
Happy Reading!!!
Tik tik tik
Jam sudah menunjukan pukul setengah empat sore.
Didalam ruangan, nampak seorang Pria sedang berkerja didepan laptopnya, sesekali matanya melihat kearah jam.
'Tak tik tak tik tik'
"Hahhhhh...akhirnya selesai juga.." ucap Mikael dengan lega.
Dia merenggangkan tubuhnya terlebih dahulu lalu segera dialihkan matanya kearah HPnya yang sejak tadi di silent nya.
Pria itu tersenyum, mendapati pemandangan sebuah foto Wanita yang mendekap sebuket bunga.
Itu adalah foto Al, siang tadi yang diambil Pak Usman untuk dikirim pada Mikael.
Seandainya, pekerjaannya hari ini tak banyak. Dia pasti akan meninggalkan kantor agar bisa menghadiri acara wisudanya, tapi sayangnya pekerjaannya tak bisa ditunda.
Mikael menggeser slide foto selanjutnya, dirinya memperhatikan gambar tersebut yang terdapat Al dengan lima orang Pria dan seorang Wanita.
Mikael memperhatikan wajah tiga Pria yang tak pernah dilihatnya.
"Siapa mereka? Apa teman kuliahnya?" batinnya bertanya.
Tak lama, saat melihat foto itu. Datang sebuah pesan yang berasal dari Al, "Terima kasih Kak, hadiah bunganya. Bunganya sangat cantik dan harum.."
Tulis pesan tersebut.
Membaca pesan itu, Mikael seketika kembali tersenyum. Dia lalu membalas pesan Al.
"Syukur deh kalau kamu menyukainya.."
"Sekarang kamu masih di kampus?"
Mikael lalu mengirim pesan tersebut. Matanya terus menatap kearah HPnya menunggu balasan.
Tak lama datang balasan dari Al yang membalas.
"Al tidak di kampus Kak.."
"Ini sekarang lagi jalan-jalan di mall XXX sama Via.."
Usai membaca pesan itu, Mikael yang berniat pulang lebih awal, lantas mengurungkannya. Lantaran Al sedang tak ada di rumah.
"Yasudah, jaga dirimu ya dan jangan terlalu cape.." ketik Mikael lalu mengirimnya.
Dia lalu meletakkan HPnya dan duduk terdiam melihat berkas yang sudah dikerjakannya.
"Sepertinya, gua sekalian aja mengerjakan pekerjaan besok.." batinnya, yang lalu menelpon Alula agar menaruh berkas yang belum di baca kemejanya.
# # #
Usai acara foto-foto itu, Via mengajak Al jalan. Karna pasalnya, sudah lama mereka tida meet time bersama.
Karna itu, akhirnya mereka memutuskan jalan berdua ke mall, diantar oleh Pak Usman.
Di mall XXX
Sampainya di mall, mereka lebih memilih makan terlebih dahulu untuk mengisi energi.
Usai itu, mereka lalu jalan-jalan melihat barang-barang yang di pajang di mall.
Dari alat fitnes, tas-tas branddid, pakaian, boneka dan lainnya.
Sampai, kaki Via berhenti pada toko pakaian anak-anak.
Dari luar toko, dia memperhatikan pakaian kecil dan lucu itu.
Al yang saat berjalan menyadari dirinya sendiri lantas menghentikan langkahnya. Dia lalu kembali berjalan kearah Via yang masih terdiam.
Dihampirinya Wanita itu, lalu melihat kearah pandangan ke baju-baju lucu yang tergantung.
Saat melihat baju-baju itu, Al juga terdiam. Dia lalu memegang perutnya yang masih rata.
"Lucunya!" Serunya.
"Tapi, belum saatnya.." lanjutnya.
Al kembali melihat Via yang masih terdiam.
"..ayo kita masuk!" ajak Al yang menyenggol Via agar tersadar.
Akhirnya, Via mengerjapkan mata. Dia tersadar sedang berdiri yang berdiri di depan pakaian anak-anak itu.
"..maaf Al.." ucap Via tersenyum malu.
Al menggelengkan kepala sambil tersenyum, "Tidak apa-apa,"
"Ayo kita masuk!" ajaknya.
Didalam toko, mereka lalu menuju ke pakaian anak.
Disana, mereka tersenyum-senyum sambil melihat pakain lucu untuk bayi.
"Al! Pakaian ini lucu bangat.." ucapnya memegang pakaian anak berumur tujuh bulan.
"..iya lucu bangat.." balas Al yang ikutan memegang pakaian itu.
Usai melihat pakain tersebut, mereka kembali berjalan ke sisi lain pakaian bayi.
Lalu tatapan Al berhenti pada pakain bayi untuk Pria yang sangat lucu karna bentuknya bulat seperti balon.
"Vi, Via! Lihat! Pakaian ini, lucu bukan?" tunjuknya kearah Via.
Via yang melihatnya, nampak bingung. Dia mengerutkan dahi melihat pakaian itu yang nanti akan menyulitkannya untuk jalan.
"..iya..lucu, tapi bukannya itu akan menyulitkan untuk berjalan.." balas Via.
Al terkekeh, dia mengetahui kalau pakaian yang ditunjuknya akan menyulitkan bayi untuk berjalan tetapi dia merasa pakaian yang dipegangnya sangat lucu.
Usai puas melihat-lihat mereka melanjutkan berjalan-jalan kembali ke mall.
Tak lama, Al merasakan perutnya lapar. Padahal baru sejam, sejak dirinya makan.
Al lantas melihat kearah Via yang masih sedang berjalan melihat kearah toko-toko.
"Vi.." panggilnya pada sosok Wanita disebelahnya.
"..iya.." balasnya menengok kearah Al.
"..kamu lapar gak? Kita beli roti yu.." ucapnya.
Via terdiam sejenak, lalu berkata. "..ayo, aku juga lapar.." setujunya.
Mereka lalu membeli roti yang kemudian memilih duduk sambil menikmati roti tersebut.
Saat makan, Via melirik kearah Al yang nampak menikmati roti yang dimakannya.
Via nampak bingung, niat sebenarnya mengajak Al pergi karna ada yang ingin dikatakannya.
Dengan memberanikan diri, dia memanggil sahabatnya.
"..Al..ada yang ingin aku katakan.." ucapnya.
Al menengok kearah Via lalu memiringkan kepalanya sedikit bingung.
"...aku ingin bilang, kalau sebenarnya.." ucap Via yang terputus digantikan dengan gesture nya.
Al yang melihat gerakan tubuh Via yang mengelus perutnya pelan.
"Kamu hamil!"
Via tersenyum lembut. "..iya.."
"Sudah berapa minggu?" tanya Al yang merasa bahagia.
"..sudah delapan minggu.." jawabnya sambil mengelus perutnya kembali.
Al kaget, dia tak menyangka kandungan Via tak jauh berbeda dengannya.
Al lalu mengingat Via yang makannya nampak seperti biasanya.
"..walau baru dua bulan, makanmu seperti biasa. Apa kamu tak ada gejala awal ke hamilan?"
Via menggelengkan kepalanya.
"Iya, aku tidak merasa mual sama sekali.." setujunya.
"Sebenarnya, aku baru mengetahui hamil beberapa hari yang lalu, karna tak kunjung datang bulan. Jadi aku coba tes pack, yang hasilnya positif.." jelasnya.
Al ikut tersenyum senang melihat sahabatnya, tak lama senyumnya menghilang.
"..aku juga harus menceritakan kehamilanku.." batin Al, mengingat yang mengetahui dirinya hamil hanya suaminya.
"...Vi, aku juga ingin mengatakan sesuatu.." ucap Al yang terpotong.
"..aku juga sedang hamil.." lanjutnya menatap mata Via.
Via lantas matanya terbelalak, dia tak menyangka mendengar jika Al juga sama dengannya. Bibirnya kembali tersenyum dengan bahagia.
"Benarkah Al? Sudah berapa minggu?"
"Hehehe, sudah tiga belas minggu.." jawab Al.
"Benarkah?" jawab Via tak menyangka, dia lalu memegang perut Al yang masih datar tetapi kencang.
"MasyaAllah, barakallah Al.." ucap Via.
"Barakallah juga, Via.." balas Al.
* * *
Di rumah
Al merebahkan tubuhnya diatas kasur, (ia merasa tubuhnya terasa lelah lebih cepat saat hamil.
Bibirnya menyunggingkan senyum, mengingat pembicaraannya dengan Via tadi.
Bisa-bisanya, dirinya menjodoh-jodohkan janin dalam perutnya yang tak tau apa jenis kelaminnya.
Tak lama, matanya mengantuk Al lalu memejamkan matanya sejenak. Yang tak lama dia terbuai lalu tertidur.
Z z z
Dalam tidurnya, Al merasakan buaian yang mengelus pipinya yang lalu beralih ke perutnya yang dielus dengan lembut.
Tangan orang disebelahnya masih mengelus perutnya, tapi dia juga merasakan tangan lainnya yang menyentuh jidatnya yang tak lama terasa kecupan di jidatnya.
Al lantas membuka matanya, tatapannya langsung bertatapan dengan mata orang yang sedang mengecupnya.
"Kak El!" seru Al.
Pria itu lalu melepaskan bibirnya dari Al lalu tersenyum kearah Wanita dibawahnya.
"Selamat ya!" serunya sambil tersenyum.
Al yang melihat senyum itu lantas merasakan aura panas di pipinya.
"Kak El.." ucap Al yang merasa malu ditatap dari atas. Al lalu menutup wajahnya dengan tangannya.
Mikael mengerutkan dahi melihat Al yang menutup wajahnya.
"Kamu kenapa?" tanya Mikael yang menggeser tangan Al.
"..aku malu.." ucapnya pelan, menatap malu-malu kearah Mikael.
Pria itu yang mendengarnya tersenyum lebar. Dia lalu semakin mendekatkan wajahnya kearah Al untuk mengerjainya.
Wanita itu lantas menutup wajahnya kembali membuat Mikael tertawa.
"Hahahaha.." pria itu lalu menyingkirkan tubuhnya dari Al.
Al segera mendudukkan tubuhnya. Dia kembali melihat kearah suaminya.
"Kak El, baru pulang.." ucapnya karna melihat pakaian rapi suaminya yang tadi pagi dia lihat.
"Iya.." balas Pria itu.
Wanita itu lalu melihat kearah jam di kamarnya yang menunjukan pukul setengah tujuh.
Matanya lalu membulat, dia tak menyangka akan ketiduran.
"Kak, Al belum solat magrib.." ucapnya yang bergegas berdiri.
Mikael yang melihat Istrinya tak hati-hati lalu membantu Wanita itu turun dari ranjang.
"Pelan-pelan, masih ada waktu.." ucapnya.
"..maaf Kak.." balas Al yang tak terburu-buru lagi.
"Aku juga belum sholat.." ucap Pria itu kembali.
"..kalau begitu, kita sholat bareng ya.." ucapnya menatap Mikael.
"Iya.." balasnya yang ikut mengarah ke kamar mandi.
* * *
Usai makan malam, sepasang pasutri itu memilih ke kamar karna bersiap-siap untuk sholat Isya.
Selesai berwudhu, mereka menjalankan sholat secara berjama'ah.
Al mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan suaminya.
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.." ucap Mikael yang menengok ke kanan lalu ke kiri, diikuti oleh Al sebagai makmum.
Mikael lalu berdzikir dan berdoa, yang diaminkan oleh Al.
Usai berdo'a, Al segera menyalim suaminya. Dia lalu beranjak dari duduknya kemudian melepas mukenanya.
Mikael yang sudah melipat sajadahnya, dia menghampiri Al yang sedang melipat mukena.
Pria itu lalu memeluk Al dari belakang.
"Selamat ya!" seru Pria itu didekat kuping Al.
Bulu kuduk Al terasa merinding, mendapat pelukan dadakan suaminya serta hembusan nafas didekat telinganya.
"..makasih Kak.." balasnya pelan.
Pria itu lalu membalikkan badan Al, kemudian mendudukan tubuh kecil itu dipinggir ranjang.
"Apa ada sesuatu yang kamu inginkan, sebagai hadiah sidangmu?" tanya Pria itu, menatap mata Al tajam.
"..tidak ada kok Kak, cukup sebuket bunga saja.." ucapnya melirik kearah bunga yang terpajang diatas meja dekat jendela.
Mikael ikut melirik kearah buket bunga itu. Dia lalu kembali melihat kearah Al.
"Buket itu bukan hadiahku, tetapi permintaan maaf Karna tak bisa datang.." jelas Pria itu meyakinkan Al.
"..jadi, aku ingin mengabulkan keinginanmu.." lanjutnya menatap kedalam mata Al.
Al nampak diam memperhatikan raut wajah serta tatapan mata Mikael. Wanita itu lalu menyunggingkan senyum kemudian berkata, "..benar, aku boleh minta apapun?" tanyanya meyakinkan Mikael.
Pria itu menganggukan kepala semangat mengiyakan perkataan Al.
"..kalau begitu..aku ingin tidur sekamar dengan Kak El.." beritahunya dengan senyum mengembang.
Mikael mengerutkan dahi mendengarkan permintaan Istrinya.
"Maksudmu? Bukannya kita sudah tidur sekamar?" tanya Mikael.
"..i..iya kita sudah sekamar, tapi Al menginginkan kita benar-benar sekamar. Tidak seperti sekarang.." jelasnya.
Pria berambut panjang itu, berfikir mengartikan perkataan Wanita didepannya.
Seketika dia mengingat, walau dirinya dan Istrinya tidur sekamar, tetapi setiap mengganti baju Istrinya selalu balik ke kamarnya.
Pria itu tersenyum, lalu mengelus kepala Al.
"Tanpa kamu minta, aku pasti akan mengabulkan permintaanmu itu.." beritahunya.
"..makasih Kak.." balas Al malu.
"..jadi, apa kamu tidak ada permintaan lain selain sekamar dengan suamimu ini?"
Al menggelengkan kepalanya semangat yang lalu tiba-tiba gelengan kepala itu memelan lalu berhenti.
Raut wajah Wanita itu juga berubah, seperti mengingat sesuatu.
Mikael yang menyadari perubahan wajah Al lantas kembali bertanya.
"Apa ada sesuatu yang kamu inginkan?"
Wanita itu lalu menatap mata suaminya dengan anggukan kepala semangat.
Terimakasih sudah membaca, jangan lupa untuk meninggalkan tanda...
Salam hangat SMIM
Baca terus ya ini beberapa episode terakhir sebelum tamat.
Jangan lupa komentarnya berkaitan cerita...
PS: Maafken SMIM yaaa, membuat konflik baru.
Padahal sudah mau ending hahaha...