Friends After Marriage

Friends After Marriage
Dobel Shift



Dobel Shift


Happy Reading!!!


Mobil yang Pak Mamat kendarai, memasuki jalan perkampungan yang terlihat padat akan kendaraan.


"Pak, didepan ada bangunan warna biru. Berhenti didepan ya!" seru Al menunjuk kearah bangunan yang ada didepan.


"Baik, Nyonya.." balas Pak Mamat. Dia lalu memberikan lampu sent kearah kanan tempat bangunan itu berada.


Mobil memasuki halaman depan bangunan itu yang berukuran 7x4. Sedang bangunan berwarna biru itu terlihat memiliki 2 lantai dengan luas tanah sekitar 200 meter.


"Disini Nyonya?" tanya Pak Mamat setelah memarkirkan mobil didepan bangunan itu.


"Iya Pak.." jawab Al mengganggu kan kepalanya. "Al pergi ya Pak, assalamualaikum.." pamit Al. Dia lalu mengeluarkan payung dari dalam tasnya kemudian membuka pintu.


"Wa'alaikumsalam.." jawab Pak Mamat melihat kearah Al yang memasuki bangunan itu.


Suasana sepi menyambut Al ketika memasuki bangunan itu. Al melangkahkan kakinya kearea dalam gedung lantai satu untuk meletakkan tasnya.


###


"Al, sudah waktunya istirahat. Kamu duluan gih, mumpung lagi sepi!" perintah Ba Mirzani yang Al angguki.


Al menuju kebagian belakang bangunan yang terdapat musholla, tempat istirahat untuk karyawan dan juga dapur. Selesai sholat Al menuju tempat istirahat untuk menyantap bekalnya yang telah dia bungkam dari rumah.


Saat menikmati makan siangnya. HP Al yang sejak tadi ada di kantong celana kanannya berdering. Dia lekas mengambilnya dan melihat layar HPnya yang tertulis nama Oktavia.


Al mengunyah makanan yang di makan sambil memperhatikan nama yang tertulis di layar HPnya. "Assalamualaikum Fa, ada apa?" kata Al setelah menelan nasi yang sudah dikunyah halus olehnya.


"...Al...maaf ya! Hari ini aku gak bisa datang kerja. Aku masih dijalan arah pulang ke rumah kosan. Jalan yang dilewatin lagi terkena banjir, jadi macet sepanjang jalan. Kamu bisa kan gantiin shift ku nanti sore?" kata suara sebrang yang terdengar bising dari telpon.


Al menganggukkan kepalanya lalu menelan kembali makanan yang dikunyah nya. "Iya gak papa Via. Aku gantiin.." balas Al dengan kedua sudut bibirnya terangkat. "Kamu hati-hati ya.." lanjut Al.


"Iya Al, makasih ya. Assalamualaikum.."


"Wa'alaikumsalam.." balas Al. Dia kemudian melanjutkan kembali makannya yang sempat tertunda.


###


Sejak sore sampai malam Al tak hentinya memanggil maupun mendata orang yang datang. Pengunjung sore ini lebih banyak di banding tadi pagi yang hanya segelintir orang.


Jarum jam terus berjalan. Tanpa terasa jarum pendek telah menuju angka sepuluh, mengharuskan tempat kerjanya tutup setelah melayani pendatang terakhir.


Al meregangkan kedua tangan dan kakinya yang sejak tadi kaku. Akibat terlalu lama duduk dikursi.


Dari arah belakang seorang wanita yang juga mendapat shift sore menghampiri Al yang sedang duduk.


"Al!" seru wanita itu. Dia menepuk punggung sebelah kanan Al lalu menarik bangku yang ada disebelah Al untuk mendudukinya.


Al menengok kearah sampingnya yang mendapati sosok yang dikenalnya. "Ehhh..Kak Shofi. Kakak juga shift sore.." kata Al yang kaget dengan keberadaan Shofi.


"Iya, aku dapat shift sore.."


Al mengarahkan bangkunya menghadap Shofi. "Kakak sejak datang terus di lantai 2 ya! Soalnya aku gak liat kakak daris tadi di lantai satu.."


"Iya kakak daris tadi gak turun-turun. Saking ramainya yang datang.." balasnya yang terlihat kelelahan. "Kita pulang bareng ya! Soalnya seram malam-malam gini pulang sendiri!" ajaknya.


"Okee, aku siap-siap dulu ya!" seru Al yang bangun dari tempat duduknya.


"Iya kak," sahut Al. Dia lalu menuju kearah ruangan tempatnya menaruh tas.


Tadi sore Al sudah mengabarkan pada Bi hilda kalau dia akan pulang malam. Karna Al merasa tidak enak meminta jemput, makanya dia mengatakan akan pulang naik taksi.


Saat Al dan Shofi keluar dari bangunan itu. Diluar sudah terdapat mobil hitam yang sangat dikenal Al. Dari dalam keluar seorang Bapak yang tak asing baginya.


"Pak Usman!" seru Al melihat Bapak tersebut. Pak Usman tersenyum ramah sambil menganggukkan kepalanya. "Bapak, bukannya tadi Al udah bilang pada Bi hilda kalau Al naik taksi aja. Kenapa Bapak repot-repot jemput Al.." kata Al merasa tak enak mengganggu waktu istirahat Pak Usman.


"Nyonya, ini merupakan pekerjaan saya. Saya sama sekali tidak merasa direpotkan.." balas Pak Usman. Dia lalu membuka pintu mobil penumpang. "Mari Nyonya!"


"...Terima kasih Pak.." balas Al yang memasuki mobil sedang Shofi masih berdiri didepan pintu.


"Kak, ayo masuk!" ajak Al. Dia menarik tangan Shofi agar masuk kedalam mobil. Tetapi wanita itu tetap berada di luar mobil.


"Gak papa Al, Aku numpang mobilmu? Nanti ngerepotin lagi.." kata Shofi merasa tak enak.


"Tidak apa-apa Kak, aku malah senang ada temannya.." balas Al dengan tatapan hangat. Shofi yang menyadari akan tatapan Al tersenyum.


Shofi lalu memasuki mobil dan duduk disebelah Al. Begitu juga Pak Usman yang sejak tadi menunggu akhirnya menutup pintu mobil penumpang dan segera masuk ke tempat mengemudi.


"Pak, kita kelewat jalan XXX ya.." seru Al yang diangguki Pak Usman.


Sepanjang jalan, jalanan masih terlihat sedikit ramai. Toko-toko juga mulai tutup satu-persatu. Begitu juga kendaraan yang masih lalu-lalang.


"Al!" seru Shofi. Al yang awalnya menengok kearah depan berganti melihat kearah Shofi yang ada disampingnya. Al berdehem menanggapi panggilan Shofi.


"Sekarang kamu tinggal dimana? Dari kemaren aku tuh pengen nanya rumahmu, tapi kita jarang ketemu.." ucap Shofi.


"Rumahku di XXX, Kak.." jawab Al. Shofi terlihat kaget mendengar rumah Al.


"Serius! Bukannya itu satu jam perjalanan. Kalau macet bisa sampe dua setengah jam.." ucap Shofi menggeleng kepalanya. Al terlihat menyengir dengan mata sedikit tertutup membalas ucapan Shofi.


"Kenapa kamu enggak nyari kerja didekat sana aja.." ucapnya lalu Shofi lebih merapatkan diri duduknya kearah Al. "Kalau enggak, kenapa kamu enggak diam aja di rumah. Bukannya suami kamu kaya.." lanjutnya dengan membisikkannya ditelinga Al.


Al tersenyum mendengar perkataan Shofi. "Tentu ada alasannya, Yang pertama, kalau aku kerja didekat rumah takutnya aku gak bisa berpakaian seperti ini. Apalagi menggunakan cadar.." jawab Al menunjuk baju gamis dan cadarnya. "Yang kedua, karna aku senang bekerja disini, dengan bekerja disini aku bisa menambah pengetahuanku.." lanjutnya dengan tatapan serius.


Shofi mangnggukan kepala paham. Dia Membenarkan perkataan Al karna dia mengingat kembali, cerita prihal Al dari Oktavia, sahabat karib Al sejak SMA.


"Nyonya sudah sampai!" seru Pak Usman didepan sebuah gak yang tidak dapat dimasuki mobil. Al dan Shofi melihat kearah gang tersebut.


"Al, aku pamit ya. Makasih udah nganterin.." ucapnya. Dia kemudian menjabat tangan lalu cipika dan cipiki dengan Al. Tak lupa juga dia mengucapkan makasih pada Pak Usman.


"Sama-sama Kak.." balasnya dengan senyum ramah. Shofi lalu keluar. Dia melambaikan tangan kearah mobil Al kemudian memasuki gang yang terlihat masih ada orang yang lewat.


############################################################


Maaf ya jika banyak typo...


Jangan lupa coment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.


Dan tinggalkan tanda hati.


Jangan lupa vote yang teman-teman.


Saya juga nulis cerita yang judulnya UHIBBUKI jangan lupa mampir ya.....


Terimakasih.