
Rencana yang Salah
Happy Reading!!!
Bi Hilda melihat kearah Al. Dia terlihat memikirkan sesuatu yang membuatnya diam ditempat. Al yang sedang asik menikmati puding, akhirnya menyadari keberadaan Bi Hilda yang masih saja berdiri didekat ranjang.
"Bibi, ayo duduk! Kok berdiri aja.." seru Al. Dia menunjuk sampingnya yang masih lega. Bi Hilda tersadar akan lamunannya lekas duduk disamping Al yang masih menikmati puding mangga bikinannya.
Bi Hilda melihat kearah Al lagi, seperti ingin mengutarakan pikirannya. "...A...Nyonya, Bibi boleh nanya?" Al melihat kearah Bi Hilda yang menatap kearahnya.
"Boleh! Memang Bibi mau nanya apa?" katanya Al lalu memasukkan kembali sesendok puding mangga ke dalam mulutnya.
"...Nyonya semalam, dandan...seperti itu karna tidak bisa dandan atau se...sengaja.." kata Bibi pelan. Dia terlihat gugup, karna khawatir Nyonya Nya marah. Al terlihat menyegir lalu menyuap kembali puding kedalam mulutnya.
"Hehehe.. Al sengaja, Bi!" jujur Al dengan cengiran di wajahnya. Bibi mengerutkan dahi mendengar pernyataan Al.
"Maksud Nyonya?" tanya Bibi tak paham maksud perkataan Nyonya Nya.
" Jadi gini Bi, Al itu sengaja dandan seperti badut! Soalnya, Mas Mikael yang tampan dan masih muda pasti sering di dekati atau melihat wanita cantik. Sedangkan wanita layaknya badut, dia pasti jarang melihatnya atau mendekatinya.." jelas Al. Bibi mengangguk-anggukkan kepalanya dengan wajah polos dan bibir berbentuk 'o'.
"Bibi pasti kaget ya, melihat Al yang seperti badut dengan piyama kodok.." kata Al kembali dengan tersungging senyum di kedua sudut bibirnya. Bibi menganggukkan kepala semangat
"Iya Nyonya. Bibi kira tadi malam siapa? Kok bisa ada badut nyasar ke kamar Nyonya!" guyon Bibi membuat pecah tawa di kamar Al.
Bi Hilda menyeka air mata yang ada di sudut matanya. "Oh iya Nyonya, semalam Bibi sempat kaget loh. Liat Nyonya yang duduk di lantai kamar mandi. Bibi pikir itu termasuk rencana Nyonya!" ungkap Bibi.
"Enggak mungkin Bi. Itu Al jatuh beneran!" sanggah Al dengan raut wajah serius. Bi Hilda sampai kaget di buat wajahnya. "Niat Al ke kamar mandi mau buang air kecil, disitu Al gak sengaja buat jatuhin sabun batangan Al. Alhasil, Al jatuh karena mengabaikan sabun itu.." jelasnya. Dia menyesali sikap menyepelekannya.
Rencana awalnya, supaya suaminya mau ke kamarnya. Al memang berniat pura-pura jatuh lalu berteriak. Setelah itu dia akan mengatakan kakinya terkilir agar suaminya mau menggendongnya ke kasur. Sayangnya malah Al jatuh beneran di kamar mandi, menghasilkan kakinya benar-benar terkilir.
"Terus kalau tadi malam tidak terjadi hal itu. Apa Nyonya akan melanjutkan rencana awal?" tanya Bi Hilda kembali.
Al terlihat diam. Dia mengapit sendok yang ada dimulutnya. "...iya Bi!" ucapnya polos. "Tapi...kalau Al tau dapat balasannya kayak gini Al gak mau Bi. Seharusnya kalau Al mau menarik perhatian Mas Mikael tidak perlu bohong.." ucapnya yang merasa bodoh akan rencananya.
"Tapi Bi, Al pasti bisa membuat Mas Mikael tertarik sama Al!" yakinnya. Dia lalu memasukan suapan terakhir kedalam mulutnya. Sekarang piring yang dipegangnya telah bersih.
Bibi melihat kearah piring Al yang sudah kosong. "Nyonya mau di tambah pudingnya?" tawar Bibi yang melihat Al sangat menikmati pudingnya.
"Mau Bi, ...tapi nanti. Sekarang Al udah kenyang.." sahut Al mengelus perutnya.
Bi Hilda mengambil Alih piring yang Al pegang lalu beranjak berdiri. Dia yang sedang berjalan menghentikan langkahnya ketika mendengar perkataan Al.
"Bi, pas pintu kebuka. Al kira tadi siapa, soalnya gak ada orang saat Al melihatnya kearah pintu.." kata Al. Dia lalu menaikkan pelan kaki kanannya kemudian kaki kirinya keatas kasur.
Bi Hilda terdiam di tempatnya. Dia melihat kearah Nyonya Nya yang sedang membenarkan posisi duduknya.
"...ee...Hehehe iya Nyonya.." balas Bi Hilda dengan gugup. "Bibi balik ke dapur dulu ya Nyonya!" izin Bi Hilda lalu keluar kamar. Al hanya menganggukkan kepala.
###
Pagi ini suasana mendung meliputi Ibu kota. Rintik-rintik hujan sudah turun sejak subuh. Udara dingin menyergap tubuh mengundang setiap orang agar kembali ke kasur yang empuk disertai selimut yang tebal.
Beda dengan Pria satu ini yang tidak tergoda sedikitpun untuk tidur kembali hanya karna cuaca yang dingin. Dia berfikir itu merupakan hal yang sia-sia jika bermalas-malasan
'Cklek' suara pintu kamar mandi terbuka.
Udara yang dingin di luar dan AC yang menyala menjadi satu, membuat ruangan sangat dingin. Mikael baru keluar kamar mandi dengan tubuh yang masih sedikit basah merasakan udara dingin menjalar ke seluruh tubuhnya.
Dia segera mengeringkan tubuhnya lalu mengambil pakaian kerja untuk dikenakannya. Mikael melirik kaca jendelanya yang bening dan terlihat berempun. Dia termenung menatap hujan diluar sana. Mengingatkan kembali kejadian lampau.
Mikael memejamkan matanya lalu menarik nafas kemudian menghembuskan perlahan. Dia sudah kembali fokus kepikiran nya saat ini.
Selesai memakai pakaian dia lekas membawa tas kantornya menuju ruang makan yang layaknya bar mini. Disana sudah terdapat Pak Usman sedang menyiapkan sarapan pagi berupa kopi dan roti panggang yang berisi selai.
Mikael langsung mendudukkan tubuhnya dikursi panjang sepinggan lalu meletakkan tasnya disampingnya bangku yang kosong.
Sejak tinggal di apartemen Mikael biasanya hanya akan meminum kopi yang dibuatnya sendiri lalu berangkat kerja dengan mengendarai mobil sendiri. Tapi karena hari hujan Mikael menyuruh Pak Usman untuk datang ke apartemennya untuk mengantarnya ke kantor, karena saat ini dia sedang tidak ingin mengendarai mobil.
###
Di kantor
Pak Usman seperti biasa memarkirkan mobil di basement. Dia berlari keluar lalu membuka pintu tempat Mikael duduk.
Mikael meraih tas yang disampingnya lalu melangkah turun dari mobilnya. Dia menuju kearah lift begitu juga Pak Usman.
Sampainya di ruangan Mikael. Pak Usman masih setia mengikuti Mikael sampai dia duduk di kursi. Sedangkan Pak Usman berdiri didepan ruangan memperhatikan Mikael.
Mikael meraih tumpukan berkas yang ada diatas mejanya. Dia melirik sekilas kearah. Pak Usman yang masih setia berdiri didepan.
"Ada yang ingin Pak Usman katakan?" tanya Mikael dengan mata masih kearah berkas yang dipegangnya.
"Tidak, Tuan.." jawabnya menundukkan kepala.
"Kalau begitu Pak Usman boleh pergi!" perintah Mikael yang diangguki Pak Usman yang keluar dari ruangannya.
###
"Hufff.. dinginnya!" seru Al sambil menggosok-gosokan kedua telapak tangannya dengan cepat lalu menaruhnya di pipi wajahnya.
Al berjalan dengan pelan menuju meja riasnya. Kakinya yang terkilir masih sedikit terpincang-pincang saat berjalan. Setidaknya kakinya sudah jauh lebih mendingan dari pada beberapa hari yang lalu, yang harus membuatnya melompat-lompat saat berjalan dan sholat dalam keadaan duduk. Setidaknya saat ini Al bersyukur bisa berjalan dan sholat dengan berdiri walau kadang terasa sakit.
Udara dingin dari AC di kamarnya disertai suara hujan diluar membuat Al melirik kasurnya yang sudah dirapikan nya tadi pagi.
"Pasti nyaman kalau sekarang tidur sambil selimutan!" angannya.
Segera Al menggelengkan kepalanya, kemudian mengambil remote AC yang ada di meja riasnya untuk mematikannya.
###
Di meja makan, Bi Hilda seperti biasa sudah menyajikan sarapan pagi. Awalnya saat Al baru tinggal. Bi hilda hanya menyiapkan segelas susu dan roti untuk sarapannya. Al selalu menikmatinya walaupun itu tidak benar-benar membuatnya kenyang.
Sampai akhirnya saat pagi-pagi Bi Hilda yang bangun kesiangan lupa menyiapkan sarapan. Dia melihat Al sudah makan dengan makanan seadanya, telor ceplok dan nasi beserta timun. Sejak melihat itu Bibi tau kalau Al terbiasa sarapan dengan nasi.
Al segera menyantap sarapannya dengan lahap. Udara dingin membuat perutnya cepat keroncongan. Tampa butuh waktu lama, Al sudah menyapu bersih makanan diatas piringnya.
"Bi, Al jalan dulu ya.." izinnya setelah meneguk segelas air putih hangat. Dia menyelempangkan tas hitamnya di pundak.
"Nyonya tidak menunggu Pak Usman?" tanya Bi Hilda.
"Tidak Bi, Al naik bis aja. Lagi pula tadi kata Bibi Pak Usman sedang mengantar Mas Mikael.." jawab Al.
"...Eee.. gimana kalau Nyonya diantar Pak Mamat?" usul Bi Hilda.
"Memangnya Pak Mamat Bisa menyetir Bi?" tanya Bibi memastikan.
"Tentu bisa Nyonya.."
"Apa tidak merepotkan Pak Mamat Bi, jika mengantar Al.." ucap Al merasa tak enak.
"Tentu tidak Nyonya! Malah Pak Mamat senang jika disuruh mengantar.." balas Bi Hilda meyakinkan Al.
Lalu Bibi menghampiri Pak Mamat yang sedang berjaga di ruangan yang ada di halaman rumah.
(Jangan lupa vote ya)
############################################################
Maaf ya jika banyak typo...
Jangan lupa coment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.
Dan tinggalkan tanda hati.
Jangan lupa vote yang teman-teman.
Saya juga nulis cerita yang judulnya UHIBBUKI jangan lupa mampir ya.....
Terimakasih.