebelet?!" batin Mikael menanggapi perkataan Al.


Al yang tak mendapati sosok suaminya. Akhirnya menengok kearah sampinya. Seketika Al terperanjak melihat sosok yang dicarinya ternyata berada disampingnya.


Mikael mengkerutkan dahi melihat tingkah Al yang diluar dugaan. Dia pikir Al akan berwajah menggelikan seperti biasanya. Tapi tidak, melainkan dia berwajah kaget seperti melihat sesuatu yang horor.


"Astagfirullahal'adzim..Kakak sejak kapan disini.." Al mengelus dadanya yang sedikit berpacu.


Mikael tak membalas ucapan Al. Malahan dia memberi perintah. "Bersiap-siaplah! Setengah jam lagi aku tunggu di ruang TV!" setelah mengatakan itu Mikael pergi.


Al masih diam di tempatnya. Dia masih mengelus dadanya sambil memahami perkataan Mikael. Seketika raut wajahnya yang kaget berubah gembira. "Hehehe Mas ngajak aku pergi lagi.." cengirnya. Dengan semangat 45 dia berjingkrak senang menuju kamarnya.


Bi Hilda yang saat itu menuruni tangga memperhatikan ekspresi bahagia Nyonyanya.


"Nyonya senang betul.." ucapnya yang menghentikan langkah Al yang menaiki anak tangga.


"Hehehe iya Bi. Soalnya...Mas ngajakin Al pergi lagi.." tutur Al dengan tersipu malu. Bi Hilda ikut tersenyum mendengar perkataan Al.


"Selamat Nyonya dan Semangat!" Bi Hilda mengangkat tanganya menyemangati Al. Lalu Al izin pamit ke kamarnya begitu juga Bi Hilda yang melanjutkan menuruni tangga. Tetapi Bi Hilda kembali menengok kearah Al kemudian tersenyum senang kembali.


###


Di ruang TV, Mikael menunggu Al sambil bermain dengan HPnya. Tak berapa lama dari arah tangga Al turun dengan pakaian biasanya dan juga menggunakan cadar.


Al berjalan mendekat kearah Mikael. "Mas, Al sudah siap!" serunya.


Tanpa melirik. Mikael langsung bangkit dari tempatnya dan berjalan melewati Al. Al segera mengikuti langkah kaki Mikael dengan senang.


Di luar, Pak Usman membukakan mobil untuk Mikael. Sedang Al langsung menghampiri pintu samping yang ada disamping kemudi.


"Tuan, hati-hati di jalan ya!" seru Pak usman. Mikael menganggukan kepala lalu memasang sitbelt.


Pak Usman menengok kearah Al yang sedang melambaikan tangan kearahnya. "Hati-hati di jalan Nyonya!" ucapnya kembali.


Al tersenyum sambil membalas dengan tanda hormat. "Assalamu'alaikum.." ujarnya.


"Wa'alaikumsalam.." balas Pak Usman.


Mikael segera menjalankan mobilnya keluar dari perkarangan rumahnya.


Al duduk dengan tenang disamping pujaannya. Dia sesekali memperhatikan wajah Mikael yang terlihat serius mengendarai mobil.


Selama perjalanan tak ada percakapan sama sekali. Mikael yang fokus dengan setirnya sedang Al yang kadang memperhatikan wajah Mikael, kadang melihat pemandangan di luar.


Karna berkendara yang cukup lama, di tambah keadaan macet membuat Al mengantuk dan dia pun tertidur.


Dari kejauhan terlihat palang biru yang bertuliskan tempat istirahat. Mikael segera mempercepat kendaraannya menuju tempat yang berjarak 1 KM itu.


Segera diarahkannya mobilnya menuju WC karna panggilan alam yang sudah tak tertahankan. Sebelum turun dibukanya terlebih dahulu sedikit kaca jendela lalu keluar untuk menunaikan hajatnya.


Sekembalinya, wajahnya jauh lebih rileks dibandingkan tadi. Mikael lekas memasuki mobil. Sejenak dia memperhatikan Al yang tertidur pulas.


(Jangan lupa VOTE, tekan tanda ini πŸ‘, coment πŸ‘dan Reting 🌟🌟🌟🌟🌟 ya...)


############################################################


Maaf ya jika banyak typo...


Jangan lupa coment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.


Dan tinggalkan tanda hati.


Jangan lupa vote yang teman-teman.


Saya juga nulis cerita yang judulnya UHIBBUKI jangan lupa mampir ya.....


Terimakasih