
Happy Reading!!!
"Kemana dia pergi?" kata Mikael bertanya-tanya. Dia meletakkan buku di genggamannya keatas meja lalu menyenderkan tubuhnya kesandaran kursi yang didudukinya.
Sejak pulang tadi, Mikael terus melihat kearah luar rumah. Dia menunggu istrinya yang tak kunjung pulang.
Padahal dirinya langsung pulang dari apartemennya karna ingin melihat istrinya. Sayangnya sampai di rumah Wanita itu tak ada.
Mikael kembali mengingat kejadian beberapa hari ini. Dirinya yang selalu berhasrat setiap kali melihat Al. Padahal Wanita itu sendirinya tak menggoda, dia hanya bersikap seperti biasa.
Tetapi sisi liar Mikael yang sudah bebas terus menginginkan berc**a dengan istrinya. Seharusnya tak masalah melakukannya, tapi mengingat saat pertamakali mereka melakukannya. Dirinya tak bisa mengontrol saat melakukannya, membuatnya takut menyakiti Wanita itu kembali.
"Haaahh.." Pria itu menghembuskan nafas panjang lalu memejamkan mata sejenak. Tak lama dia membuka kembali kedua kelopak matanya.
Dirinya lantas berdiri berjalan kearah meja kecil disamping ranjangnya. Dia mengambil benda eletrik rok**nya.
Setelah itu dia melangkah ke beranda kamarnya. Disana dia menghisap benda itu sambil menatap kearah jalanan depan rumahnya.
Saat asik menghisap benda elektriknya. Dia mendengar suara dari bawahnya.
"Assalamu'alaikum Pak.." salam Wanita itu ramah pada Pria di halaman.
"Wa'alaikumsalam Nona Al.." balas Pria itu.
Mikael sangat mengenal suara itu yang tak lain berasal dari istrinya dan juga Pak Mamat. Lantas dia kembali mendengarkan pembicaraan mereka.
"Kak El sudah pulang daris tadi, Pak?" tanya Wanita itu kemudian.
"Iya, Tuan sudah pulang sejak tadi.." jawab Pria itu.
Pria yang menguping itu tersenyum. Dia senang mendengar Wanita dibawah menanyakan prihal tentangnya.
Lantas Pria itu menghentikan aktivitasnya lalu berjalan masuk ke kamarnya.
Dia menaruh alat elektriknya diatas meja dekat jendela kamarnya lalu duduk dikursi.
Sekitar dua menitan duduk dia beranjak dari posisinya lalu berjalan pelan kearah pintu.
Diluar kamarnya, Pria itu melangkah kearah tangga.
Tepat diujung tangga bagian atas. Dia melihat sosok Al yang sedang menaiki tangga.
Wanita itu yang awalnya kepalanya tertunduk terangkat saat menyadari dipijakan tangga terakhirnya terdapat sosok seseorang. Dia lantas mengangkat kepalanya lalu terdiam melihat sosok Mikael yang berdiri didepannya.
"Kak.." sapanya. Mikael hanya berdehem, tetapi dia memperhatikan Wanita itu dari atas sampai bawah termasuk tas tangan yang dipegangnya.
Mikael sebenarnya penasaran kemana istrinya pergi tadi. Tapi dia jaim untuk bertanya prihal itu.
"...Kakak sudah makan siang?" tanya Wanita itu kemudian.
"...belum.." jawab Mikael, karna memang sejak pagi perutnya hanya baru diisi kopi hitam.
"..Al juga belum makan," ucapnya.
"Ayo kita makan ke bawah.." ajak Al kemudian.
Mikael nampak diam. Dia berfikir sejenak sambil memperhatikan Al.
"..apa kamu suka masakan turki?" tanya Mikael tiba-tiba. Al hanya mengedipkan mata bingung.
"Suka atau tidak?" tanyanya kembali.
"..sepertinya suka, Kak. Hehehe.." jawab Al.
"Yasudah, kalau begitu bersiaplah kita akan ke Resto.." ucap Mikael yang lalu pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian.
Sedang Al masih nampak bingung dengan suaminya. Tapi dia tak ambil fikir, dia lantas berjalan ke kamarnya lalu menaruh tas tangannya di dalam kamar setelah itu dia kembali keluar.
Dia berjalan kelantai satu menuruni tangga lalu melangkahkan kakinya kearah dapur. Al mengelus perutnya yang keroncongan sejak sampai di halte perumahannya tadi.
Didapur, dilihatnya Bi Hilda sedang menyiangi sayuran. Al tersenyum pada Wanita itu begitu juga dengannya.
Al berjalan mendekat kearah kulkas lalu membukanya kemudian mengambil 2 buah apel disana.
"Nyonya Al lapar?" tanya Bi Hilda.
"Iya.." balasnya dengan cengiran.
Bi Hilda melihat masakannya yang bahkan belum seperempat jadi. Lalu dia melihat kembali kearah Nyonyanya.
"Nyonya Al, ingin saya buatkan sesuatu terlebih dahulu sebagai pengganjel.." tawar Bi Hilda.
"...tidak perlu Bi, buah sudah cukup sebagai pengganjel. Terus Bi Hilda tak perlu buru-buru masak soalnya Kak El mengajak makan diluar.." ucap Al.
"..Nyonya akan makan di luar bersama Tuan.." ucap Bi Hilda mengulang perkataan Al. Wanita didepannya menganggukan kepala. Wanita setengah baya itu tersenyum melihat keakraban Nyonya dan Tuannya yang semakin dekat.
"Bi, Al ke ruang TV dulu ya.." pamitnya setelah mengambil piring, pisau buah dan juga segelas air. Bi Hilda menganggukan kepala.
Al kemudian berjalan kearah ruang TV lalu duduk disana. Dia menyetel saluran acara sambil memotong buah apel ditangannya.
Tak lama, Mikael turun dari lantai dua. Dia melihat istrinya yang sedang memakan buah apel yang sudah terpotong diatas piring.
Al yang menyadari kehadiran suaminya lantas berdiri menghampirinya. Dia berjalan sambil membawa sepiring apel yang sudah dipotongnya.
"Kita makan apel dulu ya, sebelum pergi.." ucap Al sambil tersenyum manis.
"..khem..baiklah.." ucapnya. Mikael mengiyakan ajakan Wanita itu yang selalu terlihat sangat manis.
Mereka lalu jalan ke sofa, kemudian duduk disana. Al dan Mikael menyantap buah itu sambil menonton acara televisi.
Al yang melihat suaminya sudah selesai memakan buah, lantas memberikan segelas air yang dibawanya tadi kearah suaminya.
"Ini Kak.." sodor Al.
Mikael lantas menerima minum tersebut lalu menyisakan setengahnya.
"Sudah Kak.." ucap Al. Pria itu menganggukan kepala lalu memberikan gelas yang dipegangnya ke tangan Al.
Tanpa segan-segan, setelah memegang gelas. Wanita berhijab panjang itu meminum dari gelas yang di pegangnya. Bibirnya menyentuh, permukaan gelas yang Mikael sentuh tadi.
Melihat hal itu, Mikael menelan slavinanya. Matanya menatap Al yang sedang meneguk air.
Al yang sedang minum, menyadari akan tatapan suaminya. Dia lantas menyudahi minumnya. "Kenapa Kak?" tanya Al. "Kak El ingin minum lagi?" lanjutnya.
"..tidak.." jawabnya langsung. Pria itu lalu beranjak dari tempatnya. Dia berjalan kearah pintu depan.
Sedang Al, menatap punggung suaminya dengan kedua alisnya terangkat. Dia lalu beranjak juga dari posisinya kemudian pergi kedapur untuk menaruh piring dan gelas yang dipakainya tadi.
###
Mobil yang dikendarai Mikael, membawa mereka pergi kesalah satu Resto yang ada di Jakarta. Di tempat itu mereka menghidangkan makanan khas Turki yang terkenal maknyos.
Resto
Sampainya di Resto yang terlihat mewah dan mahal. Mikael memarkirkan mobil cepernya, setelah itu mereka baru masuk kedalam.
Didalam, Mikael mencari posisi tempat yang jarang di datangi orang. Jadi dia memilih dipojokan yang terlihat sepi.
Alasan lain dia memilih tempat itu agar Al saat makan dapat membuka cadarnya.
Setelah duduki tempatnya, datanglah seorang pelayan Pria berperawakan tinggi. Wajahnya seperti orang asing.
Dia memberikan menu pada Al dan juga Mikael. Setelah memilih beberapa menu, seperti Hummus menu pembuka dan hidangan utama seperti Borek, Kofte dan Baklava.
Pelayan itu lalu menulis pesanan pasangan tersebut lalu meninggalkan Al dan juga Mikael di mejanya.
Mikael yang sejak tadi masih penasaran kemana Al pergi, lantas membuatnya memperhatikan Wanita didepannya. Al yang dilihati merasa gugup.
"..ada yang ingin Kak El katakan?" tanya Al karna sejak tadi suaminya terus menatapnya.
Mendengar perkataan Al, Mikael segera mengalihkan pandangannya kearah lain lalu berkata. "Tidak ada.." balasnya.
Al mengedipkan kedua matanya, dia nampak bingung dengan sikap suaminya ini. Walaupun Al memang tipe yang peka. Tapi, jika suaminya bersikap seperti ini juga membuatnya bingung.
Al lalu terbesit perkataan yang tiba-tiba terlintas di fikirannya. "...Kak El, ingin tahu ya, kemana tadi aku pergi!" tebak Al yang terdengar candaan.
Mikael menelan slavinanya lalu menopang dagunya dengan tangan kirinya. "..iya.." ucapnya pelan.
Al mengedipkan kedua matanya tak percaya, dia padahal hanya asal menebak. Dia tak menyangka jawaban Pria didepannya.
"..hemm..tadi Al pergi ke rumah teman Al yang namanya Via.." beritahunya.
"Temanmu Via!" seru Mikael.
"Iya, teman Al. Namanya Via.." angguk Al.
"Dia yang tinggal di apartemen Arkanu.." lanjut Al.
Mikael lalu terbesit dengan Prempuan yang tadi pagi dilihatnya. "Yang dia maksud Via, Wanita itu!" batinnya mengingat Wanita apatemen sebelah yang dilihatnya tadi pagi.
"...jangan-jangan saat aku pulang tadi, Al sudah ada disana.." tebaknya dalam hati.
Al nampak senyum-senyum menatap kearah suaminya. Dia merasa sangat senang dengan sikap ingin tahunya yang jarang di ungkapkannya.
Tak lama,Pelayan yang tadi mencatat menunya kembali datang. Dia membawa makanan pesanan Al dan juga Mikael. Usai menghidabgkan diatas meja, dia lalu pamit.
Al dan Mikael lantas segera menyantap hidangan yang nampak menggiurkan itu. Mereka menikmati hidangan dengan hikmat.
E
A
T
H
Karna pas sekali saat ini perut mereka sedang kosong yang artinya sangat lapar, membuat mereka menghabiskan makanan dengan cepat.
'Krietttt!' suara pintu terbuka. Dari pintu bertuliskan open tersebut masuklah laki-laki dan prempuan yang terlihat seperti pasangan.
Si Pria nampak sedang menghampiri salah seorang pelayan. Sedangkan si Wanita nampak mengedarkan pandangan mencari tempat duduk.
Ditemukannyalah tempat duduk yang menurutnya nyaman. Dia lantas melangkah menghampiri tempat itu.
Sampai dibangku pilihannya, dia langsung mendudukinya. Dia lalu menengok kearah sampingnya kemudian melihat kearah Pria yang bersamanya. Beberapa detik kemudian dia kembali menengok kearah sampingnya.
Wanita itu mengedipkan matanya beberapa kali. Dia memastikan orang yang dilihatnya adalah orang yang dikenalinya, karna wajah yang dilihatnya saat ini sangat mirip dengan seseorang yang diketahuinya. Walaupun penampilanta berubah.
Lantas dia mendekat kearah Wanita itu. "Al!" serunya pelan.
Al lantas menengok kearah sampingnya. Dia kaget melihat orang yang memanggilnya, yaitu seorang Wanita berambut pendek sebahu dia mengenakan celana lepis dan kaos biru.
"Lely!" ucap Al tanpa sadar. Dia tak menyangka akan bertemu dengan seseorang yang dikenalnya. Terutama Wanita yang bernama Lely ini.
"Sudah kuduga kamu Al!" serunya. Wanita itu lalu melihat penampilan Al kembali yang berubah drastis.
"Ternyata rumor yang beredar benar ya. Ternyata kamu dikeluarkan dari klub karna memilih berpakaian seperti ini.." ucap Wanita itu blak-blakan.
Al hanya diam tak menjawab, dia hanya memberikan senyuman ramah. Sedang Mikael melihat kearah Al, dia merasa wajahnya terlihat tak nyaman dengan orang yang tiba-tiba nimbrung ini.
Wanita berambut pendek itu lalu melihat kearah Pria tampan yang ada didepan Al.
"Wahhh siapa Pria ini?" tanya Wanita itu sok akrab kearah Al.
"...ini Kak El, suamiku.." jawabnya masih dengan senyum ramah.
"Suami!" serunya tak menyangka.
"Sungguh!" ucapnya kembali tak percaya.
"...tapi, aku sungguh tak menyangka kamu sudah menikah. Kufikir, kamu akan menikah dengan Kak Beni.." ucapnya.
Mendengar Wanita itu mengucapkan nama Beni Mikael menaikkan sebelah alisnya sedang Al melirik kearah Mikael yang saat ini sedang melihat kearahnya.
Wanita berambut pendek lalu menengok kearah pasangannya. Dilihatnya dari kejauhan Pria yang tadi datang ke Resto bersamanya nampak melambaikan tangan kearahnya.
"...pacarku udah memanggilku, sepertinya aku dan pasanganku tak jadi makan disini. Mungkin Resto ini kehabisan menu yang diinginkannya.." ucap Wanita itu.
"Padahal aku masih mau ngobrol denganmu.." ucapnya.
"Yasudah deh, aku duluan ya. Semoga pernikahanmu menjadi keluarga yang SAMAWA.." lanjutnya.
Saat Wanita itu akan beranjak pergi, dia mengurungkan niatnya kemudian berkata. "...oh ya semoga kuliahmu lancar juga ya!" serunya yang lalu pergi meninggalan meja tempat Al dan Mikael duduk.
Keheningan menyelimuti mereka, dua orang itu seperti sibuk dengan pikiran masing-masing.
###
Selama perjalanan pulang dari Resto ke rumah, nampak seperti biasa. Tetapi atmosfernya berbeda.
"Terimakasih ya Kak, ajakan makannya.." ucap Al dengan kepala tertunduk.
"..iya.." balas Pria didepannya.
Wanita itu lalu masuk kedalam kamarnya, meninggalkan Pria itu yang masih penasaran akan perkataan Wanita berambut pendek.
Didalam kamar, Al berjalan kearah kursi dan meja yang ada didekat jendela. Dia menaruh tas selempangnya diatas meja lalu duduk di kursi itu.
Wanita bercadar itu mendudukinya kursi dengan tubuh menyender kesandaran. Dia lalu mengarahkan matanya keluar jendela melihat kearah langit.
"Kenapa dari sekian banyak anggota klub, aku harus bertemu dengannya.." batin Al.
###
Waktu makan malam datang, Al dan Mikael makan dengan keheningan.
Biasanya di saat seperti ini Al selalu mengajak Mikael ngobrol entah obrolan apapun, tapi kali ini tidak Wanita itu menikmati keheningan ini.
Usai makan, Al merapikan piring kotor. Saat akan mengambil piring milik suaminya. Pria itu menahan piring miliknya membuat Al reflek mengangkat kepalanya membuat matanya bertemu langsung dengan mata Mikael yang menatapnya lekat.
Pria itu memberikan tatapan tajam ke Al, membuat Wanita itu memundurkan tubuhnya dengan kepala kembali tertunduk.
Al terdiam ditempatnya dengan posisi berdiri. Dia tak berani untuk mengangkat kepalanya.
Dari gerakannya Al melihat, Mikael melepas piring yang dipegangnya dia lalu berdiri kemudian pergi meninggalkan meja makan.
Saat Pria itu memunggunginya, Al memberanikan mengangkat kepalanya menatap punggung Mikael. Dia menggigit bibirnya pelan mendapati sifat acuh suaminya.
Diambilnya piring milik suaminya lalu meletakkan keatas tumpukan piring kotor di meja makan, kemudian membawanya kedapur.
Didapur, Wanita itu mencuci piring kotor yang dibawanya. Dia terlihat bingung harus bersikap bagaimana pada suaminya.
Al tak berani mengangkat kepalanya untuk melihat wajahnya. Karna saat melihatnya nampak jelas keinginan tahuan Pria itu tentang perkataan yang dikataan Wanita yang menghampiri mereka di Resto.
Sedangkan dirinya masih belum siap untuk menceritakan Prihal itu.
Tapi, jika dia terus bersikap seperti ini. Takutnya hati suaminya yang sudah mulai sedikit luluh kembali mengeras.
Selesai mencuci piring, Al melangkah kembali ke meja makan lalu berjalan menaiki tangga.
Didepan, kamarnya Al nampak terdiam. Dia terlihat bingung harus bagaimana. Jika menghampirinya, dia pasti harus bercerita. Tetapi jika dia tak menghampirinya, Wanita itu takut jika suaminya akan bersikap dingin kembali.
"Apa sudah saatnya aku bercerita.." gumam Al.
Ada beberapa alasan yang membuat Al belum siap bercerita, tapi melihat kondisi ini dia mau tak mau harus..
Dia lantas menyerah dan memilih melewati kamarnya dan pergi ke kamar suaminya.
Didepan kamar tersebut, Al terdiam. Dia menelan slavinanya lalu memberanikan diri menjulurkan tangan untuk mengutuk pintu.
'Tok tok tok' setelah mengetuknya dia menarik kembali tangannya.
Al terdiam menunggu sahutan dari dalam. Setelah menunggu beberapa saat tak ada jawaban dari yang bersangkutan.
Wanita itu kembali menjulurkan tangannya lalu mengetuk kembali pintu itu.
'Tok tok tok'
Setelah mengetuk dia kembali menarik tangannya. Al kembali menunggu sahutan dari pemilik kamar.
Setelah ditunggu sama saja tak ada jawaban.
Hal tersebut membuatnya sedih, dia takut jika suaminya membencinya.
Dia lantas memberanikan diri untuk mengetuk kembali pintu kamar suaminya lalu berkata.
"Kak.." panggilnya pelan.
"Kak El, Al.." ucapnya yang terpotong.
Bi Hilda yang baru saja selesai menyusun pakaian milik Nyonyanya keluar dari kamar tersebut. Dia mendapati Nyonyanya sedang berdiri didepan kamar Tuannya.
Diapun menghampiri Wanita itu. "Nyonya Al!" seru Wanita paruh baya tersebut.
Al yang akan berucap diurungkan niatnya. Dia lantas menengok kearah suara yang berasa dari Bi Hilda. "..iya, Bi.." jawabnya pelan.
"Nyonya ingin ke kamar, Tuan Mikael!" ucapnya yang diangguki Al.
Bi Hilda membulatkan bibirnya paham. "..oh iya Nyonya, begini. Bibi barusan dari kamar Nyonya Al. Terus Bibi nyalain AC kamar Nyonya, ternyata tak nyala.." beritahunya.
"..hehehe..iya Bi, AC kamar Al mati.." cengirnya.
"..mati..pantes Bi Hilda nyalain gak bisa.." ucapnya.
"Sejak kapan Nyonya Al?"
"..sejak dua hari yang lalu, Bi.." jawabnya.
Bi Hilda nampak membulatkan mata. "Benar Nyonya, jadi selama 2 hari ini Nyonya panas-panasan tidur.." kagetnya.
"Nyonya kenapa tidak mengatakannya? Jadinya Nyonya tidur sambil kepanasan.." lanjutnya.
"Hehe..Al lupa bilangnya.." ucapnya.
"Tapi, tidak terlalu panas kok Bi.." jelas Al.
" Tentu saja, walaupun tak panas. Saya tak tega melihat Nyonya Al tidur disana. Bagaimana kalau malam ini Nyonya tidur dikamar tamu? Tadi pagi Bi Hilda baru saja membersihkannya.." usul Bi Hilda.
"..Al tidur di kamar saja Bi. Tidak apa-apa.." tolaknya halus, karna dirinya merasa nyaman tidur di kamar sendiri.
"Baiklah, jika Nyonya ingin tidur di kamar.."
"Nanti, Bibi akan mengatakannya pada Pak Usman untuk memanggil tunkang servis.." ucapnya.
"Terimakasih Bi.."
"Sama-sama Nyonya, Bibi kebawah dulu ya.." pamitnya. Al menganggukan kepala.
Seperginya Bi Hilda, Al kembali melihat kearah pintu Mikael. Dia ingin kembali mengetuk pintu itu, tapi dia takut hal itu akan membuat suaminya semakin marah. Maka diurungkan niatnya tersebut.
###
Di kamarnya Mikael nampak duduk dibalkon sambil menghisap alat elektriknya yang menghasilkan kepulan asap.
Matanya menatap kearah langit yang gelap gulita. Dia mengepalkan tangannya merasa kesal akan Al yang bersikap menghindar.
Walaupun dia sangat penasaran prihal hubungannya dengan orang yang bernama Beni, ternyata dia yang masih kuliah dan hal lainnya. Tapi tentu dia tak akan memaksa Wanita itu untuk bercerita.
"..ck.." decaknya mengingat Wanita berambut pendek. Entah mengapa, Mikael merasa kesal dengan Wanita berambut pendek itu tadi.
Mikael lalu memejamkan matanya sambil mengisap alat elektriknya.
'Tok tok tok' suara ketukan pintu, terdengar oleh indra pendengaran Mikael. Tapi Pria itu malas untuk melangkah ataupun berucap agar orang tersebut masuk.
'Tok tok tok' suara ketukan kembali terdengar. Mikael mulai membuka matanya. Dia merasa kesal pada orang yang mengetuk pintu.
Saat ketukan ketiga kali terdengar, Mikael lantas bangkis dari tempat duduknya. Dia melangkah kearah pintu.
Dari sana dia mendengar suara Wanita yang menghindarinya.
"Kak.." panggil suara itu pelan.
"Kak El, Al.." ucapnya yang terpotong oleh suara panghilan seseorang.
"Nyonya Al!" seru suara Wanita yang berasal dari istri Pak Usman.
Mendengar adanya penghalang Mikael lantas menunggu kedua Wanita itu selesai berbicara.
"Nyonya ingin ke kamar, Tuan Mikael!" ucapnya yang tentu Mikael tau jawaban Istrinya adalah anggukan kepala.
"..oh iya Nyonya, begini. Bibi barusan dari kamar Nyonya Al. Terus Bibi nyalain AC kamar Nyonya, ternyata tak nyala.." beritahunya.
Mendengar hal itu Mikael mengangkat sebelah alisnya.
"..hehehe..iya Bi, AC kamar Al mati.." cengirnya.
"..mati..pantes Bi Hilda nyalain gak bisa.." ucapnya.
"Sejak kapan Nyonya Al?"
"..sejak dua hari yang lalu, Bi.." jawabnya.
Mendengar hal itu Mikael membukatkan mata. "Jadi selama dua hari ini dia tidur tanpa AC.." batinnya.
"Benar Nyonya, jadi selama 2 hari ini Nyonya panas-panasan tidur.." katanya yang terdengar kaget.
"Nyonya kenapa tidak mengatakannya? Jadinya Nyonya tidur sambil kepanasan.." lanjutnya.
"Hehe..Al lupa bilangnya.." balas Wanita itu sambil menyengir.
"Tapi, tidak terlalu panas kok Bi.." jelasnya.
"Tentu saja, walaupun tak panas. Saya tak tega melihat Nyonya Al tidur disana. Bagaimana kalau malam ini Nyonya tidur dikamar tamu? Tadi pagi Bi Hilda baru saja membersihkannya.." usul Wanita setengah baya itu.
"..Al tidur di kamar saja Bi. Tidak apa-apa.." tolaknya halus.
"Baiklah, jika Nyonya ingin tidur di kamar.."
"Nanti, Bibi akan mengatakannya pada Pak Usman untuk memanggil tunkang servis.." ucapnya.
"Terimakasih Bi.."
"Sama-sama Nyonya, Bibi kebawah dulu ya.." pamitnya.
Mikael tak menyangka selama dua hari ini, Al diam saja tidur dikamar tanpa AC. Padahal, sekarang saja dirinya masih kepanasan walau sudah memakai AC.
Seperginya Wanita setengah baya. Mikael kembali menunggu kelanjutan perkataan Al. Tapi beberapa saat menunggu tak ada kelanjutannya.
Karna penasaran, dia lalu membuka pintu kamarnya. Disana dia tak melihat Wanita yang tadi mengetuk pintu kamarnya.
Dia kemudian menongolkan kepalanya melihat Al yang sedang berjalan kembali ke kamarnya.
"Apa dia ingin menghindar kembali?" gumam Mikael.
Lantas Pria itu berjalan menghampri Wanita itu yang hendak membuka pintu kamarnya.
Selamat membaca my Reader...jangan luoantinggalkan tanda ya...